Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 32


__ADS_3

" Suka?" Tanya Akmal.


Aku hanya mengangguk bahagia. Aku memeluk erat Akmal, sebagai tanda terima kasih.


Tapi arti pelukanku di salah artikan oleh Akmal, ternyata aku membangunkan singa tidur.


Ia membalas pelukan ku erat, bahkan bibirku kini menjadi sasaran cumbuan Akmal.


Siapa sangka dari pelukan erat kini hubungan itu berlanjut kehubungan suami istri. Untung saja Akmal sudah mengunci pintu.


Setelah cukup lama dan puas, akhirnya kami tergolek lemah.


" Sekarang kita gak takut lagi di lihat sama El." Bisik Akmal di telingaku.


Aku mencubit pinggang Akmal cukup keras.


" Kita bisa bebas sekarang, sayang...."


*


Hari sudah sore, aku bersiap untuk menyiapkan makanan di dapur baru ku.


Aku tercengang melihat seseorang sedang melakukan sesuatu di dapurku. Siapa dia? Kenapa ada disini? Pikiran buruk mulai bermain-main di kepalaku.


" Kamu siapa?"


Ia terkejut mendengar pertanyaan ku. Sepertinya ia terlalu fokus memasak, jadi tidak mendengar derap langkah kaki ku.


" Eh, ibu Salsabila ya?" Sapanya tersenyum memamerkan deretan putih gigi miliknya.


Aku mengernyitkan dahi ku, bagaimana bisa ia tahu namaku?


Belum habis keterkejutan ku, tiba-tiba saja bahuku di tepuk pelan dari belakang.


" Hei..." Akmal mengejutkanku.


" Ih apaan sih? Aku sedang serius, sayang.." jawabku merajuk.


"Heran ya, kenalin itu pembantu baru kita. Veni namanya. Masih muda, usianya baru dua puluh tahun. Mamanya single parent, jadi ia menjadi tulang punggung keluarganya." Jelas Akmal lagi.


Oh..aku hanya manggut-manggut. Di dalam lubuk hati ada rasa cemburu, takut saja jika nanti Akmal terpesona atau kecantol pada gadis tersebut.


Akmal menarik tanganku ke teras belakang, lagi-lagi aku terpesona dengan keindahannya.


" Siapa yang nanam?" Tanyaku pada Akmal.


" Pak tukangnya, aku sempat minta tolong, kebetulan beliau bisa. Jadi deh." Ucap Akmal santai.


*


Tidak terasa kami sudah hampir enam bulan tinggal di rumah nyaman ini. Pagi ini aku ingin menyiapkan baju Akmal, rencananya ia akan pergi keluar kota selama lima hari.


Huek... Huek... Tiba-tiba saja perutku terasa mual. Rasa pusing mendera tubuhku. Pandanganku mulai berkunang-kunang, apa yang terjadi padaku?


" Bunda kenapa?" El mengejutkanku.


Aku tak mampu untuk menjawab pertanyaan El, tanganku terus mengurut kening berharap rasa pusing itu segera hilang.

__ADS_1


Karena tak mendapat tanggapan dari ku, El berlari keluar kamar.


Aku mencoba berjalan bertumpu pada dinding kamar. Ah, akhirnya aku sampai juga di tempat tidur.


Pintu kamar terbuka, ada wajah panik Akmal disana. " Kamu kenapa, sayang?"


" Mual." Jawabku singkat.


" Kita kedokter ya?"


" Gak perlu, mungkin aku hanya masuk angin biasa."


" Apa kamu hamil?"


Sontak aku menatap Akmal, perkataan Akmal mengingatkanku pada masa sembilan tahun silam saat aku hamil El.


" Bisa jadi." Jawab ku lemas. Bukan menolak rezeki, hanya saja aku belum siap untuk memiliki anak kedua.


Aki masih menikmati waktu bermanja-manja dengan Akmal. Kupokir cukup saja hanya El buah hati kami. Nyatanya Allah titipkan lagi di rahimku sebuah nyawa.


" Ya sudah, kamu bersiap ke dokter aku antar. Aku gak mungkin ninggalin kamu kalau kamu dalam keadaan tidak sehat." Sedikit naik nada bicara Akmal.


Dengan tubuh lemas, aku berusaha mengganti pakaian yang lebih baik lagi.


" El, kamu sama nenek di rumah ya, mama mau pergi sebentar." Aku berpamitan pada El.


" Oke bunda." El masih asyik bermai dengan bonekanya.


Aku juga tak lupa berpamitan pada veni dan nek Aminah.


*


Setelah selesai mendaftar kami duduk di bangku antrian.


" Bun, senang deh akhirnya El sudah mau punya adik." Akmal membuka pembicaraan di antara kami.


Aku tak menanggapi ucapan Akmal, bahkan sekarang aku menutup wajahku. Aku tidak sanggup jika langsung mengangkat wajahku. Semua yang ku pandang terasa berputar.


Karena tak mendapat tanggapan dariku, tangan Akmal pindah ke leherku. Ia memijat kepala hingga leherku, sedikit memberi nyaman padaku.


Nama kami sudah di panggil dokter, aku melakukan tes kehamilan menggunakan testpack dan hasilnya memang positif aku hamil, sudah dua bulan. Tekanan darahku pun sangat rendah hingga dokter memberi ku obat dan beberapa vitamin. "Ah. Kenapa bisa lupa tanggal menstruasi sih?" Aku mengeluh sendiri.


*


Setelah sedikit membaik Akmal pun akhirnya berangkat keluar kota. Aku mengantar hingga depan pintu.


" Jangan capek-capek, banyak istirahat." Pesan Akmal padaku.


" Iya, yah. Jaga hatinya ya. Buat aku dan anak-anak saja jangan di bagi-bagi."


Akmal tertawa mendengar ucapanku. Tangannya mengusap kepalaku.


Akmal meninggalkanku bersamaan dengan deru mobil yang menjauh.


Aku menutup pintu, dan akan beristirahat di kamar agar badanku lebih fit.


*

__ADS_1


Kehamilan kedua ku membuat semua aktivitas ku terganggu. Aku yang selau mual dan pusing membuat El terabaikan.


Aku tak bisa menemani El bermain atau pun sekedar menemaninya membuat pr.


Tok..tok..tok...


" Sa..." Nek Aminah memanggilku.


" Masuk nek." Jawabku lemah.


Wajah nek Aminah muncul di balik pintu.


" Ada yang nyariin."


" Siapa nek?"


" Perempuan paruh baya yang mengaku sebagai ibunya Akmal."


Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak. Disaat kondisi seperti ini, aku harus berhadapan dengan ibunya Akmal. Perasaanku ada yang tidak beres. Mau tidak mau aku pun akhirnya menemui mamanya Akmal sebagai penghormatan bahwa beliau adalah ibu mertuaku.


Wanita paruh baya itu berdiri memandang setiap sudut rumah yang kami tempati. Langkah ku semakin dekat.


" Assalamu'alaikum ibu.." aku mengulurkan tangan pada ibu mertuaku.


Beliau membiarkan tanganku mengambang di udara.


Ia menatapku sinis penuh keangkuhan.


" Ibu sendiri? Silahkan duduk bu, say siapin minuman sebentar ya." Aku masih bersikap ramah.


" Tidak perlu repot-repot, saya tidak sudi menyentuh makanan dari tangan perempuan kotor sepertimu yang sudah berani membuat Akmal lupa terhadap ibu kandungnya sendiri."


Ucapan ibu Akmal kembali melukai hatiku.


Allah sabarkan aku dalam menghadapi ibu mertuaku.


" Tolong jauhi Akmal, Akmal tidak pantas untuk perempuan sepertimu yang tidak punya akhlak dan tidak berpendidikan." Bemtak ibu mertuaku dengan suara lantang.


Kata-kata barusan yang keluar dari mulut ibu mertua membuat mual ku semakin menjadi-jadi.


Tanpa berpamitan aku pergi terhuyung-huyung kebelakang dan memuntahkan di westafel.


" Ibu baik-baik saja? Apa perlu saya kabari pak Akmal." Veni sepertinya khawatir dengan keadaan ku.


" Gak perlu, ven. Daya baik-baik saja." Aku tidak ingin membuat Akmal mengkhawatirkan keadaanku. Dan aku ingin dia tetap fokus bekerja sampai pekerjaannya selesai sesuai jadwal yang di sepakati.


Setelah merasa lebih baik, aku kembali menemui ibu mertua, beliau sedang duduk di sofa ruang tamu.


Saat aku datang, ia kembali menatapku dari atad kepala hingga ke ujung kaki. Dan kini tatapannya tepat pada perutku. Ia menatap peritku tanpa berkedip, seolah ingin memastikan sesuatu.


" Ibu..." Aku mencoba membuka pembicaraan namun seketika aku terdiam saat ia meletakan jari telunjuknya tepat di atas bibir.


" Ssstt. Apa kamu hamil?"


Aku terdiam sejenak, bingung harus berkata apa. Jujur atau bohong.


" Jawab!" Bentak ibu.

__ADS_1


Sedih rasanya mendapati sikap ibu mertua yang tidak bersahabat.


__ADS_2