
"Tante, perkenalkan.. nama saya Zaky Pratama. Saya anak dari ibu Dewi dan pak Dewo. Saya ingin melamar putri tante. Saya harap ini hanya drama, bukan kejadian nyata yang harus menyakitkan bagi saya dan El."
Aku menatap dalam wajah lelaki muda itu. Kasihan sekali dia. Lalu aku penasaran dengan wajah putriku sendiri. El hanya menunduk sedih. Ia seperti syok saat mengetahui kenyataan ini.
Aku menarik napas, berharap ada banyak oksigen yang memenuhi paru-paru ku.
" El... Dan Zaky... Kalian itu adalah...." kalimatku dipotong langsung oleh Akmal.
" Kalian tidak bisa bersatu." Ucap Akmal spontan.
" Ya, kalian tidak bisa menikah." Ucap mbak Dewi lemah.
Baru kali aku melihat wajah mbak Dewi lesu dan menunduk. Kesan angkuh itu mendadak tidak tampak hari ini.
" Kita pulang sekarang." Ucap mantan ibu mertua ku.
" Tidak nek, Zaky akan tetap melamar dan menikah dengan El. Zaky sangat mencintai El, mami." Lelaki muda itu tampak gusar. Wajahnya memelas.
" Zaky, El itu adikmu. Ayah dan ibu mu itu saudara kandung. Seberapa banyak pun uangmu, kamu tidak akan pernah menikah dengan El." Cibir ku.
Mulutku sudah terasa gatal ingin berkomentar saja dari tadi. Kali ini Allah sudah menunjukkan kekuasaanya.
" Ayo kita pulang." Nenek sihir itu bangkit dari sofa mewah milikku.
Mbak Dewi dan mas Dewo menarik tangan Zaky dengan paksa.
Dan Zaskia ikut-ikutan menarik tangan Akmal.
Aku hanya geleng-geleng kepala menyaksikan pemandangan yang ada dihadapanku. Aku seperti sedang menonton sebuah drama televisi.
Semua keluarga Akmal sudah pergi. Kini hanya tinggal kami bertiga disini.
Setelah kepergian Zaky dan keluarganya, El menangis sesenggukan. Ia tampak sedih sekali.
" El.." aku menyentuh bahunya pelan.
"Tidak semua yang kita inginkan harus terwujud. Jodoh itu aneh, sayang. Sudah ada didepan mata, tapi kalau Allah bilang gak jodoh ya tidak akan bisa bersatu. Meski kamu cinta mati sama lelaki itu sampai nangis darah sekalipun, kalau Allah tidak takdirkan kalian bersatu, kalian tidak bisa bersatu. Contohnya mama sendiri. Kamu tahu, betapa cintanya dan sayangnya mama sama ayahmu, tapi jodoh mama dan ayahmu hanya sesaat. Kamu saksi kisah cinta mama, El." Aku mencoba memberi pengertian pada putri ku.
" Ma, apa benar dia ayah ku?" Tiba-tiba saja putra semata wayangku ikut bertanya perihal ayahnya.
" Kenapa mama sembunyikan semua ini dari aku?" Tanya Yusuf lagi.
Aku menepuk bahu tegap putraku.
" Bukan mama yang menutupnya, sayang. Tapi ayahmu yang tidak ingin ada komunikasi diantara kita. Kamu pun tidak pernah bertanya perihal ayahmu kan?"
" Aku takut jika pertanyaan itu akan menyakiti hati mama nantinya."
__ADS_1
" Sudah sejak lama mama tersakiti, sayang. Mama sudah kebal. Mama tidak akan sakit lagi, sayang." Aku mengusap rambutnya.
Kutinggalkan mereka, aku lebih memilih masuk kedalam kamar. Setelah mencoba untuk tegar didepan anak-anak dan para tamu sombong itu, akhirnya aku merasa kalah. Ku tumpahkan air mataku di kamar ini. Air mata yang sudah lama tidak menetes kini bak bendungan bocor, mengalir bebas ke segala arah.
Jika zaky bukan anak mbak Dewi, pasti hari ini El sedang berbahagia. Jika mantan mama mertua tidak menjauhkan kami dari Akmal, tentu El akan mengenal saudaranya dan tidak akan pernah jatuh cinta pada Zaky.
" Allah..berikan kekuatan pada putriku. Cukup hamba saja yang engkau uji dengan derita, jangan anak-anak hamba." Ucapku sesenggukan.
Sakit yang dua puluh tahun lalu hilang kini datang lagi. Perpisahan yang meninggalkan sakit, kini pertemuan itu pun menghasilkan sakit untuk kami sekeluarga. Kenapa harus keluarga Akmal lagi? Apa kami tidak bisa terbebas dari mereka?
***
Beberapa hari ini putriku mengambil cuti tidak bekerja. Selama beberapa hari, El hanya berkurung didalam kamar. Ia keluar hanya saat akan makan saja, itupun dengan penampilan yang menyedihkan. Matanya masih bengkak akibat terlalu sering menangis.
Aku tidak pernah bertanya apa pun pada El. Aku pernah berada di posisi El. Ku biarkan ia mengobati lukanya sendiri. Aku mendidiknya dengan sangat mandiri.
Sering kukatakan pada El, jika kita jatuh sepuluh kali, maka kita harus bangkit sebanyak seratus kali. Itulah motivasi hidupku.
***
" Ma, hari ini Yusuf pulang terlambat,ya." Ucap Yusuf sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
" Kamu mau kemana?" Tanyaku penasaran.
" Mau jumpa sama ayah." Sahutnya tanpa melihatku.
" Kami butuh bicara, ma." Sahutnya singkat.
" Jangan bawa alat apa pun, nak."
" Alat apa ma? Aku tidak akan menyakiti ayah, ma. Berhenti berburuk sangka padaku."
" Mama ikut." Ucapku cepat.
Yusuf balik menatapku heran. " Mama kangen sama ayah?"
Uhuuk... Aku tersedak karena ucapan Yusuf yang begitu menohok.
" Hati-hati ma..."
Bukannya iba melihat mamanya tersedak, putra ku ini malah mengejek mama.
Dasar!
" Aku pergi, ma." Yusuf mencium tangan ku dan segera pergi bertugas.
" Hati-hati." Teriakku pada putraku yang sudah menjauh.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Yusuf? Darimana dia tahu nomor telepon ayahnya?
Ya Allah...lindungi anakku.. jangan sampai ia melakukan hal yang tidak di inginkan.
Setelah membereskan sisa piring sisa kami sarapan tadi, aku berniat akan ke kamar El. Sudah beberapa hari aku tidak melihat keceriaan di wajah El. Kasihan sekali putriku ini.
Sebelum aku ke kamar El, ada bel berbunyi, itu tandanya ada tamu yang datang. Aku bergegas berjalan kedepan. Pintu ku buka sedikit, ada Zaky berdiri didepan rumah.
" Assalamu'alaikum tante..." Sapanya ramah.
" Waalaikumsalam Zaky. Ada tang bisa tante bantu?"
" Saya mau ketemu sama El. Elnya ada tante?" Tanyanya dengan sopan.
" Oh ada. Ayo silahkan masuk dulu." Aku mempersembahkan Zaky masuk dan menunggu di ruang tamu
" Sebentar ya, tante panggil El dulu."
Aku segera bergegas ke jamar putriku.
Ia masih terbaring lemah. Kamarnya yang dulu selalu rapi dan wangi, kini bak kapal pecah. Rambutnya yang selalu rapi kini tampak berantakan. Sepertinya putriku sedang depresi. Sesekali ia menangis, sesekali ia juga tertawa.
" El..." Panggil ku lembut.
Dia tidak bergeming. Hanya sudut matanya saja yang berair. Aku tidak menyangka jika putriku yang seorang Dokter dan berpendidikan bisa menjadi depresi hanya karena batal bertunangan.
Ya Allah... cobaan apa lagi ini?
" Ada Zaky didepan."
Dia menatapku tidak percaya.
" Serius." Ucapku lembut.
Seketika El berlari, aku mengikutinya dari belakang.
Dan.. El memeluk Zaky, tangisnya tumpah didepan lelaki yang dicintainya.
Pemandangan didepan mataku membuat aku menjadi haru. Air mataku ikut turun bersama dua sejoli yang tidak bisa bersatu karena ada ikatan persaudaraan diantara mereka.
Aku menghampiri mereka, turut menjadi saksi kisah sedih mereka berdua.
" Zaky, El, mulai sekarang... Belajarlah untuk saling menyayangi sebagai saudara bukan sebagai sepasang kekasih. Berat memang.. tapi... Itu ujian buat kalian. Percayalah.. kalian pasti akan menemukan jodoh yang terbaik. Allah sudah mempersiapkan itu untuk kalian."
Aku mencoba memberi nasihat kepada mereka berdua.
" Apa aku mampu mama?"
__ADS_1