
Siapa yang tidak bahagia jika cintanya diterima oleh orang yang disayanginya, terlebih lagi jika ia ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu sebuah pernikahan.
Setiap orang pasti menginginkan sebuah komitmen dalam hubungan, begitu juga dengan Arga ia ingin berkomitmen untuk membahagiakan wanita yang dicintainya yaitu Zahra.
Status Zahra sebagai seorang janda dan juga vonis dokter yang mengatakan jika ia akan kesulitan untuk menjadi seorang ibu tak membuat semua itu menghentikan Arga untuk menikahi seorang Zahra, wanita yang sangat dicintainya. Baginya status bukanlah hal yang penting selagi wanita itu adalah wanita yang baik, dan mereka saling mencintai. Adapun masalah kekurangan Zahra yang akan kesulitan atau bahkan mungkin tak bisa memberinya keturunan semua itu Arga kembali pada sang pencipta. Arga tak mempermasalahkan hal itu, sama halnya dengan ibunya, mereka meyakini jika anak juga adalah sebuah anugerah, walaupun mereka sudah berusaha semaksimal mungkin jika memang mereka tak di takdir memiliki anugerah istimewa itu, untuk memiliki seorang bayi mereka tak akan mendapatkannya. Mempercayakan semua kepada sang pencipta, mereka hanya bisa berdoa, berusaha dan berharap.
Mereka juga percaya akan kekuatan doa. Walaupun kehadiran seorang anak dalam sebuah pernikahan adalah sebuah kebahagiaan, tapi kehadiran seorang anak bukanlah suatu yang mutlak untuk mereka menjalani bahtera rumah tangga yang bahagia. Banyak hal yang bisa membuat seseorang bahagia walaupun tak di titipkan anugrah terindah itu.
Arga tersenyum getir melihat Arham yang mengikutinya sejak tadi. Awalnya ia sedikit khawatir jika Arham akan menghalangi proses lamarannya. Namun, semua kekhawatiran itu tak beralasan saat Arham hanya memperhatikan mereka dari kejauhan dan meninggalkan acara lamarannya setelah Zahra menerima lamarannya itu.
Mereka menikmati acara yang sudah disiapkan oleh Arga.
"Ranti, Tere bagaimana kalian bisa datang ke pulau ini? Bukan kalian masih ada di butik saat aku pergi? Terus bagaimana dengan butik?" tanya Zahra
"Setelah kamu pergi, aku menjemput mereka. Kami menggunakan jalur yang cepat menuju ke dermaga itu, sedangkan Arga memilih jalur memutar, itulah yang menyebabkan kami sampai lebih dulu," ucap Nindy, "Masalah butik aku meminta mereka untuk menutupnya terlebih dahulu dan menghubungi para pelanggan mu yang akan datang dan mereka semua mengerti dan memberi ucapan selamat atas hubungan kalian.
"Jadi, kapan kalian akan menikah, jangan bilang kalian hanya akan bertunangan," ucap Desy yang sudah tak sabar ingin membawa Zahra ke rumahnya sebagai seorang menantu.
__ADS_1
"Kami akan menikah bulan depan, Bu. Aku sudah menyiapkan semuanya di menyusun agenda yang akan kami lakukan sebelum acara pernikahan," jelas Arga.
"Kamu kok memutuskan semua tanpa bilang dulu ke aku, bukan kah semua ini harus didiskusikan terlebih dahulu?"
"Aku hanya mengambil dan memperkirakan rencana pernikahan kita yang aku yakin kau akan setuju, jika mengikuti keinginanku mungkin aku akan menikahimu keesokan harinya , tapi aku tahu kamu pasti memiliki banyak persiapan untuk pernikahan kita kan? Maka dari itu aku memberimu waktu sebulan dan beberapa jadwal yang sudah diatur, kau boleh mengubahnya jika kau tak suka."
"Mulai dari foto prewedding fitting baju pengantin dan beberapa lainnya, aku menyerahkan semua urusan dekorasi dan lainnya kepada salah satu temanku, yang bekerja di wedding organizer, jika kau ingin sesuatu yang diubah kau bisa mendiskusikan nya dengannya mereka.
"Aku tak ingin banyak hal, cukup pernikahan ini sah dimata hukum dan agama, itu saja sudah cukup untukku," jawab Zahra ya merasa senang saat masih diterima di keluarga Arga dengan segala kekurangannya, ia sudah sangat bersyukur. Awalnya ia takut dan ragu dengan sebutan kata mertua. Namun, saat melihat dan mengenal ibu Desi yang begitu baik dan lembut membuat ia mematahkan pikirannya sendiri jika seorang mertua itu adalah orang yang jahat
"Mengapa aku menjadi orang bodoh seperti itu, Membiarkan Zahra hilang dariku, aku benar-benar merasa orang yang tak berguna dan tak bisa mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Mengapa aku harus membiarkan hubungan mereka, mengapa aku harus membiarkan Zahra wanita yang aku cintai bersama dengan pria lain. Aku pikir dengan memiliki anak aku akan bahagia, terlepas dari siapapun wanita yang melahirkannya. Namun, ternyata aku salah, kehadiran seorang anak bukanlah sesuatu yang membuatku bahagia, tapi kebahagiaan itu hanya ada pada Zahra.
" Aku ingin bersama dengan Zahra apapun kekurangannya, aku bisa menerimanya asalkan ia mau bersamaku kembali?" gumanya, Arham hanya bisa bersandar dan membayangkan bagaimana cara tersenyum bahagia menerima ungkapan cinta dari Arga.
Disaat ia sedang terpuruk ponselnya berdering dan itu telepon dari Nasya.
__ADS_1
Dengan malas Arham mengangkatnya,
"Iya ada apa, katakan?"
"Kamu di mana? Tadi aku ke kantor kamu katanya kamu keluar dan menemui klien di Restoran Zz. Aku kesana, tapi kamu juga tak ada disana dan klien mu mengatakan jika kamu tak datang. Sebenarnya apa yang terjadi, kamu tuh di mana sih?" tanyanya yang sudah terpancing emosi.
Mendengar pertanyaan yang tak jelas dari istrinya itu Arham mematikan ponselnya, menonaktifkan. Kemudian melemparnya ke jok belakang. Arham tak bisa lagi memikirkan masalah pekerjaan, saat ini ia ingin menenangkan pikiran nya. Ia melajukan mobilnya menuju ke bar, dimana itulah tempat yang saat ini dibutuhkannya.
Disaat Arga dan Zahra tengah berbahagia, berbanding terbalik dengan Arham dan juga Nasya. Walau Nasya sekarang sudah mengandung bayi Arham. Namun, tetap saja pertengkaran terus mewarnai hubungan rumah tangga mereka.
Mendapat tanggapan seperti, itu membuat Nasya menghubungi orang yang selama ini diminta untuk mengikuti Arham. Ia ingin mencari tahu di mana suaminya saat ini dan orang tersebut menceritakan apa yang dilihatnya, bagaimana proses lamaran Zahra dan Arga. Bagaimana Arham memilih untuk
datang ke sebuah bar dan mabuk-mabukan di sana.
"Jadi selama ini dihati kamu masih ada Zahra, lalu apa aku baginya, aku sudah mengandung anaknya, sebentar lagi aku akan melahirkan, tak bisakah kau temani dia mendapatkan rasa sakit. Bisakah kau menghargai perasaanku sedikit saja, aku tahu aku salah karena awal pernikahan kita, bagaimana cara aku untuk mewujudkan pernikahan kita, tapi apakah kau tak punya perasaan sedikitpun padaku? ibu dari anakmu. Apakah baginya anak ini tak ada apa-apanya dibanding mantan istrinya Itu," kesalnya yang langsung melajukan mobilnya menuju ke alamat yang diberikan oleh orang bayarannya, alamat di mana suaminya saat ini sedang mabuk-mabukan.
Nasya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi melupakan kondisinya yang sedang mengandung, yang ada dalam pikirannya. Nasya saat ini hanya ingin segara sampai pada Arhan menanyakan langsung kepada Arham, iya ingin meneruskan pernikahan mereka atau terus berada dalam situasi dimana ia terus berharap pada mantan istrinya itu.
__ADS_1