Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 34


__ADS_3

" Maafkan keluargaku, bun. Kita pasti bisa melewati semua."


" Ki- kita...berpisah saja. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini." Ucapku putus asa.


" Aku tidak ingin kehilanganmu, bun." Suara Akmal sedikit lantang.


" Kita tunggu mama sampai siuman. Jika itu kehendak mama, aku rela melepas kamu demi bakti seorang anak pada ibunya." Dengan langkah berat ku tinggalkan Akmal beserta keluarganya. Kedatangan ku disini tidak berarti apa-apa. Bahkan tak dihargai sama sekali.


Akmal mengejar langkahku, " tetap di sini, bun." Rengek Akmal bak anak kecil yang tidak mendapat permen.


Aku berhenti sesaat, menatap lelaki yang ku cintai sepenuh hati.


" Untuk apa aku di sini, yah? Nyatanya tidak ada yang bisa menerima kehadiran aku dan El. Dan jika kamu berada di posisiku, belum tentu kamu sanggup bertahan denganku. Silahkan kamu rawat mama, jika mama tetap pada pendiriannya, segera kabari aku. Aku tidak akan mempersulit seorang anak untuk berbakti pada orang tuanya."


Kata-kata yang keluar dari mulut ku bak kendaraan bermotor yang tidak mempunyai rem. Sungguh aku lelah dengan jalan hidupku.


Aku memesan sebuah ojek online. Akmal menatap kepergian ku dari jauh. Aku tahu, Akmal sedang berada di antara pilihan yang sulit.


*


Aku mencoba tegar dalam menjalani kehamilan keduaku. Aku yang berharap bisa bermanja-manja dengan Akmal, nyatanya kini harus bernasib sama seperti saat mengandung El. Sendiri, sepi juga mandiri.


Ini hari ketujuh Akmal tidak pulang dan juga tidak pernah memberi kabar padaku. Hanya saja ia mengirim sejumlah uang di nomor rekeningku. Entah apa maksudnya.


Saat sendiri begini aku rindu pelukannya,belaiannya yang memabukkan juga gombalannya yang membuat aku terbang ke langit.


Aku menepuk tempat kosong di ranjang ini. Tempat biasa Akmal beristirahat. Tempat aku dan Akmal memadu kasih. Tempat aku dan Akmal berbagi selimut. Tempat aku dan Akmal.. rasanya aku ingin teriak karena merindukan kehadirannya di sisiku.


Aku mencium aroma tubuhnya yang tertinggal di bantal ini.


" Akmal...aku rindu." Jerit batinku nelangsa.


Tring!


Satu pesan dari Akmal ( Bunda, Alhamdulillah mama sudah siuman. Besok sudah boleh pulang. Besok pagi ayah jemput ya.)


Alhamdulillah... Akhirnya mama mertua sudah siuman. Di sisi lain ada rasa syukur namun di sisi lain ada ketakutan yang tidak bisa ku jabarkan.


Bagaimana jika nanti mama tetap memaksa kami untuk berpisah? Haruskah aku berkorban demi kebahagian wanita paruh baya itu?


Hingga pagi mataku tak juga terpejam. Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Gema adzan sudah terdengar dari masjid yang tidak jauh dari rumahku. Aku segera mandi agar lebih segar dan segera menjalankan perintah Allah dua rakaat.

__ADS_1


Selesai shalat barulah mataku terasa berat. Rasanya aku tak sanggup lagi untuk sekedar menjatuhkan badanku di ranjang, jadi pagi ini aku tertidur di atas sajadah.


*


Entah sudah berapa lama aku tertidur, hingga aku merasakan tubuhku diangkat seseorang dan di letakkan diatas ranjang.


Karena penasaran aku membuka sedikit mataku. Betapa terkejutnya aku, ternyata Akmal yang melakukannya.


Ia mengecup keningku, pipiku dan bibirku. Ada kerinduan yang membuncah.


" Yah, aku siap-siap dulu, ya." Entah mengapa ketika di depan Akmal aku seperti sok jual mahal.


" Nanti saja, aku rindu bun." Akmal menarik ku kedalam pelukannya.


Entah siapa yang memulai hingga kami terlibat dalam hubungan suami istri. Beberapa hari tak bertemu, membuat Akmal beringas bak singa lapar.


Suasana rumah yang sepi seperti mendukung kami untuk melakukan ibadah bersama.


" Beberapa hari tidak jumpa, aku rindu." Akmal terbaring lemah di sisiku.


" Gombal."


" Enggak percaya?"


" Kenapa?" Tanya Akmal.


" Kamu saja tidak sempat memberi kabar padaku. Apa itu yang namanya rindu?" Sindir ku.


Akmal tertawa terbahak-bahak, " aku gak sempat megang ponsel sayang... Mama rewel sekali."


" Bagaimana keadaan mama?"


" Sudah siuman, dan mama tidak mau makan jika tidak dari tanganku. Aku bisa datang kesini, itu pun karena izin mau bekerja. Dan juga atas bantuan bang Dani." Ucap Akmal lagi.


Aku termangu mendengar cerita Akmal. Ternyata mama memang benar ingin memisahkan kami. Beliau menggunakan sakitnya untuk mengikat Akmal.


" Kok diam? Mikiri apa?" Sentuhan Akmal di bahu membuyarkan lamunanku.


Aku hanya tersenyum menatapnya. Aku tidak ingin Akmal kembali merasa bersalah. Bukankah seorang anak laki-laki wajib berbakti kepada ibunya.


" Maafin aku, ya. Aku belum bisa tinggal bersama kalian untuk saat ini. Bukan karena aku tidak sayang, tapi ini semua karena mama, karena bakti pada mama." Akmal menunduk sedih.

__ADS_1


Aku mengusap bahunya lembut, " aku paham sayang, lakukan yang terbaik untuk mama."


Kami berpelukan erat seperti takut berpisah. Ku usap mata yang mulai mengembun, jangan sampai Akmal tahu bahwa aku sedang menangis.


Aku mulai menyusun beberapa pasang baju milik Akmal kedalam tas. Sebenarnya berat rasa hati melepasnya, tapi demi kesembuhan mama mertua, insyaallah aku ikhlas. Mana tahu dengan keikhlasan hatiku, mama bisa berubah dan mau menerima hubungan kami.


El sudah pulang sekolah. Ia sedang makan siang bersama ayahnya. Kudengar mereka saling bercanda. Pasti ada kerinduan di hati El karena sudah berpisah beberapa hari dengan Akmal.


Aku menghampiri mereka, ada rasa haru melihat kebahagian yang terpancar dari wajah mereka.


" Ayah, sore nanti kita jalan-jalan yuk. El pengen makan bakso sama ayah."


Aku dan Akmal saling menatap, bingung mencari alasan yang cocok untuk El.


" Ayah gak pergi lagi kan?"


Akmal menggaruk rambutnya. Ia menatapku meminta pertolongan padaku.


" El, kita jalan-jalannya lain kali saja , ya."


Aku mulai bersuara.


" Kenapa bun? Ayah sibuk lagi? Kapan sih ayah ada waktu buat El dan bunda? Memangnya orang di luar sana lebih penting ya dari pada keluarga ayah sendiri."


Mulutku menganga tak percaya mendengar penuturan putri semata wayang ku. Darimana ia belajar seperti itu?


" El, bunda gak pernah loh ngajari gak sopan begitu sama ayah. Ayah memang sibuk, nenek lagi sakit. Dan nenek sangat butuh ayah." Aku memberi penjelasan pada El yang semakin cerewet.


" Nenek yang mana bun? Yang suka marah-marah sama bunda? Yang gak suka lihat bunda?"


" El..." Aku tidak tahu harus bicara apa lagi pada El. Aku yakin El sekarang sedang belajar menilai seseorang.


" El gak suka sama nenek, bun. Kata-kata teman-teman kalau kita punya nenek, pasti nenek akan menyayangi kita. Tapi nenek tidak sayang sama El. Cuma nek Aminah yang sayang sama El. El benci ayah!" El membanting sendok ke atas piring dan berlari pergi meninggalkan aku dan Akmal.


Aku mengurut keningku, mendadak pusing dengan El yang mulai pandai memprotes.


Akmal ingin kekamar El, namun ku larang.


" Biar aku saja yang bujuk El, kamu siap-siap pergi saja, takutnya nanti mama malah ngedrop karena gak makan dan gak minum obat." Ucapku mengingatkan.


" Kalau begitu kamu baik-baik dirumah ya, jaga kesehatan. Tolong beri pengertian sama El, nanti setelah mama sembuh, aku akan ajak El liburan." Akmal mencium keningku. Ia kembali memelukku.

__ADS_1


" Hati-hati..." Aku melambaikan tangan dan setengah berteriak. Sedih rasanya melihat kepergiannya.


__ADS_2