Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 21


__ADS_3

" Jangan-jangan El anaknya mas Akmal, mbak?" Celetuk Zaskia.


Aku terkejut, bahkan menatap Zaskia tanpa berkedip. Zaskia mulai berani menduga-duga, lebih ngerinya lagi dugaannya benar.


" Allah, tolong hambamu ini." Doaku dalam hati.


El dan Akmal masuk kedalam, mereka asyik menikmati buah semangka yang di beli tadi.


" Mas, kamu kayak pinang di belah dua loh sama El." Lagi-lagi Zaskia mengutarakan pendapatnya pada Akmal.


" Uhuuukk.." bisa-bisanya Akmal tersedak.


" Eh, maaf sayang, aku cuma bercanda kok." Ucap Zaskia merasa bersalah.


Kulihat tangan Zaskia menepuk punggung Akmal dengan lembut. Aku yang sejak tadi hanya menjadi penonton seketika cemburu, Allah salahkah aku cemburu?


*


Kami sudah sampai di sebuah tempat makan sederhana, kami memilih tempat lesehan. Aku meluruskan kaki, rasanya hari ini aku lelah sekali.


" Mau pesan apa?" Seorang pelayan menghampiri kami.


" Ayam goreng paha." Jawab El dan Akmal berbarengan.


Zaskia sontak menutup mulutnya, ia begitu terkejut dengan kesamaan El dan kekasihnya, Akmal.


" Ih, kok bisa samaan sih, mas?" Zaskia cemberut. Sepertinya ia semakin kesal pada El dan Akmal.


" Om suka ayam goreng juga?" Tanya El tak percaya.


" Iya." Jawab Akmal singkat.


" Paha juga?" Tanya El lagi.


" Iya,"


" Kok kesukaan kita bisa sama sih ,om? Tadi kita sama-sama suka semangka, sekarang kita sama-sama suka ayam goreng bagian paha." Celoteh El. Ia tidak perduli pada tantenya yang mulai cemburu padanya.


Akmal mengusap rambut El dengan lembut, bahkan ia memandang El dengan penuh kasih sayang, menambah rasa cemburu pada Zaskia.


Aku menjadi orang yang paling bersalah disini. Bagaimana jika ayah tahu jika Akmal adalah pacar ku yang dulu kabur.


Aku jadi kehilangan selera makan. Hanya mereka bertiga yang terlihat lahap dan sangat menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Selesai makan, kami memutuskan untuk pulang. El tertidur lelap dalam pangkuanku. Hari ini ia begitu bahagia.


" El, semoga engkau selalu bahagia ya, sayang." Doa ku dalam hati.


Rasanya aku ingin sekali cepat sampai dirumah. Aku tidak tahan melihat Zaskia begitu mesra kepada Akmal meski Akmal tidak terlalu menanggapi.


Aku sedikit bernapas lega, akhirnya kami sampai juga di rumah.


" El, " aku berusaha membangunkan El namun ia masih terlelap.


" Biar saya yang angkat." Akmal menawarkan diri untuk menggendong El kedalam rumah.


Aku segera turun dari mobil dan membuka pintu rumah.

__ADS_1


Akmal menggendong El, membawa El kedalam kamarku. Ia meletakan El dengan hati-hati. Akmal mengusap pipi El dengan lembut dan mengecup pipi anak semata wayangnya yang sejak dalam kandungan sudah di tinggalkan.


" Dia anakku kan?" Bisik Akmal.


" Kita perlu bicara." Ucap Akmal lagi.


" Bicara apa, Akmal?" Aku pura-pura bodoh.


Ia menatapku tajam, namun aku tak perduli.


" Mas, kita pulang?" Tanya Zaskia.


Akmal hanya mengangguk.


" Mbak, kami pulang ya." Zaskia memelukku erat.


Aku mengantar kepergian mereka sampai didepan pintu. Kekasih hatiku kini melabuhkan hati pada adikku, apakah ini yang di namakan luka tapi tidak berdarah?


Sampai malam tiba, mataku tak bisa terpejam. Pikiranku masih di penuhi oleh bayang-bayang Akmal. Aku rindu Akmal...


*


Tok..tok..tok..


Pagi-pagi sekali pintu rumahku di ketuk seseorang. Aku yang tidur terlalu malam, sedikit payah untuk bangun.


Namun ketukan di pintu tak juga berhenti.


Akhirnya dengan rasa sedikit jengkel aku bangun dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.


" Boleh aku masuk?"


" Boleh, silahkan!" Aku meninggalkan pria itu sebentar. Dan segera mencuci wajah dan menggosok gigi. Setidaknya wajahku tidak lagi bau bantal.


Pria itu duduk dibawah, diatas sebuah karpet yang ku gelar. Tidak ada barang mewah dirumahku, karena selama ini aku hanya berfikir untuk menabung dan menabung.


" El mana?" Tanya Akmal setengah berbisik.


" Sedang tidur. Kenapa?"


" Kita butuh bicara berdua."


" Silahkan bicara."


" Tidak disini, aku takut El menguping.


" Lalu?"


" Disuatu tempat. El titipkan dulu." Perintah Akmal.


" Ck. Kupikir iamu sudah berubah, nyatanya kamu tetap sama, sama-sama tidak pernah menyukai El. Pantas saja kamu tega menyuruhku berjuang sendiri." Sindirku.


" Please! Bukan saatnya untuk berdebat." Ucapnya setengah menghiba.


Akhirnya aku segera bersiap-siap, tak lupa meminta tolong pada Nek Aminah untuk menjaga El sebentar. Aku juga meminta nek Aminah untuk tidak bercerita pada El, jika aku pergi bersama Akmal.


*

__ADS_1


Akmal mengajakku ke suatu tempat. Tidak jauh tapi pemandangannya sangat luar biasa. Ia memesan dua mangkuk bubur ayam dan dua helas teh manis hangat.


" Sudah pernah kesini?" Tanya Akmal basa basi.


" Semenjak dunia ku hancur, aku tidak mau tahu tentang dunia luar."


" Nyindir terus dari tadi." Ia tersenyum memamerkan deretan gigi putih miliknya. Senyumannya yang pernah membuat aku tergila-gila.


Pesanan kami sudah datang. Kami terdiam, fokus menikmati makanan masing-masing.


" Sa,"


" Hem?"


" Apa El anakku?"


" Apa perlu aku menjawabnya lagi. Bukankah tanpa ku jelaskan engkau sudah bisa menilai anak siapa El sebenarnya?"


Akmal manggut-manggut, entah apa yang ada di pikiran pria ini.


" Siapa nama lengkapnya?"


" Elmeera Fathina Akmal," jawabku singkat.


" Artinya?"


"Elmeera Fathina Akmal, yang berarti putri yang mulia, cerdas dan juga sempurna. Aku ingin anakku tidak mengikuti jejak bundanya."


Di luar dugaanku, Akmal menggenggam tanganku erat.


" Lepaskan!" Perintahku.


Bukannya dilepas, justru ia mengecup punggung tanganku.


" Terima kasih sudah menjadi bunda yang baik untuk El. Terima kasih sudah menyimpan rahasia ini dengan baik. Terima kasih, karena sudah melakukan pengorbanan yang luar biasa." Ucapnya dengan suara bergetar.


" Jika itu terjadi padaku, mungkin aku tidak bisa setegar kamu." Ucapnya lagi.


Aku masih diam, membiarkan ia bercerita.


" Kamu tahu, betapa tidak tenangnya hidupku? Namamu selalu ku selipkan dalam doaku. Aku berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan mu. Kamu tahu, betapa paniknya aku saat Syam memberi tahu padaku, bahwa kamu di keluarkan dari sekolah? Tapi aku hanya lelaki pecundang yang egois, Sa. Aku tidak siap jika orang tuaku kecewa padaku."


" Apa kamu tahu perjuanganku, Akmal? Perjuanganku penuh dengan duri. Tidak ada yang perduli padaku selain nek Aminah. Aku juga harus bisa menghidupi diriku sendiri, Akmal. Kamu tahu rasanya bekerja dengan perut besar? Kamu tidak akan rahu rasanya, Akmal. Beruntung aku tidak memilih bunuh diri." Aku mengeluarkan semua keluh kesah yang kusimpan selama sembilan tahun.


" Setelah kamu jumpa dengan aku dan El, terus kamu mau apa sekarang?" Tanyaku lagi.


Ia terdiam tanpa kata. Wajahnya di tekuk, entah apa yang ada di fikirannya saat ini.


" Kita berjumpa di waktu yang tidak tepat, Akmal. Kau tahu, Zaskia adalah adik semata wayangku, kami berpisah disaat aku sedang berjuang demi El. Dan sekarang kamu hadir disamping Zaskia dengan label sebagai pacarnya. Kamu waras?" Ada emosi yang tersulut pada diriku.


" Aku tidak pernah tahu jika Zaskia adalah adik kandungmu. Yang aku lihat pertama kali saat memandang Zaskia, aku seperti menemukan mu. Zaskia hadir memberi semangat. Jika aku tahu Zaskia adikmu, tentu aku tidak akan sebodoh itu menjadikannya pacar." Ucap Akmal.


" Sejauh apa hubungan kalian? Apa kamu sudah berhasil merusak zaskia, seperti kamu merusak aku?"


Apakah Akmal akan merusak Zaskia juga?


Yuk komen like dan follow aku.. terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2