Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 30


__ADS_3

Aku hanya mengangguk, sementara mataku sudah mulai mengembun. Antara sedih dan terharu.


Akmal menarik ku dalam pelukannya. Nyaman rasanya jika hari-hari akan seperti ini.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku.


Aku dan Akmal berdiri, ada rasa penasaran. Siapa yang datang?


Seorang perempuan turun, aku mengenalnya. Ternyata Zaskia datang berkunjung kerumahku bersama seorang lelaki yaitu ayah.


Wajah mereka masam saat tahu Akmal sedang berada di rumah ku.


Zaskia memasang kacamata diwajahnya, membuat penampilannya semakin menarik.


Serta merta aku segera menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk.


" Ayah, Zaskia silahkan masuk."


" Maaf kami tidak Sudi masuk kerumah reot milikmu." Ucap ayah dengan angkuhnya.


Ayah, kenapa harus kasar padaku? Sedikit saja berwajah manis meskipun itu hanya topeng belaka.


" Jadi kalian ini nekat, ya. Apa kamu sudah berpikir sungguh-sungguh, Akmal? Jangan sampai kamu menyesal karena telah salah memilih istri. Ayah tidak habis pikir, kalau ayah jadi kamu tentu ayah akan pilih Zaskia, Zaskia punya banyak kelebihan. Zaskia berpendidikan, ia masih bersegel, dan Zaskia mempunya keturunan bibit, bebet, dan bobot yang baik. Tidak seperti Salsa yang lahir dari seorang psk. Ups.. ayah keceplosan. Dan ayah yakin Zaskia bisa menjadi ibu tang baik untuk anak-anak mu."


Air mataku tumpah bagai air bah, sakit yang tidak berdarah. Hatiku bagai disayat dengan pisau lalu di beri taburan garam, menganga.


" Cu- cukup ayah. Cukup sudah ayah menyakiti Salsa." Ucapku dengan nada suara bergetar.


" Bukan saya menyakiti kamu, kamu yang menyakiti keluarga saya sejak sembilan tahun lalu hingga istri saya harus kecelakaan dan meninggal dunia. Sekarang kamu merebut pacar anak saya. Menyakiti perasaan anak saya. Apa kamu tidak punya kaca? Hah?"


" Cukup yah, apapun yang terjadi pilihan Akmal hanya ingin menikah dengan Salsa. Seburuk apa pun dia, bagi saya Salsa adalah perempuan terbaik. Jadi tolong hargai pilihan saya, om." Akhirnya Akmal membela ku di depan keluarga ku. Hal yang sudah lama aku tunggu-tunggu.


" Mas.. kamu keterlaluan." Zaskia mulai menangis. " Kurang apa aku mas?"


" Zas, kamu baik, cantik, dan smart. Kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada saya. Saya akan tetap menikahi Salsa, itu kenyataan yang harus kamu terima." Ucap Akmal lagi.


" Mbak, tidak bisakah kamu mengalah sedikitpun padaku? Aku adikmu mbak?"


Aku hanya diam membisu, " maafkan mbak mu ini, dek. Ini semua demi kebahagian El."


" Kalian ingat ya, saya pastikan kalian tidak akan pernah menikah. Dan kamu Salsa, saya pastikan seumur hidupmu kamu tidak akan pernah di terima oleh keluarga Akmal. Ingat itu!" Ayah menarik tangan Zaskia, mereka berlalu dari hadapanku. Sakit rasanya ya Allah...


Aku menangis sesenggukan. Kapan bahagia itu datang padaku? Tak pantaskah aku bahagia tuhan?


" Sa," Akmal merengkuh pundak ku.


" Apa aku tidak pantas bahagia, Akmal?" Tanyaku lirih.

__ADS_1


" Kita akan bahagia, Sa. Aku akan mengurus semua berkas yang di perlukan untuk pernikahan kita. Aku akan menikahi mu meski tanpa restu mama dan keluarga ku."


" Janji?"


Akmal mengangguk, ia memelukku erat.


*


Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba, beberapa menit lagi aku akan sah menjadi nyonya Akmal. Hal yang sejak dulu aku impikan bersanding dengan Akmal. Sembilan tahun lalu impianku adalah bersanding dengan Akmal di pelaminan bagai ratu dan raja sehari, tapi sekarang impianku jauh lebih sederhana. Aku hanya ingin sah menjadi istri Akmal dimata agama dan negara. Dan apa yang ku lakukan bersama Akmal adalah suatu ibadah bagi kami berdua.


Hari ini, Jumat,dua puluh lima mei dua ribu dua puluh dua akan menjadi sejarah bagi kami berdua.


Akmal mempersiapkan pernikahan kami sedemikian sederhana, namun bagiku ini sempurna.


Kebaya putih yang ku gunakan, hadiah pemberian dari Akmal. Kini ia menjemput ku, ia sendiri tanpa ada mama juga saudaranya. Akmal hanya di temani oleh beberapa sahabatnya, diantaranya ada seseorang yang ku kenal, Syam. Dia hadir menemani Akmal.


Aku malu melihat tatapan matanya yang tak berkedip. Aku berjalan di dampingi Nek Aminah. Sementara El,ia sudah dari tadi bergelayut manja di tangan ayahnya.


" Cantik." Bisiknya pelan di telingaku.


Aku hanya tersenyum malu dan mencubit tangan Akmal pelan. Bahagia... Itu aura yang terpancar dari wajah kami.


Kami sudah tiba di KUA, kini Akmal dan wali hakim( pak penghulu) sudah saling berjabat tangan.


Akmal mengucapkan ijab Kabul dengan satu kali tarikan napas, suara terdengar begitu lantang.


Aku menangis terharu kala mendengar saksi mengucap kata sah.


*


Kami sudah sampai di rumahku. Akmal sudah memesan makanan, kami melakukan makan bersama.


Sepanjang hari ini... Bibirku rasanya ingin tersenyum, senyum bahagia. Penantian ku sembilan tahun, kesetiaan ku selama sembilan tahun terbayar lunas dengan membawa Akmal kembali ke pelukanku dalam ikatan yang sah.


Para tamu dan tetangga sudah pulang. Nek Aminah pun berpamitan pulang, katanya ia tidak ingin mengganggu malam pertama pengantin baru.


Huh. Nek Aminah bisa saja membuatku malu di depan Akmal.


Kini hanya ada aku, El dan juga Akmal. Kamarku yang sempit dan hanya muat di huni oleh dua orang membuat aku berpikir keras, bagaimana nanti malam?


Ah, dasar pikiran kotor, belum apa-apa kok sudah ngeres, aku terkekeh sendiri.


". Bunda kenapa kok tertawa sendiri?" Tanya El keheranan.


" Em.. e- enggak.. siapa yang ketawa sendiri?" Aku menjadi malu karena ketahuan ketawa sendiri.


" Iya kan yah?" El meminta dukungan dari ayahnya.

__ADS_1


" Jangan-jangan..." Akmal tersenyum penuh arti menatapku.


" Jangan-jangan apa yah?" El semakin keheranan.


Aku melotot ke arah Akmal, Akmal hanya terkekeh, " Anak kecil gak boleh tahu." Jawab Akmal pada El.


" Ayah?" El tampak kesal, ia memonyongkan mulutnya.


Sementara Akmal memeluk El, dan berusaha membujuk putrinya itu agar UN


*


Malam sudah tiba, El sudah terlelap dalam tidur. Nyanyian jangkrik dan suara burung hantu menemani kami ibadah kami malam ini. Ditempat sederhana beralaskan tikar seadanya aku dan Akmal melepas malam pertama kami. Dibawah lampu temaram, kami berpacu melepas hasrat yang terpendam selama sembilan tahun sebagai sepasang suami istri yang sah secara agama dan negara. Ternyata senyaman ini tidur dalam dekapan seorang suami.


*


Aku sudah mandi, pagi-pagi sekali aku sudah menyiapkan sarapan karena Akmal akan berangkat kerja pagi ini. Hanya nasi goreng biasa yang akan ku hidangkan untuk suami dan anak tercintaku.


" Ayah..." El bergelayut manja pada ayahnya. Ia sudah mengenakan seragam sekolah nya.


Aku terharu dengan pemandangan pagi ini.


" Nanti ayah antar, ya." Ucap Akmal.


" Ye...." El bersorak gembira.


" Yuk makan!" Ajakku pada ayah dan anak itu.


" Nasi goreng buatan ibu juarakan, yah?"


" Mantap." Akmal mengangkat dua jempolnya.


Aku tersipu malu menerima pujian dari mereka.


" Bun, mulai hari ini kamu gak usah kerja lagi. Biar semua menjadi tanggung jawab ayah." Akmal menepuk dadanya


Semenjak kami sah menjadi suami istri, ia tak mau di panggil namanya dan iajuga tak mau menyebut namaku. Ia meminta panggilan ayah dan bunda. Mau tidak mau aku menuruti permintaan suamiku.


" Tapi, yah.." aku meragu. Bagaimana pun aku harus membiayai kehidupan nek Aminah yang sudah sepuh.


" Kamu ragu?" Tanya Akmal sedikit jengkel karena merasa diremehkan


" Aku harus membiayai kehidupan nek Aminah, yah. Nek Aminah sudah tua, ia tidak punya anak dan keluarga. Tidak mungkin aku membebankan semuanya sama kamu." Ungkap ku jujur.


" Aku bersedia kamu membagi hasil kerja aku pada Nek Aminah, biayai nek Aminah dari gaji aku. Bukan kamu saja yang berhutang budi pada nek Aminah, aku juga. Karena kebaikan beliau, kamy masih bertahan di masa sulit. Iya kan?"


Lagi-lagi aku terharu dengan ucapan Akmal. Jauh berbeda dengan Akmal sembilan tahun lalu.

__ADS_1


Kini mereka berdua mau berangkat. Setelah mecium pipiku El segera masuk ke dalam mobil. Sementara Akmal mencuri kesempatan dalam kesempitan. Sebelum pergi, kami terlibat ciuman panas yang memabukkan


Dasar Akmal!


__ADS_2