
Aku menghampiri mereka, turut menjadi saksi kisah sedih mereka berdua.
" Zaky, El, mulai sekarang... Belajarlah untuk saling menyayangi sebagai saudara bukan sebagai sepasang kekasih. Berat memang.. tapi... Itu ujian buat kalian. Percayalah.. kalian pasti akan menemukan jodoh yang terbaik. Allah sudah mempersiapkan itu untuk kalian."
Aku mencoba memberi nasihat kepada mereka berdua.
" Apa aku mampu mama?"
"Kamu pasti mampu sayang..." Ucapku sedih.
Siapa pun orangnya pasti tidak ingin mengalami masalah percintaan yang demikian rumit, namun nasib baik belum berpihak kepada putriku.
Setelah memutuskan hubungan baik-baik, El dan Zaky sepakat untuk bersahabat. Mereka mencoba berdamai dengan keadaan. Pelukan terakhir Zaky berikan kepada El. Sudah banyak air mata yang terbuang sia-sia.
" Zaky, semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari El, ingat!! Kalian batal menuju hubungan serius bukan karena tidak di restui. Karena ikatan darah lebih kental dari apa pun." Pesanku pada lelaki tampan yang ternyata adalah keponakanku sendiri.
Zaky sudah pergi setelah berpamitan denganku dan El. Ada yang lebih penting dari hubungan mereka.
" El, ada yang ingin mama tanyakan sama kamu."
El sejenak menghentikan langkahnya, " ada apa ma?"
" Duduk." Pintaku.
El duduk di sampingku, " mama mau nanya apa?"
" El, sejauh apa hubunganmu dengan Zaky?"
" Maksud mama?"
" Apa Zaky sudah menyentuh mu?"
El terdiam seperti tidak paham arah pertanyaan yang ku berikan.
" Maksud mama... Apa Zaky sudah merenggut keperawanan milikmu? Emm.. maksud mama apa.. apa kalian sudah melakukan hubungan suami istri?"
Mata El mendadak membulat. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
" Jawab jujur El!" Desakku.
Jujur ini adalah hal yang paling kutakutkan. Aku tidak ingin El melakukan kesalahan yang sama seperti aku dulu.
" El dan Zaky tidak serendah itu, mama. El dan Zaky masih punya iman untuk menjauhi zina. Dan tidak semudah itu El memberikan harta yang paling berharga milik El pada lelaki yang tidak berstatus suami El, ma.
Huft! Aku bisa sedikit bernapas lega. Rupanya El jauh lebih pandai di bandingkan aku dulu.
" Mama boleh salah, dan El tidak akan mengikuti jejak mama. El tidak ingin anak yang lahir dari rahim El nanti harus mengalami nasib yang sama seperti El,mama. El juga tidak ingin mama mertua El memandang El rendah. Dan el juga tidak ingin kehilangan suami El, seperti mama harus terpaksa kehilangan ayah."
El berlalu meninggalkan aku yang termenung.
__ADS_1
Kata-kata El barusan bagai palu godam yang menghantam dada.
Ternyata kesalahan masa lalu ku, membuat dampak buruk untuk anak-anak ku.
***
Hari ini El sudah mulai bekerja. Setelah badai permasalahan semalam, ada yang berbeda dari El. Wajahnya jauh lebih tirus, bahkan pakaian kerja yang di pakainya seperti kedodoran.
Kami sedang menikmati sarapan pagi bersama. Jika dulu El anak yang periang, kini ia lebih banyak diam.
"A, El berangkat ya.."
Aku menatap piring yang ada di depan El. Bahkan isinya sama sekali belum berkurang.
El mencium pipiku, " hati-hati El." Pesanku.
El hanya meninggalkan senyum kecil padaku.
Ada apa dengan El?
Setelah mereka pergi bekerja semua, kini tinggal aku di rumah sendiri. Iseng-iseng aku masuk kedalam kamar El. Sudah lama kamar aku tidak mengecek kamar El. Mungkin ada sesuatu disana.
Aku membuka pintu kamar El. Aroma wangi menyeruak di indera penciumanku.
Berbeda dengan kamar beberapa hari yang lalu, kini kamar Putri sudah rapi, ia memang ku didik untuk membereskan kamarnya sendiri.
Aku memandang dinding di dekat meja riasnya. Ada beberapa foto di tempel disana.
" El, bagaimana mau lupa kalau foto itu masih di tempel?" Keluhku.
Aku mencari sesuatu yang aneh di kamar ini, namun tidak lagi ku temukan. Akhirnya aku memilih keluar dari kamar ini.
***
Rumah sudah di rapikan oleh pembantu. El dan Yusuf sengaja membuat hidupku lebih santai dan nyaman. Akhirnya karena tidak punya pekerjaan, aku memilih merawat tanaman di belakang rumah.
Impian masa lalu bisa menikmati waktu santai bersama pasangan di teras belakang hanya menjadi impian yang tidak akan terwujud.
" Sa.."
Tubuhku menengang kala tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
" Sedang apa?" Tanya pemulik suara itu lagi.
Aku menoleh ke asal suara, bagai mimpi lelaki itu bisa ada disini.
" Apa kabar?" Sapanya ramah.
Lelaki itu tetap tampan meski sudah tidak muda lagi. Rambutnya sudah mulai di hiasi oleh rambut putih.
__ADS_1
" Ke-kenapa kamu bisa masuk?" Ah. Berbicara dengannya mengapa aku harus selalu gugup? Memalukan sekali. Padahal usia kamu sudah tidak muda lagi.
" Tadi aku memaksa asisten rumah ini untuk di perbolehkan masuk. Jangan salahkan dia, aku yang salah. Boleh aku duduk? Ternyata terlalu lama berdiri itu capek." Ucapnya dengan senyum menawan.
" Silahkan. Mau minum apa?" Tawarku padanya.
"Minuman kesukaanku kalau boleh."
" Aku tidak tahu apa minuman kesukaanmu." Ucapku ketus.
" Jika kamu lupa, kenapa tidak menikah lagi?" Ucapnya tidak kalah sengit.
" Menikah atau tidak itu urusanku. Kalau cuma mau berdebat dan mengorek masa laluku, silahkan pergi dari rumah ini." Usirku.
Disakiti berkali-kali oleh Akmal membuat aku menjadi seseorang yang sensitif.
" Jangan marah-marah nanti cepat tua." Godanya lagi.
Aku memilih meninggalkannya ke dapur. Membuatkan teh manis. Terserah dia suka atau tidak. Karena aku bulan istrinya yang harus paham apa kesukaannya.
" Minum." Ucapku dingin.
" Terima kasih tuan putri."
Seperti kehabisan kata, kini kami sama-sama diam.
Akmal hanya memperhatikan ku, membuat aku menjadi salah tingkah.
" Ada apa lihat-lihat?"
" Rindu."
Aku tidak ingin terpedaya lagi dengan ucapan rindu dari mulut Akmal. Jangan sampai aku kembali khilaf dan dengan mudahnya semua berakhir di ranjang.
" Apa istrimu tahu kamu kesini?" Selidikku.
" Dia tidak perlu tahu. Yang ia tahu setiap malam aku harus pulang. Dan aku yetap menjadi miliknya." Wajahnya berubah sendu.
" Ngomong-ngomong, sudah berapa anakmu?" Aku mulai kepo dengan kehidupan rumah tangga mantan suamiku itu.
" Aku..aku tidak punya anak."
Mataku terbelalak ingin melompat dari tempatnya. " Sungguh?" Tanyaku tidak percaya.
" Mungkin Tuhan sedang menghukum keluargaku, terutama aku dan mama." Akmal menutup wajahnya untuk beberapa saat.
" Setiap hari mama selalu ribut dengan Zaskia. Selama dua puluh tahun, aku hidup bagai di dalam neraka. Ingin rasanya aku kembali pada kalian, tapi.. Zaskia selalu mengancam akan membunuh mama. Aku tidak tahu, seperti apa wanita pilihan mamaku. Mama sering menyesal karena pernah menolak wanita sebaik kamu dan tidak mengakui cucu dari darah dagingku sendiri." Curhatnya padaku.
Aku tidak bisa memberikan nasihat apa-apa kepada mantan suamiku. Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
" Sa, terima kasih sudah berhasil mendidik anak-anak menjadi anak yang hebat dan luar biasa. Aku bangga padamu sa. Padahal uang yang ku kirim setiap bulan tidak banyak untukmu. Tapi... Kamu bisa menyekolahkan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Oh iya Sa, srmalam saat mendengar Zaky akan melamar seorang wanita, mau tidak mau kami harus hadir. Kamu tahu apa yang apa yang ada di pikiranku?"
" Apa.." tanyaku penasaran.