
" Yang mana lelakimu?" Tanyaku pada El.
El menunjuk seorang lelaki yang menggunakan kemeja batik. Tampan dan berwibawa.
Kami bergegas berjalan ke depan untuk menyambut tamu kami agar masuk kedalam rumah.
Saat pria pilihan anakku berjalan semakin dekat, tubuhku seperti tersengat arus listrik. Menegang dan kaku. Lelaki itu di apit oleh kedua orang tuanya. Dan aku sangat mengenal mereka.
Oh tuhan...bencana apa ini?
Wanita yang berdiri disamping putranya itu adalah mbak Dewi. Mbak Dewi adalah kakaknya Akmal, orang pertama yang menentang hubunganku dan Akmal.
Wajahku pias, rasanya kaki ini tidak kuat untuk menopang berat badanku sendiri.
Aku meraba pintu, mencoba mencari pegangan agar tidak sampai pingsan nantinya.
" Mama kenapa?" El mulai panik. Tidak seperti biasanya aku seperti ini.
" Mama baik-baik saja?"
El begitu gelisah menatapku. Terlebih Yusuf.
Keluarga lelaki itu semakin mendekat. Jantungku berdegup kencang.
Yusuf berdiri dengan gagahnya menyambut keluarga lelaki yang akan melamar kakaknya.
" Allah, mengapa harus begini jalan cerita anakku?" Keluhku dalam hati.
El sudah lebih dulu menyambut tamu di depan. Sesekali ia memberi kode padaku untuk segera bergabung di depan.
Aku tidak bisa menemui mereka, aku memilih untuk berlari bersembunyi di kamar. Dadaku terasa sesak melihat lelaki pilihan putriku adalah saudaranya sendiri.
" Allah.. apa yang harus ku lakukan?"
Tok..tok.. tok..
" Mama," panggil El dari luar.
Aku tidak menjawab panggilan itu, hingga El membuka pintu kamar.
__ADS_1
" Mama kenapa menangis?" Tanya El panik.
El meraih wajahku dengan kedua tangannya. " Apa yang membuat mama menangis?" Tanya El lagi.
Aku hanya menggeleng lemah. Hanya air mataku saja yang bercucuran dengan deras.
" Ma, mereka sudah menunggu." Yusuf akhirnya datang menyusul kami.
" Dek, mama menangis." Adu El pada adiknya.
Yusuf mendekatiku. " Mama kenapa? Jangan sedih ma, masih ada Yusuf yang akan tetap menemani mama."
Aku menggeleng lemah. Bukan itu permasalahannya. Aku tidak ingin bertemu mereka, karena luka masa lalu ku akan kembali terulang dengan orang yang sama. Sebentar lagi putriku akan tahu jika mereka bersaudara. Apakah putriku sanggup untuk menerima kenyataan?
" Kita keluar sekarang ya, ma. Malu jika mereka harus menunggu kita lebih lama." Ujar Yusuf.
Aku menatap putriku yang cantik, " apa dia lupa pada wajah mbak Dewi? Padagal ia pernah bertemu beberapa kali." Batinku dalam hati.
Yusuf menggandeng tanganku untuk keluar dari kamar menemui tamu putriku. El mengikuti di belakangku.
Dengan tubuh gemetar aku berjalan semakin mendekat kearah mereka. Bukan hanya mbak Dewi saja yang datang, mantan mertua ku pun ikut datang di acara prosesi perkenalan keluarga. Saat akan sampai diruang tamu, mata ku menangkap sosok lelaki yang selalu mengisi ruang di hatiku. Lelaki yang memilih meninggalakn ku demi mengikuti kemauan keluarganya. Lelaki yang pernah menitipkan ku sepasang malaikat kecil padaku. Lelaki yang masih memberi jatah bulanan pada kami, namun sosoknya tidak pernah muncul dalam kehidupan nyata kami. Apakah El tadi tidak melihat ayahnya?
Entah kekuatan dari mana, aku yang tadinya lemah seketika berdiri tegak untuk menyambut tamu putriku. Tamu yang pernah menggores luka di hatiku. Tamu yang tidak pernah mengakui El dan Yusuf sebagai cucu dari keluarga mereka.
" Maaf sudah menunggu lama." Ucapku santun dan sopan.
Tamu-tamu putriku yang sedang bercanda ria seketika menoleh ke arahku.
Mereka terkejut bukan kepalang. Bahkan mbak Dewi dan mantan mama mertua sampai tidak bisa menutup mulutnya.
Begitupun dengan Zaskia dan Akmal.
Mereka seperti melihat hantu disiang bolong saat tahu siapa aku.
" Salsa." Ucap Akmal seketika berdiri.
El yang berada di belakangku pasti masih mengenal sosok lelaki yang saat ini memanggil namaku.
" Ayah.." pekik El.
__ADS_1
Di luar dugaan ku, El menghambur ke pelukan Akmal. El menangis di pelukan ayahnya. Sementara Zaskia menatap sinis pada putriku.
Aku tak kuasa menahan tangis. Kubiarkan air mata ini jatuh, hanya Yusuf yang tampak kebingungan. Yusuf sama sekali tidak punya kenangan bersama ayahnya. Setelah Akmal pergi dari kehidupan kami, aku berusaha menghapus semua hal yang berhubungan dengan Akmal. Bahkan aku tidak menyisahkan satu foto pun untuk mengenang Akmal.
" Dek, sini.. ini ayah." Ucap El terisak.
Yusuf menatap dingin pada lelaki yang ada di hadapannya. Ia tidak bergeming sedikitpun untuk sekedar memberikan salam pada ayahnya.
Tidak munafik, ku lihat Yusuf mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Akmal mendekati Yusuf. Ia tahu, putranya ini pasti sakit hati padanya. Sebagai ayah, Akmal sudah menurunkan egonya untuk lebih dulu menyapa Yusuf.
" Yusuf.." panggil Akmal bergetar.
Akmal memegang bahu putranya yang gagah.
" Ayah bangga padamu, nak. Mama mu sudah berhasil mendidik kalian. Foto di dinding itu.. menunjukkan bahwa kalian kini sudah menjadi orang hebat."
Akmal menarik napas berat, mungkin ia berharap rasa sesak didadanya bisa berkurang sedikit. " Maafkan ayah, karena sudah tega meninggalkan kalian. Maafkan ayah, karena sudah menjadi lelaki pecundang. Bahkan.. ayah tidak pantas untuk mendapat gelar panggilan ayah dari mu." Ucap Akmal penuh sesal.
Yusuf tidak mengindahkan ayahnya. Ia malah menari tanganku untuk duduk di sofa kosong yang belum di tempati. Yusuf duduk di sampingku.
Akmal nampak seperti frustasi. Jika El mudah luluh, lain hal dengan Yusuf. Putraku ini sedikit keras, namun ia sangat menyayangi ku.
Suasana hening, El sudah duduk disampingku. Akmal pun sudah duduk di samping istrinya, Zaskia. Aku memperhatikan tamuku yang datang hari ini. Ternyata lelaki yang ingin menjalin hubungan serius dengan putriku adalah anak sulung dari mbak Dewi dan mas Dewo. Aku mengenal mereka semua yamg hadir di rumahku. Hanya saja aku tidak melihat anak Akmal dan Zaskia. Apa anak mereka sudah besar sekarang? Sudah berapa anak Akmal? Berbagai pertanyaan menari-nari di kepalaku.
" Ja-jadi... Wanita yang ingin kita lamar adalah El putri mu?" Tanya mantan ibu mertuaku dengan gugup.
Aneh sekali, dulu beliau begitu angkuh. Mengapa sekarang menjadi gugup?
Apa ia tidak menyangka jika aku berhasil mendidik anak-anak ku dengan uang sepuluh juta perbulan darinya?
" Dewi... Bagaimana ini?" Tanya mantan ibu mertuaku panik.
Sementara lelaki muda itu seperti tidak percaya jika El dan dirinya masih bersaudara.
" Tante, perkenalkan.. nama saya Zaky Pratama. Saya anak dari ibu Dewi dan pak Dewo. Saya ingin melamar putri tante. Saya harap ini hanya drama, bukan kejadian nyata yang harus menyakitkan bagi saya dan El."
Aku menatap dalam wajah lelaki muda itu. Kasihan sekali dia. Lalu aku penasaran dengan wajah putriku sendiri. El hanya menunduk sedih. Ia seperti syok saat mengetahui kenyataan ini.
__ADS_1
Aku menarik napas, berharap ada banyak oksigen yang memenuhi paru-paru ku.
" El... Dan Zaky... Kalian itu adalah...."