Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 41


__ADS_3

" Urat malu mu sudah putus? Teriak-teriak didepan rumah orang sepagi ini?" Tanyaku penuh penekanan.


" Aku tahu mas Akmal pasti disini. Aku cuma mau dia pulang dan tidak datang lagi kesini."


" Kalau Akmal datang, ada masalah buat kamu?" Tanyaku balik.


" Dia calon suami, mbak." Ucapnya setengah berteriak.


" Tapi dia ayah dari anak-anak ku, kalau kamu mau menikahi seorang pria beranak maka kamu harus siap berbagi waktu dengan anak-anaknya." Sindirku tak mau kalah.


Zaskia seperti tidak terima dengan ucapanku secepat kilat ia mengayunkan tangannya ke udara. Ia ingin menampar ku, aku yang tidak punya persiapan apa-apa berusaha menutup wajahku menggunakan telapak tangan.


" Jangan sakiti Salsa."


Ah. Suara itu...


Diluar dugaan ku, Akmal datang melindungi ku.


Tangan Akmal dengan sigap memegang tangan Zaskia.


" Lepasin!" Teriak Zaskia.


Dari wajahnya ia seperti kesakitan. Sepertinya cengkraman Akmal di pergelangan tangan milik Zaskia terlalu kuat.


Akmal melepaskan tangan putih mulus milik adikku. Ada gurat kemerahan di pergelangan tangan Zaskia, sangat kontras dengan warna kulitnya.


" Jangan sekali-kali menyakiti Salsa dan anak-anak ku. Jika itu terjadi, jangan harap ada pernikahan diantara kita."


Sontak ucapan Akmal membuat mata bulat milik Zaskia membulat seperti ingin melompat dari kelopak matanya.


" Aku akan laporkan kamu sama mama mu mas." Bentak Zaskia.


" Laporkan! Aku tidak takut." Akmal balik menantang.


" Silahkan kamu pergi dari sini." Usir Akmal.


Zaskia menatap tajam Akmal. Detik berikutnya ia pergi meninggalkan rumahku dengan perasaan malu karena sudah di usir oleh suamiku, ups salah.. mantan suamiku.


Aku meninggalkan Akmal yang masih berdiri terpaku di depan pintu. Sepagi ini kami sudah menjadi tontonan tetangga sekitar rumahku yang penasaran dengan keributan yang di ciptakan oleh Zaskia.


El menemui ku, dari wajahnya ia seperti ketakutan.


" Tante sudah pergi bun?" Ia celingukan mencari sosok keributan.


" Sudah sayang. Jangan takut lagi ya."


Kasihan putriku, semoga ia tidak mengalami trauma.


Karena bayiku masih tidur, aku bergegas pergi mandi.


Aku mencoba santai agar pikiranku jauh lebih fresh.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit aku sudah selesai mandi, samar-samar ku dengar suara saling bersahutan. Aku menajamkan pendengaran ku, suara El dan Akmal? Apa yang mereka bicarakan?


Aku segera mengenakan pakaian sekenanya dan menemui mereka di ruang makan.


" Lebih baik ayah pergi dari sini, dari pada tante Zaskia marah-marah sama bunda." El berteriak dengan kencang.


" Itu bukan urusan kamu, El. Ini urusan ayah sama bunda." Bentak Akmal.


Akmal seperti sedang tidak sadar, apakah pikirannya terlalu suntuk hingga melampiaskan pada El?


" Apa yang kalian ributkan?" Tanyaku berusaha menengahi keadaan yang memanas antara El dan Ayahnya.


" El benci sama ayah, bun. El gak suka ayah datang-datang lagi kesini. El gak suka mereka marah-marah dan nyalahin bunda terus." Isak El. Air matanya mulai berjatuhan.


Ah. Kasihan sekali putriku. Demi menjaga perasaanku, ia berani bertengkar dengan ayahnya sendiri.


Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus milik El. Aku terkejut, tidak menyangka jika Akmal akan menampar pipi anaknya sendiri.


El mulai menangis kencang sambil memegang pipinya.


" Sampai kapan pun El akan tetap benci ayah.." El berlari masuk kedalam kamar.


Akmal meremas rambutnya.


" Ada apa sih dengan El?"


" Dia sudah mulai besar, mulai menilai mana yang baik dan buruk."


Akmal mulai mengintimidasi, " tanpa aku ajarkan ia tahu kehadirannya tidak diinginkan oleh keluarga ayahnya." Sindirku pedas.


" Seharusnya kamu berusaha mengambil hatinya. Nyatanya kamu ingin mengajarkan kekerasan pada putriku. Jangan salahkan aku jika ia akan terus menerus membencimu dan tidak pernah menganggap mu ayah kandungnya sendiri." Bentak ku kesal.


Pertikaian kami berhenti kala mendengar tangisan Yusuf. Aku meninggalkan Akmal sendiri di ruang makan. Menenangkan bayiku jauh lebih penting dari apa pun itu.


*


Sejak terjadi keributan beberapa hari di rumahku, dan berlanjut dengan kepergian Akmal, kabar yang aku dapat hari ini adalah Akmal akan segera menikah. Seseorang mengirimkan surat undangan padaku. Kini aku sedikit jauh lebih tenang, sudah tidak ada rasa sakit lagi. Aku mulai berserah pada sang pemilik hidup.


El mulai terbiasa tanpa kehadiran Akmal, aku juga mulai terbiasa tanpa kehadiran Akmal.


Dan Yusuf juga akan tidak mengenal Akmal sama seperti El dulu.


Aku sedang memberikan ASI pada Yusuf, hingga seseorang memelukku dari belakang.


Jantungku berdetak, siapa dia?


" Aku rindu." Bisiknya di telinga.


Aku mengenal suara itu, " Akmal."


Aku menoleh kebelakang.

__ADS_1


Ya. Betul ada seraut wajah tampan di belakangku.


Entah kerasukan setan apa, Akmal mulai mencumbuku.


Ia tahu betul kelemahanku.


" Akmal!" Aku berusaha menolak sentuhan Akmal, namun nyatanya aku tidak mampu.


" Kamu juga rindukan?" Tanya Akmal di sela-sela aktivitasnya.


" Kita sudah bwrcerai Akmal." Makiku.


Ia tidak perduli pada ucapan ku, baginya persetan label cerai diantara kami.


Tok..tok..tok..


Ketukan di pintu kamar sungguh menyelamatkan aku dari perbuatan zina.


" Sa.."


Suara nek Aminah memanggilku.


Dengan segera Akmal pergi kekamar mandi, ia pasti malu sama nek Aminah karena ketahuan di kamarku.


Setelah merasa aman, aku memutuskan untuk membuka pintu, " Ada apa nek?"


" Ini nenek tadi beli soto buat kamu."


Aku melihat tangan Nek Aminah yang menenteng sebuah plastik hitam.


" Masukin kulkas saja dulu, nek. Salsa mau beri ASI Yusuf dulu." Aku beralasan.


Tanpa kaya nek Aminah pergi dari hadapanku.


Aku segera menutup pintu dan menguncinya. Takut kalau tiba-tiba El pulang sekolah dan memergoki ayahnya ada disini.


Akmal keluar dari kamar mandi.


" Aku malu jika harus ketahuan nek Aminah berada disini." Ucap Akmal jujur.


" Jadi buat apa kamu disini?"


" Aku rindu pada kalian." Ucapnya sedih.


" Aku tahu itu, tapi .."


" Tapi kita tidak bersama. Jangan pernah benci aku. Tolong katakan itu pada El. Ada satu alasan yang membuat aku harus menikah dengan Zaskia.."


" Alasan apa?" Tanyaku penasaran.


" Jiia aku menolak menikah dengan Zaskia, maka mama tidak akan segan-segan membuat hidup kita menderita. Terutama kamu. Kehidupan kami terancam, dan yang ada dalam fikiranku kamu, El dan Yusuf akan hidup dalam ancaman dan tidak ada ketenangan. Meskipun aku membawa kalian pindah sejauh apa pun, orang suruhan mama akan menemukan kita. Dan yang lebih parah lagi, ijazah yang aku punya tidak akan berlaku untuk mencari kerja, karena mama akan memblokir semua akses yang berhubungan denganku. Sa, aku memilih menikah dengan Zaskia hanya semata-mata demi kenyaman hidup kalian. Jika aku menuruti permintaan mama, mama akan memasukkan nama kalian semua kedalam daftar penerimaan gajian bulanan. Mama berjanji akan memberi nafkah bulanan pada kamu. Aku sedih memberikan nomor rekening milikmu pada mama. Tolong jangan menolak, meski aku tahu harga dirimu sedang di pertaruhkan. Tapi berfikirlah bahwa uang itu akan berguna untuk masa depan El dan Yusuf nanti."

__ADS_1


Aku hanya terpaku mendengar semua penuturan Akmal. Sejauh itukah pengorbanan Akmal untuk kami?


__ADS_2