Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Pesona Zahra


__ADS_3

"Apa kau yakin tak ada yang mencarimu di pesta perusahaan suamimu? Ini sudah lewat, acaranya sudah pasti dimulai," ucap Aditya yang saat ini sedang bersama dengan Nasya menuju ke pesta tersebut.


"Sebentar lagi kita juga sampai, aku akan mencari alasan dengan ke salon. Tak ada yang berani mempertanyakan keterlambatan ku," ucap Nasya berjalan lebih dulu saat mereka sudah sampai di tempat acara tersebut, tadinya ia sengaja meminta Aditya untuk menjemputnya di salon dan mereka menuju ke tempat pesta bersama-sama. Namun, Nasya meminta Aditya untuk memelankan mobilnya agar mereka bisa lebih lama ngobrol dan Nasya merasa nyaman mengobrol dengan Aditya.


Aditya tersenyum sinis melihat Nasya yang berjalan masuk.


"Sepertinya kau tak bahagia dengan pernikahanmu," Aditya pun berjalan masuk layaknya tamu lainnya dan langsung menghampiri Arham, memberikan ucapan selamat atas kesuksesannya.


Pesta pun berlangsung. Nasya menghampiri Arham dan menggandeng tangannya menyambut para tamu..


"Kenapa kau datang terlambat? Kau sudah tahu kan jika acaranya diadakan jam 08.00 malam. Kenapa kamu baru datang jam seperti ini?"


"Maaf, tadi aku di salon dulu, mereka terlalu lambat mendandaniku, jangan salahkan aku salahkan petugas salonnya," usap Nasya masih tersenyum menyapa beberapa tamu lainnya yang baru datangan.


Mendengar tuh Arham hanya menghela nafas, ia malas untuk bertengkar dengan Nasya yang sudah pasti istrinya itu tak akan mau kalah darinya.


"Aku menghampiri Ibu dulu," ucap Nasya kemudian menghampiri Ibu dan mertuanya begitu juga dengan anaknya yang duduk bersama dengan mereka.


"Nasya kamu ke mana saja? kenapa baru datang?" tanya Wani.


"Aku kan sudah memberitahu kepada Ibu sebelumnya, jika aku ingin ke salon. Apa itu lupa," jawabnya yang tak kalah kesalnya membalas pertanyaan dari Wani.


"Kamu kan sudah tau Kapan acaranya dimulai seharusnya kamu datang lebih dulu saya dari tamu lainnya dan menemani Arham menyambut tamu."


"Sudahlah, Bu. Aku kan sudah datang, aku juga tadi sudah menemaninya. Aku capek, Aku ingin istirahat dulu," ucap Nasya yang duduk di salah satu sofa yang berada di dekat mereka.


"Mama aku lapar, aku mau makan," pinta Kenan menghampiri Nasya.


"Kenan, Mama ini capek sebaiknya kamu cari Bibi minta Bibi untuk memberi makan padamu."


Mendengar itu Kenan pun murung dan langsung berjalan menjauhi mereka, mencari Bibi yang entah ke mana.


Saat sedang mencari bibinya ia tak sengaja bertemu dengan Nabila yang duduk bersama dengan ayah dan bundanya sambil memegang kue coklat kesukaannya.


"Kamu mau ini?" tanya Nabila memperlihatkan kue yang di pegangnya.

__ADS_1


Kenan pun mengangguk.


"Ini untukmu," ucap Nabila memberikan sepotong cake yang dipegangnya.


Kenan yang memang lapar langsung menghampiri Nabila dan mengambil cake tersebut dan duduk di dekatnya.


"Apa kamu mau makan? Aku ingin mengambilkan Nabila makanan kamu juga mau?" tanya Zahra membuat Kenan kembali mengangguk.


Zahra pun berdiri untuk mengambil makanan untuk keduanya, ia tak tahu jika anak laki-laki itu adalah anak Arham dan juga Nasya.


Zahra menyuapi keduanya secara bergantian, kenan sangat senang mendapat perlakuan yang hangat dari orang yang baru saja dikenalnya itu..


"Di mana orang tua kamu? Nanti mereka mencarimu," ucap Zahra yang sudah selesai memberi makan kepada mereka berdua.


"Itu anaknya Arham dan juga Nasya," sahut Arga yang sejak tadi memperhatikan mereka membuat Zahra terkejut.


"Oh jadi ini anaknya Mas Arham dan Nasya? Kenapa Ayah tak memberitahuku dari tadi, aku pikir dia anak siapa,"


"Emangnya kenapa kalau dia anak Arham dan Nasya? kau tak ingin menyuapinya?" ucap Arga berbisik di telinga Zahra membuat Zahra memukul paha suaminya itu.


"Nama kamu siapa?" tanya Zahra.


"Namaku Kenan, Tante." jawabnya


"Aku Nabila, senang berteman denganmu," ucap Nabila mengulurkan tangannya kemudian mereka pun berkenalan.


"Mau main denganku? Kita main di sana," tunjuk Kenan pada salah satu wahana bermain yang memang disiapkan untuk anak-anak.


Nabila melihat ke arah Bundanya mau minta persetujuan, Zahra juga melihat ke arah Arga ia tak berani memberi izin mengingat jika Kenan adalah anak Arham dan juga Nasya.


"Biarkan saja mereka bermain, kita akan mengawasinya dari sini," ucap Arga membiarkan kedua anak itu bergandengan tangan berlari menuju ke wahana bermain yang tak jauh dari mereka. Arga bisa melihat seseorang mengikutinya, Sepertinya itu adalah Bibi pengasuh dari Kenan.


Tanpa disadarinya, sejak tadi Arham terus memperhatikan Zahra yang berinteraksi dengan putranya, 'Andai saja Zahra adalah ibu Kenan, Pasti Kami akan sangat bahagia,' batin Arham kemudian ia melihat istrinya yang duduk sambil memainkan ponselnya.


Nasya merasa bosan di pesta itu dan meminta Aditya untuk mengikutinya ke suatu tempat. Setelah Aditya menyetujui Nasya pun meninggalkan pesta itu dan menuju ke tempat lain di gedung tersebut.

__ADS_1


Sementara yang lain menikmati pesta Nasya justru menikmati bermesraan dengan Aditya dan tak ada yang menyadari akan hal itu.


"Ayah, aku ke kamar mandi dulu," ucap Zahra.


"Apa mau Ayah temani?"


"Nggak usah, aku bisa sendiri, Ayah awasi saja Nabila."


Zahra berjalan menuju ke belakang, Arham yang melihatnya mengikutinya.


Zahra terkejut saat keluar dari kamar mandi ternyata Arham ada di kamar mandi itu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ini kamar mandi wanita."


"Aku ingin bicara padamu." Arham menghentikan Zahra yang ingin meninggalkan kamar mandi tersebut.


"Tak ada lagi yang bisa dibicarakan, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Mas, aku mohon lupakan hubungan kita yang dulu aku sudah bahagia dengan Arga dan juga anakku. Aku mohon jangan membuat Arga salah paham dengan situasi ini," ucap Zahra ingin pergi. Namun, Arham mencekal tangannya, menggenggamnya dengan erat.


"Arham aku mohon lepaskan tanganmu."


Zahra berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Arham. Namun, genggaman Arham sangat kokoh memegang tangannya dan bahkan menyeretnya hingga Zahra terhimpit di dinding dengan Arham yang mengurungnya dengan kedua tangannya.


"Arham kau jangan gila, kau mau apa?" ucap Zahra yang mulai ketakutan melihat tatapan Arham padanya.


"Kau tahu aku masih sangat mencintaimu, di hatiku hanya ada kamu, walau kau sudah menjadi memiliki Arga kau tetaplah milikku," ucapan yang langsung mencium bibir Zahra dengan paksa.


Zahra yang tak terima menggigit bibir Arham dan memberikan sebuah tamparan pada Arham.


"Keterlaluan kamu, Mas." bentak Zahra kemudian menghapus sisa ciuman Arham dengan kasar di bibirnya.


"Zahra. Aku mohon jangan seperti ini aku masih sangat mencintaimu," ucapnya. Namun, Zahra menginjak kaki Arga dengan sangat kencang membuat Arham mengerang kesakitan dan melepaskan genggamannya pada Zahra, membuat Zahra mengambil kesempatan itu dan berlari keluar dari kamar mandi.


"Zahra tunggu," teriak Arham mengejar Zahra dengan kakinya yang terpincang-pincang.


"Suamimu mengatakan cinta kepada wanita lain, apa jangan-jangan selama ini kalian menikah tanpa cinta?" tanya Aditya di mana saat ini mereka sedang ada di kamar mandi, mereka sedang mengobrol dan masuk ke kamar mandi saat melihat Arham datang ke arah mereka dan melihat adegan Arham yang mencium Paksa Zahra, mendengar dengan jelas pernyataan cinta Arham.

__ADS_1


Nasya yang sangat kesal melihatnya membuat dia yang tadi hanya ingin mengobrol dengan Aditya melampiaskan semua kekesalannya dengan membiarkan Aditya menyentuhnya.


__ADS_2