Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 11


__ADS_3

Tiba-tiba saja aku rindu rumah, rindu kamarku yang nyaman, rindu sekolah, rindu ayah, rindu mama dan juga Zaskia. Sedang apa mereka? Bahkan aku tak sempat pamit pada Zaskia. Apa ia mencariku? Apa ia akan merasa kehilangan? Ah, Zaskia.. mbak rindu sekali.


" Ya Allah... Jaga keluargaku, jaga ibuku,ayahku juga Zaskia. Jangan sampai Zaskia mengikuti jejakku. Dan... Beri kesehatan untuk nenek baik ini ya Allah...." Doaku dalam hati.


Sayup-sayup mataku mulai mengantuk, dan akhirnya aku tertidur dengan pulas dan sejenak bisa melupakan masalah ku.


*


Aku terbangun saat mendengar suara ayam jantan berkokok saling bersahutan.


Tak kudapati nenek di sebelahku. Dengan mata yang masih berat, kupaksa untuk bangun.


Aroma masakan menusuk di indra penciumanku, membuat kampung tengahku berontak meminta diisi.


" Dasar perut tak tahu malu." Rutukku dalam hati sembari memegang perutku.


Aku masih memperhatikan nenek yang sangat cekatan dalam hal memasak meski usia sudah tidak muda lagi.


" Sa, sudah bangun?" Panggilan nenek mengejutkanku.


Malu-malu aku mendekati nenek baik hati ini, " maafin Salsa ya,nek. Gak tahu diri bangunnya kesiangan."


" Nenek paham, ibu hamil memang cenderung malas."


Malas? Apakah nenek juga mengalami hal yang sama denganku?


" Mandilah dulu, setelah itu kita makan."


" Iya nek." Aku bergegas melaksanakan perintah nenek.


*


Aku sangat menikmati masakan nenek, padahal makanan yang dihidangkan hanyalah makanan sederhana. Tanpa malu aku kembali mengisi piringku dengan nasi dan lauk pauk.


" Makan yang kenyang. Biasanya kalau ibu hamil pasti bawaannya lapar terus." Ucap nenek sembari tersenyum.


" Alhamdulillah..." Aku mengucap syukur karena merasa sudah kenyang.


" Sa, dari pada kamu tinggal sendirian dirumah ibumu, lebih baik tinggal saja disini bersama nenek."


Aku merenung sejenak, tapi bagaimana jika ibu tahu aku tak menuruti perintahnya? Ibu pasti kembali kecewa denganku.


Aku menggeleng lemah dan kembali dilema, " terima kasih atas tawaran nenek, tapi... Ibu pasti kecewa jika aku tidak menuruti perintahnya. Insyaallah Salsa berani kok nek. Lagian rumah kita berdekatan, jadi kalau tiba-tiba Salsa takut, Salsa tinggal lari kerumah nenek." Candaku sambil tersenyum.


Nenek manggut-manggut menerima keputusanku.

__ADS_1


Dan hari ini kami berdua membersihkan rumah reot milik ibu. Nenek juga meminta tetangga untuk menyambungkan lampu listrik kerumahku agar nanti malam menjadi terang dan tidak gelap.


Aku dan nenek juga menyempatkan untuk berbelanja kebutuhan dapur juga beberapa perabotan rumah tangga yang di perlukan.


Tak lupa aku membeli kasur lantai sebagai alas tidurku nanti malam.


Akhirnya...rumah ibu jauh lebih nyaman. Tidak ada keangkeran seperti yang kulihat semalam.


" Alhamdulillah sudah nyaman. Nenek mau berangkat kerja dulu. Baik-baik dirumah. Kalau nanti malam tidak berani tidur sendiri datanglah kerumah nenek." Pesan nek Aminah padaku.


Aku melirik ponselku, sudah pukul tiga, " sudah sore nek, mau kerja apa?" Tanyaku penasaran.


" Nenek mau mulung sebentar saja." Sambil tersenyum nenek berlalu dari hadapanku.


Ya Allah... Jadi nenek bekerja sebagai pemulung. Mataku mengembun melihat perjuangan nek Aminah yang tiada akhir di hari tuanya.


Aku memandang kepergian nek Aminah, ada rasa sesak yang bergelantung di dadaku. Aku yang belum jadi manusia berguna saja sudah berani melempar kotoran di wajah ayah dan ibu.


*


Hari mulai senja, suara adzan Maghrib berkumandang. Segera aku melaksanakan shalat tiga rakaat. Tak lupa doa-doa kupanjatkan. Salah satunya adalah kesehata ayah ibu juga Zaskia. Ada rindu yang menggebu.


Sunyi dan sepi, hanya suara jangkrik yang bernyanyi dengan riang. Kuambil handphone yang sudah beberapa hari tak pernah ku sentuh. Membuka logo biruntuk mengetahui kabar teman-teman ku. Semua isinya membahas aku yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil.


Sakit rasanya, seperti luka yang ditaburi oleh garam. Aku tak ingin berlama-lama di aplikasi berlogo biru.


Bu, apakah engkau sudah memutuskan ikatan keluarga denganku?


Aku mencari nomor ayah, namun aku takut untuk menghubungi. Setelah mengumpulkan keberanian aku mencoba menelpon nomor ayah, sudah tiga kali namun tiada jawaban.


Ayah, apakah engkau dendam padaku? Sehingga tak memberi maaf padaku sedikitpun. Apa karena aku bukan putri kandungmu, ayah? Ingin rasanya aku teriak sekencangnya untuk menghilangkan sesak didada.


Kubaringkan tubuhku yang lemah diatas kasur lantai yang kubeli tadi sore.


Akmal, andai engkau tahu pengorbanan yang kulakukan karena kesalahan kita berdua tentu engkau tidak akan pernah tega meninggalkan ku. Hidupku susah, Akmal. Aku harus kehilangan cinta kasih ayah dan ibuku, aku juga harus berpisah dengan Zaskia, adik kesayanganku. Aku juga harus menerima kenyataan pahit bahwa aku hanya seorang anak perempuan Tuna susila.


" Sakit rasanya, Akmal." Rintihku tak berdaya.


Tok..tok..tok..


Pintu rumahku diketuk seseorang. Jantungku berdegup kencang, siapa yang datang?


Aku masih berdiam tak beranjak sedikitpun apalagi sampai mengeluarkan suara.


" Assalamu'alaikum, Salsa.. ini nenek."

__ADS_1


Huft... Akhirnya aku bisa bernapas lega setelah tahu siapa yang datang.


Bergegas aku membuka pintu. Benar saja ada nenek yang sedang berdiri sambil membawa sesuatu.


" Nenek..."


Nenek masuk kedalam rumahku.


" Kamu pasti belum makankan? Ini nenek bawain ikan panggang, kita makan sama ya?"


Ada rasa haru yang menyeruak di dalam relung hatiku, " nenek kenapa repot-repot?" Tanyaku malu.


" Tidak repot, biasa saja. Tadi nenek dapat rezeki dari orang baik. Jadi nenek teringat sama kamu."


Kami makan bersama diatas tikar kecil yang ku gelar di ruang tamu.


" Enak nek."


" Iya, ibu hamil itu harus rajin makan, jangan sampai lupa. Nanti berpengaruh sama perkembangan janin yang kamu kandung."


" Nek, terima kasih ya sudah perduli dengan Salsa. Padahal Salsa bukan siapa-siapa. Bukan anak nenek atau pun cucu dan saudara nenek, tapi nenek perhatian banget sama Salsa. Salsa seperi tidak kehilangan kasih sayang dari ibu."


Kami saling menatap dengan tulus. Mungkin kami ibarat simbiosis mutualisme, saling membutuhkan satu sama lain. Aku yang membutuhkan kasih sayang dan dekapan seorang ibu juga nenek Aminah yang merindukan sosok anak dan cucu yang sudah pergi selamanya kembali kesisi sang pencipta.


" Nek, besok nenek kerja?" Tanyaku.


" Iya," jawab nenek singkat.


" Salsa ikut nek?"


" Serius? Nenek memandangku tak percaya.


" Iya nek, Salsa tidak bisa berpangku tangan menerima belas kasih orang. Salsa harus tunjukin kalau Salsa mampu berdiri di kaki Salsa meski tanpa suami." Ucapku meyakinkan.


" Tapi kamu hamil, nduk." Ucap nenek lagi.


" Kehamilan ini bukan suatu penghalang nek." Ucapku lagi.


" Ya sudah kalau memang itu yang kamu mau. Besok pagi nenek akan mampir kerumah kamu. Sekarang nenek pulang, jangan lupa kunci pintu yang bener. Ingat jangan pernah membuka pintu jika ada orang yang datang malam-malam." Pesan nenek padaku.


*


Malam semakin larut, hanya ada lolongan anjing yang saling bersahut-sahutan.


" Akmal sedang apa kamu? Tahukah kamu, aku ketakutan malam ini? Tanpa kamu sadari, aku dan dede bayi akan menjadi seseorang yang kuat, pemberani dan bermental baja. Jangan pernah menyesal jika suatu saat ia tak mengakui mu sebagai ayahnya." Batinku sibuk meracau.

__ADS_1


Setelah merasa lelah akhirnya aku tertidur sendiri, tepat jarum jam menuju angka tiga dini hari.


Sehwbat ini perjuanganku buat anak kita, Akmal.


__ADS_2