Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 10


__ADS_3

Apakah ibuku masih hidup?"


" Sinta meninggal setelah menitipkan kamu." Ucap ibu lagi.


" Jadi hari ini kita akan kemana bu?"


Ibu kembali menghela napas, ia menatapku sebentar, " ke kampung ibumu."


Tragis sekali hidupku. Mengapa aku harus menjalani takdir serupa dengan Bu Sinta?


*


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya kami sampai disebuah kampung kumuh nan kecil.


" Bu, haruskah aku kembali ketempat ini?"


Aku berharap ibu berpikir kembali untuk meninggalkan ku disini. Seumur hidupku aku tidak pernah pergi kemana-mana, dan aku sungguh merasa asing.


Namun ibu tak menggubris ucapanku sedikitpun.


Ibu mengajakku untuk sejenak beristirahat di sebuah warung kecil. Aku memesan segelas teh manis hangat dan sepiring lontong. Aku makan dengan lahap. Bahkan setetes kuah lontong pun tak tersisa di piring.


" Lapar ya?" Tanya ibu sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk, senang rasanya ibu sudah memberikan sedikit senyum padaku.


Perjalanan selanjutnya kami akan ziarah ke makam ibu sinta, ibu kandungku. Cukup lama kami mencari-cari, hingga tanpa sengaja mataku menangkap sosok batu nisan yang berdebu penuh tanah. Makam ini sudah rata oleh tanah, bahkan rumput liar menghias diatasnya.


Entah karena ada ikatan batin, aku seketika membersihkan batu nisan itu, kini samar-samar ku eja batu nisan bertuliskan Sinta.


" Assalamu'alaikum, ibu... Salsa datang bu..."


Pelan-pelan aku mulai membersihkan makam milik ibu kandungku. Miris sekali, tidak ada yang mengurus.


Di pusara rata ini ku tumpahkan air mataku. Ada perasaan sedih, karena harus bertemu di dua alam yang berbeda.


Berkali-kali ibu mengusap bahuku, memberi kekuatan padaku.


Setelah puas berada di makam ibu kandung ku, kini aku kembali diajak kesebuah rumah tua.


" Ini rumah orang tua ibu. Ibu adalah anak tunggal. Kedua orang tua ibu sudah meninggal, jadi kau bisa tinggal disini." Ucap ibu pelan.


" Sendiri?" Tanyaku tak percaya.


"Iya, ibu tidak bisa menemanimu, ada Zaskia yang masih membutuhkan ibu. Kau harus menerima semua konsekuensi atas perbuatan mu, Salsa."


" Ini ada uang, ambillah!"


Uang sebesar dua juta rupiah kini sudah berpindah di tanganku.


" Gunakan uang ini untuk keperluan mu sehari-hari. Insya Allah kalau umur ibu panjang, ibu dan Zaskia akan menjenguk mu. Ibu yakin kamu mampu bertahan sendiri."

__ADS_1


Kami berpelukan erat, aku seperti takut akan kehilangan ibu.


Akhirnya ibu benar-benar meninggalkan aku di rumah tua ini sendiri. Tanpa siapa pun!


*


Aku menyenderkan tubuhku di dinding reot rumah ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mampukah aku hidup sendiri?


Ku usap perut ku yang membesar.


" Nak, Bunda pasti kuat." Ucap batinku.


" Assalamu'alaikum..."


Dari balik pintu muncul seraut wajah tua dengan jalan sedikit membungkuk.


" Waalaikumsalam..." Dengan susah payah aku berdiri.


Tanpa ku persilahkan nenek tua ini masuk kedalam rumah. Ia memperhatikan aku dari ujung kepala sampai ujung kaki.


" Ada hubungan apa kamu dengan Komariah?"


" Nenek mengenal ibu?" Aku balik bertanya.


" Dari dia kecil kami sudah bertetangga. Kemana dia sekarang?"


" Ibu sudah pulang, nek." Jawabku sedih.


Nenek yang tidak ku ketahui nanya ini mulai mengomel sendiri.


" Kemana suamimu?" Tanya nenek itu. Ia sudah seperti seorang polisi yang mengintrogasi seorang tersangka.


" Suamiku pergi nek." Jawabku berbohong.


Aku malu jika harus mengaku tak punya suami pada nenek ini. Bisa-bisa ia akan semakin mengomel dirumah ini.


" Apa kau berani tidur disini nanti malam? Hari semakin sore, mendung pun mulai pekat. Sebentar lagi pasti akan turun hujan. Untuk sementara, tidurlah dirumah nenek. Besok kita akan berberes dirumah ini sekalian meminta tolong warga untuk menyalurkan lampu kerumah ini."


Bulir-bulir air mata mengalir jatuh tanpa bisa aku tahan. Ternyata masih saja Allah kirimkan orang baik untuk membantuku disini.


" Kenapa malah menangis?" Nenek menyenggol bahuku.


" Terimakasih nek, karena masih perduli padaku."


*


Kini kami sudah tiba dirumah nenek, rumahnya tidak jauh beda dengan rumah peninggalan ibu. Hanya saja rumah ini jauh lebih bersih.


" Sekarang pergilah mandi, tidak baik untuk perempuan hamil jika mandi terlalu sore." Perintah nenek.


Aku pun segera pergi ke kamar mandi. Kamar mandi sederhana yang hanya di tutupi oleh karung bekas. Kamar mandi yang terdapat lubang besar berisi air, dan kita harus menggunakan ember yang diikat dengan tali untuk menjangkau airnya. Jauh berbeda saat aku tinggal dirumah ibu yang semuanya sudah tersedia.

__ADS_1


*


Aku sudah selesai mandi. Aku mengenakan celana panjang sedikit ketat dan kaos oblong. Maklum aku belum punya daster.


Nenek memperhatikan penampilanku, sehingga aku merasa risih. Tanpa berkata ia masuk kekamar dan tak berselang lama ia keluar membawa sebuah kain.


" Pakailah, ini nyaman untuk seorang ibu hamil."


Aku mengambil kain itu dari tangan nenek. Sebuah baju daster. Masih bagus dan sesuai dengan ukuran badanku.


" Baju itu bekas anakku." Nenek seperti tahu membaca pikiranku, tanpa diminta ia mulai bercerita.


" Nenek punya anak?" Tanyaku penasaran.


" Iya.." matanya mulai menerawang. Ada gurat kesedihan di wajahnya.


" Ia meninggal beberapa tahun yang lalu di bunuh suaminya saat masih mengandung enam bulan?"


Sontak aku terkejut dan mengucap istighfar berkali-kali.


" Suaminya cemburu buta, jadi gelap mata dan menghabisinya."


Aku mengusap bahu nenek., " Sabar ya nek, mudah-mudahan anak nenek husnul khotimah dan di tempatkan di surganya Allah."


Nenek menatapku, " siapa namamu?"


" Salsa nek." Jawabku singkat.


" Anakku namanya Wulandari, cantik sepertimu." Ucap nenek sembari tersenyum.


" Sudah malam, sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Kamu pasti sudah laparkan?"


Tanpa malu-malu aku mengangguk dengan cepat.


Di meja sederhana sudah terhidang semangkuk nasi dan semangkuk tumis kangkung dan dua telur mata sapi.


" Nenek cuma punya ini, semoga kamu suka ya."


Kami makan berdua di temani lampu sentir yang menyala. Sedangkan lampu listrik mati karena hujan turun cukup deras dan disertai Guntur yang saling bersahutan.


*


Hujan belum juga reda, aku dan nenek sengaja tidur lebih cepat. Diatas dipan kecil nan sempit, nenek baik hati ini berbagi tempat tidur denganku. Andai tak ada nenek, aku tidak tahu akan kemana malam ini.


Nenek sudah tertidur pulas. Hanya aku yang masih terjaga, maraku tak sedikitpun bisa diajak kompromi.


Tiba-tiba saja aku rindu rumah, rindu kamarku yang nyaman, rindu sekolah, rindu ayah, rindu mama dan juga Zaskia. Sedang apa mereka? Bahkan aku tak sempat pamit pada Zaskia. Apa ia mencariku? Apa ia akan merasa kehilangan? Ah, Zaskia.. mbak rindu sekali.


" Ya Allah... Jaga keluargaku, jaga ibuku,ayahku juga Zaskia. Jangan sampai Zaskia mengikuti jejakku. Dan... Beri kesehatan untuk nenek baik ini ya Allah...." Doaku dalam hati.


Sayup-sayup mataku mulai mengantuk, dan akhirnya aku tertidur dengan pulas dan sejenak bisa melupakan masalah ku.

__ADS_1


__ADS_2