Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 24


__ADS_3

Kami semua sudah berkumpul di meja makan, " sebentar ya, kita tunggu ayah. Za, kamu gak telepon Akmal? Suruh kesini biar kita makan siang bersama."


" Oke, ma."


" Kenapa harus ada Akmal sih?" Gumamku dalam hati.


" Jangan sungkan ya ,Sa. Anggap ajanrah sendiri." Ucap mama.


Aku hanya mengangguk sopan.


Tidak berapa lama, aku mendengar langkah menuju ke ruang makan. Jantungku berdegup kencang, ayah atau Akmal yang datang? Makin lama semakin dekat. Keringat dingin mulai membasahi wajahku.


Allah tolong aku!


" Ayah, ayo tebak siapa yang datang?" Zaskia membuat suasana sedikit mencair.


Ayah menatap kami satu persatu. Tatapannya sangat lama saat melihat El, mungkin ayah mencoba mengingat-ingat, kini ayah menatapku, menatapku sangat lama, hingga butiran air mengalir dari kedua bola mata ayah.


" Apa ayah bermimpi?" Ayah mencubit tangannya.


Aku berdiri, tidak tahu harus berbuat apa.


" Ayah tidak bermimpi, " seru Zaskia.


" Salsa... Salsabila anak ayah?" Tanya ayah mendekatiku.


" Iya ayah." Sahutku dengan suara yang hampir saja menghilang.


Ayah memelukku erat, ayah bahkan menangis hingga bajuku basah.


" Ayah rindu mbak.. ayah rindu." Ucap ayah sesenggukan.


Ini adalah momen terharu yang ku rindukan.


" Maafkan ayah untuk waktu sembilan tahun yang lalu... Maafkan ayah..ka-karena sudah begitu tega mengusir mu mbak."


" Ayah, mbak juga minta maaf atas kesalahan yang mbak lakukan terhadap ayah."


Kami saling meminta maaf, " ya Allah.. terima kasih sudah memberi cerita yang indah untuk hambamu ini." Ucapku dalam hati.


" Sekarang kita makan ya." Ucap istri baru ayah.


" Assalamu'alaikum," Suara Akmal memasuki rumah ini.


Aku bertambah heran melihat Akmal bisa bebas keluar masuk di rumah ini.


Dengan santainya ia bergabung bersama kami. Siapa istri ayah sebenarnya? Dan apa sekarang pekerjaan ayah? Mengapa bisa hidup ayah semewah ini?


" Sa, ayo tambah lagi. Jangan malu-malu." Ucap istri baru ayah.

__ADS_1


" Iya tante." Jawabku malu-malu.


" Loh kok tante, panggil mama dong. Bagaimana juga sekarang aku sudah menjadi istri ayahmu."


" Iya, ma." Jawabku agak kikuk.


*


Acara makam bersama sudah selesai. Tidak ada acara beres-beres, karena ayah mempunya beberapa pembantu di rumah ini.


Andai ayah dari dulu sudah kaya, pasti ibu bahagia. Tidak capek mengerjakan sendiri. Ah, kenapa aku jadi punya pikiran seperti ini. Mungkin dulu Allah sudah cukupkan rezeki untuk ayah dan ibu, sekarang dengan istri baru Allah tambah lagi rezekinya.


Kami berkumpul di ruang keluarga. Hidup istri ayah benar-benar santai. Untuk mengurus anak aja beliau sudah punya baby sister, sungguh sempurnah kehidupan wanita ini. Lain hal denganku yang sejak dulu terseok-seok sejak hamil El hingga sekarang.


Mulai selesai makan El masuk kekamar haris, anak ayah. Sampe sekarang belum keluar. Aku yakin begitu banyak mainan yang membuat El betah berada disana.


" Eh Akmal, apa rencana kamu apda Zaskia? Sudah cukup lama loh kalian berhubungan." Tanya istri ayah.


Kupingku tiba-tiba memanas mendengar perkataan yang keluar dari mulut istri ayah ku.


Entah apa yang membuatku berani menatap Akmal, kini pandangan kami saling bertemu. Cukup lama, hingga aku membuang pandanganku.


" Mas, diam aja. Kamu gak serius sama aku?" Tanya Zaskia manja.


" Em bukan, bukan enggak serius. Kamu kan masih kuliah, alangkah baiknya selesaikan pendidikan baru kita bicara hal yang lebih serius." Ucap Akmal.


" Ayah setuju dengan pendapat Akmal, memang sebaiknya selesaikan dulu kuliah mu, baru memikirkan hal serius." Ucap ayah menimpali.


" Hah. Aku? A- aku... Masih memikirkan El,yah. Ka-karena El segalanya buat aku, yah."


Ayah manggut-manggut, " ayah setuju dengan prinsipmu, mungkin banyak lelaki bisa menyayangi kamu, tapi tidak untuk El. Oh iya, apa ayah El tidak pernah menghubungimu, atau setidaknya memberi nafkah pada El? Ayah dulu terlalu emosi sehingga tidak sempat menanyakan siapa lelaki yang menghamili mu."


" Ayah, Tidak penting bagi mbak untuk mengetahui kabar dari pria itu. Bagi mbak, kesehatan El, kebahagiaan El jauh lebih penting. Mungkin saja pria itu sudah bahagia dengan kehidupan barunya." Ucapku pilu, aku melirik dengan ekor mataku, Akmal sedang menatapku tajam. Namun aku tidak perduli dengan semua ini.


Hari semakin sore, aku berpamitan untuk pulang. El juga sudah puas bermain, ia mendapat hadiah dari kakeknya berupa mainan rumah-rumahan yang bisa di susun. Ia sangat senang sekali.


" Yah, biar Akmal saja yang mengantar mbak Salsa pulang."


Dasar Akmal! Bisa-bisanya dia memanggilku dengan sebutan mbak. Sampai sekarang, ia masih pintar bermain sandiwara.


" Ayah sih gak masalah, tapi lihat tuh!" Ayah menunjuk ke arah Zaskia yang sedang cemberut.


" Aku cemburu sayang..." Teriak Zaskia.


" Sama kakak sendiri cemburu? Ck." Mama menggelengkan kepala.


" Mama..." Ia bergelayut di bahu mama.


Kami berpamitan, mama tak lupa memberiku sebuah amplop padaku, " ini buat bantu kamu beli kebutuhan ya."

__ADS_1


" Mama..." Aku memeluk erat wanita baik ini.


" Sering-sering main kesini ya El." Ucap mama sambil mencium pipi El dengan gemas.


" Iya oma, dadaaaa... Oma..."


Mobil yang di supiri oleh Akmal melaju meninggalkan istana milik ayah.


Kami masih diam membisu, tidak ada yang bersuara.


" Yah..." Panggil El kepada Akmal.


" Iya sayang.." jawab Akmal. Ia masih fokus memandang kedepan.


" El boleh panggil ayah enggak? Bunda punya ayah, kenapa El gak punya ayah?" Ucapnya sendu.


Akmal menepikan mobil yang kami kendarai, Ia menarik El dalam pelukannya. Sudut mata Akmal berair. Sedihkah ia melihat anaknya? Permintaan sederhana dari seorang anak yang butuh kasih sayang dari seorang laki-laki bergelar ayah.


" El anak ayah, mulai sekarang panggil om dengan sebutan ayah, karena sampai kapan pun El anak ayah. Tetap anak ayah." Bergetar suara Akmal.


" Terima kasih,ayah." Ucap El bahagia.


El mengecup pipi Akmal dengan mesra.


Setelah itu El memilih berbaring, sepertinya ia mengantuk.


" Sa, maafkan aku karena telah membuat kalian harus merasakan hidup yang... Jauh lebih sulit. Bahkan aku sendiri Menyesal karena telah memilih menjadi lelaki pecundang dan egois. Andai waktu bisa di putar kembali, sudah pasti aku memilih kalian. Dulu aku hanya takut tidak bisa menghidupi kalian." Sesalnya.


" Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Ucapnya lagi.


" Tapi tetap ada yang terluka, Akmal. Aku tidak siap."


" Demi El, aku siap kehilangan semuanya." Sahut akmal mantap.


*


Untuk beberapa hari ini aku hanya ingin tenang. Zaskia dan Akmal pun sudah tidak pernah datang kerumah ku lagi. Hanya El saja yang tampak rewel, katanya ia rindu dengan ayah.


Apa ia merasa punya ikatan batin dwngan Akmal?"


" Bun, kapan sih ayah datang?" Rengek El sore ini. Ia sedikit demam.


" Ayahkan lagi kerja, nanti ya kalau ayah sudah tidak sibuk." Aku mencoba menenangkan El.


" Coba saja ayah bisa tinggal di sini, pasti El bisa peluk setiap hari." Keluhnya lagi.


" Sabar ya! Orang sabar pasti di sayang Allah."


" Memang benar bun, kalau kita sabar akan di sayang Allah?"

__ADS_1


" Iya dong, bukan Allah saja tetapi semua orang akan menyayangi." Ucapku sambil memeluk putri semata wayang ku.


El kembali merenung, entah apa yang ada di pikiran anak sekecil dia.


__ADS_2