Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Kebahagiaan Baru


__ADS_3

Saat kembali ke rumah, Zahra merawat bayi itu dengan sangat hati-hati. Ia langsung membawanya ke kamarnya.


Dewi ikut senang melihat kebahagiaan dari majikannya itu.


Bukan hanya Zahra yang menyayangi bayi itu, Desi dan juga Arga juga sangat menyayanginya. Bayi itu merupakan magnet kebahagiaan baru di keluarga mereka.


Dewi memompa air asinya dan memberikan kepada Zahra, membuat Zahra bisa mengurusnya 24 jam.


Dewi sengaja tak menyusui langsung anaknya agar ikatan antara Zahra dan Anaknya dapat terjalin dengan erat dan itu berhasil, anaknya sangat nyaman berada di pelukan Zahra.


Malam hari saat mereka sedang tidur, tiba-tiba bayi itu terbangun. Zahra pun ikut terbangun dan menghampiri bayinya menimang-nimangnya.


"Ada apa Bunda?" tanya Arga yang ikut bangun saat bayi itu terus saja menangis.


"Nggak tahu, mungkin dia lapar," ucap Zahra yang sudah mengganti popoknya, tapi bayinya masih menangis.


"Ya sudah, aku buatkan susunya dulu." Arga mengambil asi yang sudah dipompa oleh Dewi dan memberikannya kepada bayi mereka. Bayi itu langsung tenang dan menyusu dengan tenang.

__ADS_1


"Sepertinya dia memang lapar, sehingga terbangun," ucap Zahra mengusap pipi Putri kecilnya yang sudah mulai terlihat tembem. Mereka beri nama bayi Nabila.


Mereka terus terjaga dan memangku Nabila sampai bayi itu tuh kembali tertidur pulas.


"Sudah, Bunda. Nabila sudah tidur kita pindahkan saja dia box bayinya, kamu juga harus beristirahat," ucap Arga mengambil Nabila dari gendongan Zahra dan memindahkannya di box bayinya dengan hati-hati meletakkan bayi itu dan memberinya selimut serta menepuk pelan saat bayi itu menggeliat. Bayi itu kembali tertidur pulas.


Zahra memeluk Arga dari belakang.


"Terima kasih ya, sudah memberiku kebahagiaan ini. Walau Nabila bukanlah anak kandungku, tapi aku merasa bahagia, aku benar-benar merasa menjadi seorang Ibu," ucapnya.


"Bersabarlah, suatu saat nanti aku percaya kita juga akan memiliki seorang bayi yang lahir dari rahimmu sendiri. Sampai hari itu tiba, kita akan selalu menyayangi Nabilah seperti putri kita sendiri.


"Maaf ya aku tak bisa memberimu apa yang seharusnya aku berikan kepadamu!"


"Jangan pernah mengatakan itu, jika memang sudah saatnya kita akan di berikan kepercayaan itu."


Zahra mengangguk, semakin ia mengenal sosok Arga, ia semakin mencintainya.

__ADS_1


Mereka terus memandang Nabila yang sedang tertidur pulas, kehangatan bisa keduanya rasakan walaupun hanya dengan memandang wajah polos dan menggemaskan itu. Ayo kita tidur Sebelum Nabila bangun lagi," ucap Arga mereka pun melanjutkan tidur mereka.


****


Sementara itu di kediaman Arham bayi yang mereka beri nama Kenan terus saja menangis.


Nasya yang terbangun dan mendengar bayinya menangi justru menutup telinganya dengan bantalnya.


Nasya yang merasa terus saja menggerutu.


"Arga, bangun." Nasya terus saja membangunkan Arham.


"Nasya ada apa sih?" tanya Arham yang kini duduk ia baru mendengar suara tangis Anaknya.


"Kamu itu bisa ya tidurnya putus seperti itu, apa kamu tak dengar bayimu itu sedari tadi menangis. Mungkin dia lapar," ucap Nasya menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Arham yang melihat kelakuan istrinya itu hanya menghela nafas kemudian Ia pun bangun dan mengurus bayinya.

__ADS_1


Ya, seperti itulah setiap harinya saat Kenan terbangun arham lah Yang bangun untuk memberinya susu dan juga mengganti popoknya, menimang bayi itu hingga kembali tertidur.


Nasya tak mau menyusui bayinya dengan berbagai macam alasan. Membuat mereka tak punya pilihan lain selain memberikan susu formula.


__ADS_2