
Aku menangis kembali dalam pelukan Akmal, ada rasa sesal karena harus kembali terjerembab dalam lumpur kenistaan.
" Akmal, huuuu." Aku menangis menyesal. Akmal hanya terdiam tanpa kata. Entah apa yang ada didalam pikirannya.
" Apa yang sudah terjadi Akmal? mengapa kita harus melakukan dosa Akmal?" tanyaku tergugu.
" kita masih saling mencintai Salsa, jangan paksa aku untuk menjauh darimu. aku tidak mampu." bisiknya lemah di telingaku.
" Tetap bersama ku, Sa."
permintaan Akmal tak mungkin ku turuti. Tapi aku tak bisa menolak pesona Akmal. Bagai makan si buah malakama.
Aku segera membersihkan diri, berharap dosa zina yang kulakukan bersama Akmal dapat luntur bersama air yang membasahi tubuhku.
Tangisku pecah di kamar mandi, haruskah aku kembali jatuh ke dalam lumpur yang sama. Bahkan keledai saja tak mau jatuh ke lubang yang sama. Lalu aku apa?
Bagaimana jika aku nanti hamil? Haruskah anakku akan bernasib sama seperti El,anak pertamaku.
Aku memukul perutku berkali-kali, berharap tak akan ada nyawa yang akan tumbuh di sana. Setelah merasa lelah, aku merosot kelantai tak berdaya.
Tok...tok..tok...
pintu kamar mandi di ketuk berkali-kali oleh Akmal, namun aku tak berdaya untuk membukanya. Tenagaku hilang, yang bisa kulakukan hanya menangis di bawah guyuran shower.
Aku hanya bisa menatap pintu kamar mandi yang berusaha di buka oleh Akmal. Semakin lama tubuhku semakin menggigil.
Aku pasrah jika ini akhir dari kehidupanku.
mataku mulai terpejam, setelah itu aku tidak sadar apa yang terjadi. Mungkin aku pingsan atau malah mati mengenaskan di kamar mandi.
***
Pelan-pelan aku membuka mata, kini aku sudah berada di ruangan serba putih. Coba ku cubit tangan, " auw.. sakit." desisku. Itu artinya aku masih hidup.
Pintu ruangan ini terbuka, ada wajah Akmal menyembul dari balik pintu. Tapi Akmal tidak sendiri, ia datang bersama istrinya.
Zaskia mendekat ke arahku. Wajahnya tampak sinis tidak bersahabat.
" Bangun!" Bentaknya.
Aku yang pura-pura tidur langsung membuka mata.
" Gak usah pura-pura lemah. Jangan cari perhatian didepan suamiku." Ia sengaja mengucapkan kata suamiku penuh dengan penekanan.
" Zas, cukup! Aku membolehkan kamu ikut kesini bukan untuk membentak Salsa." Bentak Akmal pada istrinya.
" Kamu membelanya, mas?"
Seperti biasa nada suara Zaskia naik satu oktaf lebih tinggi.
" Dia kakak mu, belajarlah lebih sopan." Hardik Akmal.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan kamu sekarang ,Sa? apakah sudah membaik?"
Bukannya menjawab pertanyaan Akmal, aku malah membuang pandanganku. Aku tidak ingin Akmal melihat tetesan air mataku. Aku juga tidak ingin Zaskia menganggap aku berlebihan.
" Sa.." Akmal menyentuh pundakku.
" Jangan bersentuhan kalian bukan muhrim lagi!" Bentak Zaskia pada kami. Ia menarik tangan Akmal menjauh dariku.
" Aku tidak sudi suamiku menyentuh wanita lain. Apa lagi wanita itu kamu. Najis."
Entah mengapa emosi yang sempat kutahan menjadi memuncak setelah mendengar ocehan dari mulut Zaskia.
" Najis? Kamu pikir kamu suci? Sebelum menyentuhmu, suamimu lebih dulu mencicipi tubuhku. Bahkan sampai detik ini, Akmal masih mendambaku."
Zaskia menutup mulutnya tak percaya. Setetes air mulai meluncur dari kedua pipinya yang putih terawat tanpa noda .
Baru sedikit serangan yang kulakukan, tapi ia sudah menangis. Dasar cengeng!
Akmal menatap ku tajam. Marahkah ia dengan ucapanku? Biar saja aku tidak perduli.
" Dengar ya Ja-******!"
Suara Zaskia mulai gemetar, mungkin menahan emosi.
" Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mendapatkan Akmal!" Ucap Zaskia penuh percaya diri.
" Kita lihat saja." Balasku santai
" Kejarlah!" Titahku pada Akmal.
Akmal hanya menggeleng lemah, " Aku lelah, Sa. Aku lelah dengan sekelumit rumah tanggaku. Aku hanya ingin hidup damai bersama anak-anak dan wanita pilihanku. Tapi ..."
" Tapi kamu gak berani ambil resiko, bukan begitu?" tanyaku.
" Aku hanya tidak ingin kalian hidup susah, Sa. Cukup El yang menderita kala itu. Jangan sampai adik-adiknya El merasakan apa yang pernah El dan kamu rasakan." Akmal memijit keningnya.
" Pinjam handphone." pintaku pada Akmal.
" Buat apa?" Tanya Akmal heran.
" Mau ngabari El dan adiknya." Jawabku singkat.
" Sudah tenang saja. Aku sudah memberi kabar. Anak-anak aman ditangan Nek Aminah."
Ah. Lega rasanya mendengar ucapan Akmal. Nek Aminah memang bisa diandalkan dalam menjaga anak-anak.
" Akmal. ." panggilku pada lelaki tampan yang ada di hadapan ku.
" Hem?"
" Bagaimana kalau aku kembali hamil?"
__ADS_1
" Kita akan rawat anak kita sama-sama."
Entah mengapa aku selalu percaya pada kata-kata mantan suamiku ini. Padahal dulu ia juga meninggakanku demi sekolahnya, bahkan kini ia menceraikan aku juga demi keluarganya. Apakah aku terlalu bodoh? Apa aku terlalu bucin terhadap Akmal? Apa karena Akmal cinta pertamaku?
***
Hari ini aku sudah kembali kerumah. Senang rasanya bisa kembali berkumpul bersama anak-anak. Meski aku harus mendapatkan banyak pertanyaan dari El.
Tidak bisa ku pungkiri jika El anaknya perhatian dan selalu ingin tahu.
Aku beristirahat dikamar. Yusup sedang di timang-timang oleh ayahnya dikamar. Akmal selalu menjaga kedekatan dengan Akmal. Dia akan selalu berusaha menidurkan Akmal sebelum ia pulang kerumah istrinya.
Sedangkan El, ia seperti menjaga jarak dengan ayahnya sendiri. Jika Akmal datang kerumah ini, El akan selalu mengurung diri di kamar dengan alasan sedang sibuk dan tidak mau di ganggu.
Berbagai macam tabiat anak mencoba untuk ku pahami.
Batu saja aku akan menutup mata, Akmal masuk kedalam kamar.
" Ada apa?" Tanyaku heran..
" Cuma mau pamitan. Cepat sehat, jangan sakit-sakit. Titip anak-anak." Ucap Akmal.
" Aku gak akan sakit kalau gak kamu sakitin." ucap ku sedikit bercanda.
Akmal mencubit pipiku.
" Gemas." ucapnya lagi.
" Gih pulang, Sudah di tungguin istrimu loh."
Akmal cemberut aku membahas Zaskia lagi.
" Aku pulang ya. Cup."
Akmal mengecup pipiku.
" Akmal!"
Akmal berkari menjauh. Pintu kamar di tutup olehnya.
Aku sedikit bernapas lega. Tapi kenapa ada yang hilang? Separuh jiwaku seperti ikut bersama Akmal. Aku menatap sekeliling kamar ini. Kamar yang pernah menjadi saksi cinta kami.
" Akmal .. sampai detik ini aku masih mencintaimu. Aku mencintaimu, Akmal." Jerit hatiku pilu.
Ku usap air mata yang akan turun. " Jangan sedih, karena kamu adalah pemenangnya dalam mencintai Akmal. Bukti nyatanya Akmal sudah menitipkan sepasang malaikat kecil yang akan menemani hidupmu." aku mensugesti diriku sendiri.
Zaskia boleh memiliki raganya Akmal, namun ia tidak berhak mendapatkan jiwanya Akmal.
Tapi... meski Akmal mengaku tidak mencintai Zaskia, apa Akmal bisa menolak pesona Zaskia? Nyatanya Zaskia dan Akmal tetap melakukan malam pertama. Bagaimana aku bisa tahu jika Akmal dan Zaskia selalu melewatkan malam bersama?
Ah...Ternyata aku bodoh.
__ADS_1