
"Ibu..." Aku mencoba membuka pembicaraan namun seketika aku terdiam saat ia meletakan jari telunjuknya tepat di atas bibir.
" Ssstt. Apa kamu hamil?"
Aku terdiam sejenak, bingung harus berkata apa. Jujur atau bohong.
" Jawab!" Bentak ibu.
Sedih rasanya mendapati sikap ibu mertua yang tidak bersahabat.
" Alhamdulillah, Allah masih memberikan kepercayaan kepada kami, bu." Ucapku lirih.
Beliau mendengus kesal, kemudian berlalu dari rumahku tanpa pamit.
Aku terduduk di kursi sofa, rasa lelah seperti menghimpit dadaku. Mengapa mereka begitu sulit sekali menerima kehadiran kami.
Allah kuatkan hambamu ini.
*
Ini hari ke lima kepergian Akmal, rencana nanti sore ia akan pulang. Tak ingin terlihat kucel didepan suami sendiri, aku pun segera mandi dan merias diri dengan riasan ringan, namun tetap fresh dan cantik di depan Akmal. Pekerjaan Akmal yang banyak bertemu perempuan cantik terkadang membuat hatiku ketar ketir. Aku yang terlalu dalam mencintainya merasa takut jika harus kehilangan dia untuk yang ke dua kali.
Sore ini aku duduk di teras rumah, ingin menikmati udara sore, sekaligus ingin menyambut kedatangan suamiku.
Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Akmal, suara mobilnya sudah terdengar dan kini sudah memasuki halaman rumah.
Ia turun dari mobil, ada guratan kelelahan pada wajah suamiku ini.
Ia memelukku erat, mencium kedua pipiku.
" Kamu sehat?"
Aku hanya mengangguk, Akmal baru tiba, ia pasti lelah. Nanti setelah istirahat baru aku cerita perihal kedatangan ibunya.
Kami melangkah masuk kedalam rumah. Sebelum mandi, ia dan El bercengkrama. El begitu rindu pada Akmal, sama sepertiku.
" Mandi dulu, yah. Kamu bau." Aku menghampiri mereka yang sedang asyik bertukar cerita.
__ADS_1
" Siap bos." Akmal bangkit dan segera membersihkan diri.
Aku menyiapkan makanan yang sudah dimasak veni. Makanan kesukaan Akmal.
" Yang, lapar." Akmal membuyarkan lamunanku.
" Eh. Iya ini sudah siap. Yuk makan." Aku mengisi nasi beserta lauk dan sayur kedalam piring.
Akmal mulai menikmati makanannya. Ada rasa iba melihat Akmal, demi kami ia harus rela di buang dari keluarganya.
" Bun, apa ada yang datang saat aku gak dirumah?"
Aku terkejut dengan pertanyaan Akmal. Apa ia tahu segalanya? Termasuk kedatangan mamanya?
" Ada. Mama datang, yah."
Terdengar helaan nafas Akmal. Ia sejenak menghentikan aktivitas makannya.
" Mama bilang apa?"
" Mama minta agar kami menjauh dari kamu." Jawabku lirih.
Aku sedih mendengar berita yang di bawa Akmal. Aku juga tidak menyangka jika ada seorang ibu yang tega menyuruh anaknya bercerai. Dimana letak hati seorang ibu?
" Aku pasrah, yah. Semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu adalah kepala keluarga, sedangkan aku adalah makmum kamu. Semua kendali ada di tangan kamu." Ucapku sendu.
*
Kehamilanku sudah menginjak usia tujuh bulan. Aku mulai mempersiapkan semua kebutuhan calon bayiku. Tidak seperti El dulu yang serba kekurangan, kali ini semuanya tercukupi dengan baik.
Akmal mencukupi kebutuhan kami dengan sangat luar biasa. Jika di tanya apakah aku bahagia, tentu jawabannku adalah iya.
Akmal sedang bersantai di kamar. Ia sedang memainkan ponselnya.
Tiba-tiba suara ponsel Akmal berbunyi, ia melihat nama si penelpon di layar ponselnya. Ada wajah ragu, ia melihatku seolah meminta izin padaku. Sementara aku hanya mengangkat bahu sebagai kata terserah kamu.
Akmal meloudspeaker panggilan tersebut, agar aku juga bisa mendengar.
__ADS_1
" Akmal, ini mbak Dewi. Tolong segera pulang! Mama jatuh di kamar mandi. Sekarang kami sudah di rumah sakit. Nanti mbak kirim alamatnya." Suara mbak Dewi terdengar panik di tambah ada sirine ambulance yang memekakkan telinga.
Sambungan telepon terputus, aku dan Akmal segera bersiap-siap untuk datang kerumah sakit. Urusan aku tidak di terima itu urusan terakhir. Yang paling penting, Akmal tidak sendiri. Ada aku yang akan mendampinginya.
Kami sudah tiba di rumah sakit, tampak keluarga Akmal dengan wajah yang sembab.
Akmal menyalami keluarganya, mereka semua sudah hadir bersama pasangan dan anaknya masing-masing. Aku pun melakukan hal yang sama pada keluarga Akmal, namun tanganku di biarkan mengambang oleh mbak Dewi dan mbak Selvi. Aku harus menelan pil pahit atas apa yang terjadi padaku. Dengan wajah memerah karena menahan malu akhirnya aku mengambil tempat duduk menjauh dari mereka. Mungkin benar adanya, tempat ku tidak disini dan bukan keluarga ini.
Aku duduk bersebelahan dengan El. Begitu banyak keluarga dan keponakan Akmal yang sedang menunggui mama, namun tidak ada satupun mereka yang beramah tamah dengan kami. Jika mereka tak ramah padaku, mungkin aku tidak ambil pusing. Tapi mereka mengikutsertakan El dalam masalah ini.
Aku mengusap air mataku yang berebutan untuk turun. Aku tidak mau El sedih, meski aku yakin ia mulai mengerti. Ia tak banyak tanya padaku seolah tak ingin menambah beban lara di hatiku.
Dari kejauhan aku melihat wajah Akmal yang mengeras. Sepertinya mereka sedang berselisih paham. Ada rasa bersalah di dalam hatiku. Sedih melihat kakak beradik saling berselisih paham. Andai dulu aku menolak mentah-mentah ajakan menikah Akmal, mungkin Akmal akan hidup rukun dengan keluarganya.
Mbak Dewi menghampiriku dengan wajah yang kurang bersahabat. Sementara Akmal berjalan di belakang mbak Dewi.
Mbak Dewi berdiri di hadapanku dengan melipat tangannya di dada, " Sa, kamu tahu apa yang terjadi pada keluarga kami?"
" Maaf mbak saya tidak tahu." Ucapku lirih.
" Sejak kehadiran mu, kehidupan kami carut marut. Mama berkali-kali mengalami tekanan darah tinggi hingga terjatuh di kamar mandi."
Aku hanya mengangguk, bingung harus menanggapi apa pada kakak ipar ku ini.
" Sesuai permintaan mama, tolong jauhi Akmal."
Bagai petir di siang bolong, perkataan mbak Dewi menyakiti hatiku tanpa ampun.
" Ini memang kejam untukmu, tapi ini juga demi kebahagian mama dalam menikmati masa tuanya. Akmal adalah anak kesayangan mama, adik bungsu kami. Kami ingin Akmal menikah dengan wanita yang memang pantas untuk keluarga kami." Ucap mbak Dewi tanpa merasa sedikit bersalah.
Luruh sudah air mata bak banjir bandang. Kini aku sesenggukan sepeninggal mbak Dewi. Hanya Akmal yang masih memelukku erat. Sungguh, pwrmintaan keluarga Akmal benar-benar pilihan yang menyulitkan untukku.
" Maafkan keluarga,mku, bun. Kita pasti bisa melewati semua."
" Ki- kita...berpisah saja. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini." Ucapku putus asa.
" Aku tidakbingin kehilanganmu, bun." Suara Akmal sedikit lantang.
__ADS_1
" Kita tunggu mama sampai siuman. Jika itu kehendak mama, aku rela melepas kamu demi bakti seorang anak pada ibunya." Dengan langkah berat ku tinggalkan Akmal beserta keluarganya. Kedatangan ku disini tidak berarti apa-apa. Bahkan tak dihargai sama sekali.