Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 8


__ADS_3

Pintu terbuka, dan ibu masih berdiri disana. Aku gugup, apa yang harus kukatakan padanya? Apakah perutku terlihat jelas di mata ibu?


" Ibu? Masih disini?"


" Perutmu?" Tanya ibu serba salah.


" Aku baik-baik saja,bu." Bohongku.


" Yakin?" Tanya ibu penuh selidik.


Aku hanya mengangguk,memastikan ibu agar tidak curiga. Dan aku merasa, insting seorang ibu mulai bekerja. Aku perlu waspada, setidaknya sampai aku bisa mengikuti ujian kelulusan.


Aku meninggalkan ibu yang masih penuh tanda tanya. Aku berusaha santai melenggang meninggalkan rumah, padahal sejujurnya jantungku berdebar tak karuan.


*


Aku menghela napas berat, bukan kelegaan yang kudapat. Sampai kapan kebohonganku dapat ku sembunyikan?


Bukankah pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya ia pasti jatuh atau sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai maka lama kelamaan baunya akan tercium juga?


" Ayolah Salsa, berfikir!" Rutukku dalam hati.


Aku sebal sendiri karena otakku menjadi buntu.


Karena terlalu banyak melamun, hingga membuat aku tidak sadar jika aku sudah sampai di sekolah. Sengaja aku melewati kelas Akmal, berharap lelaki itu ada di dalam kelas. " Aku rindu Akmal." Jeritku nelangsa.


Aku berdiri mematung didepan kelasnya. Tempat duduk itu kini sudah diisi oleh orang lain. Akmal ku memang sudah tidak berada disini. Dan sampai detik ini aku tidak pernah bisa menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah dalam hidupku.


" Salsa..."


Sial! Lagi-lagi Syam memergoki aku. Aku mengambil langkah seribu, berlari meninggalkan kelas Akmal. Namun percuma, karena aku kalah cepat dengan langkah Syam.


Syam berhasil berjalan disampingku,


" kenapa lari?"


Aku tak menggubris pertanyaan Syam. Justru langkah kaki kupercepat.


" Hei!"


Langkahku terhenti karena Syam nekad memegang tanganku.


" Lepaskan!" Aku mengibaskan tanganku dari cekalan syam.


" Kenapa lari?" Syam mengulang pertanyaanya.


" Apa urusannya denganmu?"


" Aku tahu segalanya tentang kalian, termasuk.." ia menjatuhkan pandangan matanya pada perutku yang tertutup jilbab panjang.


Reflek aku memegang perutku, " A-apa yang kau tahu..?" Tanyaku gugup.


" Kehamilanmu." Jawabnya singkat.


Sontak mulutku ternganga, tak kusangka kehamilanku sudah diketahui oleh orang lain.


" Akmal sudah banyak cerita tentang hubungannya dengan mu, termasuk saat ia berhasil mencicipi mu."


Plak! Plak!


Aku menghadiahkan dua tamparan pada lelaki yang ada dihadapanku.


Ini kali pertama aku memukul seorang lelaki, untung saja tempat kami berdiri saat ini sepi. Jika tidak kami akan menjadi tontonan gratis teman-teman yang lain.

__ADS_1


" Cukup?" Tanyanya angkuh.


" Kalau aku mau, bisa saja hari ini kau di keluarkan dari sekolah ini. Tapi aku masih menjaga persahabatanku dengan Akmal. Kau paham?" Ia mencolek hidungku dan berlalu dari hadapanku dengan senyum miring penuh dengan ejekan.


" Akmal..." Aku menyebut namanya dalam suata bergetar dan juga serak.


" Kenapa harus ada yang tahu? Belum puaskah membuat aku menderita, Akmal." Aku menjerit dalam hati.


Aku memilih masuk kedalam toilet, membasuh wajahku yang berantakan dan sejenak menenangkan diri dari tangisanku.


*


Hari ini ada pelajaran olahraga, pelajaran yang kujauhi sejak aku berbadan dua.


Tapi hari ini aku tidak bisa mengelak karena sudah terlalu banyak alasan yang kubuat. Dan pak Dani sudah tidak percaya lagi denganku.


Mau tidak mau aku bersama dengan teman-teman yang lain pergi keruang ganti untuk mengganti seragam kami dengan training.


Selama ini kami bebas berganti saling berhadapan. Toh kami sama-sama perempuan jadi tidak malu. Tapi kali ini aku tidak mau kecolongan. Aku membiarkan mereka berganti pakaian lebih dulu. Aku tidak mau perutku nanti akan menjadi bahan pertanyaan.


" Sa, belum ganti?" Sahabatku Reni sudah selesai berganti seragam.


" Belum," jawabku singkat.


Kini semua temanku sudah selesai. Mereka semua menatapku, namun aku cuek dan bergegas masuk sendiri untuk berganti.


Berbagai cara kulakukan agar perutku tak menonjol. Salah satunya adalah mengikatnya dengan seragam putih.


Sakit! Bahkan sakit di hatiku masih kalah dengan sakit perut yang kuikat agar lebih kempis.


Setelah merasa yakin, aku bergegas menyusul kelapangan.


" Ayo cepat!" Teriak pak Dani, guru penjas yang terkenal sangar dan jarang senyum.


Aku pun segera berlari masuk kedalam barisan.


Setelah melakukan senam, pak Dani meminta kami untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali.


" Ya Allah... Apa aku sanggup? Sekarang saja mataku sudah berkunang-kunang. Bagaimana kalau aku pingsan?"


"Ayo!" Pukulan di bahuku membuat aku mau tak mau akhirnya berlari.


Dadaku terasa sesak, perutku sakit. Bahkan sekarang pandanganku gelap.


Badanku terasa lemas, hingga aku tak sanggup menopang berat badanku.


Ya, aku terjatuh pingsan di lapangan sekolah.


*


Yang aku tahu hidungku mencium bau minyak kayu putih.


Seorang guru yang kukenal, buk Fatimah memberikan ku segelas air putih.


" Minumlah dulu."


Aku mengangguk dan menerima gelas berisi air. Tenggorokanku terasa lega, namun sebentar saja detik berikutnya pertanyaan buk Fatimah membuatku mati kutu.


" Kamu hamil?"


Bibirku terasa kelu, bahkan menatap manik sahdu milik buk Fatimah saja aku tidak mampu.


" Salsa? Kamu hamil?" Buk Fatimah mengulang kembali pertanyaannya.

__ADS_1


" T-tidak bu." Aku berusah mengelak.


Buk Fatimah melangkah kearahku, " Lalu ini apa?"


Dengan paksa ia menarik baju olahragaku dan seragam putih yang mengikat perutku tadi. Kini perutku yang membuncit terpampang nyata di depan mata buk Fatimah.


" Kamu masih mengelak? Ck..." Buk Fatimah menggelengkan kepalanya.


Aku masih menunduk terdiam dan membisu tanpa kata.


Yah, ini mungkin saatnya mereka tahu apa yang tengah terjadi padaku. Siap tidak siap aku harus siap menerima semua konsekuensi yang akan terjadi nanti.


Ya Allah, apakah ini hari terakhir aku memakai seragam putih abu-abu?


" Sa..?"


Bahu ku terasa di goyang. Aku berusaha bangkit dari tidurku. Pandanganku masih berkunang-kunang, tapi tetap kupaksakan untuk tegak.


" Assalamu'alaikum..."


Seseorang mengucap salam, dan aku tidak ading dengan suara itu. Seorang ibu paruh baya berdiri di depan pintu. Diwajahnya tergurat rasa khawatir.


" Waalaikumsalam, masuk ibu." Dengan suara lembut dan santun buk Fatimah mempersilahkan ibu masuk.


Ibu berjalan tergesa-gesa kearahku,


" kamu kenapa nduk?"


Ibu memeriksa anggota tubuh, mungkin takut aku terluka.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan ibu, kini beberapa guru datang keruang UKS.


" Ya Allah...tolong aku." Jeritku dalam hati.


Kini seluruh dewan guru sudah berkumpul, ibu dipersilahkan duduk berdekatan dengan pak kepala sekolah. Sedang aku masih berada di bed UKS.


Pak kepala sekolah memulai berbicara. Hatiku semakin dag dig dug. Keringat djngin membanjiri wajah dan seluruh tubuhku. Kipas angin yang dihadirkan diruangan ini bagiku sama sekali tak berarti.


" Apa ibu sudah tahu maksud undangan kami siang ini?" Tanya pak kepala sekolah.


Dengan polosnya ibu menggelengkan kepala. Sesekali ibu mencuri pandang padaku meminta penjelasan padaku.


" Apa ibu tahu kondisi Salsabila?" Pak kepala sekolah bertanya dengan hati-hati.


" Maaf pak, yang saya tahu katanya tadi Salsa pingsan saat mengikuti pelajaran olahraga." Jawab ibu.


Semua dewan guru saling pandang.


" Salsa memang pingsan saat mengikuti pelajaran olahraga, tapi..." Pak kepala sekolah menjeda ucapannya.


" Tapi apa pak?" Ibu seperti tak sabar menunggu penjelasan yang akan keluar dari mulut pak kepala sekolah.


Aku semakin menunduk tak berani menatap siapa pun. Hatiku hancur karena melihat kebingungan ibu. Hatiku hancur karena sudah melempar kotoran di wajah ibu.


" Salsa hamil,bu.."


Dan akhirnya... Kata-kata yang menakutkan keluar bebas dari mulut pak kepala sekolah.


" Tidak mungkin pak, tidak mungkin... Anak saya tidak mungkin hamil..."


Suara tangisan ibu memenuhi ruangan UKS ini.


Dan hari ini aku adalah anak yang berhasil menabur luka di hati ibu...

__ADS_1


Ibu... Maafkan aku.


__ADS_2