
Suara ponsel milik Akmal memecah kesunyian di dalam ruang rawat El.
Akmal menatapku sebelum menjawab telpon dari seseorang. Mungkin Zaskia, aku asal menebak.
Dan ternyata...
" Maaf, mas gak bisa datang. Makan malamnya kita ganti hari lain aja ya. Mas masih ada urusan."
Tebakanku tidak salah. Yangenelpon adalah Zaskia. Ternyata mereka merencanakan makan malam, "Huh. Makan malam saja, apa spesialnya." Batinku ngedumel sendiri.
" Iya... Tapi maaf.. banget. Mas janji aetelah urusan siap, mas langsung datang ke rumah kamu. Oke? Tolonglah jangan merajuk, ini bukan waktu yang tepat, Zaskia." Akmal berusaha membujuk pacarnya. Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. Padahl aku sengaja memasang telingaku agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
Akmal menutup ponselnya. Ku dengar, ia menghembuskan napas berat.
" Lelahkan menghadapi wanita manja Seperti Zaskia? Bagaimana,susah bisa bandingkan mana tang baik dan mana yang terbaik? Ingat enggak gimana sabarnya aku menghadapimu?" Aku mengenang masa nelangsa bersama Akmal. Dulu.... Aku yang terlalu mengalah.. sekarang.. ia yang...
Ia yabg harus mengalah demi Zaskia yang manja dan bawel.
El sudah jauh lebih tenang, ia tampak lelap tertidur. Akmal mendekat, duduk di sampingku.
" Minta nomor ponselmu." Pinta Akmal.
Aku tersenyum lucu, " aku gak punya ponsel."
Akmal terkejut, tampak dari matanya yang membulat dan seperti ingin keluar dari kelopak matanya.
" Zaman secanggih ini kamu gak punya ponsel?" Tanyanya tak percaya.
Aku menonyor kepalanya, tanpa sedikit merasa bersalah. " Kamu waras enggak sih?" Emosiku kembali tersulut.
" Aku dan El, hidup dalam keprihatinan selama ini. Apa yang El minya, selalu aku bilang sabar. Sekarang kamu tertawa ngejek aku, cuma karena aku gak punya ponsel? Kamu pikir ponsel itu penting buat aku? Bahkan ponsel terakhir yang di belikan ibuku semasa SMA uda aku gadaikan buat kehidupan aku dan El." Dadaku naik turun karena sedang berusaha baik-baik saja.
Tanpa bisa kutahan dua bola mataku mengembun. Sedih rasanya jika ada orang yang mentertawakan hidupku, apalagi itu Akmal. Orang yang menyebabkan hidupku berubah 360 derajat.
" Maaf, Sa. Aku bukan mengejek kamu. Aku cuma minta nomor ponsel kamu supaya aku gampang ngasih kabar ke kamu dan El. Hanya itu saja, tidak ada maksud apa pun. Sa, aku menghargai semua perjuanganmu, dari El masih berada di rahimmu sampai ia menjadi gadis cilik yang cantik dan pintar. Kalau saja El tidak lahir dari rahimmu, mungkin nasib El tidak sebaik sekarang. Please! Jangan cepat marah." Pintanya merendah.
Aku sudah sesenggukan, tak kuat rasanya memendam semua beban hidupku sendiri.
Akmal merengkuh pundak ku, tangannya mengusap bahu ku berkali-kali.
" Kita akan besarkan El bersama-sama, aku akan tebus waktu sembilan tahun kamu yang penuh duri. Aku akan tebus waktu itu, Sa. Percaya padaku! Untuk saat ini dan kedepannya kita akan hadapi semua bersama-sama.
Akmal membawaku kedalam pelukannya. Damai, hangat dan nyaman, itu yang kurasakan. Pelukan sembilan tahun lalu akhirnya bisa aku rasakan kembali. Harum parfumnya yang sejak dulu tidak pernah berubah, dan aku suka... Aku seperti mabuk kepayang malam ini.
Siapa sangka hadirnya El memberi harapan indah antara aku dan Akmal. Malam ini aku tidur dalam pelukan Akmal. Kini Akmal bak cahaya bagi hidupku dan El.
__ADS_1
*
Pagi sudah datang, aku dan Akmal bangun terlambat. Kami berdua menjadi tontonan untuk Akmal.
" El, sudah bangun dari tadi?" Tanyaku malu.
" Sudah. Ayah peluk bunda ya.. ayah, El mau dong tidurnya di peluk ayah " jawab El menggoda.
Seketika wajahku memerah bak kepiting rebus. Malu rasanya karena di goda anak sendiri.
Akmal mendekati putrinya, " sudah baikan?"
" Sudah ayah."
" Alhamdulillah..." Sahut Akmal.
Dering ponsel milik Akmal mengganggu waktu sarapan kami.
" Angkat?" Perintahku.
Akmal meragu, " Zaskia." Ucapnya pelan.
" Jawab saja mungkin ada yang penting."
Jari Akmal tergerak untuk menekan tombol hijau.
" Aku gak bisa Za, aku lagi dirumah sakit nemenin El. Dua demam dari semalam."
Aku terperangah melihat kejujuran Akmal. Detik berikutnya Akmal menyerahkan ponsel miliknya padaku.
" Zaskia mau bicara."
Jantungku berdegup hebat. Antara takut dan bingung.
" Halo... " Sahutku melemah.
Di ujung sana ada nada suara Zaskia yang menahan cemburu. Ia juga merasa heran karena Akmal bisa tahu El sedang sakit. Sedangkan ia tantenya sendiri merasa tidak tahu apa-apa.
" Allah.. apa yang harus ku katakan pada Zaskia?"
" Za, El semalam demam. Kebetulan sekali Akmal datang." Aku mencoba mencari alasan yang masuk diakal.
Akhirnya setelah mencoba meyakinkan bahwa kami tidak ada hubungan apa-apa, Zaskia memutuskan sambungan teleponnya.
Aku sedikit bernapas lega.
__ADS_1
" Nanti setelah El sembuh, aku ingin segwraenikah denganmu."
Pernyataan yang keluar dari mulut Akmal secara tiba-tiba, membuat aku yang sedang minum menjadi tersedak.
" Uhuuuk..." Akmal menepuk punggungku palan.
" Hati-hati kalau minum. Lagian minum aja buru-buru." Ledek Akmal.
Rasanya aku ingin menimpuk Akmal dengan botol minuman yang ku pegang.
" Memang kamu berani? Sudah siap di coret dari kartu keluarg?" Sindirku.
Hening, tidak ada sahutan dari Akmal.
" Ck. Akmal- Akmal.. jika tidak bisa berenang, enggak usah deh sok mau nyelam ke laut. Kamu... Sampai kapan pun tidak akan berani mengungkap jati diri El. Jadi mulai sekarang berhenti menjanjikan rembulan pada ku dan El." Bisikku di telinga Akmal. Aku tidak ingin El tahu rahasia kami.
*
El sudah sembuh, dan kami sudah pulang dari rumah sakit.
Aku masih galau memikirkan ajakan Akmal untuk berterus terang pada Zaskia dan juga ayah. Tapi jika memikirkan nasib El, setidaknya kami sebagai orang tua harus berkorban meski nanti El akan kehilangan hubungan antara tante dan keponakan juga antara kakek dengan cucunya. Begitu juga dari pihak Akmal, sudah pasti mereka menolak kehadiran El.
Hari yang kutakutkan akhirnya tiba, pagi-pagi sekali Akmal sudah datang menjemput kami.
" Kamu serius?" Aku masih bertanya pada Akmal, padahal aku sendiri sudah tahu jawabannya.
" Perlu aku jawab lagi?" Akmal tampak jengah karena pertanyaan yang sama dengan ritme di ulang-ulang.
Kami akhirnya memutuskan berangkat. El tampak senang karena bisa jalan-jalan sambil mengendarai mobil. Wajah polosnya.. membuat hatiku mencelos.
" Allah.. berikan yang terbaik untuk kami... Jangan biarkan El bersedih, jangan juga El ikut di hukum atas kesalahan kami." Doaku dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang lebih cocok ku sebut istana. Nyaliku semakin menciut, bahkan keringat dingin mulai membasahi sebagian bajuku.
Akmal menggandeng tanganku, namun dengan terpaksa ku lepas. Aku belum siap dengan segala yang akan terjadi nanti.
" Halo... El..." Zaskia menyambut kedatangan kami. Dari raut wajahnya jelas ia cemburu melihat aku dan Akmal berjalan beriringan.
Setelah El masuk kedalam, " mas kamu jemput mbak Salsa?" Tanyanya menyelidik.
" Masuk dulu yuk!" Ajak Akmal.
Dengan manjanya Zaskia bergelayut di pundak Akmal. Zaskia seperti sengaja ingin memberi tahu padaku, bahwa Akmal adalah miliknya.
Seperti biasa, El langsung masuk keruang bermain bersama anak ayah dan pengasuhnya. Kami berkumpul di ruang tamu. Ada ayah, mama, Zaskia, Akmal dan juga aku.
__ADS_1
Setelah cukup lama berbasa-basi, akhirnya Akmal mulai bersuara.
" Ayah, mama, Zaskia.. kedatangan mas ke sini adalah..."