
"Yuk berangkat." Akmal membawa koper kami kedalam mobil.
Setelah berpamitan dengan mereka, akhirnya kami berangkat berlibur.
Sepanjang perjalanan, El sangat antusias. El asyik bercerita bersama ayahnya. Sedangkan aku dan Yusuf hanya sebagai pendengar yang baik saja.
Setelah lelah, akhirnya El tertidur di bangku belakang. Yusuf juga tertidur lelap dalam dekapanku.
" Sebenarnya kita mau kemana sih?" Aku membuka percakapan di antara kami.
Akmal hanya mengedipkan matanya sebelah. " Rahasia." Ucapnya menggodaku.
Tanpa banyak bertanya lagi aku pasrah kemana pun Akmal membawaku. Hanya satu keyakinan dalam hatiku, Akmal tidak akan membahayakan kami.
Karena Ac mobil yang dingin, mataku menjadi sangat berat. Ternyata aku mengantuk. Sebelum benar-benar menutup mata, aku memastikan Yusuf aman berada dalam gendongan ku.
" Sa... Bangun!" Bahuku terasa di guncang keras.
Aku membuka mata, Suara ombak beradu dengan batu karang di bibir pantai. Angin laut berhembus dengan kencang menerpa hijab yang menutupi rambutku. Bukan hawa dingin yang kurasakan, karena Akmal sudah menurunkan kaca mobil.
" Sudah sampai. Yuk turun!" Akmal turun dari mobil kemudian mengambil Yusuf dari gendonganku. Sementara Aku membangunkan El.
" El, bangun! Kita sudah sampai."
El tampak mengucek-ngucek matanya.
" Ye... Kita kepantai...." El bersorak kegirangan.
Aku hanya tersenyum menyaksikan anak gadisku kegirangan.
" Ayah.." El berlari ke arah ayahnya.
Ku lihat El menci*m pipi ayahnya.
Kami memesan ikan bakar dan es jeruk.
El makan dengan lahapnya. Kami bergantian untuk makan, sambil menunggu Akmal selesai makan, aku hanya mengamati mereka berdua. Pikiranku mulai berandai-andai, " Andai ini nyata..."
Ah. Aku memukul kepala ku sendiri." Bodoh." Maki ku.
Akmal menatapku heran, " siapa yang bodoh?"
" Iya ma, siapa yang bodoh?" Tanya El ikut-ikutan bertanya membuat aku gugup.
" E... Anu.. itu..." Bahkan aku tidak punya satu alasan pun untuk menjawab pertanyaan mereka.
Akmal hanya menggelengkan kepala. Ia melanjutkan makannya dengan cepat.
" Ayah, " panggil El.
" Hem?" Sahut Akmal tanpa menoleh.
__ADS_1
" Mama memang suka begitu. Sering kali El melihat mama suka berbicara sendiri. Bahkan El sering melihat mama menangis sendiri."
Akmal terkejut mendengar pengakuan putrinya. Ia menatapku dalam, aku membuang pandanganku. Tak tahan rasanya melihat tatapan Akmal.
" Dasar El." Rutukku dalam hati.
" Memangnya mama kenapa ya, yah? Apa mama mau jadi orang gila?" Tanya El lagi.
Pertanyaan El kali ini sukses membuta Akmal tersedak.
Uhuuukk...
Aku segera mengangsurkan air putih kepada Akmal.
" Makanya kalau makan jangan sambil berbicara, El. Lihat ayahmu tersedakkan?"
" Maaf ma. Ayah maaf ya, karena El ayah jadi tersedak." El merasa bersalah.
" Ayah tersedak bukan karena El, tapi karena ayah kurang hati-hati saja saat makan." Akmal membela putrinya. Sepertinya ia mulai pandai merebut hati El.
Akmal sudah selesai makan ia mencuci tangannya dengan bersih dan segera mengambil Yusuf dari pangkuanku. Akmal mengajak El dan Yusuf bermain di pinggir pantai. Sebelum makan aku meletakkan kamera ke arah ayah dan anak itu. Aku ingin merekam semua kenangan indah hari ini. Dan suatu saat aku akan menunjukkan pada mereka, bahwa ayah mereka adalah sosok yang baik.
***
Kami sudah selesai bermain di pantai. Sudah saatnya kami beristirahat. Akmal sudah memesan dua kamar untuk kami tempati.
Sebelumnya kami sudah membersihkan tubuh dari pasir-pasir yang menempel di tubuh kami.
Salah satu kamar memiliki dua ranjang, sementara kamar yang satu lagi hanya memiliki satu ranjang yang tidak begitu besar.
Aku dan anak-anak memilih kamar yang memiliki dua ranjang, sementara Akmal memilih kamar satunya lagi.
" Kalian istirahat dulu ya, ayah mau keluar sebentar pesan makan."
" Oke ayah..." Sahut El kegirangan.
Sekitar satu jam, pintu kamar hotel kami di ketuk seseorang. Ada rasa was-was di hati. Jujur, aku takut keluarga Akmal yang datang kesini. Ketukan di pintu tidak berhenti, hinga ponselku berbunyi. Ada nama Akmal dilayar. Segera mungkin aku menekan tombol hijau.
" Akmal, ada yang mengetuk pintu." Aku mengadu pada Akmal.
Terdengar tawa renyah disana, " Kamu masih bisa tertawa? Sementara aku disini sedang ketakutan." Bentakku di sambungan telepon
(Maaf...maaf dit.. buka saja pintunya. Itu kurir yang akan mengantarkan makanan yang ku pesan. Aku lupa memberi tahu padamu tadi.) Sahut akmal di telepon.
Aku langsung mematikan sambungan telepon dan segera membuka pintu.
Ada dua orang laki-laki yang tampak kelelahan karena terlalu lama menunggu.
" Lama sekali buka pintunya, buk?" Tanya kurir tersebut.
" Ma-maaf pak.. sa-saya..." Belum selesai aku berbicara sudah di potong oleh mereka.
__ADS_1
" Silahkan tanda tangan di sini buk." Pinta kurir tersebut.
Tanpa menjawab aku langsung mengikuti perintah kurir.
" Silahkan di terima bu."
" Terima kasih ya pak. Maaf karena sudah lama menunggu." Ucapku sopan.
Tanpa basa-basi kedua kurir tersebut meninggalkanku.
Aku masuk kedalam kamar. " Siapa ma?" Tanya El penasaran.
" Kurir ngantar makanan pesanan ayah." Sahutku.
Aku membuka pesanan tersebut.
Mataku terbelalak membaca pesan yang ada di diatas nasi tumpeng tersebut
( Selamat ulang tahun Salsa sayang.. semoga panjang umur.. sehat selalu.. dan selalu di berikan rezeki yang berlimpah untukmu belahan jiwaku. Salsa sayang.. terima kasih sudah melahirkan dua malaikat untukku, terima kasih juga sudah mengurus mereka dengan penuh cinta. Salsa, kamu wanita hebatku.. meski aku hanya bergelar mantan suami untukmu, namun kamu adalah yang terbaik dalam hidupku. Jangan pernah membenciku. I love you Salsa.)
Air mataku tumpah setelah aku membaca pesan manis dari Akmal.
Tiba-tiba saja pintu kamar hotel terbuka, ada wajah Akmal dibaliknya. Tangannya membawa sebuah kue ulang tahun dengan hiasan lilin bertuliskan angka toga puluh tahun.
" Happy birthday to you... happy birthday to you... happy birthday happy birthday happy birthday to you... Tiup lilinnya, jangan lupa berdoa." Pinta Akmal lembut.
Dengan mata basah, aku sempatkan untuk berdoa dalam hati dan selanjutnya meniup lilin.
El tampak kegirangan. Setelah lilin mati, ia sibuk mengobrak-abrik kue ulang tahun milikku. El tidak perduli padaku dan Akmal.
Cup..
Aku memberikan ciu*man di pipi Akmal.
" Terima kasih untuk hari ini.. aku mencintaimu, Akmal." Ucapku terisak.
Tanpa malu aku memeluk Akmal erat tidak mau kalah Akmal membalas pelukanku tak kalah erat.
Cukup lama kami saling berpelukan, pelukan ternyaman yang pernah kurasakan. Bagaimana aku bisa mencintai laki-laki lain? Jika aku merasakan surga itu hanya bersama akmal.
Malam semakin larut. El yang kelelahan karena terlalu lama bermain membuatnya sudah tertidur lelap di samping Yusuf. Hanya tinggal aku dan Akmal yang masih terjaga. Tidak ingin kehilangan momen manis, Akmal mengajakku kekamar hotel miliknya melalui bilik yang menyerupai lemari. Tanpa aku sadari, jika kamar ku dan kamar Akmal saling terhubung. Ada pintu rahasia untuk masuk ke dalam kamar Akmal.
" Pintar sekali kamu?" Ucapku menggodanya.
" Demi menikmati momen bersama bidadari, apa pun akan aku lakukan."
Pujian Akmal yang membuat aku terbang melayang di awang-awang.
"Kita tetap bisa memantau anak-anak jika nanti ada yang bangun atau nangis." Bisiknya ditelinga.
Tidak ingin membuang waktu, Akmal menarikku kedalam pelukannya. Sebagai orang dewasa, kami tidak ingin melewatkan malam tanpa sentuhan. Dan malam ini, Akmal menciptakan momen terindah dalam hidupku, meski dosa harus harus kami ulangi kembali.
__ADS_1
" Tuhan...maafkan kami..." Ucapku dalam hati.