Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 46


__ADS_3

" Demi menikmati momen bersama bidadari, apa pun akan aku lakukan."


Pujian Akmal yang membuat aku terbang melayang di awang-awang.


"Kita tetap bisa memantau anak-anak jika nanti ada yang bangun atau nangis." Bisiknya ditelinga.


Tidak ingin membuang waktu, Akmal menarikku kedalam pelukannya. Sebagai orang dewasa, kami tidak ingin melewatkan malam tanpa sentuhan. Dan malam ini, Akmal menciptakan momen terindah dalam hidupku, meski dosa harus harus kami ulangi kembali.


" Tuhan...maafkan kami..." Ucapku dalam hati.


***


" Sa.."


" Hem?"


" Jika ini menjadi pertemuan kita bagaimana?"


Aku menatap Akmal, mencari kesungguhan ucapannya.


" Apa kamu akan sedih?" Tanyanya lagi.


" Kamu mau kemana?" Aku membenarkan posisiku agar lebih nyaman saat mengobrol dengannya.


Bukan jawaban yang kudapat, melainkan pelukan erat dan kecupan di pipi.


" Kamu mau kemana sih? Jangan buat aku penasaran." Ucapku lagi.


Akmal menghela napas kasar. " Bukan kemauanku untuk jauh dari kalian. Tapi..perintah mama tidak bisa ku tolak."


Jika itu tentang mamanya, aku bisa apa?


Aku tidak mengajarkan durhaka pada Akmal. Dia sudah dewasa, dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya. Dari ucapannya, sudah jelas ia memilih mamanya. Bukannya sejak dulu sudah begitu.


Setelah jeda lama, Akmal melanjutkan kata-katanya lagi. " Aku akan tinggal di Belanda bersama Zaskia."


Aku tersenyum masam mendengar ucapannya. Masih sedikit gumpalan kecemburuan di dadaku.


" Jangan marah!" Ucap Akmal merayuku.


" Tidak akan. Tidak akan marah. Mana bisa aku marah padamu." Aku mencoba bercanda agar tidak ada keheningan diantara kami.


Akmal mencubit hidungku mesra. Selanjutnya kami berpelukan, pelukan terakhirku bersama mantan suami.


Sial. Nyatanya aku sedih menerima takdir perpisahan kami. Aku menangis di pelukan Akmal. Bahkan bahunya basah karena air mataku.


" Jangan nangis sayang.." Akmal mengusap rambutku berkali-kali.

__ADS_1


Bagaimana aku tidak menangis? Mulai esok aku akan benar-benar sendiri tanpa siapa pun.


***


Setelah menikmati beberapa hari bersama, kini waktunya kami berpisah.


Sebelum benar-benar berpisah, Akmal memeluk El dan Yusuf bergantian. Matanya basah.


El sampai tidak mengerti, mengapa aku juga sampai ikut menangis.


" Titip anak-anak ya... Aku pasti merindukan kalian." Akmal memelukku erat sekali.


Jangan tanya seberapa banyak air mataku menetes.


" Jika ingin menikah lagi... Aku rela melepasmu, tapi carilah lelaki yang lebih baik dari aku, yang bisa melindungi anak-anak kita." Pesan Akmal padaku.


Aku hanya mengangguk, berat rasanya untuk berucap kata perpisahan.


Akmal melajukan mobilnya meninggalkan area rumah ini. Kepergian Akmal diiringi oleh turunnya hujan dari langit. Bahkan alam pun ikut berduka dengan dengan perpisahan kami.


***


Hari-hari yang ku lalui terasa sepi tanpa Akmal. Meski kami sudah berpisah, namun setiap bulan aku selalu menerima uang belanja sebanyak sepuluh juta yang masuk kedalam ATM.


Aku tidak tahu siapa mengirimi uang sebanyak itu pada kami, Akmal kah atau keluarganya. Kami memang kekurangan kasih sayang Akmal, tapi kami tidak pernah kekurangan uang.


Anak-anak kami sudah tumbuh dewasa.


El sudah menjadi seorang Dokter, sedangkan Yusuf, putra ku yang sejak kecil tidak mengenal ayahnya sekarang sudah menjadi seorang polisi. Bukankah aku sudah sukses mendidik anak-anak kami? Sejak anak-anak sukses, kami tidak lagi menempati rumah peninggalan Akmal. Anak-anak berhasil membelikan aku sebuah rumah di kawasan elit. Rumah impianku di wujudkan oleh anak-anak ku.


Apakah Akmal tahu jika anak-anak kami sudah menjadi orang yang membanggakan? Adakah ia mencari kabar kami seperti aku yang selalu berusaha mencari kabarnya? Sepertinya Zaskia mang benar-benar menutup semua akses komunikasi dengan ku.


Seperti kata Akmal saat itu, jika aku ingin menikah dengan pria lain, ia rela melepasku. Begitu banyak lelaki yang datang kerumah ingin mengajak aku serius dalam menjalani biduk rumah tangga, namun dengan tegas aku menolaknya. Aku masih berharap cinta pertamaku itu pulang kembali dan kami bisa merajut cinta kami yang pernah putus. Pada faktanya selama dua puluh tahun aku sudah menjadi Single mom.


***


" Ma," panggil El. Bu Dokter cantik itu sedang rebahan di kakiku.


"Hem?" Sahutku sambil membelai rabut panjangnya. Hari ini kami sedang bersantai di belakang rumah. El sedang mendapat libur beberapa hari.


" Ada seorang pria yang ingin datang kerumah. Ingin berkenalan dengan mama." Ucapnya malu-malu.


" Suruh datang saja. Siapa dia? Pacar kamu?" Tanyaku penasaran.


" Bukan ma, hanya teman." Jawabnya lagi.


" Ma, mengapa mama tidak menikah lagi? Mengapa mama memilih untuk menjadi Single Mom? Padahal yang El tahu, begitu banyak lelaki yang ingin melamar mama. Mulai dari yang pengangguran sampe yang memiliki jabatan. Tetapi semua mama tolak. Apa mama trauma?"

__ADS_1


Aku tersenyum menatap putriku. Pertanyaan yang aku sudah tahu, suatu saat putriku pasti akan bertanya, mengapa aku memilih sendiri.


" Menjadi Single mom mungkin menyedihkan. Mama tidak punya teman dalam berbagi hal. Tapi mama juga tidak bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Separuh jiwa mama sudah pergi sejak ayahmu memilih untuk meninggalkan kita. Mama tidak trauma dengan pernikahan, hanya saja mama sudah memilih untuk setia pada cinta pertama mama." Jawabku mantap


" Tapikan ayah sudah menikah lagi, ma. Ayah sudah bahagia dengan keluarganya. Mengapa mama tidak memilih bahagia juga?"


" Memiliki kalian, membesarkan kalian, mendidik kalian, itu sudah cukup membuat mama bahagia. Mama sukses membawa anak-anak mama untuk menggapai cita-citanya. Bukan begitu buk Dokter?"


El tersenyum menatapku.


" Jangan pernah takut untuk jatuh cinta. Apalagi untuk menikah. Berdoa saja, semoga kisah hidupmu tidak sama seperti mama. Mama percaya, kamu mampu menemukan lelaki yang dapat mencintaimu, menyayangi mu dan melindungimu sepanjang masa." Ucapku memberi semangat.


" Bagaimana jika ia sama seperti ayah, ma?" Ucapnya risau.


Aku mengusap pipinya yang lembut dan bersih." Banyak berdoa ya sayang... Mama percaya, nasibmu tidak akan seperti mama. Dulu saat seusia mu, mama sudah menjadi seorang ibu, mama sudah bekerja keras untuk menghidupimu. Saat seusia mu, mama sudah gagal dalam pendidikan. Sedangkan kamu? Kamu sudah sukses sejak dini sayang."


El hanya manggut-manggut. Jangan sampai ia trauma terhadap laki-laki karena melihat ku yang selalu sendiri.


" Kapan temanmu akan datang kerumah?" Kami kembali ke topik pembicaraan yang utama tadi.


" Nanti El tanya lagi ma. Semalam dia sudah ingin datang bersama keluarganya, tapi El masuh ragu."


" Jangan pernah ragu. Mama yakin kamu akan menemukan lelaki yang tepat."


***


Hari ini kami sedang sibuk beraktivitas didapur. Kami mengolah berbagai makanan untuk menyambut tamu spesial putriku.


Yusuf juga menyempatkan dirinya untuk hadir di acara lamaran kakak kesayangannya.


Jam pertemuan semakin dekat. Semua makanan sudah di hidangkan di meja. Aku dan El mulai berganti pakaian. Aku memakai pakaian terbaikku untuk menyambut tamu anakku. El juga tak kalah cantik. Ah. Sempurna sekali melihat riasan buk Dokter. Sederhana, namun elegan.


Setelah selesai, aku, El dan Yusuf menunggu tamu kami didepan.


Pukul dua siang ku lihat beberapa mobil berhenti di depan rumah.


Aku mengamati dari balik jendela kaca. Dari cara berpakaiannya, sepertinya mereka bukan orang sembarangan.


" Yang mana lelakimu?" Tanyaku pada El.


El menunjuk seorang lelaki yang menggunakan kemeja batik. Tampan dan berwibawa.


Kami menyambut tamu kami untuk masuk kedalam.


Saat pria pilihan anakku berjalan semakin dekat, tubuhku seperti tersengat arus listrik. Menegang dan kaku. Lelaki itu di apit oleh kedua orang tuanya. Dan aku sangat mengenal mereka.


Oh tuhan...bencana apa ini?

__ADS_1


__ADS_2