
Kami sudah tiba di rumah reot milik ibu. Tapi aku sudah merasa nyaman tinggal disini meski tanpa siapa-siapa.
Aku berjalan hati-hati sambil menggendong bayiku, buah hati bersama Akmal.
Sementara Bu Sekar membawa tas berisi perlengkapan aku dan bayiku.
Aku meletakkan bayi cantikku diatas kasur lantai. Selanjutnya aku membuka jendela rumah ini agar udara bisa masuk dan tidak pengap.
Bu Sekar masih bermain-main dengan bayiku yang terlelap tidur. Aku paham dengan perasaan Bu Sekar, sampai di usia yang tidak lagi muda, ia belum pernah hamil atau pun menjadi seorang ibu.
" Sa,"
" Iya bu." Aku mendekat duduk disamping Bu Sekar.
" Bolehkan ibu merawat bayimu?"
Aku terkejut mendengar permintaan Bu Sekar.
" Kamu kan masih bisa hamil, sementara ibu? Ibu tidak sempurna" ucap Bu Sekar sendu.
Bagaimana bisa aku menyerahkan bayiku pada orang lain? Sementara aku bersusah payah mempertahankan dia tumbuh dalam rahimku. Sekolahku, cita-cita ku hancur karena dia, namun aku tak menyesal sama sekali. Aku jauh mencintainya walau kami belum pernah bertatap muka sekali pun. Bahkan rasa cintaku jauh lebih besar kepadanya dari pada kepada diriku sendiri.
" Bagaimana Sa?" Bu Sekar mendesak ku.
Aku menggelengkan kepalaku, " ibu boleh pulang sekarang."
" Kamu mengusir saya? Kamu tidak ingat ke.."
" Saya sangat ingat kebaikan ibu. Amat sangat ingat. Tapi ibu tidak bisa meminta apa yang ibu inginkan."
" Saya tidak meminta, kalau kamu mau saya bisa bayar berapa pun kamu mau."
Amarah ku memuncak mendengar penuturan sombong yang keluar dari mulut Bu Sekar.
" Pergi sekarang!" Usir ku dengan lantang.
Seumur hidupku ini kali pertama aku marah dengan seseorang.
" Dasar orang tidak tahu di untung, menyesal saya sudah membantu kamu. Ingat ya, saya akan datang untuk menagih semua biaya persalinan kamu."
Bu Sekar melemparkan sebuah nota padaku dan pergi meninggalkan rumahku.
Aku menangis terisak-isak seorang diri.
" Allah, mengapa cobaan darimu bertubi tubi untukku? Apa karena aku seorang pendosa?" Ratap ku.
Bayi mungilku yang masih berumur tiga hari menangis, namun tak lagi ku hiraukan.
Aku lelah sekali...
" Salsa... Kapan pulang? Itu bayimu nangis kok dibiarkan saja." Nek Aminah menggedong bayiku.
Aku masih menangis sendiri. Kini aku sudah berada di titik level terendah hingga tak bisa mengontrol emosiku sendiri.
__ADS_1
" Sayang... Cup..cup..cup..." Nek Aminah menimang-nimang bayi tak berdosa yang sedang menangis.
Setelah bayiku tenang, nek Aminah segera membuatkan susu untuk bayiku.
Kini bayiku sudah tertidur lelap kembali.
" Kamu kenapa?" Nek Aminah menyisir rambutku yang berantakan dengan sangat hati-hati dan lembut.
" Kamu itu gak boleh stres, nanti ASI mu gak lancar. Kasihan kan?" Nek Aminah menasehati dengan lembut.
" Nenek paham, kau baru saja memulai menjadi ibu baru. Tapi kau juga harus paham, anakmu sangat tergantung padamu."
Kata-kata barusan yang keluar dari mulut nenek seperti vitamin bagiku. Aku seperti semangat kembali untuk menjalani hidup baru bersama bayiku.
" Kau sudah mempersiapkan nama buatnya?"
Lagi-lagi aku hanya mampu menggeleng. Kemana saja aku sampai lupa menyiapkan nama bayiku?
" Mulai hari ini sampai dua bulan kedepan nenek mau kau jangan melakukan apa-apa selain mengurus bayimu."
Aku melotot mendengar penuturan nenek, jika aku hanya duduk berdiam mengurus bayiku, lalu siapa yang akan mengerjakan ini semua?
" Nenek akan membantumu semampu kekuatan nenek."
Aku begitu terharu dengan kebaikan yang selalu nenek berikan untukku.
*
Ketika para tetangga sudah pulang, aku berniat untuk membongkar tabunganku.
" Mau ngapain, Sa?" Tanya nenek heran.
Aku tersenyum menatap nenek. Aku mulai mengeluarkan uang yang ku gulung kecil-kecil didalam pipet dan ku masukkan ke dalam beberapa kaleng.
" Tabunganmu?"
Aku hanya mengangguk tersenyum, " bantu aku buat ngeluarin dari dalam pipet ya, nek."
Kami mulai membuka satu persatu. Beragam uang berkumpul menjadi satu. Ada pecahan seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu dan terakhir seratus ribu.
" Kau percaya dengan nenek?"
" Nek, kalau nenek jahat sudah sejak dulu nenek mencelakai ku. Iya kan?"
Kami saling pandang. Kami memang tidak punya ikatan darah, tapi hubungan kami jauh lebih kental dari sebuah darah.
" Alhamdulillah...totalnya ada tujuh juta rupiah." Ucap nenek tersenyum bahagia.
Lain hal denganku yang tampak murung. Aku kembali mengingat perkataan Bu Sekar yang meminta kembali biaya persalinan ku.
" Hei, mikir apa lagi?" Suara nenek mengejutkanku.
Aku menunjukkan nota berisi biaya persalinan rumah sakit pada nek Aminah.
__ADS_1
" Kenapa dengan nota ini?" Tanya nek Aminah, sepertinya belia belum paham.
"Aku harus mengganti biaya sebesar tiga juta rupiah pada Bu Sekar,nek. Kalau tidak..." Aku tidak sanggup melanjutkan perkataan ku.
" Kalau tidak..?" Nenek seperti tidak sabar menunggu kelanjutan ceritaku.
" Kalau tidak Bu Sekar berniat menukar dengan bayiku. Huhuuu .." tangisku pecah didalam pelukan Nek Aminah.
" Kurang ajar sekali perempuan bernama Sekar itu. Dari awal nenek sudah curiga kalau ia tidak tulus membantumu. Kamu tenang, jangan banyak pikiran. Besok nenek yang akan kerah sekar membawa uang ini. Kau tak perlu takut uang mu habis, ingat uang kasih bisa kita cari sama-sama tapi kalau bayimu? Bayimu tidak bisa di tukar dengan uang. Kau paham maksud nenek kan?"
Aku tidak pernah menyangka jika nenek adalah orang paling perduli denganku.
" Tuhan.. terima kasih karena sudah mengirimkan manusia berhati malaikat padaku."
Karena malam semakin larut akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Sejenak aku melupakan semua beban-beban yang menumpuk di kepala ku.
*
" Ibuu...."
Aku terbangun dari tidurku. Ternyata cuma mimpi.
" Sa, kenapa? Mimpi?" Tanya nenek, belia terkejut mendengar teriakanku.
" Mimpi ibu nek." Jawabku sedih.
" Nanti kalau bayimu sudah agak besar, coba deh pulang. Temui orang tuamu, nenek yakin mereka pasti rindu sekali."
"Aku menatap nenek, ragu rasanyabuntuk kembali kerumah itu. Apalagi aku pulang tidak sendiri tetapi bersama bayiku
" Takut? Jangan takut. Tidak ada orang tua yang dendam pada anaknya sendiri. Terkadang malah hadirnya bayimu ini menjadi jembatan untuk menjalin silaturahim dengan keluarga. Percaya deh sama nenek!"
Aku tersenyum, nenek selalu bwrhasil membuat aku tenang. Bayiku masih tertidur lelap. Ia tak rewel, paling menangis hanya ketika popoknya basah dan ingin menyusu. " Terima kasih ya dek, uda baik banget sama bunda. Besok kalau ade uda besar sedikit kita pulang ya kerumah nenek." Bisikku di telinga anakku.
Hari ini nek Aminah pergi kepasar pagi-pagi sekali. Rencananya kami akan melakukan among-among( acara syukuran sederhana dengan cara membagikan nasi kepada para tetangga.)
Sementara aku mengurus bayiku dan diriku sendiri. Ada kebahagian yang tidak bisa aku katakan saat melihat bayiku menangis atau terkadang tersenyum dalam tidurnya. Aku bangga kerena sudah menjadi ibu.
*
Nek Aminah tampak sibuk berada didapur. Aku merasa kasihan pada Nek Aminah, tubuhnya yang mulai keriput tak menjadi penghalang untuk tetap membantuku.
" Uda siap nek?" Aku mendatangi nek Aminah yang sedang membungkus nasi among-among.
" Alhamdulillah sudah. Siapa nama bayimu, Sa?"
" Bismillahirrahmanirrahim, Elmeera Fathina Akmal, yang berarti putri yang mulia, cerdas dan juga sempurna." Aku menyematkan nama ayahnya di akhir sebagai pengingat bahwa ia adalah anak dari seseorang yang bernama Akmal.
" Duh, bisa-bisa lidah nenek bergulung-gulung menyebut nama anakmu." Kelakar nenek.
Aku tertawa mendengar gurauan dari nenek.
Sayang.. bunda beri engkau nama yang indah. Kelak bunda ingin engkau menjadi anak yang cerdas, menjadi anak mulia juga sempurna, tidak mengikuti jejak bunda yang salah.
__ADS_1