
Aku Single Mom 42
" Jika aku menolak menikah dengan Zaskia, maka mama tidak akan segan-segan membuat hidup kita menderita. Terutama kamu. Kehidupan kami terancam, dan yang ada dalam fikiranku kamu, El dan Yusuf akan hidup dalam ancaman dan tidak ada ketenangan. Meskipun aku membawa kalian pindah sejauh apa pun, orang suruhan mama akan menemukan kita. Dan yang lebih parah lagi, ijazah yang aku punya tidak akan berlaku untuk mencari kerja, karena mama akan memblokir semua akses yang berhubungan denganku. Sa, aku memilih menikah dengan Zaskia hanya semata-mata demi kenyaman hidup kalian. Jika aku menuruti permintaan mama, mama akan memasukkan nama kalian semua kedalam daftar penerimaan gajian bulanan. Mama berjanji akan memberi nafkah bulanan pada kamu. Aku sedih memberikan nomor rekening milikmu pada mama. Tolong jangan menolak, meski aku tahu harga dirimu sedang di pertaruhkan. Tapi berfikirlah bahwa uang itu akan berguna untuk masa depan El dan Yusuf nanti."
Aku hanya terpaku mendengar semua penuturan Akmal. Sejauh itukah pengorbanan Akmal untuk kami?
Suara berisik dari ponsel Akmal memecah keheningan diantara kami.
" Pulanglah! Ikuti saja aturan keluargamu. Aku bisa menjaga anak-anak mu dengan baik dan kelak menjadi orang yang akan membanggakan kita."
" Tolong sa, tolong sampaikan pada El jangan membenciku." Akmal terisak di pelukanku. Selemah inikah dia? Seharusnya ia yang memberi kekuatan padaku, bukan sebaliknya.
Setelah merasa baik-baik saja, akhirnya Akmal melangkah meninggalkan rumah ini, meninggalkan aku dan El juga Yusuf. Bosa jadi ini pertemuan terakhir kami. Setelah sah menjadi suami Zaskia, maka Zaskia akan semakin punya hak untuk mengikat kaki Akmal agar tidak bisa berjumpa dengan anak-anaknya.
*
Tring. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak ku kenal. Semenjak Akmal berpisah denganku, semenjak Akmal akan menikah dengan Zaskia begitu banyak nomor yang tidak ku kenal masuk kedalam ponselku. Menggangguku tanpa ampun.
Padahal aku sudah sangat rela melepas Akmal tanpa pernah memintanya kembali padaku. Kurang dimana ikhlas ku.
Dan sekarang seseorang mengirimkan sebuah video akad nikah Zaskia dan Akmal. Dengan hiasan mewah mendominasi pernikahan mereka. Dan itu berbanding terbalik dengan pernikahan ku dulu dengan Akmal. Pernikahan kami dulu dilangsungkan sangat-sangat sederhana.
Aku memutar video ini dengan suara pelan. Tak lupa aku mengunci pintu, takut El masuk tiba-tiba. Aku takut El akan membenci Akmal. Padahal sebaliknya Akmal berkorban untuk kami. Demi kesejahteraan kehidupan kami.
Dengan lantang dan gagah Akmal mengucapkan ijab qabul atas nama Zaskia. Sah! Begitu ramai orang-orang berteriak bahagia menyambut pengantin baru.
Aku berusaha tidak menangis. Sial. Nyatanya aku masih menangis terisak sendiri di kamar ini, kamar yang pernah menjadi saksi kenangan indah antara aku dan Akmal. Kamar yang pernah menjadi saksi kami pernah berbagi selimut.
Mataku sampai sembab menangisi pernikahan Akmal dan Zaskia, sudah beberapa kali mencoba ikhlas dan berlapang dada menerima takdir, nyatanya aku hanya manusia biasa.
*
Malam semakin larut, beberapa kali El mencoba memanggilku, namun aku hanya mendiamkan. Aku tidak mau berjumpa dengan El dengan keadaan ku yang buruk. Mata yang sembab dan kamar yang berantakan. Untung saja Yusuf anteng hari ini.
__ADS_1
Aku membuka tudung saji, ada sepotong ikan dan sayur bening yang sudah dingin. Tapi karena perutku lapar, makan dingin ini pun menjadi lezat untukku.
" Sa.." tepukan di bahu mengejutkanku.
Nek Aminah duduk disampingku.
" Lapar ya?" Tanyanya lembut menggodaku.
" Kalau sedih, sedih aja. Kalau galau, galau aja. Tapi jangan lupa makan. Ingat, ada anak-anak mu butuh perhatianmu. El sedih lihat kamu gak keluar kamar." Ucap nek Aminah.
Aku tertegun mendengar penuturan nek Aminah. Ya, aku tidak boleh egois. Masih ada El yang sudah beranjak remaja. El yang butuh bimbingan ku agar tak bernasib sama sepertiku.
" Nanti setelah makan, tolong kamu jumpai El, ya." Pinta nek Aminah.
Aku hanya mengangguk dan segera melanjutkan makananku.
" Alhamdulillah... Kenyang." Aku berucap sendiri dalam hati.
Setelah itu aku masuk ke dalam kamar putriku. Ya Allah... Ia tertidur di meja belajarnya.
Mau mengangkatnya aku tidak kuat.
" El..."
Setelah beberapa kali mengguncang bahunya akhirnya ia terbangun.
" Bunda..." El memelukku erat. " Bunda jangan sedih terus." Ucapnya sedih.
" Maafin bunda ya, bunda janji akan menjadi ibu yang baik untuk kalian."
El menatapku, kami saling menatap dan kembali berpelukan.
" Tidur ya.. sudah malam."
__ADS_1
El mengangguk. Setelah El terlelap aku meninggalkannya dalam tidur malamnya.
Kini giliran aku yang tidak bisa tidur. Yang ada didalam kepalaku saat ini adalah bayangan Akmal sedang bercumbu rayu dengan Zaskia. Aku tidak percaya jika Akmal menolak bongkahan daging mentah yang disodorkan oleh pemiliknya. Sejatinya, kucing tidak akan menolak jika di beri ikan asin.
Tuhan... Mengapa takdirku seperti ini...
Tring.
Ponselku berbunyi, lagi-lagi dari nomor yang tidak di kenal. Niat sekali dia menggangguku, hingga sudah dini hari ia masih mengirimkan pesan gambar. Pesan kali ini bergambar kamar pengantin dengan suasana yang mewah. Ada gambar Akmal yang sedang memeluk pinggang Zaskia. Ah. Bodoh. Mengapa aku memikirkan? Bukankah mereka sudah sah. Bahkan malam ini aku yakin mereka sedang mereguk madu dunia.
Aku mematikan ponselku, takut jika nanti akan mendapat gambar yang jauh lebih ngeri, karena akan mengganggu pikiranku dan ASI ku akan sedikit.
*
Setelah pernikahan Akmal,baku tidak pernah berharap Akmal akan pulang kerumah ini lagi, tapi nyatanya...
" Salsa.."
Panggilan di depan rumah membuatku mencari sumber suara.
Secepat mungkin Akmal mendorongku kedalam rumah.
" Akmal? Kamu ngapain disini?" Tanyaku celingukan.
" Aku rindu." Serta merta ia mengecup bibirku. Aku yang sudah lama tak merasakan seketika membalas perbuatan Akmal. Aku seperti orang yang yang kehausan, bagai tanah yang sudah lama tidak di guyur hujan. Hingga aku tidak mampu menolak perbuatan Akmal tang lebih terhadapku. Ya... Kami melakukan perbuatan haram itu kembali tanpa takut dosa.
Berkali-kali kami menikmati surga dunia tanpa ikatan pernikahan. Kami tersadar ketika sudah sama-sama lelah. Akmal masih memelukku dan kami tubuh kami tanpa sehelai benang pun tertutupi.
Aku menangis kembali dalam pelukan Akmal, ada rasa sesal karena harus kembali terjerembab dalam lumpur kenistaan.
" Akmal, huuuu." Aku menangis menyesal. Akmal hanya terdiam tanpa kata. Entah apa yang ada didalam pikirannya.
" Apa yang sudah terjadi Akmal? mengapa kita harus melakukan disa Akmal?" tanyaku tergugu.
__ADS_1
" kita masih saling mencintai Salsa, jangan paksa aku untuk menjauh darimu. aku tidak mampu." bisiknya lemah di telingaku.