
Hari yang ditunggu-tunggu Zahra dan Arga pun tiba. Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Zahra sudah terlihat sangat cantik duduk berdampingan dengan Arga di depan penghulu, mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai ijab kabulnya.
Mereka akan melakukan ijab Kabul sesaat lagi, jantung Zahra berdetak begitu kencang, walaupun ini adalah pernikahan keduanya ia tetap merasa gugup saat ada di situasi ini. Begitu juga dengan Arga, ini lebih menegangkan daripada acara manapun yang pernah di hadirnya.
Zahra melihat Dewi duduk tak jauh di depan mereka, dia melihat perut Dewi yang di dalam rahimnya ada calon bayi mereka, sebulan lagi dia akan menjadi seorang ibu. Selama ini ia ragu untuk mengatakan iya menerima lamaran dari Arga karena masalah kekurangannya. Namun, kehadiran Dewi sungguh membuat keraguannya selama ini sirna. Zahra tersenyum pada Dewi yang juga melihatnya, Dewi mengangguk dan mengelus perutnya mengisyaratkan jika semua akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian Wani juga datang bersama dengan Arham dan juga Nasya.
"Lihatlah Dewi menikahkan putra satu-satunya dengan Zahra saja harus menggelar pesta yang begini megahnya. Semoga dia tak menyesali semuanya," ucap Wani kemudian ia langsung menuju ke Desi yang duduk di belakang kedua mempelai.
"Maaf ya Desi, aku datang terlambat tadinya aku berpikir dulu apakah mau datang atau tidak ke acara pesta pernikahan anakmu ini, tapi mengingat kamu juga selalu datang di acaraku aku pun akhirnya datang."
"Kamu kok ngomong begitu sih, kamu ini kayak bukan sahabatku saja. Kenapa juga kamu nggak mau datang di pesta pernikahan aku, ini adalah pesta pertama dalam keluargaku," kesal Desi mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kenapa sih kamu tak mencari menantu lain. Kenapa harus Zahra? Apa sudah tak ada wanita lain lagi." ucapnya sengaja mengeraskan suaranya membuat Zahra yang duduk di depannya mampu mendengar semua ocehannya. Arga mengeratkan giginya mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat ibunya itu yang ia tau adalah mantan mertua calon istrinya. Ia ingin menegurnya, tapi Zahra menggenggam tangannya dan menggeleng mengisyaratkan jika tak usah menanggapi apa yang Wani katakan.
"Aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan semua ocehan nya seperti itu," ucap Zahra mengelus punggung tangan Arga ia tak ingin membuat calon suaminya itu merasa kesal di hari bahagia mereka. Benar saja, suasana hati Arga langsung berubah mendengar ocehan dari ibu mantan suami dari calon istrinya itu, ia akan membuktikan jika ia bisa bahagia bersama dengan Zahra tak seperti ocehan yang selama ini dikatakan oleh sahabat ibunya itu, beruntung ibunya mendukungnya sepenuhnya sehingga tak gampang terpengaruh omongan dari Wani.
"Wani hentikan ocehan tak berguna mu itu jangan lagi kamu menjelek-jelekkan Zahra di hadapanku. Sebentar lagi dia akan menjadi menantuku jika kamu mengulanginya sekali lagi aku takkan menganggapmu sebagai sahabat lagi," ucap Desi dengan tegas.
"Jadi kamu lebih memilih menantumu itu daripada persahabatan kita selama ini?"
"Aku tak memilih siapapun. Kamu adalah sahabatku dan Zahra adalah menantuku. Tak ada yang aku banding- bandingkan dari kalian, tapi jika kamu menghina Zahra itu sama saja kau menghina aku dan aku tak akan membiarkan kau menghinaku."
__ADS_1
Mendengar itu Wani pun terdiam dan memilih untuk fokus pada acara yang sebentar lagi akan dimulai
Sedangkan Arham sendiri duduk di deretan para tamu lainnya, ia bisa melihat Zahra yang begitu cantik. Itulah Zahra yang ia cintai hingga saat ini, walau tak menerima semua itu ia tak bisa berbuat apa-apa, kehadiran Nasya di sampingnya dan anak yang ada di dalam kandungan Nasya menjadi bukti jelas dari kesalahannya, kegagalannya mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Ia harus menerimanya, ia melihat Nasya di sampingnya.
'Mengapa aku tak bisa mencintai Nasya seperti aku mencintai Zahra,' batinnya.
Sementara itu Nasya terus mengusap perutnya sambil perhatiannya tertuju pada Dewi yang duduk tak jauh dari mereka, ia masih penasaran apakah Wanita itu yang akan melahirkan anak untuk Zahra.
Acara pun dimulai penghulu mulai membacakan ijab kabulnya kemudian dengan satu tarikan nafas Arga menjawab ijab kabul itu, mengikrarkan ijab kabul atas nama Zahra dengan sangat lancar dan jelas. Kata SAH yang bergema membuat Zahra kini resmi menjadi istri dari Arga.
Zahra memejamkan matanya mendengarkan suara SAH itu hingga menusuk ke jantungnya, rasa haru bahagia membuat ia berkaca-kaca ia pun berbalik menatap suaminya itu mencium punggung tangannya, beberapa doa diucapkan di dalam hatinya. Harapan semoga cinta Arga tak akan berubah sampai kapanpun dan apapun yang terjadi di kemudian hari. Semoga keluarganya menjadi sakinah, mawadah, warahmah.
Kata Sah juga sampai ke hati Arham. Namun, bukan kebahagiaan yang menusuk ke hatinya, rasa perih. Masih jelas terasa di ingatannya saat ia mengikrarkan nama Zahra dalam ijab kabulnya. Bagaimana kebahagiaan mereka saat itu. Namun, semua telah Ia hancurkan sendiri. Menyesal itulah kata yang tepat untuk seorang Arham.
"Selamat ya, Bu. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah warohmah," ucap Dewi tulus.
"Terima kasih ya Dewi, semoga kehadiran bayi ini dapat menambah Kebahagiaan rumah tangga kami," ucap Zahra mengelus perut Dewi dan perkataan Zahra itu didengar oleh Nasya, membuat ia yakin jika Dewi memanglah orang yang dimaksudnya ibu yang akan memberikan bayinya pada Zahra.
Dia pun menarik mertuanya, "Ibu lihat wanita hamil yang ada di sana itu?" tunjuknya pada Dewi.
"Iya memang kenapa? Ibu tak mengenalnya! Ibu baru melihatnya di sini," jawab Wani.
"Sepertinya itu adalah wanita yang akan memberikan bayinya pada Zahra."
__ADS_1
"Oh itu orangnya, dasar wanita bodoh bagaimana mungkin dia tega memberikan anaknya kepada orang lain. Pasti ada sesuatu yang membuatnya melakukan semua itu, apa jangan-jangan itu adalah anak haram? Bisa-bisanya Desy menerima anak haram sebagai anak cucunya."
"Apa mereka ada pilihan lain. Wanita itu membutuhkan ibu untuk anaknya dan Zahra membutuhkan anak. Apapun latar belakang pasti mereka tak peduli akan hal itu." Nasya ikut menanggapi ucapan mertuanya.
"Sebentar, Ibu mau pastikan dulu," ucapnya ingin menghampiri Desi. Namun, Tanti langsung menghentikannya.
"Sudahlah Wani untuk apa juga kau ingin cari tahu hal itu. Kita tak usah mengurusi mereka, tak usah terlalu ikut campur dalam rumah tangganya. Arga dan juga Zahra sudah resmi menjadi suami istri. Zahra memang pernah menjadi menantumu, tapi kan itu dulu sekarang dia sudah menjadi menantu Desi tak usah kau menjelek-jelekkan dia di mata mertuanya biarkanlah Desi menilai sendiri menantunya. Dia sudah menjadi mertua dari Zahra." Tanti hanya bisa menggeleng melihat anak dan sahabatnya itu, mereka begitu kompak jika menyangkut Zahra.
"Aku tak menjelek-jelekkan Zahra. Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Apakah memang dia wanita yang ingin memberikan anaknya kepada Zahra."
"Jika memang wanita itu adalah wanita yang benar ingin memberikan bayinya kepada Zahra.Kau ingin apa? kau ingin kembali menghinanya? Ingat Wani anakku juga seorang wanita dan aku tak mau semua hinaanmu itu kepada Zahra menjadi karma buat anakku, dia sekarang sedang hamil tak usah kau menghina wanita hamil itu dengan mengatakan bayinya adalah bayi hasil hubungan gelap atau semacamnya tanpa mengetahui terlebih dahulu fakta yang sebenarnya."
Wani kembali ingin menjawab pertanyaan Tanti, tapi kali ini Arham langsung menghentikannya.
"Ibu hentikan! Mulai sekarang jangan ikut campur urusan Zahran Ibu sudah mengusiknya selama menjadi menantu Ibu, tak usah mengusiknya saat dia menjadi menantu sahabat ibu. Jika bukan karena ibu …. Hentikan semua kelakuan itu. Biarkan Zahra bahagia," ucapannya melihat ke arah Nasya dan juga Tanti kemudian ia keluar meninggalkan pesta itu.
Nasya tahu apa yang ingin dikatakan suaminya itu, ia pasti ingin mengatakan jika bukan karena ibunya ia masih menjadi suami Zahra. Nasya bisa melihat kemarahan dan kekecewaan serta kesedihan di wajah suaminya saat Zahra sudah resmi menjadi istri dari Arga.
"Ibu aku pulang dulu," ucap Nasya menyusul Arham yang sudah keluar dari gedung pernikahan itu.
Tanti menatap kesal pada besannya itu kemudian Ia pun ikut keluar setelah pamit terlebih dahulu kepada Desi dan memberikan selamat kepada Zahra dan juga Arga. Namun, tidak dengan Wani, ia langsung pergi keluar meninggalkan pesta itu tanpa memberikan selamat kepada Zahra dan juga Arga.
__ADS_1