
"Halo... El..." Zaskia menyambut kedatangan kami. Dari raut wajahnya jelas ia cemburu melihat aku dan Akmal berjalan beriringan.
Setelah El masuk kedalam, " mas kamu jemput mbak Salsa?" Tanyanya menyelidik.
" Masuk dulu yuk!" Ajak Akmal.
Dengan manjanya Zaskia bergelayut di pundak Akmal. Zaskia seperti sengaja ingin memberi tahu padaku, bahwa Akmal adalah miliknya.
Seperti biasa, El langsung masuk keruang bermain bersama anak ayah dan pengasuhnya. Kami berkumpul di ruang tamu. Ada ayah, mama, Zaskia, Akmal dan juga aku.
Setelah cukup lama berbasa-basi, akhirnya Akmal mulai bersuara.
" Ayah, mama, Zaskia.. kedatangan mas ke sini adalah..."
" Mau melamar Zaskia?" Tiba-tiba saja Zaskia sudah memotong pembicaraan Akmal.
Semua mata tertuju pada Zaskia. Heran, kenapa sikap Zaskia menjadi genit pada Akmal?
" Ayo lanjutkan lagi, Mal!" Perintah ayah.
Akmal berusaha rileks, ia menarik napas kemudian menghembuskan kembali. Aku tahu ini berat sekali untuk Akmal.
" Maksud kedatangan mas kesini meminta izin untuk juga restu untuk menikahi..." Akmal menghentikan ucapannya. Mata Zaskia berbinar-binar menunggu kelanjutan ucapan Akmal.
Sementara aku sendiri rasanya badanku menggigil padahal aku sedang tidak kedinginan.
" Yah, izinkan dan restui saya menikahi Salsabila.."
" Hah. Kamu ngomong apa mas?" Zaskia tersulut emosi. Ia seperti tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut Akmal.
" Kamu bercanda, mas?" Tanya mama tersenyum.
" Mas, aku sedang tidak ulang tahun loh
Kamu jangan ngerjain aku loh, mas." Zaskia mulai anarkis. Ia menggoyang tubuh Akmal berkali-kali.
Ayah duduk mendekat disamping Akmal, tampak ada seraut wajah yang pias. Aku yakin nyali Akmal menciut.
" Maksud mu apa ingin meminta restu menikah dengan Salsa, sementara kamu berpacaran dengan Zaskia." Ayah menaikan nada suaranya satu oktaf dari biasanya.
__ADS_1
" El anak saya, hasil dari sembilan tahun lalu. Saya adalah lelaki yang meninggalkan Salsa disaat ia mengalami masa sulit. Saya lelaki yang sudah menghancurkan masa depan Salsa sembilan tahun yang lalu. Dan sebelum hubungan saya semakin jauh dengan Zaskia, saya ingin hubungan saya dengan Zaskia berakhir cukup sampai disini. Saya ingin menebus rasa bersalah saya pada El dan Salsa." Ucap Akmal dengan penuh keyakinan.
Plak..! Sebuah tamparan dari Zaskia buat Akmal.
" Dasar lelaki buaya kamu, mas. Setelah bosan denganku, sekarang kamu mau menikah dengan kakakku sendiri." Zaskia menatapku, aku tertunduk pilu. Hari ini akan menjadi saksi untuk kedua kali aku menyakiti mereka.
" Jelaskan sama aku mbak! Betul mas Akmal ayah kandung El?"
Aku hanya mengangguk, tidak berani menatap mata Zaskia. Aku malu, karena telah membuat luka di hati Zaskia.
" Jawab mbak! Jangan cuma mengangguk." Zaskia mengangkat wajahku kasar.
" Cukup Za!" Akmal menarik tangan Zaskia dari wajahku.
" El memang anak kandung Akmal, itu sebabnya mbak memberi nama Elmeera Fathina Akmal, apa itu kurang jelas bagi kamu? Maafkan mbak yang tidak jujur dari awal kita bertemu." Jawabku sesenggukan.
" Aku pikir kau berubah, ternyata kau tetap sama. Aku menyesal Zaskia kembali bertemu dengan mu. Kau.. kau... Perempuan murahan. Cuih." Ayah kembali meludahi wajahku untuk yang kedua kali.
" Kau memang bukan anakku, kau hanya anak seorang PSK, aku menyesal mengangkat mu menjadi anakku, karena kau, aku harus kehilangan istriku untuk selamanya. Sekarang kau... Merebut pacar anakku. Akmal, apa kau tetap akan menikahi anak PSK ini?" Tanya ayah berang.
" Iya ayah, aku akan tetap menikahi Salsabila."
Akmal masuk kedalam, ia menggendong El yang tampak kebingungan.
" Bunda, El masih mau main di rumah kakek." Rengek El.
Namun rengekan El tak mampu meluluhkan hati ayah, mama juga Zaskia. Mereka meninggalkan kami di ruang tamu ini.
Akmal mengandeng tanganku, tak lupa ia menggendong El. Kami pergi meninggalkan istana ini.
Mobil Akmal melaju bersama deraian air mataku. Sedih rasanya harus kembali kehilangan keluarga untuk yang kedua kali.
" Bunda kok nangis?" El menatapku heran.
Aku segera menghapus air mata yang membasahi wajahku, " bunda enggak apa-apa sayang," aku berusaha tersenyum di depan El.
Akmal mengantar kami pulang. Setelah tiba di rumah, El langsung bermain dengan teman-temannya.
Akmal masuk kedalam rumah sebelum aku mempersilahkan. Ia duduk di atas tikar yang selalu ku gelar di ruang tengah.
__ADS_1
" Jangan nangis, aku ada buat kamu. Besok aku jemput, kita ngomong ke keluarga besar ku." Ucap Akmal.
" Aku belum siap, Akmal. Aku takut keluarga kamu tidak menerima aku. Apa kamu sudah siap seandainya nanti namamu akan di hapus dari kartu keluarga."
Ia menatapku dalam, menggeser duduknya semakin dekat denganku.
Ia mengecup lembut bibirku, sebentar namun memabukkan.
" Is, apaan sih." Aku memukul bahunya karena malu.
" Kangen." Bisiknya.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Malu! Hal yang sudah lama tidak aku rasakan.
Ia mengulang kembali, bahkan kali ini lebih lama. Bukannya menolak, aku justru membalas ciuman dari orang yang paling kucinta. Tangan akmal mulai turun ke bagian dada.
Aku kebingungan antara menolak atau menikmati.
Otakku mengatakan jangan, namun tubuhku tidak bisa di ajak kompromi. Aku begitu menikmati cumbuan Akmal.
" Kamar yuk?" Ajak Akmal disela-sela aktivitas kami yang panas.
" Kita belum sah, Akmal."
" Sebentar lagi sah kok. Yuk?" Ia mulai merengek bak anak kecil yang tidak mendapat jajan.
" Akmal?" Aku membentak Akmal. Aku tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang pernah ku lakukan. Bahkan seekor keledai pun tak ingin jatuh ke lubang yang sama.
Akmal merunduk, wajahnya kesal, bahkan bibirnya menggerutu pelan.
" Akmal, kamu mau ada adiknya El yang akan bernasib sama dengan El? Andai kamu tahu sedihnya menjadi El? Ketika esok El dewasa, ia tak bernasab padamu, ia tidak akan pernah merasakan bagaimana ayahnya menikahkan, kamu pun tidak bisa menikahkan El. El akan dinikahkan oleh wali hakim. Apa kamu pernah memikirkan itu, Akmal?" Aku sedih memikirkan nasib putriku. Bahkan nasib putriku lebih sedih dari seorang anak yatim. Jika ia menjadi anak yatim, 8a masih bisa memakai binti ayahnya, sementara El? Ia sama sekali tak berhak sedikit pun, atas apa pun yang dimiliki oleh Akmal. Miris bukan.
Setelah mendengar penjelasan lu, Akmal kembali meminta maaf pada ku, " maaf Sa, aku terbawa perasaan. Aku pulang sekarang. Besok pagi jangan lupa bersiap, aku akan menjemput kalian. Kita akan selesaikan semuanya agar bisa segera sah. Jangan lupa damdan yang cantik, ya." Akmal mengedipkan sebelah matanya.
" Huh. Dasar genit."
Sebelum pergi, ia sempatkan mengecup keningku, " l love you..."
Aku melambaikan tangan melepas kepergiannya.
__ADS_1
" Akmal, semoga Allah memberi kelancaran untuk keinginan baik kita ya.. Amin.." ucapku dalam hati