
Sepulang dari tempat acara tersebut Arham mengantar Nasya dan juga Wani untuk pulang ke rumah mereka.
"Bu aku sedang ada urusan. Aku pergi dulu ya," ucap Arham hanya mengantar mereka dan kembali ingin pergi.
"Kamu mau kemana. Jangan bilang kamu ingin ke tempat Zahra ya."
Mendengar itu Arham hanya melihat ke arah Nasya dengan tatapan sinisnya dan tetap masuk kembali ke mobilnya.
"Tunggu, kamu sebenarnya mau ke mana?" tanya Nasya menahan pintu mobil Arham saat akan menutupnya.
"Aku kan sudah bilang padamu jika aku ada urusan sebentar, bukan berarti urusanku itu akan menemui Zahra 'kan. Apa aku harus menjelaskannya terlebih dahulu sebelum pergi secara detail?" ucap Arham yang sudah terpancing emosinya.
"Tapi," ucap Nasya masih ingin menanyakan tujuan suaminya itu. Namun, Wani langsung menghentikannya.
"Kamu hati-hati di jalan, ingat jangan pulang kemalaman. Pergilah!" ucap Wani menarik Nasya agar tak menahan Arham untuk pergi.
Mendengar itu Arham langsung masuk ke dalam mobilnya membanting pintu mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan Nasya yang menatap kesal padanya.
"Nasya, Ibu Kan sudah bilang jangan terlalu mengekangnya seperti itu, cobalah untuk percaya sama dia. Jangan memancing emosinya itu hanya akan menambah jarak diantara kalian."
"Bu, aku yakin pasti Arham akan menemui Zahra. Apa Ibu tak melihat bagaimana ekspresi Arham tadi saat melihat Zahra mendapat perhatian dari Arga, aku yakin saat ini pasti dia akan menemui Zahra, Bu"
"Berhenti mencurigai suamimu sendiri seperti itu, jika kamu terus mencurigainya ia akan merasa tak nyaman. percaya saja pada Arham, iq tak akan melakukan semua itu. Mereka sudah bercerai."
"Mana mungkin aku percaya saat terang-terangan aku menyaksikan sendiri Bagaimana dia juga melakukan hal itu padaku Zahra dulu, ia membohongi istrinya dengan sangat mudah. Bagaimana jika Arham juga melakukan hal yang sama padaku."
"Cukup Nasya! sekarang kamu fokus saja kepada kehamilan mu. Aku yakin jika bayi itu lahir walaupun Zahra sendiri yang datang pada Arham untuk kembali, ia tak akan berpaling darimu. Jadikan kehamilan itu sebagai pemikatnya," ucap Wani membentak menantunya itu untuk pertama kalinya. Nasya yang mendapat bentakan tersebut merasa kesal dan langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Wani.
"Keras kepala sekali sih kamu, jika kamu terus bersikap seperti itu jangankan Arham siapapun pasti akan meninggalkanmu," kesalnya kemudian Ia pun menyusul masuk.
****
__ADS_1
Sementara itu di butik Zahra, Arga pamit pulang setelah mengantar wanita pujaannya itu.
"Terima kasih ya, hari ini kamu mau datang ke acara Ibu," ucapnya sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Justru aku yang berterima kasih telah diundang ke acara yang spesial seperti itu."
"Aku minta maaf, aku tak tahu jika Ibu mengundang keluarga Arham, aku pikir hanya kita saja yang hadir di acara itu."
"Tak apa-apa, kok. Dengan begitu mas Arham juga tahu jika kita sudah tak punya hubungan lagi, status kita sudah bercerai dan sekarang ada Nasya yang harus dijaganya. Semoga saja setelah malam ini dan melihat kita berdua mas Arham tak lagi menggangguku."
"Apa selama ini Arham masih sering mengganggumu?" tanya Arga.
"Enggak kok, hanya saja Mas Arhan terkadang masih memintaku untuk menjalin kembali hubungan kami. Walau aku sudah mengatakan jika kita tak mungkin kembali lagi tetap saja Dia sedikit memaksa, tapi kamu nggak usah khawatir aku baik-baik aja kok."
"Jika Arham melakukan sesuatu padamu aku mohon segera hubungi aku, jangan menutup-nutupinya," ucap Arga yang kini dilanda rasa khawatir, Ia berpikir selama ini Arga sudah menerima perceraian mereka mengingat istrinya sedang hamil saat ini, tapi ternyata ia salah.
"Ya udah, masuk lah. Aku ingin pergi ke suatu tempat," ucap Arga kemudian Ia pun masuk ke dalam mobilnya dan terus melihat Zahra yang berjalan menuju ke pintu.
Begitu mobil Arga meninggalkan butik masuklah mobil Arham. Zahra yang sedang memainkan ponsel baru saja ingin melangkah masuk.
"Zahra, tunggu!" ucapnya.
"Iya, ada apa?" tanyanya berbalik Zahra terkejut saat bukannya Arga yang memanggilnya tapi justru Arham yang berjalan ke arahnya.
Ia bergegas Ingin menutup pintunya. Namun. Arham langsung menahan pintunya.
"Zahra, Aku hanya ingin bicara, sebentar saja. Kenapa kau terus menghindariku seperti ini," ucapnya menahan pintu.
"Bicara apa lagi? Sudah tak ada masalah yang perlu dibicarakan. Aku tak mau bicara denganmu. Pergi dari sini! ucap Zahra yang kini mulai takut dengan Arham sejak kejadian di malam saat Arham mendatanginya dan memaksa ingin saat ia mabuk dan memaksa masuk.
"Aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bicara denganmu. Buka pintunya."
__ADS_1
"Ya sudah bicara saja, kita bisa bicara walau terhalang pintu 'kan? Aku masih bisa mendengarmu," ucap Zahra masih terus mendorong pintu tersebut, ia bisa melihat kemarahan di wajah Arham saat tadi ia membiarkan Arga memberi perhatian padanya.
Arham mendorong kasar pintunya membuat Zahra terpentar ke belakang.
"Arham kamu memasuki tempatku dengan paksa aku bisa melaporkanmu ke kantor polisi, ini tindakan kriminal."
"Laporkan saja, aku tidak takut. Sekarang Jawab pertanyaanku, apa sebenarnya hubunganmu dengan Arga? apa sebelum bercerai kau sudah menjadi hubungan dengannya, kamu selingkuh kan dengannya! Apa itulah sebabnya kau mengajukan gugatan percerai kita?"
Mendengar itu Zahra tersenyum sinis, "Mas jangan memutar balikkan fakta, kau memfitnah aku selingkuh? Lalu apa yang kau lakukan dengan Nasya. Sudahlah! sekarang kita sudah berpisah, kita sudah bercerai. Mas juga sudah menikah dan Nasya sudah hamil anak Mas, lalu apalagi yang Mas inginkan dariku. Biarkan aku bahagia dengan kehidupan baruku."
"Tidak Zahra. Aku takkan rela jika kau bersama dengan Arga, kau hanya milikku. Begitu anak itu lahir aku akan menceraikan Nasya dan kembali padamu. Aku tak peduli kau memberiku seorang anak ataupun tidak, aku hanya ingin hidup bersamamu aku mohon bersabarlah menungguku."
"Tidak, Mas. Aku bukan lagi Zahra yang bisa kau bohongi, sudah cukup semuanya aku sudah tak mau lagi berurusan denganmu, keluar dari sini!"
"Aku takkan keluar sebelum kau mengatakan iya untuk menungguku."
"Kamu sudah gila, Mas. Pergi dari sini jangan lagi mendekatiku! Aku tak ingin berurusan lagi denganmu tolong hargai keputusanku," ucap Zahra yang kini ketakutan dan berjalan mundur saat Arham terus berjalan maju mendekatinya.
"Mas aku bilang jangan mendekat."
Arham terus saja menatapnya dengan tatapan kemarahannya, bayangan saat Zahra menerima potongan kue dari Arham itu sangat menyakitkan hatinya, ia terbakar api cemburu melihat semua itu.
Zahra yang melihat jika ia sedang dalam bahaya dengan cepat berlari naik ke lantai dua. Namun, Arham langsung menarik kakinya dengan sekuat tenaga.
Zahra terjatuh, tapi dengan kuat Zahra menendang mantan suaminya itu dan berhasil melepaskan genggaman tangan Arham dan kembali naik dan berlari menuju ke kamarnya, tapi saat akan menutup pintu Arham kembali menahan pintu tersebut. Dengan sekuat tenaga Zahra terus mendorong dan Ingin menutup pintu itu. Namun, kekuatan seorang wanita tak akan sebanding dengan kekuatan seorang pria, dengan hanya memberi dorongan pintu itu sudah terbuka lebar.
"Mas kamu mau apa?" tanya Zahra saat melihat Arham membuka jasnya dan melemparnya kesembarang tempat. "Mas, kita sudah bercerai," ucap Zahra semakin ketakutan memperingatkan Arham yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikannya dan benar saja Arham menarik nya dan membantingnya ke tempat tidur dan mencoba melecehkannya.
Zahra terus menolak, Walau mereka sudah sering melakukan hal itu. Namun, saat ini status mereka sudah tak lagi menghalalkan semua itu, dengan sekuat tenaga Zahra menolak. Namun, kemampuannya tak cukup untuk menghentikan apa yang Arham lakukan bahkan pakaiannya sudah sobek dan menampakkan dadanya, Zahra hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong. Namun, tak ada yang mendengarkannya.
Saat ini Nindy bersama dengan Ranti dan juga Tere singgah untuk membeli sesuatu. tadinya Zahra diantar oleh Arga dan mereka berpikir mungkin saja saat ini keduanya sedang berduaan di butik. Mereka tak ingin mengganggu dan tak menyangka jika Arga akan meninggalkan Zahra sebelum mereka datang.
__ADS_1