
Nasya yang melihat Zahra sedikit terkejut. Namun, ia membiarkan semua itu. Nasya berpura-pura tak melihatnya, bahkan ia semakin mendekatkan dirinya dan bermanja-manja pada Arham dan Arham membalas apa yang Nasya lakukan. Arham bahkan memberikan kecupan di pipi Nasya di depan mata Zahra.
Zahra yang menyaksikan semua itu tetap tenang, ia ingin tahu seperti apa sifat suaminya itu saat bersama dengan Nasya.
Nasya bisa melihat kekesalan di wajah Zahra dan itu membuatnya sangat puas. Ia masih tetap tak memberi tahu Arham tentang keberadaan Zahra di belakang mereka. Hingga Arham mengedarkan pandangannya dan tak sengaja melihat Zahra tepat di sampingnya bersama dengan seorang pria yang ia ketahui bernama Arga, salah satu rekan bisnisnya.
Arham langsung melepas pegangan Nasya di lehernya dan menarik Zahra dengan kasar dari Arga.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau lakukan dengannya?" ucapnya menunjuk Arga.
"Aku melakukan seperti apa yang Mas melakukan, kami sedang berdansa" menjawab dengan santai. "Apa aku salah? Kami hanya membahas bisnis bukankah itu wajar berdansa dengan rekan bisnis sama halnya yang kau lakukan berdansa dengan sekertaris mu, ITU!."
"Tentu saja itu berbeda!"
"Ya, memang itu sangat berbeda, kami hanya membahas masalah bisnis benar-benar bisnis tak ada cium di pipi, tak ada rayuan dan kata-kata mesra seperti yang kalian lakukan." Mereka berdebat dengan suara pelan, tak ingin mengganggu yang lainnya. Namun, tetap saja beberapa tamu sudah melihat ke arah mereka.
Arham langsung menarik Zahra keluar dari pesta itu.
Nasya memandang pada Arga, 'Kenapa dia bersama dengan Zahra. Aku hubungan pak Arga dengan Zahra?' batinnya kemudian ia pun menyusul Arham begitu juga dengan Arga yang juga ikut menyusul Nasya yang menyusul mereka berdua.
Arham membawa Zahra keluar dari gedung tersebut, begitu mereka sudah di parkiran Zahra langsung menepis tangan Arham.
"Kamu berani ya pergi keluar dengan seorang pria tanpa izin suami!"
"Suami, kata Mas suami? Suami apa yang tega membohongi istrinya berulangkali. Apa inikah Restoran mewah yang Mas katakan? Bertemu dengan klien penting? Apa klien penting Mas adalah Nasya?"
"Kau salah paham."
"Tidak, aku tak buta, Mas. Aku melihat dan mendengar semuanya. Apa Mas tak malu mencium pipi Nasya di tengah-tengah kerumunan orang? Apa Mas sadar beberapa dari mereka mungkin saja mengetahui jika Mas itu adalah suamiku."
Mendengar itu Arham terdiam, saat apa yang dilakukan pada Nasya beberapa waktu lalu disaksikan oleh istrinya itu.
__ADS_1
"Dengar ya Mas, tadinya aku berfikir akan memberi Mas kesempatan kedua, memulai kembali rumah tangga kita dan melakukan program bayi tabung, berharap akan ada seorang bayi di antara kita dan mengembalikan semua ketempatnya, tapi setelah melihat semua ini dan menyaksikan kebohongan yang menyakitkan ini, aku tak ada niat sedikitpun untuk memperbaiki hubungan kita lagi, semua kepercayaanku dan semua rasa cintaku padamu sudah berakhir Mas, tak ada lagi gunanya kita bersama, sudah cukup rasa sakit yang aku terima."
Ditengah kemarahan Zahra, Nasya muncul.
"Nasha kau juga seorang wanita tak bisakah kau merasakan perasaan wanita lain, bagaimana jika kau berada di posisi ku? Bagaimana jika kau mengalami apa yang aku alami, tapi aku rasa kau takkan merasakan apa-apa karena kau tak tahu apa itu cinta."
"Kau salah, aku tahu apa itu cinta dan aku sadar aku mencintai Mas Arham sejak dulu dan sampai sekarang. kau lah yang menjadi penghalang bagi cinta kami."
Mendengar itu Zahra tertawa, "Penghalang? Aku ini istrinya yang sah di mata hukum dan agama, lalu siapa kau? siapa kau yang membuatku menjadi penghalang hubungan kalian? kamu itu hanyalah wanita hina yang merusak rumah tangga orang, kamulah yang orang ketiga di antara kami."
"Sudahlah, percuma saja berbicara pada kalian yang tak tahu apa rasanya disakiti oleh orang yang kita cintai dan kita percayai. Kalian akan mengerti jika sudah mengalaminya," ucap Zahra menatap Arham dengan tatapan kemarahan dan kekecewaannya.
Arham kali ini benar-benar tak bisa berkata apa-apa, tertangkap basah itulah mungkin kalimat yang tepat untuknya.
Jangankan untuk memohon Zahra kembali padanya, kalimat maaf saja ia malu untuk mengatakannya.
"Aku benar-benar kecewa padamu, Mas. Selama ini aku seperti wanita yang bodoh yang terus aja memberi kesempatan akan hubungan kita, tapi tidak kali ini. Aku sudah menghubungi pengacaraku, aku sudah memutuskan kita akan bercerai. Jika Mas enggan mengajukannya biar aku saja yang mengajukan perceraian kita lebih dahulu," ucap Zahra yang ingin pergi. Namun, Arham langsung mencegahnya.
"Aku tak peduli, Mas bicarakan saja dengan pengacaraku besok."
Nindy datang dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari mereka.
"Aku sudah mengemas barangku di rumah. Aku akan tinggal di butik ku mulai hari ini, jadi Mas tak usah sungkan-sungkan untuk membawa Wanita ****** ke rumah, ibu pasti senang menyambutnya," ucap Zahra berbalik menuju ke mobil Nindy. Arham ingin menahan. Namun, Arga menghalangi langkah nya.
"Apa kau tak dengar jika Zahra meminta cerai darimu? kau sudah terbukti berselingkuh itu berarti kau sudah gagal menjadi seorang suami. Apalagi yang kau inginkan dari Zahra? Bukankah kau ingin wanita itu," tunjukkan pada Nasya dengan lirikannya, "Sudah pergilah bersamanya dan jauhi Zahra."
"Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Zahra? kau tak tahu apa-apa tentang rumah tangga kami."
"Dulu aku bukan siapa-siapa bagi Zahra, tapi sekarang aku akan menjadi orang yang akan melindunginya, termasuk dari suami bangssssat dan wanita ****** seperti kalian," ucap Arga yang langsung mendapat pukulan dari Arham yang tak terima dengan ucapan dari pria yang kini memasang badan untuk istrinya.
Arga yang tak terima langsung membalas pukulan Arham lebih keras membuat Nasya memekik saat Arham terjatuh, Zahra berbalik dan melihat pertengkaran mereka, ia kembali ingin turun dari mobil, tapi Nindy menahannya.
__ADS_1
"Kita pergi dari sini, berikan saja mereka berkelahi. Itu sudah keputusan Arga untuk melindungimu darinya, hargai usahanya dia pasti menginginkan kau untuk pergi dari sini,". ucap Nindy yang membuat Zahra kembali melepaskan tangannya dari pintu mobil, melihat ke arah perkelahian mereka kemudian ia pun mengangguk. Nindy menjalankan mobilnya meninggalkan kekacauan di area parkiran itu.
"Aku sudah menghubungi pengacara mu, aku sudah yakin akan mendaftarkan perceraian ku."
"Baguslah, kau mengambil keputusan yang tepat. Aku yakin kau takkan menyesali keputusanmu, untuk apa bersama pria yang tak menghargaimu, yang hanya menginginkan kesempurnaan dan tak menerima kekuranganmu. kau bisa membuktikan kepada suami dan mertuamu jika kau bisa bahagia tanpa mereka," geram Nindy yang tau semua masalah sahabatnya itu.
"Terima kasih atas semuanya, jika tak ada kau aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku, Mungkin aku akan terus menjadi wanita bodoh dan tinggal di rumah itu."
"Aku akan selalu ada di dekatmu, kita adalah sahabat. Aku juga pernah merasakan di posisimu jadi aku tahu betapa sakitnya semua itu!" ucap Nindy menatap Zahra kemudian tersenyum memberikan kekuatan dibalik senyum itu pada sahabatnya yang terlihat begitu terpuruk walau ia coba untuk tegar di hadapannya.
Sebelum Zahra pergi ke pesta, ia sudah mengemas barang-barangnya dan menghubungi Nindy, untuk mengambil barang-barangnya jika prasangkanya tentang perselingkuhan suaminya ternyata benar. Zahra menitipkan semua barang-barangnya itu kepada bibi dan mengatakan jika temannya akan datang untuk mengambilnya.
Begitu Zahra melihat Arham berdansa dengan Nasya dan terbukti membohonginya, Zahra langsung mengirim pesan pada Nindy untuk mengambil beberapa barangnya yang dititipkan kepada bibi dan menjemputnya.
Nindy yang mendapat pesan itu langsung menghampiri kediaman Zahra mengambil barang-barangnya dan menjemput Zahra di alamat yang telah Zahra kirimkan.
"Kau ingin menginap di butik atau tinggal di rumahku? Aku tinggal sendiri kau bisa tinggal kapanpun kau mau di tempatku."
"Tidak, aku ke butik saja. Lagipula dengan tinggal di butik aku bisa lebih konsentrasi kepada butik dan menjauhkan pikiran ku dari semua masalah ini."
Mendengar itu Nindy pun mengarahkan mobilnya menuju ke arah butik.
Saat sampai di butik ponsel Zahra berdering, itu panggilan dari Arga, menanyakan keberadaannya.
"Aku ada di butik ku dan akan tinggal di sini mulai sekarang."
"Aku akan kesana," ucap nya mematikan panggilannya.
"Ada apa-apa?" tanya Nindy.
"Arga mau ke sini," ucapnya kemudian mereka pun masuk ke dalam butik.
__ADS_1