Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 14


__ADS_3

Hari ini warung nasi milik Bu Sekar lumayan ramai. Disaat sedang mbantu memasak, tiba-tiba saja perutku merasa mulas.


" Kenapa Sa?"


Rupanya Bu Sekar memperhatikan aku sejak tadi.


" Kamu mau melahirkan?" Tanya Bu Sekar mulai panik.


Aku hanya menggeleng sebagai tanda bahwa aku sendiri tidak tahu.


Aku berusaha tidak ikut panik. Pelan-pelan aku mencoba menarik napas dan mengeluarkannya pelan-pelan juga.


" Jangan panik Salsa, semua akan baik-baik saja." Harapku dalam hati.


*


" Bagaimana Sa?" Tanya Bu Sekar. Ia masih setia menunggu aku yang sesekali menahan sakit.


" Ayo ibu antar kamu pulang untuk mengambil perlengkapan bayi kamu. Setelah itu kita ke rumah sakit."


Bu sekar berusaha untuk membantuku berjalan.


" Bu, s-saya tidak apa-apa. Kalau boleh saya permisi pulang duluan."


Aku takut jika harus melahirkan dirumah sakit. Aku tidak cukup punya uang banyak untuk berani datang kerumah sakit.


Selama ini aku sudah cukup meminta sama Allah, agar sekiranya aku bisa melahirkan normal dibantu oleh nek Aminah.


" Kamu bagaimana sih? Melahirkan itu tidak bisa di buat main-main." Bu Sekar mulai marah padaku.


" Ayo!" Ia masih berusaha membantuku.


" Bu... Saya tidak punya uang untuk melahirkan dirumah sakit." Akhirnya kata-kata tersebut meluncur bebas dari mulut ku. Rasa malu ku sudah hilang.


" Saya akan menanggung semuanya. Kita kerumah sakit sekarang." Perintah Bu Sekar sedikit memaksa.


Dengan susah payah akhirnya aku menuruti permintaan Bu Sekar.


Kini kami sudah tiba dirumah peninggalan ibu. Dengan hati-hati aku berjalan masuk kedalam rumah.


Tas berisi perlengkapan dede bayi dan kebutuhanku sudah ku persiapkan.


Bu Sekar menyusun semua perlengkapan melahirkan kedalam mobil, sementara aku mendatangi rumah nek Aminah. Aku tidak ingin nek Aminah cemas jika nanti aku tidak memberi kabar padanya.


" Assalamu'alaikum nek.."


Berkali-kali aku mengucap salam namun tidak ada jawaban dari nek Aminah.


" Kemana nek Aminah? Apa sedang kerja ya?"


" Sa, ayo!" Teriak Bu Sekar.


Aku segera menghampiri Bu Sekar.

__ADS_1


" Nunggu apa lagi?"


" Saya mau ngasih tahu sama nenek saya buk, takutnya nanti beliau cemas."


" Titip pesan aja sama tetanggamu, tuh ada ibu-ibu." Bu sekar menunjuk seorang perempuan muda yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Mobil mulai melaju pelan dan berhenti sejenak tepat didepan Ibu tetangga kami.


Aku menurunkan kaca mobil milik Bu Sekar," Salsa, mau kemana?" Tanya tetanggaku.


" Ibu, saya titip pesan sama nek Aminah mau melahirkan kerumah sakit."


" Oh iya, nanti ibu sampaikan. Mudah-mudahan lancar dan sehat-sehat ya.."


Aku mengaminkan doa ibu tetangga kami. Kini mobil melaju menuju rumah sakit. Aku memperhatikan Bu Sekar, meski tidak muda lagi namun beliau masih gesit dalam segala hal.


Tanpa butuh waktu lama akhirnya kami sudah tiba di rumah sakit. Bu Sekar mengurus semua administrasi, sedangkan aku disuruh duduk santai sambil menunggu giliran namaku di panggil.


Tak henti-hentinya aku mengucapkan dzikir didalam hati. Jujur karena ini pengalaman pertama buatku, ada rasa ketakutan yang luar biasa. Andai nek Aminah bisa mendampingi aku melahirkan, mungkin rasa gugup ku bisa sedikit berkurang.


" Ibu Salsabila.."


Akhirnya namaku dipanggil juga. Dengan susah payah aku jalan pelan-pelan menuju ruang pemeriksaan.


Sebelum benar-benar masuk, Bu Sekar memberi suntikan semangat padaku,


" Semangat ya! Ibu yakin kamu mampu."


" Terima kasih banyak atas doa nya buk." Aku memeluk Bu sekar. Persis seperti pelukan seorang anak terhadap ibunya.


Kini kami sudah berpisah, aku masuk kedalam ruang bersalin, sementara Bu Sekar menungguku di depan pintu ruang bersalin. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin membanjiri tubuhku.


" Ya Allah... Aku ingin semuanya baik-baik saja." Doaku dalam hati.


Aku mulai merebahka tubuhku diruang bersalin. Seorang suster datang untuk mengecek persiapan persalinan yang akan berlangsung.


" Suaminya tidak ikut menemani,bu?" Tanya suster itu tanpa takut aku tersinggung.


" Oh e- anu.. suami saya sudah meninggal." Jawabku pelan.


" Oh maaf, bu. Saya tidak bermaksud..." Suster itu merasa tidak enak padaku.


Akmal, maaf jika aku menganggapmu sudah mati. Itu semua demi kebaikan kita dan itu juga salah satu permintaanmu padaku agar menyembunyikan identitas ayah dari bayi ku.


Aku mulai merasakan mulas yang luar biasa. Dokter sudah datang dan menyuruhku untuk bersiap. Aku juga di beri pengarahan agar lebih paham dalam melahirkan secara normal.


Tanganku sudah terpasang infus, katanya sebagai penambah tenaga. Aku sudah berkali-kali mengejan, namu dede bayiku belum juga keluar. Pandangan ku mulai buram, kematian seperti sudah didepan mata. Aku juga menjadi mengantuk.


" Ya Allah... Aku gak kuat lagi. Aku pasrah ya Allah..." Ucapku lemah tak berdaya.


" Bu Salsa," wajahku ditepuk beberapa kali oleh suster membuat kesadaranku kembali.


" Ayo bu Salsa, sebentat lagi bayinya sudah mau keluar. Ambil napas kemudian hembuskan."

__ADS_1


Aku segera mengikuti perintah dokter yang menangani persalinan ku.


" Yuk silahkan mengejan seperti kita akan buang air besar, jangan bersuara ya.." perintah dokter dengan lembut dan sabar.


" Bismillahirrahmanirrahim..." Aku mulai mengerahkan semua kekuatanku.


Oe..oe..oe.. tangisan bayi memenuhi ruangan bersalin ini. Kudengar dokter dan suster mengucapkan Alhamdulillah.


Suster segeraengurus bayiku. Sementara aku langsung di tangani oleh dokter.


Alhamdulillah, semua berjalan sesuai dengan rencana ku. Ternyata Allah tidak akan mempersulit hambanya yang masih berusaha.


Bayiku berjenis kelamin perempuan. Wajahnya mirip sekali dengan Akmal. Hidungnya, matanya, semua milik Akmal. Takutkah bayiku tidak diakui oleh ayahnya sendiri?


Kuusap pipi lembut kemerah-merahan.


Tanpa sadar bulir-bulir air kembali menetes. Perasaanku bercampur aduk. Ada sedih juga senang.


" Jangan sedih lagi, bayimu sudah lahir dengan selamat." Bu Sekar mengusap bahuku memberi semangat pada ibu baru sepertiku.


*


Hari ini kami sudah boleh pulang. Aku masih memikirkan nenek, beliau pasti memikirkanku.


" Kita pulang kerumah ibu saja, ya. Ibu yang baru melahirkan tidak boleh tinggal sendirian."


Aku merasa tidak enak menolak permintaan Bu Sekar,tapi aku juga tidak mau terlalu sering merepotkan Bu Sekar. Aku takut jika nanti akanenjadi hutang Budi yang tidak mampu aku bayar.


" Bu, terima kasih banyak atas semua kebaikan hati ibu. Tapi saya tidak mau terlalu merepotkan ibu. Biarlah saya tinggal dirumah saya sendir."


Bu Sekar tidak menanggapi ucapanku, ia hanya manggut-manggut.


Mudah-mudahan Bu Sekar tidak sakit hati atas penolakanku.


Kami sudah tiba di rumah reot milik ibu. Tapi aku sudah merasa nyaman tinggal disini meski tanpa siapa-siapa.


Aku berjalan hati-hati sambil menggendong bayiku, buah hati bersama Akmal.


Sementara Bu Sekar membawa tas berisi perlengkapan aku dan bayiku.


Aku meletakkan bayi cantikku diatas kasur lantai. Selanjutnya aku membuka jendela rumah ini agar udara bisa masuk dan tidak pengap.


Bu Sekar masih bermain-main dengan bayiku yang terlelap tidur. Aku paham dengan perasaan Bu Sekar, sampai di usia yang tidak lagi muda, ia belum pernah hamil atau pun menjadi seorang ibu.


" Sa,"


" Iya bu." Aku mendekat duduk disamping Bu Sekar.


" Bolehkan ibu merawat bayimu?"


Duh, ternyata kebaikan Bu Sekar ada maunya seperti udang di balik bakwan eh salah di balik batu.


Yuj komen follow dan like ya...

__ADS_1


__ADS_2