
"Setelah kamu jumpa dengan aku dan El, terus kamu mau apa sekarang?" Tanyaku lagi.
Ia terdiam tanpa kata. Wajahnya di tekuk, entah apa yang ada di fikirannya saat ini.
" Kita berjumpa di waktu yang tidak tepat, Akmal. Kau tahu, Zaskia adalah adik semata wayangku, kami berpisah disaat aku sedang berjuang demi El. Dan sekarang kamu hadir disamping Zaskia dengan label sebagai pacarnya. Kamu waras?" Ada emosi yang tersulut pada diriku.
" Aku tidak pernah tahu jika Zaskia adalah adik kandungmu. Yang aku lihat pertama kali saat memandang Zaskia, aku seperti menemukan mu. Zaskia hadir memberi semangat. Jika aku tahu Zaskia adikmu, tentu aku tidak akan sebodoh itu menjadikannya pacar." Ucap Akmal.
" Sejauh apa hubungan kalian? Apa kamu sudah berhasil merusak zaskia, seperti kamu merusak aku?"
Lelaki pecundang ini terdiam.
Brak! Aku memukul meja di hadapan kami. Beberapa pengunjung memperhatikan kami berdua.
" Sa..?" Akmal menatapku tajam.
Rasanya aku benar-benar muak melihat lelaki ini. Aku bergegas pergi dari tempat ini. Akmal berusaha mengejarku, setelah sebelumnya ia membayar makanan kami tadi.
" Sa tunggu!" Pintanya.
Aku tidak perduli. Kenapa aku bisa mencintai lelaki seperti Akmal? Dimana letak istimewanya lelaki itu? Bahkan ia selalu memberikan derita sepanjang perjalanan cinta yang ku lalui.
" Sa.." Akmal berhasil menarik tanganku.
" Hei! Dengarkan aku dulu." Ia mengajakku untuk masuk kedalam mobil
" Duduk dan tenanglah! Kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin."
Kami sudah berada dalam mobil, ia menghidupkan mesin mobil dan menyalakan AC agar suasana tak memanas.
" Sa, oke aku memang bejat karena pernah merusak masa depanmu, meninggalkanmu saat kamu sedang hamil El, bahkan kini aku berpacaran dengan Zaskia yang notabene adalah adikmu. Aku tahu perasaan mu, Sa. Tapi sumpah demi Tuhan, aku tidak pernah merusak Zaskia. Hubungan kami masih bersih. Aku tidak pernah berbuat lebih pada Zaskia. Hal yang sering kami lakukan hanya sekedar berpelukan, hanya itu." Ia berusaha jujur padaku, tapi entah mengapa begitu sulit untuk mempercayai Akmal.
" Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanya sama Zaskia." Pinta Akmal melemah.
" Sekarang kita pulang. Aku tidak terbiasa meninggalkan El sendirian."
Tanpa membantah, Akmal melajukan mobilnya menuju rumahku.
Aneh! Aku merasa aneh pada diriku sendiri. Dulu aku merindukan suara Akmal, nyatanya setelah kami berdekatan, aku lebih banyak diam. Apa aku yang terlalu gengsi? Aku yang sengaja mencari perhatian padanya? Atau aku yang hanya ingin tahu, masih adakah namaku di hatinya? Akmal, kenapa sih cintamu selalu membuatku terjun payung?
__ADS_1
" Sa, kita harus menikah!"
Kalimat itu... Sejenak melambungkan angan ku terbang ke langit. Jika tidak tahu malu ingin rasanya aku memeluk dan bersorak kegirangan. Pernyataan Akmal yang ku tunggu sejak sembilan tahun yang lalu.
" Sa, kamu dengar enggak sih?" Sepertinya Akmal mulai kehabisan kesabaran dalam menghadapi ku.
" Untuk apa kita menikah?" Tanyaku sok jual mahal.
" Demi El. Dan aku rasa ini waktu yang tepat. Selain aku sudah siap, aku juga sudah mapan."
" Lalu bagaimana dengan Zaskia? Apa kamu yakin berani jujur pada Zaskia? Jangan harap aku akan bercerita kisah hidupku pada Zaskia. Ingat Akmal, sudah cukup rasanya aku menyakiti kedua orang tua ku tapi tidak dengan adikku. Terkecuali kamu maju di depanku, bukan aku yang maju di depanmu. Aku memang gigih mempertahankan El sejak dalam kandunganku, tapi bukan berarti aku juga akan gigih mempertahankan kamu."
Akmal lagi-lagi menatapku. Mungkin dia tidak percaya dengan Salsa yang sekarang. Salsa yang dulu dan Salsa yang sekarang jelas berbeda. Salsa sekarang sudah di tempah oleh kehidupan yang keras.
Aku turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah. Aku membiarkan lelaki itu, terserah ia akan turun atau mau langsung pulang.
Ku baringkan tubuhku di atas ranjang beralaskan kasur lantai. Bukan hanya tubuhku yang lelah, namun jiwaku jauh lebih lelah.
Ku dengar El sedang bercakap-cakap dengan Akmal.
" Om, om mau enggak jadi ayah El." Celoteh El sontak membuat mataku hampir melompat dari tempatnya. Berani sekali El berbicara seperti itu pada Akmal. Apa El merasakan ikatan batin yang kuat?
" Ya mau dong, memangnya bunda mu mau menikah dengan om?"
" Hem... Pasti mau dong, om. Om kan ganteng." Rayu El pada ayahnya sendiri.
" Om tahu enggak?"
" Enggak."
" Ih. El serius om. El sudah lama pengen punya ayah kayak teman-teman El, tapi bunda selalu bilang ' sabar ya El, ayah pasti datang menemui kita' tapi ayah El tak pernah datang." Ucap El berubah.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Akmal. Kini aku semakin penasaran, sedang apa mereka. Kini aku berusaha mengintip dari balik celah kamarku.
Akmal memeluk El, ia mengusap punggung anaknya. Dari sini aku bisa melihat, Akmal mengusap sudut matanya yang berair.
"Akmal, aku sudah pernah berjuang untuk kehidupan El. Sekarang giliran mu untuk membuktikan bahwa kamu adalah ayah yang baik untuk El." Ucapku dalam hati.
Ada perasaan haru melihat pemandangan yang ada di depanku.
__ADS_1
" El, bilang sama bunda ya, supaya mau nikah sama om." Akmal mulai menggunakan El sebagai peluru andalan untuk meraih keinginannya.
" El gak janji ya om, karena banyak yang suka sama bunda, tapi kata bunda gak ada yang cocok. Hehe..." El tertawa kecil.
Allah, tahu apa anak sekecil El? Apa ia selalu mendengarkan aku cerita saat bersama nek Aminah?
Aku masih mengintip dari celah dinding rumahku, kulihat Akmal memberikan uang seratusan beberapa lembar.
" Ini buat kamu dan bunda,ya."
" Banyak banget om? Bunda pasti senang banget om. Bunda gak perlu capek kerja lagi." Ucap El polos.
Akmal mengusap kepala El lembut.
" Om pulang dulu ya. Lain kali om mampir kesini lagi."
" Oke om..." El mengecup kedua pipi ayahnya itu.
Mobil Akmal sudah melaju meninggalkan rumah kami. Aku menghela napas berat. Kepergian Akmal bukan berarti membawa kelegaan untukku.
" Bunda kok gak sopan banget sih. Ada om Akmal kok malah masuk kekamar aja." Protes El padaku.
" Ini buat bunda dari Om Akmal." Ia memberikan uang seratusan sebanyak lima lembar.
" Om Akmal baik deh bun. El mau punya ayah kayak om Akmal loh, bun." El masih terpesona dengan kebaikan ayahnya.
" El, bisa enggak kita bahas yang lain?" Bentak ku.
" Bunda jahat!" Ia berlalu dari hadapan ku. Seperti biasa, hari libur ia habiskan dengan bermain dan bermain.
Seumur hidup El, aku tidak pernah memarahinya atau pun membentaknya. Lalu sekarang?
Bodoh! Aku memaki diriku sendiri. El tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahan ku terhadap El.
Aku memijit keningku. Rasa pusing akhir-akhir ini menjadi semakin sering.
Seharusnya pertemuan El dengan Akmal adalah momen manis yang ku tunggu-tunggu. Tapi bagaimana dengan Zaskia? Bagi Zaskia, Akmal adalah cinta pertamanya. Sudah banyak harapan yang ingin ia rajut bersama Akmal. Salah satunya adalah membangun rumah tangga bersama Akmal.
Jika aku tetap egois menikah dengan Akmal demi kebahagian El, maka aku juga akan mematahkan impian Zaskia. Ia juga akan mengalami hal yang sama denganku, cinta pertamanya pupus sebelum waktunya untuk bermekaran.
__ADS_1
Allah, apa yang harus ku lakukan?