
Dan malam ini adalah malam yang panjang bagiku dan Akmal. Layaknya pengantin baru, kami menikmati malam begitu indah dengan berbagi selimut juga berbagi kehangatan. Berdekatan dengan Akmal membuat aku menjadi wanita lemah dan tak berdaya. Aku begitu pasrah menerima perlakuan manis dari seorang Akmal. Padahal aku tahu ia tak kan mau bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandunganku ini.
Aku juga pasrah jika nanti kami akan di gerebek warga. Bagiku itu lebih baik. Aku dan Akmal akan menikah, dan bayi dalam kandunganku akan mempunyai bapak nantinya.
Walau aku tahu, di gerebek warga tentu akan membuat malu orang tuaku. Karena aku benar-benar melemparkan kotoran ke wajah mereka. Namun bagiku untuk saat ini tidak ada pilihan yang harus ku tempuh.
****
Pagi sudah datang, aku bergegas bangun dan segera mandi. Aku segera memakai baju sekolah, ku sempatkan sebentar untuk mengerjakan pr. Namun buku ku di tarik oleh seseorang,
" Jangan sekolah, aku masih ingin denganmu."
" Akmal!" Aku sedikit mengeraskan suaraku.
Kini ia memelukku, mencium setiap inci tubuhku tanpa peduli dengan reaksiku.
" Akmal!" Aku berhasil mendorong tubuhnya keras.
Ia mundur dan hampir saja tubuhnya menatap dinding rumah.
" Kasar!" Ia tampak marah padaku.
Aku mendekatinya, " Maaf.."
Hanya kata itu yang keluar dari bibirku berulang-ulang.
Ia masih diam, aku kembali memunguti buku-buku milikku yang berserakan.
Setelah buku-buku itu berhasil ku bereskan, aku kembali duduk dan menatap Akmal yang masih berdiri di tempatnya.
" Akmal, bukankah kita harus lulus?" Tanyaku padanya.
Ia tak menggubris ucapanku.
" Setidaknya aku masih bisa mengikuti ujian akhir sekolah Akmal. Setelah itu, aku akan berjuang untuk diriku sendiri dan juga calon bayi kita." Aku kembali mengusap perutku yang masih rata.
" Sedangkan kamu? Kamu masih punya impian kan? Silahkan Akmal!" Ucapku sambil mengusap air mataku yang menetes.
" Kamu tau gak, seberapa takutnya aku menghadapi perjalanan hidupku kedepannya. Aku berharap, dua bulan kedepan perutku belum membesar. Aku juga berharap, ibu dan ayah tidak pernah curiga dengan keadaanku yang sekarang.
Akmal, kamu tahu enggak? Aku bisa saja mati ditangan ayahku jika ia mengetahui aku sudah tidak suci lagi dan sekarang sudah hamil."
Bahkan suaraku semakin kecil saat menyampaikan kegelisahan ku pada lelaki yang menghamili ku. Yang terdengar adalah suara tangisanku yang semakin menjadi.
Entah merasa iba atau sekedar berpura-pura, Akmal memelukku.
Kini ia berkali-kali membisikkan kata maaf di telingaku. Bahkan kini ia ikut nangis bersamaku.
Cukup lama kami tenggelam dalam tangisan. Sesungguhnya kami sama-sama takut untuk menerima kenyataan ini.
Setelah merasa cukup tenang, " Kita harus lulus Akmal." ucapku lagi.
__ADS_1
Ia pun kini mulai berkemas.
Sebelum kami berpisah," please, apa pun yang terjadi jangan pernah bilang pada siapa pun siapa ayah bayi ini." Ia mengecup keningku, memeluk tubuh ku erat sekali, seolah ini adalah hari terakhir kami bertemu.
Aku memandang punggungnya hingga hilang. Dan ia tak lagi menoleh kebelakang walau hanya memberi lambaian singkat kepadaku.
*****
Aku sudah tiba di sekolah. Sebelum masuk ke kelas, mataku sempat mencari sosok yang tadi malam menemaniku. Namun sosok itu tak ku jumpai, bahkan motornya saja tidak ada di parkiran.
Apakah ia tidak masuk hari ini?
Gairah belajarku hilang. Bahkan mataku semakin meronta-ronta minta terpejam.
Hingga aku merasa tidak kuat lagi menahannya. Hingga akhirnya aku menyerah dan menjatuhkan wajahku keatas meja.
Gubrak!!!
Aku terkejut mendengar gebrakan meja yang begitu keras.
Setelah itu terdengar suara gelak tawa ramai dari teman-teman ku.
Aku gelagapan, jantung ku seperti mau copot. Teman-teman ku masih tertawa, terdengar ocehan mereka.
Aku permisi kekamar mandi untuk membasuh muka ku agar lebih segar dan tidak ngantuk lagi.
Aku bersandar pada dinding toilet. mataku mengembun, beban ku terasa berat.
Setelah merasa cukup puas, aku kembali masuk kedalam kelas.
Aku kembali mengikuti pelajaran.
Tidak berapa lama lonceng berbunyi menandakan waktu pulang sudah tiba. Selesai berdoa, semua teman-temanku berhamburan keluar.
Aku berjalan menyusuri koridor sekolah, berharap menemukan sosok yang kucari, namun tak juga ku temui.
Panas matahari siang ini membuat aku berkali-kali mencari tempat teduh hanya untuk melepas lelah barang sebentar.
" Apa aku bisa kuat menerima kehadiran mu,nak?" Hatiku sibuk berbicara sendiri.
"Saat sekarang saja aku sudah kesusahan membawamu." Batinku lagi.
Tidak terasa satu bulan lagi kami akan melaksanakan ujian kelulusan. Seragam sekolahku mulai tampak padat untuk membungkus tubuhku.
Berkali-kali aku mematut diri di cermin, mencari akal agar perut buncitku tidak tampak di lihat oleh orang, terutama ayah dan ibu.
Aku menghitung uang tabunganku, sudah lumayan banyak. Sebenarnya uang ini akan kugunakan untuk sesuatu yang mendesak. Namun menutupi kehamilan ini adalah sesuatu yang mendesak, jadi ku putuskan untuk menggunakan uang ini untuk membeli jilbab yang lebih besar.
Kuharap ini adalah solusi terakhirku.
" Ya Allah,bantu hambamu yang kotor ini." Aku berharap dalam hati.
__ADS_1
" Mbak, di panggil ibu!"
Aku menoleh kearah pintu. Ada wajah mungil adikku.
" Ada apa?" Tanyaku pura-pura tak mendengar.
" Di panggil ibu. Bantuin ibu masak."
Aku menganti seragam sekolah dengan pakaian rumah.
Aku memilih sebuah kaos oblong berwarna hitam di padukan celana panjang.
Aku melangkah ke dapur, kulihat ibu sedang mencuci daging ayam yang sudah di potong menjadi empat bagian.
" Mau masak apa bu?"
" Ayah hari ini mau pulang. Jadi ibu mau masak enak hari ini. Buat ayam bakar sama tumisan,sambal dan juga lalapan sepertinya enak. Kamu bantu ibu ya!"
Aku mengangguk dan mulai mengupas bumbu untuk memasak kami hari ini.
" Aduh..!" Tanganku mengeluarkan darah.
" Kenapa Sa?"
Darah segar menetes dari jariku yqng terkena pisau.
Ibu dengan cekatan mengobati luka ku. Kupandangi wajahnya, " Ibu, maaf." Bisikku hanya dalam hati.
" Alhamdulillah sudah selesai. Lain kali hati-hati, pegang benda tajam itu harus fokus, pikirannya gak boleh ngalur ngidul."
Aku hanya tersenyum masam. Seorang ibu memang maha benar. Aku celaka begini karena terlalu banyak berfikir. Ibarat orang sering bilang. Tubuhnya disini namun jiwa raganya sudah terbang entah kemana.
Jam di dinding sudah hampir pukul empat, " Sa, uda hampir siap nih, kamu buruan mandi dan shalat ya!" Teriak ibu dari luar.
Masak hari sudah selesai tinggal menunggu matang daging ayamnya saja. Dan kalau bagian bakar menbakar itu sudah pasti bagian ibu.
Aku segera mengambil handuk dan segera melaksanakan perintah ibu.
Tidak butuh lama untuk mandi sore ini. Terus terang, selama hamil aku sering kali menghindari air. Jika tidak ada yang tahu, aku pasti hanya pura-pura mandi saja.
Entah sampai kapan aku berperang dengan dinginnya air.
Selesai mandi tak lupa aku melaksanakan empat rakaat terlebih dahulu. Doa yang kupanjatkan hari ini adalah aku meminta agar Allah menggerakkan hati Akmal untuk kbali kesini, menghadapi masalah ini bersama-sama. Ya, hanya itu yang kupanjatkan saat ini.
" Ayah pulang.. ayah pulang.." Terdengar suara cempreng Zaskia menyambut ayah.
Dulu aku dan Zaskia selalu berebut untuk menyambut ayah, tapi sekarang untuk mendekat dengan ayah saja ada rasa takut yang membayangi.
Aku mengintip dari balik pintu kamarku.
" Salsa!"
__ADS_1
yuk tinggalin jejak like dan komen ya teman-teman...