
Aku dan El sedang asyik menikmati roti dan sebotol air mineral, hingga dari kejauhan ada sebuah cahaya terang, semakin lama cahaya itu semakin dekat, siapa sosok itu?
Sebuah mobil dengan lampu yang menyorot kearah kami, membuat pandangan menjadi silau. Mobil itu berhenti tepat di sisi kami. Siapa dia? Apakah orang jahat?
" Ya Allah... Tolong hamba mu ini... Kami hanya sosok manusia yang lemah." Doa ku dalam hati.
Pintu mobil terbuka, sosok pria turun dari mobil.
Akmal?
Ya, lelaki yang mengendarai mobil 8ni ternyata Akmal.
" Ayah..." El berlari memeluk ayahnya.
" El..." Akmal menatapku tajam. Entah apa arti tatapannya?
" El capek, yah." El mengadu manja pada ayahnya.
Akmal menggendong El kedalam mobil, sementara aku masih terpaku di tempatku.
Akmal menghampiriku, ada amarah di wajahnya.
" Kamu...keterlaluan." bentak Akmal padaku.
Emosiku terpancing mendengar suara keras dari Akmal. Entah kekuatan dari mana, aku bisa dengan kuat mendorong tubuh Akmal hingga ia mundur beberapa langkah dariku, "dasar pecundang! Kenapa sih kamu gak pernah bosan membuat aku sakit hati? Puas sekarang? Puas? Dasar breng*ek." Maki ku pada pria yang masih menjadi pemenang di hatiku.
" Sa, " Akmal berusaha menenangkan ku yang seperti kesetanan. Untungnya jalanan ini sepi, jadi kami tidak menjadi tontonan orang.
" Kamu sekarang mau apa lagi? Tolong.. tolong jangan ganggu aku dan El lagi. Silahkan kamu cari perempuan yang direstui oleh keluarga kamu." Sindir ku.
" Bisa enggak sih suaranya pelan? Kamu mau merusak mental El?"
" Apa kamu bilang? Kamu gak salah? Justru kamu yang merusak mental El." Bentak ku tak mau kalah.
" Sa, apa kamu mau marah-marah terus? Apa kamu gak malu di tonton oleh El?" Ucapan Akmal seketika menyadarkan ku. El memang sedang melihat aku dan Akmal beradu urat dari balik kaca mobil.
" Kita pulang, ya." Akmal membujukku untuk masuk kedalam mobil.
" Kasihan sama El, dia pasti lelah sekali." Ucap Akmal. Ia seperti tahu kelemahan ku, dan sekarang menggunakan El sebagai senjata untuk meluluhkan hati ku.
Aku masuk kedalam mobil, ada tatapan sayu dari malaikat kecilku.
" Bunda sama ayah jangan berantem, ya. El takut." Keluhnya sedih.
Aku hanya mengangguk. Akhirnya kami pulang diantar Akmal. Tidak butuh waktu lama, kami sudah tiba di rumah reot milik ku.
El memeluk Akmal, dan segera masuk kedalam kamar. " Silahkan pulang. Aku capek mau istirahat." Aku berusaha menutup pintu, namun dihalangi oleh Akmal. Jelas aku kalah tenaga jika berurusan dengan Akmal.
" Tunggu, kita perlu bicara?"
" Bicara apa lagi? Tidak ada yang penting diantara kita, Akmal. Jangan bawa-bawa El dalam masalah kita. Aku bisa menghidupi El tanpa bantuan dari siapa pun. Termasuk kamu." Aku menunjuk dada Akmal dengan angkuh. Kuharap ia muak melihat ku dan segera menjauh dari ku.
Ia seperti sedang menahan amarahnya. Yang dilakukan adalah menjambak rambutnya serta terdengar gigi yang saling beradu. Aku ngeri melihatnya malam ini.
" Dengan cara apa aku bisa menebus dosaku?" Ucapnya penuh penekanan.
__ADS_1
" Dengan cara jauhi kami."
Ia menatapku tajam. Tiba-tiba saja ia mendorongku masuk dan menghimpit ku di balik dinding.
Matanya penuh nafsu memandangku. Aku bergidik ngeri.
" A- apa yang mau kamu lakukan?" Aku mencicit ketakutan.
" Meniduri seperti sembilan tahun lalu. Aku rindu kehangatan tubuhmu, pelukanmu, dan aku mau seorang nyawa hidup disini, agar kamu bisa kembali padaku." Ucapnya sembari tangannya menepuk perutku.
" Akmal, ternya sifat mu benar-benar buruk, selain pecundang ternyata kamu adalah laki-laki picik." Bisikku pelan didepan wajahnya.
" Ayo, ayo lakukan! Lakukan yang kamu mau! Tapi jangan menyesal jika kamu akan menemui aku dan El hanya tinggal nama." Ancam ku.
Agh! Ia menumbuk dinding rumahku yang rapuh hingga dinding itu membentuk bulatan kecil seperti tangan Akmal.
Setelah itu ia pergi dari rumahku bersama deru mobil yang menghilang.
" Allah... Cobaan apa lagi ini?" Ratap ku sedih.
*
Pagi sudah datang, aku duduk di depan rumah untuk menghirup udara segar. Berharap pikiran ku jauh lebih fresh.
" Sa?"
Hah. Aku kaget. Ternyata nek Aminah sudah duduk sampingku.
" Nenek sudah lama?" Tanyaku heran.
" Hehe... Waalaikumsalam, nek." Ucapku tersenyum.
" Akhir-akhir ini kamu sibuk sekali, banyak melamun, mikirin apa?"
Huft! Aku memijit keningku, " semuanya lagi rumit, nek."
" Rumit bagaimana?"
Aku menceritakan semua kejadian yang menimpaku.
" Aku harus bagaimana nek?"
Nek Aminah membawaku dalam pelukannya, tangan keriputnya berkali-kali mengusap lembut kepalaku.
" Shalat istikharah adalah jawabannya. Tidak ada pilihan yang baik selain pilihan dari Gusti Allah."
Aku terpana mendengar jawaban dari nek Aminah, begitu luar biasa.
Bodoh sekali aku, seolah-olah tak memiliki Tuhan. Padahal ada Allah sebagai tempat pengaduan segala lara hati ku.
" Terima kasih ya, nek."
Di setiap gundah gulana hatiku selalu ada nek Aminah memberi jalan keluar yang benar-benar bisa di harapkan.
" Kamu sudah masak?" Tanya nek Aminah.
__ADS_1
" Belum nek. Entah kenapa malas sekali rasanya. Kita beli saja nek."
Aku bergegas masuk kedalam rumah untuk mengambil uang. Sarapan kali ini aku membeli lontong sayur untuk kami bertiga.
*
Aku sudah menjalani shalat istikharah, lagi-lagi hanya Akmal yang datang mimpi. Aku mencoba menolak kenyataan ini, namun aku bisa apa. Ada Allah yang berhak untuk berkehendak.
Hari libur sekolah El sudah usai. Putri kecilku sudah berangkat sekolah. Kini dirumah ini hanya aku seorang. Rencananya hari ini aku akan ke kebun orang untuk mengambil lidi yang nantinya akan kami jual. Aku menyiapkan parang dan pisau. Tak lupa membawa air minum sebagai persiapan. Saat akan mengunci pintu rumah, sebuah mobil yang ku kenal berhenti di depan rumah.
" Akmal..?" Setelah tragedi ia meninju dinding rumahku, baru ini ia kembali muncul. Kupikir dia sudah lupa.
Ia turun dari mobil dengan senyum manis. Seperti tanpa ada masalah di antara kami.
" Hai.." sapanya.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis pada Akmal.
" Mau kemana?" Tanyanya heran.
" Mau kerja." Jawabku singkat.
" Ada yang lebih penting dari itu." Ucap Akmal.
" Tidak ada yang penting selain bekerja." Sindir ku.
" Minta waktunya saja susah banget sih?" Suaranya mulai meninggi.
" Kalau mau marah-marah, mending pulang deh." Usir ku.
" Oke." Ia menurunkan nada suaranya.
Ia duduk di teras rumah. Mau todak mau aku duduk di sampingnya.
" Sa, berhari-hari aku tidak kesini. Kamu tahu apa yang ku lakukan?"
" Mana aku tahu." Jawabku cepat.
" Sa, aku serius loh.."
" Ya sudah, lanjut!"
" Aku shalat istikharah, dan berkali-kali kamu hadir dalam mimpiku." Ucapnya serius.
" Ka-kamu serius?" Aku seperti tidak percaya dengan ceritanya. Mengapa bisa sama denganku? Apa ini yang namanya jodoh?
" Sejak kamu minta aku menjauh, aku hampir putus asa, tapi aku coba saran bang Dani untuk shalat istikharah. Dan hasilnya bikin aku yakin buat nikahi kamu." Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. " Secepatnya kita akan menikah, ya."
Aku hanya mengangguk, sementara mataku sudah mulai mengembun. Antara sedih dan terharu.
Akmal menarik ku dalam pelukannya. Nyaman rasanya jika hari-hari akan seperti ini.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku.
Aku dan Akmal berdiri, ada rasa penasaran. Siapa yang datang?
__ADS_1