
Aku mulai mengejan dengan sekuat tenaga. Di Ejanan ketiga, terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan persalinan ini..
Ada rasa lega, karena aku berhasil mengeluarkan buah cintaku untuk yang kedua kalinya.
Ku lihat Akmal mengusap sudut matanya, mungkin ia terharu melihat perjuangan ku.
Akmal, lengkap sudah anak kita, ada El yang berjenis kelamin perempuan dan ada adiknya El yang berjenis kelamin laki-laki. Nikmat Tuhan mana yang ingin kau dustakan lagi?
Di luar dugaanku, Akmal mengecup kening ku.
" Akmal..." Ucapku lirih.
Dokter Ely dan beberapa perawat tersenyum menatap pemandangan yang ada di depan mereka.
Aku tidak tahu wajahku sudah berubah menjadi warna apa. Yang jelas wajahku terasa panas, antara bingung dan malu.
Masih bolehkah kami bersentuhan? Sementara talak cerai telah di gaungkan.
" Selamat ya Mal, Sa.. anak kalian laki-laki. Sudah lengkap. Semoga kebahagiaan mengiringi pernikahan kalian. Dan... Kalian bisa mempertahankan pernikahan kalian." Ucap dokter Ely.
Dokter Ely memberikan bayi itu pada kami dan meninggalkan kami.
" Wajahnya mirip kamu." Ucap Akmal sendu.
Aku mengusap mahluk kecil berwarna kemerahan. Kini dia sudah hadir di depan kami, sehat dan sempurna. Hanya rumah tangga orang tuanya saja yang porak-poranda.
" Kata dokter Ely, nanti sore sudah boleh pulang." Ucap Akmal memecah keheningan diantara kami.
" Iya, kalau kamu mau pulang duluan silahkan." Ucapku tanpa melihatnya.
Mungkin sekarang hatiku sudah beku, jadi sebaik apapun perlakuan Akmal hatiku tidak akan goyah dan tergoda.
" Aku mau nungguin kamu dan..."
Ucapan Akmal tergantung tanpa ada kelanjutannya hingga aku mengangkat wajahku dan menatapnya dalam.
" Dan jaga kamu, takut si adik begadang nanti malam." Lanjutnya lagi setelah beberapa saat meragu untuk melanjutkan kalimatnya.
" Tidak perlu repot-repot, kamu tidak perlu repot ngurusin aku, Insya Allah aku bisa sendiri. Jangan nanti gara-gara kamu disini semua keluarga kamu tidak terima." Sindir ku.
Akmal hanya menghela napas, mungkin ia lelah kerap kali ku sindir perihal keluarganya.
Karena aku melahirkan secara normal, jadi sore ini aku sudah bisa pulang. Selama didalam mobil aku hanya merenung. Tidak ada kata-kata yang kami rangkai untuk memecah kesunyian diantara kami.
*
Kami sudah tiba di rumah, El menyambut kami dengan sangat antusias.
Tanpa menunggu lama, tanpa minta persetujuan dari siapa pun, aku menyematkan nama yang baik untuk putraku yaitu Baraka Aldilla Yusuf.
" Bunda... Dedeknya siapa suh namanya?"
" Dedeknya belum punya nama sayang..." Jawab Akmal lembut.
" Nama adeknya Yusuf sayang... Baraka Aldilla Yusuf." Ucapku yanpa melihat Akmal.
__ADS_1
" Dedek Yusuf, kakak El pergi les dulu ya. Nanti kita main lagi."
Veni mengantar El pergi les. Nek Aminah membawa Yusuf ke kamarku.
" Kenapa kamu gak kompromi dulu sih beri nama anak?" Akmal tampak kesal padaku.
" Memangnya penying ya?" Aku balik bertanya.
" Kamu pikir tanpa aku, kamu bisa punya anak sendiri?" Suara Akmal meninggi, dan ini untuk pertama kali.
" Bisa rendahin sedikit gak suara kamu?"
" Kamu jangan seenaknya gitu dong ngasih nama anak. Sematin kek nama ku di belakang nama anak kita. Itu El kamu pakai nama aku." Akmal protes dan mulai membanding-bandingkan.
" El memakai nama kamu karena pada saat itu aku masih bucin ke kamu. Sekarang perasaan aku sudah pudar, aku gak punya perasaan apa-apa lagi ke kamu." Ucapku jujur. Dan kalimatku ini membuat Akmal kembali tersakiti.
" Aku sudah tidak cinta sama kamu, Akmal. Aku sudah move on." Teriakku di depan wajahnya.
Setelahnya ku tinggalkan ia sendiri di ruang tamu. Aku lebih memilih mengurus Yusuf dari pada harus ribut sama Akmal. Aku lelah.
Aku menutup pintu kamar dengan kencang hingga Yusuf terkejut dan menangis kencang.
" Ada apa Sa?" Nek Aminah terkejut melihatku menangis.
Aku terduduk dipinggir ranjang. Ke dua tanganku menutup wajahku yang basah.
" Nek, berat sekali takdir yang harus kujalani..huuu." aku menangis sendiri.
" Jangan menangis, coba pegang yusuf sebentar. Nenek akan membuat susu."
Bagaimana Yusuf bisa kuat jika aku saja lemah.
" Cup..cup..cup.. sayang.. maafkan bunda ya." Aku merasa bersalah karena sudah membuat Yusuf menjadi sangat ketakutan.
Kriet.
Pintu kamar terbuka, ada wajah Akmal dengan menggenggam sebotol susu.
Ia mengambil Yusuf dari tanganku.
" Sini sama ayah, ya. Kamu haus ya, nak." Akmal mulai menimang-nimang Yusuf dengan penuh kasih sayang.
Yusuf mulai diam, sepertinya ia mulai menikmati susu yang di pegang oleh ayahnya.
LlplpSebagai seorang ibu, pemandangan inilah yang aku rindukan.
" Anak ayah... " Akmal memgusap sudut matanya. Kurasa ia menangis.
Akmal meletakkan Yusuf di tempat tidur karena ponselnya berbunyi berkali-kali.
Ia hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat untuk menekan tombol hijau.
" Pulanglah!" Usirku lembut.
" Aku masih ingin disini nemenin kamu, jagain Yusuf kalau nanti malam rewel." Ucap Akmal lemah.
__ADS_1
" Aku bisa sendiri. Keluarga kamu lebih butuh kamu. Ingat, kita bukan suami istri lagi setelah talak cerai kamu ucapkan." Aku kembali mengingatkan status kami.
" Kita memang tidak suami istri, tapi aku adalah ayahnya anak-anak. Sampai kapan pun itu tidak akan berubah."
Aku mendekati lelaki yang bimbang ini. Kasihan, dia harus hidup dibawah tekanan orang tua dan keluarganya.
" Akmal, sampai kapan pun.. sampai nanti nama mu tertulis di batu nisan, kamu tetap ayah dari anak-anak kita. Tidak akan terganti, sama sekali."
Akmal menggenggam tangan ku. Damai, nyaman, tapi hatiku beku.
" Pulanglah!" Ucapku lagi.
" Malam ini... Biarkan aku disini. Menikmati momen-momen yang telah kulewatkan bersama El.
Dan malam ini disinilah kami.. dikamar kami yang menjadi saksi saat kami menjadi suami istri.
Akmal memeluk ku dalam tidurnya. Aku tidak bisa menolak, karena tubuhku rindu akan dekapan dari Akmal. Dosakah yang kami lakukan? Biarlah itu menjadi urusan antara aku dan sang pencipta.
*
Burung-burung mulai berkicau, matahari mulai mengintip di balik celah kaca jendela kamarku.
Samar-samar ku dengar keributan diluar.
Dengan jalan tertatih-tatih, aku membuka pintu kamar. Ada suara perempuan yang teriak-teriak memanggil nama Akmal di depan rumahku.
" Mas Akmal, aku tahu kamu ada disitu. Keluar mas!" Teriak perempuan itu.
Allah, itu suara Zaskia, sepagi ini dia sudah datang kerumah dan membuat keributan.
Apa urat malunya sudah putus? Bahkan mereka sama sekali belum terikat oleh pernikahan.
Aku bergegas keluar, ada El yang ketakutan di balik tubuh nek Aminah.
" Nek, tolong bawa El masuk." Pintaku.
Nek Aminah bergegas membawa El masuk.
Kini aku langsung yang berhadapan dengan perempuan tengil yang tidak tahu malu.
" Dasar pela cur!" Maki Zaskia padaku.
" Urat malu mu sudah putus? Teriak-teriak didepan rumah orang sepagi ini?" Tanyaku penuh penekanan.
" Aku tahu mas Akmal pasti disini. Aku cuma mau dia pulang dan tidak datang lagi kesini."
" Kalau Akmal datang, ada masalah buat kamu?" Tanyaku balik.
" Dia calon suami, mbak." Ucapnya setengah berteriak.
" Tapi dia ayah dari anak-anak ku, kalau kamu mau menikahi seorang pria beranak maka kamu harus siap berbagi waktu dengan anak-anaknya." Sindirku tak mau kalah.
Zaskia seperti tidak terima dengan ucapanku secepat kilat ia mengayunkan tangannya ke udara. Ia ingin menampar ku, aku yang tidak punya persiapan apa-apa berusaha menutup wajahku menggunakan telapak tangan.
" Jangan sakiti Salsa."
__ADS_1
Ah. Suara itu...