
Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam akhirnya kami tiba di terminal bus. Butuh ojek agar bisa sampai kedalm gang rumah kami.
Aku menyempatkan sebentar untuk membeli oleh-oleh. Rasanya aku tidak sabar memandang wajah-wajah yang ku rindukan tertawa menyambut kedatangan kami.
" Mbak, sudah sampai." Pak ojek memberhentikan kami di sebuah rumah yang tampak mulai berubah.
" Ini benaran alamtnya pak?" Tanyaku bimbang.
" Iya mbak."
Akhirnya aku turun dan membayar ojek yang kami gunakan.
" Bun, kita dimana sih?" El berbisik padaku. Sepertinya El tahu yang kurasakan saat ini.
Aku masih ragu untuk berjalan memasuki halaman rumah ini. Rumah ini sudah banyak berubah sejak kepergian ku sembilan tahun lalu.
" Bun, sampai kapan kita berdiri disini? El capek bun. Kaki El pegal." Rengek putri semata wayang ku.
Bismillahirrahmanirrahim...
Tok..tok.. tok..
Ku ketuk pintu berulang kali. Dadaku berdegup kencang menunggu si tuan rumah keluar.
El sudah bermain ayunan yang terletak di teras.
" Assalamu'alaikum..." Aku mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam..." Terdengar suara sahutan seorang perempuan. Namun suara itu sedikit lain, bukan suara ibu. Atau itu siara Zaskia.
Ah. Belum apa-apa air mataku sudah berlomba-lomba untuk turun.
El bermain ayunan besi dengan wajah gembira. Aku memandang El penuh dengan kebahagian. " Sabar ya El, sebentar lagi waktu indah itu akan tiba.
" Cari siapa ya mbak?"
Aku terkejut mendengar suara pemilik rumah ini, karena posisiku sedang membelakangi pintu.
Aku segera berbalik, ingin segera memeluk si empunya rumah.
Hah. Siapa dia? Kenapa ada dirumah ibu dan ayah? Apa ayah sudah menikah lagi? Lalu kemana ibu dan Zaskia? Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepala.
" Mbak cari siapa?" Tanyanya lagi.
" Mbak siapa?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya membuat wanita muda di hadapanku menjadi bingung.
" Saya pemilik rumah ini." Jawabnya singkat dan sedikit acuh.
__ADS_1
Aku berusaha melihat ruang tamu, mencoba melihat foto yabg terpajang di dinding. Namun tidak ada lagi foto kami di sana.
" Rumah ini sudah di jual sekitar delapan tahun yang lalu mbak." Ujar wanita mura ini.
Aku terkejut, dadaku seperti di hantam godam besar, sesak rasanya.
" Kalau boleh tahu pemilik rumah ini indah kemana ya, mbak?"
" Maaf mbak, saya kurang tahu. Masih ada yang mau di tanyakan lagi mbak? Saya lagi sibuk."
Aku menggeleng, " ti- tidak mbak. Terima kasih atas waktunya."
Tanpa mempersilahkan kami masuk, perempuan muda itu menutup pintu rumah ini.
Aku masih terpaku di depan rumah yang penuh kenangan ini. Sekarang harus kemana aku mencari ibu, ayah juga Zaskia
" Bun, El lapar dan haus." El kembali merengek.
Aku kembali menggendong tas berisi pakain kami. Tanganku menggandeng El keluar dari halaman rumah ini. Kami berjalan dibawah redupnya sinar matahari yang menandakan waktu malam akan segera tiba.
Alu memcari warung yerdekat untuk sekedar istirahat. Jika tak menemukan petunjuk, malam ini juga aku akan kbali kekampung menemui nek Aminah, mungkin tempatku adalah di sana.
Kami menemukan warung penjual nasi uduk yang baru saja buka. Aku segera memesan dua nasi uduk dengan lauk ayam goreng dan segelas teh manis panas. Hanya El saja yang tampak gembira karena hari ini ia bisa makan ayam goreng bagian paha persis seperti pemeran film kartun favoritnya, dua kembaran botak kakak beradik.
Di saat aku hampir putus asa, entah kekuatan dan keberanian dari mana, aku sengaja bertanya pada penjual nasi uduk, " pak kenal sama pak Herman yang rumahnya di ujung jalan?"
" Rumah yang sudah dijual itu ya,neng?"
" Kalau pindahnya sih saya gak tahu kemana. Kasihan pak Herman, istrinya sudah meninggal, anaknya yang pertama hamil di luar nikah, katanya sih kabur sama cowoknya. Tapi saya sih kurang tahu. Coba nanti tanya sama istri saya, sebentar lagi datang." Ucap bapak penjual ini sambil melayani pesanan kami.
Jantung berdetang kencang, kuharap berita ini tidak benar. Tidak mungkin ibu sudah meninggal delapan tahun yang lalu. Mataku mulai mengembun, dadaku pun terasa sesak karena tangisan yang sengaja ku tahan.
" Allah.. kuatkan hamba mu ini..." Ucapku berkali-kali dalam hati.
El sedang asyik menikmati makanannya. Sementara aku seperti kehilangan selera makan.
Dari jauh aku melihat seorang ibu tang berjalan ke arah kami.
" Neng, itu istri saya. Coba nanti di tanya langsung." Ucap pak penjualnya dengan ramah.
Untungnya beliau tidak memperhatikan wajahku yang sudah berair.
" Buk cepetan!" Pak penjual nasi uduk seperti tidak sabarenunggu kedatangan istrinya.
" Ada apa toh pak?" Istrinya keheranan.
" Neng ini mencari rumahnya pak Herman."
__ADS_1
" Pak Herman yang rumahnya di jual? Neng siapanya pak Herman?" Tanya ibu itu penasaran.
Aku mengangkat wajahku,
" Ya Allah... Kamu Salsa?"
" Iya buk." Jawab ku sedih.
Ibu itu memelukku erat, " kemana aja kamu neng? Ibu mu sudah meninggal. Huuu..." Kini kami menangis sambil berpelukan.
Kabar ini adalah kabar terburuk yang pernah kudengar. Sekarang akuengerti apa artinya ibu hadir dalam mimpiki sbilan tahun yang lalu. Ternyata ibu ingin memberi tahu padaku bahwa kini ia sudah berada dialam yang berbeda.
" Begini saja neng, kamu nginap saja di rumah ibu. Besok pagi kita ziarah ke makam ibu mu."
Aku menerima saran baik dari ibu penjual nasi uduk ini. Dan mapam ini aku memutuskan untuk menginap demi berkunjung kerumah baru ibu
*
Tangisku pecah kala membaca nisan bertuliskan Sinta binti Abdullah. Aku memeluk nisan ibu, bahkan aku memeluk makam yang di penuhi oleh rumput liar ini. Makam ibu ku jauh dari kata bersih. Bahkan tanahnya saja mulai rata.
Aku dan El mulai mencabuti rumput liar yang tumbuh disekitar makam ibu.
" Ibu, salsa datang. Salsa datang bersama cucu ibu, Elmeera. Maafin Salsa karena baru bisa berkunjung sekarang di rumah ini. Maafin Salsa karena tidak berada disamping ibu di saat terakhir ibu. Maafin Salsa yang belum berbakti pada ibu."
" Bunda, ini kuburan siapa sih?"
" Ini kuburan nenek, El. Doain nenek ya biar nenek di tempatkan di surganya Allah."
Setelah puas berada di makam ibu, aku memutuskan untuk pulang kembali ke kampung. Hidup bersama nek Aminah.
" Bu, Salsa pamit. Insya Allah Salsa akan berkunjung kesini lagi. Twrimakasih sudah mengantarkan Salsa ketempat yang sangat baik."
*
Bus membawa kami kembali ke tempat tinggal kami.
Membawa kemarahan El karena tidak jadi bertemu dengan ayahnya. Bahkan sepanjang perjalanan ia tak mau makan dan tak mau berbicara padaku.
" El, maafkan bunda!" Hanya perkataan itu yang selalu ku katakan pada El, hingga ia sampai merasa hapal.
Hingga kami tiba dirumah, air mataku belum juga kering.
"El, kok sudah pulang?" Nek Aminah terkejut melihat kami yang sudah kembali.
Aku menangis didalam pelukan tubuh tua milik nek Aminah, " ada apa, Sa?"
" Nek... Ibu sudah meninggal. Huuuu..."
__ADS_1
" Yang sabar, Sa. Semua orang pasti akan mengalami mati. Sabar Sa." Nek Aminah mencoba menguatkanku.
Allah... Kuatkah aku menerima semua cobaan yang engkau beri?