
" Huh. Dasar genit."
Sebelum pergi, ia sempatkan mengecup keningku, " l love you..."
Aku melambaikan tangan melepas kepergiannya.
" Akmal, semoga Allah memberi kelancaran untuk keinginan baik kita ya.. Amin.." ucapku dalam hati.
*
" Berapa lama lagi kita sampai, Akmal?" Tanyaku tidak sabaran.
" Sebentar lagi sayang... Bawel banget sih? Gak sabar ya mau ketemu mertua?" Ledek Akmal.
Aku hanya tersenyum, tidak terlalu menanggapi ucapan Akmal. Andai ia tahu isi hatiku.
Akmal menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah. " Rumah yang asri." Batinku. Rumah bercat putih ini halaman rumahnya di penuhi tanaman hijau yang terawat dengan baik. Pasti sang pemilik rumah dengan sungguh-sungguh merawat tanaman ini sehingga tidak ada satupun daun kering yang jatuh kebawah.
" Jangan heran gitu dong lihat bunga-bunga milik mama." Akmal seperti bisa membaca pikiranku.
" Sok tahu kamu."
Tanpa mengetuk pintu Akmal menggandeng El masuk kedalam rumah mewah ini.
Seperti biasa, jantungku sudah berdegup kencang, keringat dingin membanjiri tubuhku.
" Jangan gugup, santai, tarik napas ya." Pesan Akmal padaku.
" Assalamu'alaikum..." Kami bersamaan mengucap salam.
Di ruang keluarga ada beberapa orang sedang duduk di santai sambil menonton televisi.
Aku bersalaman dengan beberapa saudara Akmal, dan ada seorang ibu paruh baya, sepertinya beliau adalah orang tua Akmal.
" Eh Akmal, bawa siapa tuh?" Sapa seorang laki-laki dengan ramah.
Mereka semua menatapku, termasuk perempuan paruh baya itu. Beliau menelisik penampilanku dari aras kepala hingga ujung kaki. Risih!
Kami duduk bergabung bersama saudara Akmal yang lain.
" Ma, kenalin ini Salsa." Akmal memperkenalkan aku pada keluarganya.
Respon beliau masih diam, sedikit senyum pun tak tergambar di raut wajahnya. Perasaan ku mulai sudah tidak enak.
Tidak ada diantara mereka yang menyapa El, sehina itu kah El dimata mereka?
" Sa, itu Abang ku namanya Dani, dia abang pertamaku,. Yang ini kak Dewi, kakak kedua dan itu kak Selvi, kakak ke tiga ku. Aku adalah anak bungsu di keluarga." Tanpa ku minta Akmal memperkenalkan saudaranya padaku.
__ADS_1
" Sa, senang bisa berkenalan dengan mu." Ucap bang Dani.
Aku hanya tersenyum sembari mengangguk dengan sopan.
El mulai gelisah, sepertinya ia mulai tidak nyaman dengan keadaan dirumah ini. Mungkin karena pemilik rumah ini tidak ramah pada kami.
" Ma, Akmal akan menikah dengan Salsa."
Kulihat bola mata perempuan paruh baya itu membulat, ia seperti tidak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut putranya.
" Kamu akan menikahi seorang janda?" Tanya kak Selvi dengan angkuhnya.
" Dia bukan janda, kak." Akmal membela ku di dwpan saudaranya.
" Lalu kalau bukan janda apa namanya kalau sudah punya anak? Gadis tak perawan? Heee." Kak Selvi tertawa mengejekku.
" Apa perempuan itu yang menyebabkan kamu menjadi pelawan kepada mama dan saudara mu, Akmal?"
Wanita bergelar ibu itu berdiri menatap tajam pada putranya, sementara aku... Tetap menunduk. Aku sadar, wanita murahan sepertiku memang tidak ada tempat bagi mereka penggila hormat.
" Ma, Salsa hamil anakku sembilan tahun lalu. Dan kini aku mau menebus dosa itu." Ucap Akmal lelah.
Hah. Semua keluarga Akmal terkejut.
" Mbak yakin anak itu bukan anak mu, Akmal. Kalau kamu mau tes DNA deh." Saran kak Dewi membuka suaranya.
Ek mendekat kearah ku, " bun, kita pulang yuk! El takut disini." Bisiknya.
" Sebentar lagi ya." Aku mengusap kepala El lembut.
" Banyak perempuan sekarang hamil anak siapa, minta pertanggungjawaban ke siapa." Sindiri wanita bergelar ibu itu.
Aku semakin tidak tahan mendengar ocehan mamanya Akmal, sudah dari dulu harga diriku jatuh, dan kini di hadapan mereka harga diriku semakin di injak-injak.
" Maaf tante, kakak dan abang, tidak perlu repot-repot untuk meminta anak saya tes DNA, kalau kalian lihat anak saya, lihat wajahnya! Apa kalian tidak melihat wajah mereka begitu mirip vak pinang di belah dua?" Ucap ku meradang.
" Kamu..." Mamanya Akmal menunjuk wajahku.
" Kamu butuh berapa? Sebutkan dan jauhi adik saya." Ucap kak Selvi dengan sombongnya.
" Sembilan tahun yang lalu, saya berjuang sendiri tanpa bantuan Akmal. Jika sekarang kalian menolak anak saya tieak masalah. Saya memang rendah, bahkan murahan karena mau terbujuk rayu dengan anak tante, tapi saya juga tidak akan membiarkan orang lain membayar harga diri saya. Permisi." Aku menggendong El, membawanya keluar dari istana berduri ini.
Air mataku berhamburan, tak tahan rasanya tetap berada didalam rumah itu, mengemis meminta restu.
El menatapku keheranan, berkali-kali ia mengusap air mataku yang turun. Aku juga tidak perduli berapa banyak pasang mata menatapku keheranan.
" Bun, jangan nangis lagi, El janji gak akan nakal." Ucap El sedih.
__ADS_1
" Enggak, kamu gak nakal, sayang. Mata bunda lagi sakit." Bohongku.
" Mereka tadi jahat ya, bun. Sudah buat bunda nangis. El gak mau datang lagi kerumah itu, bun."
Aku berhenti di sebuah taman bunga di pinggir kota, lumayan jauh juga aku berjalan meninggalkan istana orang kaya.
Untung saja aku sempat membeli sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan sebotol minuman. Aku mencari tempat yang sepi dan dingin, dibawah pohon rindang, jauh dari lalu lalang orang lewat.
Kami makan sebungkus berdua, El seperti paham dengan kondisiku. Ia lebih banyak diam menikmati makanannya. Sementara aku sudah kehilangan hasrat untuk makan. Mungkin karena terlanjur sakit hati.
Aku kembali teringat Akmal, nyatanya nyalinya tidak besar untuk menentang mama dan keluarganya. Seharusnya dari awal aku sudah membentengi pagar pembatas, agar tidak terjerat cinta pada lelaki pecundang itu. Miris sekali nasibku.
Hari semakin sore, aku memutuskan untuk pulang menggunakan bus. Selama dalam perjalanan, El sudah tertidur pulas. Kuusap wajahnya berkali-kali, " maafin bunda ya, El. Karena membuat hidupmu menjadi sulit."
Semenjak bertemu kembali dengan Akmal, bukan hatiku saja yang lelah namun tubuhku pun ikut lelah. Pantas Akmal ku perjuangkan?
Malam telah larut, akhirnya kami tiba di terminal bus. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah jika memakai jasa ojek. Namun sekarang sudah tengah malam, tidak ada lagi ojek yang mangkal. Mau tidak mau kami harus berjalan kaki, mungkin membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit.
" El,"
" Iya, bunda." Ia masih setengah mengantuk.
" Kalau kita jalan kaki, kamu kuat enggak? Sudah malam tidak ada ojek yang mangkal." Aku mencoba memberi tahu pada El.
" Enggak apa-apa, bun. El kuat kok."
Di sepanjang jalan kami bernyanyi dan bercerita untuk menghilangkan rasa lelah yang bergelayut.
" Bun, kenapa sih ayah enggak antar kita?"
" Em... Mungkin ayah sibuk." Ucapku beralasan.
" Bukan karena ayah di larang dekat sama kita ya, bun?"
Dug! Hatiku bagai di hantam batu rasanya. Ternyata El bukan anak kecil lagi yang bisa di bohongi.
" Enggak dong. Sudah ya, jangan berfikir buruk lagi itu tidak baik. Yang baik itu adalah bersangka baik pada orang lain."
El hanya manggut-manggut.
" Bun, El capek."
" Ya sudah, kita istirahat di sini aja ya." Aku memutuskan untuk istirahat sejenak di pinggir jalan yang berlubang. Jalanan sepi tak membuat aku takut. Sejak sembilan tahun yang lalu sudah ku pasrahkan hidupku pada sang pencipta.
" Akmal, terima kasih sudah membuat aku kuat."
Aku dan El sedang asyik menikmati roti dan sebotol air mineral, hingga dari kejauhan ada sebuah cahaya terang, semakin lama cahaya itu semakin dekat, siapa sosok itu?
__ADS_1