
"Bun, kapan sih ayah datang?" Rengek El sore ini. Ia sedikit demam.
" Ayahkan lagi kerja, nanti ya kalau ayah sudah tidak sibuk." Aku mencoba menenangkan El.
" Coba saja ayah bisa tinggal di sini, pasti El bisa peluk setiap hari." Keluhnya lagi.
" Sabar ya! Orang sabar pasti di sayang Allah."
" Memang benar bun, kalau kita sabar akan di sayang Allah?"
" Iya dong, bukan Allah saja tetapi semua orang akan menyayangi." Ucapku sambil memeluk putri semata wayang ku.
El kembali merenung, entah apa yang ada di pikiran anak sekecil dia.
" El, " aku memanggil namanya, namun tatapannya kosong. Bahkan ia sama sekali tak merespon panggilanku.
Lelahkah ia dengan janji-janji palsuku?
" El," aku kembali menggoyang-goyangkan tubuhnya, ia hanya melihatku sesaat setelah ia membuang pandangannya.
Aku segera mengambil air dalam gayung dan segera membasuh wajah El..
" El, jangan hilang semangat ya, bunda janji El akan bawa ayah tinggal bersama kita."
" Ayah yang mana, bun? Memangnya El boleh punya ayah?" Tanyanya melemah.
Semenjak lahir El termasuk anak yang jarang sakit. Dan kali ini, El seperti sudah hilang semangat hidup.
Ku peluk putri semata wayang ku. Sakit di hatiku semakin merajalela.
" Kita akan kuat meski tanpa ayah El." Aku berbicara sendiri.
" El kenapa Sa?" Tiba-tiba nek Aminah datang.
" Rindu ayah, nek." Sakit hatiku mengungkap keinginan El.
" Apa Akmal itu ayahnya?" Nenek menyelidiki seperti detektif.
Aku menunduk tak berani menatap nenek. Aku juga tidak ingin ada yang tahu siapa ayah El sebenarnya.
" Kalau memang iya, segeralah menikah demi buah hati kalian." Ucap nenek lagi.
" Kalau melihat aura wajah Akmal dan El seperti ada hubungan darah." Nek Aminah terus berbicara.
" Nek, Akmal memang ayahnya El, dan sekarang Akmal ingin kami menikah."
" Bagus dong, lalu kamu nunggu apa lagi? Gak kasihan sama anakmu?" Nek Aminah seperti sebal melihatku.
__ADS_1
" Nek, bagaimana aku bisa menerima Akmal jika ia mempunya hubungan dengan Zaskia? Aku tidak ingin menyakiti hati Zaskia, nek."
" Toh cepat atau lambat Zaskia juga akan terluka,kan?"
Aku mencerna semua kalimat nek Aminah. Dan apa yang di bilang nek Aminah memang benar. Cepat atau lambat Zaskia akan terluka menerima kenyataan yang ada.
" Lebih baik jujur di awal, sebelum hubungan Zaskia dan Akmal semakin jauh. Kamu tidak inginkan jika Akmal akan kembali merusak adikmu? Lelaki yang pernah melakukan hubungan suami istri, punya banyak cara untuk melakukannya lagi dengan wanita dengan berbagai cara."
Kalimat nek Aminah begitu menohok. Aku seperti di tampar agar tetap sadar. Bagaimana jika mereka khilaf? Sesal Akmal bukan berarti ia sudah tobat.
" Pikirkan baik-baik." Ucap nek Aminah melangkah pergi. Mungkin malam ini nek Aminah mau tidur di rumahnya sendiri. Orang yang sudah tua seperti nek Aminah memang tidak bisa di atur kemauannya. Aku mencoba lebih mengerti dengan keadaan nek Aminah.
Kepergian nek Aminah membuat ku merenung kembali. Jika aku siap menikah dengan Akmal, maka kemungkinan besar aku akan kembali kehilangan keluarga yang baru saja terjalin kembali. Namun, jika aku mengalah, membiarkan Akmal menikah dengan Zaskia, maka aku harus siap melihat El begitu terluka.
" Rabb, apa aku terlalu kuat, sehingga engkau yakin aku bisa melewati semua cobaanmu?"
Tok..tok..tok..
Pintu rumah di ketuk oleh seseorang.
" Akmal kah yang datang?" Hati ku bertanya-tanya sendiri.
Sejenak aku mengintip dari celah papan yang berlubang. Memang benar, ada Akmal di depan pintu rumah ku yang masih tertutup.
Ada perasaan berdebar, seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Aku pernah mengalami ini, saat pertama kali Akmal mengungkapkan perasaannya padaku. Dan kini... Rasa itu datang kembali.
" Ada apa?" Tanyaku acuh. Terkadang aku bingung dengan diriku sendiri. Saat jauh, rasa rindu menggebu, namun ketika sudah di depan mata, aku berubah menjadi gengsi. Apa ini yang namanya cinta?
" Mau lihat El." Jawabnya santai, " El mana ya?" Akmal merasa heran karena ia tak mendapati putri semata wayangnya menyambut dirinya.
" Kamu boleh pulang sekarang." Usirku."
Akmal celingukan, berharap ada El di dalam. Namun nihil, karena El sudah tidur.
" Kamu kenapa sih? Aku cuma mau jumpa El." Ucapnya sedikit marah.
" Mulai sekarang jangan pernah datang lagi. Kami bisa tanpamu." Jawabku ketus. Entah apa yang menyelimuti hatiku, hingga aku bisa semarah ini pada Akmal.
" Kamu memang bisa hidup tanpa ku, tapi tidak untuk El. El... Ayah datang," teriak Akmal sedikit kencang.
" Ayah..." Panggil El dari dalam kamar.
Serta merta Akmal mendorongku dari depan pintu, " jangan pernah halangi aku bertemu dengan putriku." Ia bergegas meninggalkan ku dan memilih masuk kekamar kami.
" El, putri ayah.. kamu sakit." Akmal memeluk tubuh putrinya yang melemah.
Tangannya memegang dahi El, " kamu demam?"
__ADS_1
Akmal menatapku tajam, seolah meminta penjelasan atas keadaan putrinya.
Akmal menggendong El, " kita bawa El berobat."
Ada gurat khawatir di wajah Akmal. Tanpa membantah aku mengikutinya dari belakang.
*
Kini El sudah mendapat pertolongan. Ternyata El mengalami demam tinggi. Untung saja El mendapat penangan yang lebih cepat. Jika tidak, bisa saja sesuatu yang buruk menimpa El.
" Kenapa sih kamu ceroboh?" Akmal mulai menyalahkan ku.
Aku menatapnya dengan ekspresi datar, " tahu apa kamu tentang ceroboh?" Balasku sengit. Hati kecilku tidak terima disalahkan.
" Kamu bisa sesantai itu dalam menghadapai..."
Aku meletakkan jari telunjukku ke depan mulutku sebagai tanda agar Akmal diam.
" Sstttt.. kamu...." Emosi memuncak sehak bertemu Akmal.
" Kamu tidak tahu apa-apa tentang El. Jika aku ceroboh sejak dulu, mungkin kamu tidak akan pernah menatap atau melihat El seperti sekarang ini. Kalau aku ceroboh, bisa saja aku mbuang El ke sungai saat ia baru lahir karena tidak ada lelaki yang mau bertanggung jawab atas kehadiral El." Bisik ku pelan namun langsung menusuk ke jantungnya.
" Jangan ajari aku tentang mengurus anak, Akmal. Karena jika kamu mengusik area itu.. maka mulutku akan semakin tajam menguliti sisi kemanusiaan mu!"
Akmal tidak membalas perkataannya. Yang bisa ia lakukan hanya menunduk sembari menggenggam tangan El, darah dagingnya.
Suasana kembali hening. Aku dan Akmal tidak lagi terlibat pembicaraan. Jika ia tahu, kerasnya sifatku saat ini karena sikapnya yang menjadi pria pecundang.
Suara ponsel milik Akmal memecah kesunyian di dalam ruang rawat El.
Akmal menatapku sebelum menjawab telpon dari seseorang. Mungkin Zaskia, aku asal menebak.
Dan ternyata...
" Maaf, mas gak bisa datang. Makan malamnya kita ganti hari lain aja ya. Mas masih ada urusan."
Tebakanku tidak salah. Yangenelpon adalah Zaskia. Ternyata mereka merencanakan makan malam, "Huh. Makan malam saja, apa spesialnya." Batinku ngedumel sendiri.
" Iya... Tapi maaf.. banget. Mas janji aetelah urusan siap, mas langsung datang ke rumah kamu. Oke? Tolonglah jangan merajuk, ini bukan waktu yang tepat, Zaskia." Akmal berusaha membujuk pacarnya. Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka. Padahl aku sengaja memasang telingaku agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
Akmal menutup ponselnya. Ku dengar, ia menghembuskan napas berat.
" Lelahkan menghadapi wanita manja Seperti Zaskia? Bagaimana,susah bisa bandingkan mana tang baik dan mana yang terbaik? Ingat enggak gimana sabarnya aku menghadapimu?" Aku mengenang masa nelangsa bersama Akmal. Dulu.... Aku yang terlalu mengalah.. sekarang.. ia yang...
Jangan lupa like komen dan follow aku ya..
Isi sendiri deh di kolom komentar, sekarang Akmal dapat yang bagaimana... Hehe.. terimakasih
__ADS_1