Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Keputusan Zahra.


__ADS_3

Zahra tetap  ingin mengakhiri hubungan mereka walau Arham memohon untuk tetap bertahan, ia ingin memperbaiki rumah tangga mereka. Perdebatan terjadi  di antara keduanya.


Arham mengakui semua kesalahan kepada Zahra, berharap istrinya itu mau memberinya kesempatan, tapi kenyataan itu justru semakin membuat hati Zahra semakin sakit.


"Sudahlah, Mas. Berhenti menyakiti perasaanku aku juga punya batas kesabaran," ucap Zahra menatap suaminya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Kamu ingin program bayi tabung 'kan? Mari kita mencobanya," ucap Arham  membuat Zahra langsung melihat suaminya itu, 'Apa maksudnya ia kembali membahas bayi tabung yang bahkan saat ini aku sudah tak menginginkannya lagi,' batin Zahra.


"Mari Kita coba sekali lagi, kita perbaiki rumah tangga kita."


"Bagimana jika kita sudah melakukan program bayi tabung dan aku tetap gagal untuk menjadi seorang ibu? Apa saat itulah Mas baru setuju untuk bercerai?" Mendengar itu Arham terdiam.


"Apa sekali saja Mas pernah memikirkan perasaanku? Sekali saja, Mas."


"Zahra, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan mencoba memperbaiki rumah tangga kita," ucapnya membuat kali ini Zahra yang terdiam, dia sudah lelah dengan semuanya ia sudah tak bisa lagi berdebat dengan suaminya itu.


Lama mereka terdiam, sampai Arham pun melajukan mobilnya menuju ke kediaman mereka, begitu sampai Zahra langsung menuju ke kamarnya ingin menjernikan pikirannya.


Arham  mengikuti Zahra dan melihat istrinya itu duduk di sisi tempat tidur sambil memijat keningnya.


Arham menghampirinya dan duduk di sampingnya, "Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan memperbaiki hubungan kita," ucapnya kembali mengucap kalimat yang sama, Arham mencoba memegang tangan Zahra mau Zahra langsung menepisnya.


"Aku ingin sendiri dulu," ucapnya membuat Arham menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya itu, ia pun keluar dari kamar dan menghampiri ibunya di kamar ibunya, membicarakan mengenai bayi tabung yang ingin dicoba nya.


"Tidak, ibu tak akan mengeluarkan uang untuk hal yang tak pasti. Istrimu itu sudah tak bisa memberimu keturunan untuk apa kau mempertahankan nya. Nasya bilang tadi saat di kantor Zahra meminta cerai, ya sudah ceraikan saja dia. Apalagi yang kau harapkan dari dia."


"Aku mencintainya, Bu."


"Cinta? Cinta macam apa yang kau katakan. Jika kau mencintainya kau tak akan berselingkuh dengan Nasya."


"Aku tak berselingkuh, Bu. Aku hanya butuh teman saja."


"Butuh teman untuk apa? Jika kau mencintai Zahra kau tak akan membutuhkan wanita lain. Kau melakukan semua itu karena kau sudah tak lagi mencintai. Lupa Zahra dan menikahlah dengan Nasya. Kalian akan  memiliki anak dan menjadi keluarga bahagia. Kau akan mencintai Nasya dan anak-anak mu dan melupakan Zahra tanpa jejak."

__ADS_1


Arham mengusap wajahnya kasar, mendengar kata cerai dari mulut istrinya membuat ia menyadari jika ia masih sangat mencintainya. Zahra adalah wanita yang di cintainya dan baru menyesali perbuatannya yang membuang waktu mereka dan telah membuka kesempatan untuk Nasya merusak rumah tangga mereka.


Sementara itu Zahra yang sudah memutuskan untuk bercerai dengan Arham kembali merasa bimbang saat Arham mengatakan ingin kembali melakukan program bayi tabung, ia juga sangat menginginkan seorang anak di pangkuannya. Ia dilema apakah suaminya itu benar-benar serius ingin memperbaiki rumah tangga mereka.


Saat sedang berada di dalam dilema ia melihat sebuah undangan yang ada di tas suaminya, Zahra pun mengambil dan melihatnya. Itu adalah undangan acara pernikahan salah satu rekan bisnisnya dan itu diadakan malam nanti.


"Kita lihat saja, Mas. Kamu memilih mengajakku ke acara ini atau mengajak Nasya.  Jika kau mengajakku aku akan mempertimbangkan kembali mempertahankan rumah tangga kita." Zahra kembali menyimpan undangan itu di tempatnya.


Zahra memilih menuju balkon kamarnya, menikmati udara sore sambil melihat tukang kebun membereskan taman, itu sedikit membantu menghilangkan kesedihan hatinya.


***


Malam hari pun tiba, Zahra bisa melihat jika suaminya itu sedang bersiap-siap.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanyanya berpura-pura tak tahu kemana suaminya itu akan pergi.


"Bertemu Klien penting," jawabnya.


"Apakah tak ada waktu di siang hari? Mengapa harus bertemu di malam hari dan berpakaian sangat rapi. Mas ingin bertemu dengan mereka di sebuah pesta?" tanya Zahra.


Saat suaminya masuk ke kamar mandi, Zahra diam-diam kembali mengecek ponsel Arham. Zahra bisa melihat jika ada pesan yang belum dibaca oleh Arham, dengan tanpa membuka pesan tersebut dan hanya melihat pada notif, Zahra bisa melihat jika itu pesan dari Nasya, jika ia sudah Siap dan menunggunya.


"Sepertinya kamu memang tak bisa diberi kesempatan, Mas." Zahra kembali menyimpan ponsel suaminya itu saat mendengar langkah Arham yang akan keluar dari kamar mandi, ia pun berpura-pura membereskan tempat tidur mereka yang masih rapi.


"Aku pergi dulu ya, aku akan cepat pulang," ucapnya menghampiri Zahra dan mencium keningnya.


Zahra hanya menghela nafas melihat suaminya itu keluar dari kamarnya.


"Sepertinya pernikahan kita memang sudah tak bisa dipertahankan lagi, Mas.. Cinta saja tak cukup untuk membuat kita bahagia. Sudah cukup, aku menyarahkan semua untukmu, aku ingin bahagia seperti sebelum menikah dengan mu. Aku bisa membahagiakan diriku sendiri," gumamnya kemudian ia mengambil ponsel dan mencari nomor pengacara yang direkomendasikan oleh Nindy. Di mana pengacara itu juga yang mengurus perceraian sahabatnya itu. Setelah membuat janji bertemu dengan pengacara itu, Zahra pun mematikan ponselnya, ia menyerahkan semua takdirnya pada sang maha pencipta. 


Baru saja yang ingin berdiri, ponselnya kembali berdering dan pesan masuk dari Arga.


Zahra  melihat pesan dari pelanggannya itu, ia mengurutkan kening saat melihat undangan yang sama yang tadi dilihatnya di tas suaminya.

__ADS_1


"Aku ada undangan. Di pesta ini akan hadir beberapa pejabat dan juga orang-orang penting, apa kamu mau ikut dengan ku, aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa temanku dan merekomendasikan pada mereka butik mu," ucap Arga.


Zahra terdiam sejenak. Namun, ia akhirnya menyetujuinya. "Baiklah kita bertemu di tempat acaranya saja, kirimkan aku alamatnya," ucap Zahra.


"Baiklah, aku tunggu kau di sana," Arga mematikan panggilan mereka. Arga tersenyum melihat ponselnya. Jika suamimu melihat kita bersama entah apa yang akan dipikirkannya, bagaimana jika kita memberikan sedikit balasan atas kelakuannya padamu, aku yakin malam ini suamimu juga akan hadir di pesta itu dan jika kau setuju dengan ajakanku itu berarti suamimu tak mengajakmu dan kemungkinan mengajak wanita yang kau bilang adalah selingkuhannya," gumam Arga mecoba menerka-nerka.


Zahra pun langsung berdandan secantik mungkin, selama ini ya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia sudah tak pernah lagi merawat dirinya.


Zahra pun memulai memoles wajahnya dengan make up, sesuai yang ia bisa dan memilih gaun yang secantik mungkin, gaun yang pernah di belinya saat hamil dulu. Gaun itu rencana akan dipakainya saat menyambut kelahiran putra mereka, melakukan acara akikahan putra nya. Namun, berhubung takdir berkata lain Zahra pun menyimpan baju itu dan baru memakainya malam ini.


"Cantik," gumamnya melihat pantulan dirinya di cermin kemudian ia menambahkan sedikit parfum dan berjalan keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Wani yang melihat menantunya itu berdandan cantik tak seperti biasanya.


"Aku ada pertemuan sesama pemilik butik di sebuah pesta pernikahan. lbu Reni mengajakku. Aku pergi dulu, Bu. Mas Arham juga sekarang sedang pergi meeting, aku akan usahakan kembali sebelum Mas Arham kembali," ucapnya langsung berjalan menuju keluar rumah tanpa menunggu  jawaban dari ibu mertuanya itu, ia akan menghargai orang yang menghargainya. Begitu Zahra sampai di tempat tujuan ia bisa melihat jika tempat diadakannya acara adalah  hotel yang begitu mewah. Pantas saja suaminya itu berdandan sangat rapi.


Zahra dikejutkan oleh suara ketukan pintu taksi dan melihat Arga yang berdiri di samping taksinya.


"Kau sudah lama menunggu ya?" tanya Zahra yang keluar dari taksi dengan mengenakan pakaian terbaiknya serta make up natural membuat ia terlihat sangat cantik.


"Malam ini kamu lihat sangat cantik," puji Arga dengan jujur.


"Terima kasih dengan pujiannya," jawab Zahra dengan senyumnya..


Kemudian mereka pun masuk ke dalam tempat acara tersebut, Zahra mengedarkan pandangannya hingga ia menemukan sosok yang dikenalnya, sosok yang telah membuatnya sakit hati, sosok yang sudah membohonginya mengatakan jika ia ingin menemui klien bisnisnya, melakukan rapat penting. Namun, ternyata saat ini ia sedang berdansa dengan Nasya di tengah pesta itu.


"Mau berdansa?"  tanya Arga sengaja mengajak Zahra berdansa saat melihat Arham juga ada disana dengan wanita lain.


"Tentu saja, dengan senang hati," ucap Zahra menyambut uluran tangan Arga dan mereka pun berdansa tepat di samping Arham dan Nasya.


Arham tak menyadari keberadaan Zahra, ia terus berbincang santai dengan Nasya dan  mereka terlihat begitu dekat.


"Apa kau tak apa-apa?" bisik Arga yang tahu jika Arham adalah suami Zahra.

__ADS_1


"Apa kau sudah tahu dan bertujuan untuk hal ini?" tanya Zahra melihat mata Arga dan membaca apa yang ada di pikiran pria tampan yang sedang menjadi pasangan dansanya itu.


Arga hanya tersenyum penuh arti sebagai jawaban, membuat Zahra semakin yakin jika Arga mendengar percakapan nya dengan Nindy waktu itu.


__ADS_2