Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Kejutan Arga.


__ADS_3

Zahra sedang bekerja di butiknya, tiba-tiba ia mendapat telepon dari Arga.


"Apa kau ada waktu?" tanyanya.


"Tentu saja, memangnya ada apa?" tanya Zahra menghentikan pekerjaannya.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, mau ya!"


"Ini belum makan siang! Memangnya kamu mau mengajak aku ke mana?" tanya Zahra melihat jam tangannya ini baru pukul 08.00 pagi, masih terlalu pagi untuk meninggalkan butiknya.


"Sekarang aku sudah ada di jalan. Aku akan memberitahumu saat kita sedang dalam perjalanan nanti. 15 menit lagi aku sampai di butik mu, kau siap-siap ya," ucap Arga langsung mematikan panggilannya.


"Tapi," ucap Zahra baru saja ingin menolak. Namun, Arga sudah mematikan panggilannya. Mengingat kebaikan Argaa selama ini padanya, ia pun tak enak untuk menolaknya. Zahra memutuskan untuk ikut bersama dengan sahabatnya itu, ia sudah menganggap Arga sebagai sahabatnya.


"Ranti aku titip butik sebentar ya. Aku ingin pergi bersama dengan Arga," ucap Zahra menghampiri Ranti yang sedang memakaikan gaun yang sudah jadi ke manekin.


"Iya tentu saja, kau tak usah khawatir biar aku yang menjaga butik," jawaban Ranti.


Butik Zahra semakin sukses, membuat ia harus menambah pekerjanya dan saat ini Ranti dan Tere hanya bekerja untuk mengawasi mereka. Zahra sudah mempekerjakan 10 pegawai tambahan dan diseleksi secara ketat. Setelah mempekerjakan mereka ia merasa puas dengan hasil pekerjaan mereka yang sesuai dengan karakter butiknya.


Setelah bersiap-siap Zahra pun menunggu Arga di depan butiknya, ia hanya menunggu selama 2 menit, Ia pun bisa melihat mobil Arga dari kejauhan. Zahra melambaikan tangannya dan memasang senyum termanisnya. Setelah 7 bulan bersama dengan Arga membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda pada Arga. Dia sangat bahagia dengan perhatian-perhatian yang Arga berikan padanya, awalnya Zahra sedikit menghindar karena ia tak ingin jika sampai Arga melamarnya. Belum siap akan hal itu. Namun, ternyata setelah beberapa bulan mendekatinya Arga terlihat tulus untuk membantu dan berteman dengannya membuat hubungan mereka semakin dekat dan perasaan Zahra tanpa diduganya semakin merasa senang saat bersama dengan Arga, begitupun sebaliknya.


Arga yang memang sejak awal sudah menyukai Zahra semakin menyukainya setelah mengenal lebih dekat sosok Zahra yang begitu baik dan lembut.


"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Zahra saat Arga turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuknya.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kamu pasti suka dengan tempatnya," ucapnya menutup pintu mobil dan bergegas memutar dan masuk ke kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya menuju ke tempat yang ditujunya.

__ADS_1


Saat di lampu merah, mobil Arga tak sengaja berdampingan dengan mobil Arham.


Arham memicingkan matanya saat melihat Arga dan juga Zahra yang terlihat bahagia tertawa bersama di dalam mobil Arga.


"Mau ke mana mereka sepagi ini?" gumamnya yang melihat jika mereka mengarah bukan ke kantor Arga ataupun ke butik Zahra.


Lampu lalu lintas pun berubah dan mereka dipersilakan untuk jalan. Arga menjalankan mobilnya begitu juga dengan Arham. Namun, Arham bukannya menuju ke tujuannya semula ia malah mengikuti kemana Arga membawa Zahra.


Arga membawa Zahra ke sebuah dermaga dan di sana sudah terlihat sebuah speed boat menunggu mereka.


"Kita mau ke mana sih dengan speed boat ini?" tanya Zahra membiarkan hembusan angin laut menerpa wajahnya.


"Aku kan sudah bilang, aku ingin membawamu satu tempat dan aku yakin kau pasti suka," ucapnya. Arga Mengulurkan tangannya untuk membantu Zahra naik ke speedboat tersebut, setelah mereka berdua naik Arga pun meminta untuk menjalankan speedboat itu.


Arga sudah menyiapkan beberapa persiapan di dalam speedboat tersebut, ia sudah menghiasnya speed boat itu terlihat berbeda dari speed boat yang lainnya.


'Mengapa perasaanku tak enak ya, apa jangan-jangan Arga ingin…. mungkin saja ini speedboat kebetulan sudah dipakai seseorang dan belum sempat membersihkan semua bunga-bunga ini,' batinnya.


"Enggak, aku hanya melihat bunganya sangat indah. Pasti orang yang membuatnya sengaja melakukan ini untuk orang yang spesial," ucapnya.


"Kau benar, aku memang sengaja menyiakan semua ini untukmu, karena kamu memang spesial," ucap Arga membuat Zahra langsung melihat ke arah pria tampan yang ada di depannya itu.


"Apa ini untukku?" tanyanya.


"Tentu saja, masa ia ini untuk si bapak," ucap Arga menunjuk bapak yang sedang mengemudikan speed boat tersebut membuat Bapak tersebut tergelak mendengarnya.


"Tapi, untuk apa? Memangnya kita mau ke mana dengan speed boat yang sangat cantik ini?"

__ADS_1


Arga tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan melihat ke arah sebuah pulau.


"Apa kita akan ke pulau itu?" tanya Zahra menunjuk sebuah pulau yang ada di tengah lautan yang tak jauh dari mereka..


Arga lagi-lagi tak menjawab, Ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Zahra.


Tanpa mereka sadari Arham juga menaiki speed boat yang berbeda dan mengikuti mereka hingga mereka sampai di sebuah pulau.


Zahra tercengang, ternyata pulau itu merupakan pulau yang sangat cantik dan terlebih lagi ia melihat di sana sudah ada Nindy, Tere, Ranti dan juga Ibu Desi yang melambaikan tangan kepada mereka.


"Ranti, bukan dia ada di butik?" gumam Zahra bertanya-tanya. Mengapa tiba-tiba Ranti dan Tere ada di sana? Sebelum meninggalkan butik kedua karyawannya itu masih ada di butiknya.


Arga mengulurkan tangannya.


Zahra yang melihat urutan tangan Arga mengerti, Ia pun menyambut uluran tangan Arga dan mereka saling bergandengan tangan menuju ke sebuah pondok yang sudah dihias dan begitu mereka masuk mereka langsung disambut oleh taburan bunga mawar yang jatuh dari atas mereka.


Zahra melihat Arga dengan senyum bahagianya. Apakah semua ini sudah dipersiapkan untuknya, ucapnya melihat bunga mawar yang sudah bertebaran di sekitarnya.


"Ayo ikut aku," Arga kembali menggandeng tangan Nasya menuju ke tempat yang sudah mereka siapkan, begitu sampai di sana Arga mengambil sebuah bunga mawar yang sudah disiapkannya kemudian ia berlutut,


"Will you marry me?" ucapnya.


Zahra terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Arga. Ia sudah memprediksi hal itu akan terjadi. Namun, ia tak menyangka semua akan terjadi seindah ini.


"Iya, iya, iya," ucap mereka semua memberi dukungan kepada Zahra.


Zahra pun mengangguk dan mengatakan iya, membuat Arga merasa lega. Selama ini ia terus mencoba menahan diri untuk melakukan hal itu. Ia ingin Zahra benar-benar siap untuk menerimanya. Ia tak ingin Zahra menerimanya dengan adanya keraguan di hatinya dan kesabarannya membuahkan hasil yang manis.

__ADS_1


Dari kejauhan Arham melihat semua yang terjadi di sana, ia hanya bisa mengepal tangannya. Kini wanita yang dicintainya sudah menerima pria lain, semua karena kesalahannya sendiri yang tak bisa mempertahankan cintanya, yang terus saja mendengarkan perkataan ibunya dan tergoda akan bujuk rayuan.


Arham kembali dengan hati yang peri dan penyesalan yang teramat dalam.


__ADS_2