
"Kalau begitu kamu baik-baik dirumah ya, jaga kesehatan. Tolong beri pengertian sama El, nanti setelah mama sembuh, aku akan ajak El liburan." Akmal mencium keningku. Ia kembali memelukku.
" Hati-hati..." Aku melambaikan tangan dan setengah berteriak. Sedih rasanya melihat kepergian belahan jiwaku.
Aku tidak tahu sampai kapan akan menjalani hubungan jarak jauh. Kalau aku ingin egois, bukan mama saja yang butuh Akmal, aku pun jauh membutuhkannya.
Mata yang mengembun sejak tadi sekarang mulai basah. Tapi aku tidak boleh terlihat lemah, apa lagi saat di depan El.
Tok..tok..tok...
" El, boleh mama masuk?"
" Masuk ma!" Ada nada serak pada suara putriku itu.
Ia sedang tidur telungkup, wajahnya menutup bantal.
" Nangis?" Tanyaku sambil mengusap rambutnya yang hitam lebat.
Ia membalikkan wajahnya, sembab, itu yang ku tangkap.
" Sampai kapan ayah sibuk bun?" Tanya El risau.
" Sampai nenek sembuh. El, kita perlu berbagi ayah saat ini. Nenek juga membutuhkan ayah. Kamu tahu tidak, orang yang semakin tua maka sifatnya akan kembali seperti anak-anak, begitu pun nenek. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah berdoa untuk kesehatan nenek, ya."
" Tapi nenek Aminah baik, bun. Sifatnya gak kayak anak-anak. Padahal rambutnya sudah putih semua." Protesnya padaku.
Ups! Aku menutup mulutku sendiri. Mau heran? Tapi itulah El. Sepertinya ku salah memberi pengertian pada El.
Jika El membandingkan Nek Aminah dengan mamanya Akmal, tentu jauh berbeda mereka bagaikan langit dan bumi. Bagiku, nek Aminah adalah malaikat yang di kirim Allah untuk menemani hidupku. Sementara mamanya Akmal.... Aku tidak bisa mendefinisikan arti kehadiran mamanya Akmal.
Sejak Akmal mengenalkan ku pada mamanya, mamanya seperti mengibarkan bendera perang padaku. Aneh!
" Siapapun nenek, bagaimana pun sifat nenek pada kita, kita tidak boleh membalasnya. Paham?"
" Iya bun."
Aku memilih keluar dari kamar El. Menyendiri mungkin jauh lebih baik untuk saat ini.
Aku memilih masuk kamar. Selain tubuhku, otakku pun perlu istirahat agar aku tetap bisa berfikir positif tentang Akmal.
*
__ADS_1
Hari ini tepat empat belas hari Akmal tidak pulang. Handphonenya pun tidak pernah aktif. " Ada apa denganmu, ayah?" Batinku terasa nelangsa. Bagaimana ia bisa lupa pada kami disini?
Tring! Ada sebuah pesan masuk ke ponsel milikku.
Ada perasaan senang, berharap itu dari Akmal. Nomor tanpa nama. Aku membuka pesan tersebut. Bak tersambar petir, ada foto mesra Akmal bersama Zaskia.
Coba aku mau tanya, apa yang kalian lakukan jika mendapat pesan berupa foto mesra suamimu dengan wanita lain?
Emosi ku seketika memuncak. Aku segera mengambil dompet dan menemui nek Aminah.
" Ada apa sa?" Nek aminah terkejut karena aku membangunkan tidur siangnya.
" Nek, aku titip El sebentar. Dia sedang tidur, jika bertanya tentang aku, bilang saja sedang ada urusan."
" Tapi kamu mau kemana? Ingat loh, kamu sedang hamil." Nek Aminah mengingatkanku.
" Tapi ini darurat nek. Aku mendapat pesan berupa gambar Akmal dengan wanita lain. Dan ini bukan main-main nek. Ini foto prewedding, dan Akmal akan segera menikah. Aku harus meminta keputusan darinya." Aku menunjukkan sebuah foto, nek Aminah menatap ku penuh iba.
" Sabar ya, Sa. Cobaan mu tiada henti. Yang penting kamu sehat, kuat dan Insya Allah tabah, ya." Nek Aminah memelukku erat. Beliau menangis, mungkin sedih dengan takdir hidupku yang seperti ini.
Dengan menaiki ojek langganan ku, aku akhirnya memutuskan untuk datang langsung kerumah orang tuanya Akmal. Apa pun nanti keputusannya, pahit atau manis Insya Allah aku ridho.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah kediaman orang tua Akmal. Halaman rumahnya terparkir beberapa mobil mewah. Salah satunya adalah mobil mewah. Pintu gerbang rumah ini tertutup rapat. Aku mengintip dari celah pintu gerbang, ada pak satpam.
Pak satpam itu mendatangiku, " ada yang bisa di bantu mbak?"
" Boleh di buka sedikit pintunya pak?" Aku memasang muka melas.
Pak satpam itu menuruti permintaanku, bahkan pintu gerbang dibuka sangat lebar.
" Saya mau bertemu dengan pak Akmal. Sudah buat janji, katanya di suruh datang ke rumah orang tuanya untuk membicarakan masalah pernikahan mereka." Aku berbohong agar bisa masuk kedalam istana orang tuanya Akmal.
" Oh silahkan masuk mbak." Pak satpam itu mempersilahkan aku masuk dengan ramah dan sopan.
Aku melangkah dengan penuh hati-hati. Nyaliku sedikit menciut. Aku menarik napas dan menghembuskan kembali, berharap rongga dadaku bisa lebih lega.
Kriet!
Pintu yang tidak terkunci ku buka dengan mudah.
Beberapa pasang mata menuju ke arahku, salah satu mata itu adalah mata lelaki yang ku cintai.
__ADS_1
Ia tampak syok melihat ku datang ke istana ini sendiri.
Aku masih berdiri di tempatku. Ada rasa sedih yang begitu mendalam.
Akmal yang sedang duduk dengan seorang wanita yang kukenal, yaitu Zaskia.
Wajah Zaskia seketika pias menatap ku yang masih berdiri terpaku. Ada ayahku disana, ayah yang tak pernah mengenalku lagi, ayah yang saat ini memandangku penuh sinis.
" Ayah..." Jerit batinku pilu.
Mamanya Akmal memandangku penuh amarah. Bang Dani, kak Dewi dan kak Selvi hanya terdiam. Begitupun pasangan mereka masing-masing.
Entah mendapat keberanian dari mana, aku melangkah mendekat ke arah mereka.
" Ak- Akmal..." Panggil ku gugup.
Mataku mulai basah.
Akmal mendekatiku, ia berusaha memegang jariku, namun aku menepisnya. Aku muak melihat wajahnya, aku benci melihat kebohongannya.
" Salsa.... Da-datang dengan siapa? Kenapa tidak telpon saja." Ia pura-pura tidak bersalah.
" Telpon? Kemana? Bahkan nomor kamu saja tidak pernah aktif. Kamu tahu, apa yang membuatku datang ke istana ini? Foto ini." Aku menunjukkan foto mesra mereka pada Akmal.
Ia terperangah, tak menyangka.
" Kaget ya? Jadi ini alasan kamu tidak pernah memberi kabar pada kami? Kamu tahu enggak, Setiap malam El selalu bertanya tentang kamu? Merindukan kamu?"
" Cukup Salsa!" Mamanya Akmal meminta aku untuk berhenti berbicara namun kali ini aku tidak bisa diam.
" Tolong ibu yang terhormat, jangan minta saya untuk berhenti berbicara. Untuk anda, ibu dari suami saya... Terima kasih karena tidak pernah menyetujui hubungan saya dengan Akmal, sampai-sampai ibu tega memisahkan anak saya dengan ayahnya."
" Dia bukan cucu saya! Jangan paksa saya mengakui anak kamu sebagai cucu saya. Akmal belum punya anak, dan anakmu bukan darah daging Akmal."
Perkataan mamanya Akmal membuat emosiku memuncak.
" Saya tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan wanita batu seperti anda. Saya pikir anda jauh lebih berpengalaman, ternyata anda tak ubahnya seperti air parit, picik dan dangkal."
" Hei, sopan jika berbicara dengan mama kami." Kak Selvi angkat bicara, ia tidak terima jika aku menyudutkan mamanya.
" Dan untuk kamu, Zaskia... Kamu adikku meski kita tidak sedarah tapi aku menganggap mubtetap adikku. Tapi rupanya ambisimu untuk memiliki Akmal jauh lebih besar. Padahal kamu tahu Akmal adalah ayah dari anakku, El. El itu keponakanmu, tega kamu merenggut cinta pertama El?" Aku mulai terisak. Sakit sekali rasanya.
__ADS_1
" Dan ayah...." Belum siap aku melanjutkan kata-kata ku, mendadak pandanganku menjadi buram. Dan aku jatuh kelantai tak sadarkan diri.