Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 16


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim, Elmeera Fathina Akmal, yang berarti putri yang mulia, cerdas dan juga sempurna." Aku menyematkan nama ayahnya di akhir sebagai pengingat bahwa ia adalah anak dari seseorang yang bernama Akmal.


" Duh, bisa-bisa lidah nenek bergulung-gulung menyebut nama anakmu." Kelakar nenek.


Aku tertawa mendengar gurauan dari nenek.


Sayang.. bunda beri engkau nama yang indah. Kelak bunda ingin engkau menjadi anak yang cerdas, menjadi anak mulia juga sempurna, tidak mengikuti jejak bunda yang salah.


Pelaksanaan syukuran Elmeera sudah terlaksana meskipun hanya ala kadarnya atau secara sederhana.


Untuk sementara nek Aminah pulang kerumahnya, katanya ingin istirahat.


Kini hanya tinggal kami berdua dirumah.


Elmeera masih doyan tidur dan minum susu. Tidak terlalu menyusahkan ku.


" Andai kamu tahu Akmal, putri mu sudah lahir kedunia. Ingatkah engkau dengan benih yang pernah kau tabur di rahimku? Dia cantik, Akmal. Bahkan wajahnya adalah fotokopian dari wajahmu." Mulutku sibuk berbicara sendiri.


*


" Bunda, huuu.." El menangis setelah pulang bermain.


" Kenapa sayang?" Aku memeluk putri semata wayangku.


" El mau ayah, bunda!" Ucapnya menangis tersedu-sedu.


Aku terdiam tidak tahu harus menjanjikan apa lagi pada El. Kurasa ia sudah hapal dengan semua alasan yang ku buat.


" Bunda, kapan ayah datang?"


" Berdoa ya." Ucapku sambil mengelus pucuk kepala El yang berambut lebat persis seperti Akmal.


Kini usia El sudah delapan tahun. Ia kerap menangis saat pulang bermain karena selalu di ejek oleh teman-temannya karena tidak mempunyai ayah. El juga sering memaksaku untuk pergi ke pasar untuk membeli ayah, ia ingin hidupnya sama seperti teman-temannya yang lain. Sederhana sekali pemikiran anak seperti El.


El, andai hidup semudah itu tentu bunda tidak akan sekuat ini sekarang.


" Maafin bunda ya El, karena belum bisa menghadirkan ayah di dalam keluarga kita." Hatiku selalu sedih kerap mengingat permintaan putri semata wayang, buah cintaku bersama Akmal.


Aku memperhatikan El yang sedang makan buah semangka, buah kesukaan Akmal. Dulu setiap kami akan pergi kedanau pasti ia akan membeli bua semangka sebanyak sepuluh buah pada abang-abang penjual rujak. Dan kini El tak pernah melewatkan makan semangka sepanjang hari. Sampai aku rela membeli kulkas seken agar semangka yang ki beli bisa tahan lebih lama, hanya demi El dan buah favoritnya.


" Kenapa lagi dengan El?" Nenek menghampiriku yang sedang termenung di depan televisi.


" Biasalah nek, pengen punya ayah." Sahutku getir.


" Kenapa kamu gak nikah aja lagi? Yang mau denganmu itu banyak." Ucap nenek lagi.


" Apa mereka juga akan sayang pada El dan nenek?" Aku balik bertanya.


" Kau tak perlu memikirkan nenek. Nenek sudah tua, paling sebentar lagi juga masuk tanah." Ucap nenek asal.


" Nenek.." aku membulatkan mataku.


Nenek tidak perduli beliau hanya terkekeh melihat aku yang sedikit marah karena ucapannya.

__ADS_1


" Ayahnya El penyuka semangka?" Tanya nenek sambil memperhatikan El yang mulai basah karena air semangka.


Aku termenung sejenak untuk mengenang masa-masa indah kami.


" Tiada hari tanpa semangka, nek. Setiap kencan ia selalu membawa semangka. Dan sekarang menurun pada El." Aku tersenyum bahagia karena El mewarisi sebagian dari Akmal.


" Apa kau masih cinta pada ayahnya El?"


" Dia cinta pertamaku, nek. Setiap malam aku merindukannya, setiap malam juga tak henti menyebut namanya dan menitipkan nama itu pada sang khalik agar hatinya tergerak untuk mencari kami.


Sudah sembulan tahun perpisahan kami, tapi namanya begitu kokoh tertanam di lubuk hatiku. Nenek ada obat supaya aku bisa melupakannya?"


" Kau pikir nenek dukun?"


" Mana tahu."


Kami tertawa bersama hingga El heran melihat nenek dan bundanya twrtawa dengan kuat. Hal yang jarang sekali terjadi padaku.


Ia menghampiri kami berdua. Bagi El, nek Aminah adalah keluarga kami. Ia sangat menyayangi nek Aminah meski tidak ada aliran darah di tubuhnya.


" Nek.." panggil El.


" Hm?"


" El mau punya ayah." Rengeknya.


" Besok kita buat ayah,ya. Besok nenek beli tepung." Ucap nenek seperti biasa.


" Iya." Jawab nenek sambil melirik ke arahku.


" Horee..." El bersorak kegirangan.


Ah. Nenek memang pandai mengalihkan pembicaraan.


Kini El sudah pergi bermain lagi. Anak-anak memang begitu, sebentar saja sakit hatinya setelah itu ia akan lupa dan bermain kembali. Andai dewasa bisa semudah itu?


" Sa, sudah sembilan tahun kau tak pulang kerumah orang tuamu. Kau tak rindu?"


" Rindulah nek. Tapi aku takut jika kepulanganku akan memberi luka baru pada El." Jelasku.


" Maksudmu?"


" Aku takut jika nanti kedatangan aku dan El tidak diterima oleh ayah dan ibu. Aku juga takut nek, jika nanti akan melukai El. El tidak salah nek, El itu suci. Yang salah adalah perbuatan aku dan ayahnya El. Sudah cukup bagi ku nek, karena selalu membuat El susah. Aku belum berhasil membuat El bahagia." Lagi-lagi aku menuangkan segala curahan hatiku pada nek Aminah.


Nek Aminah seperti mengerti dengan perasaanku. Ia mengusap punggungku berkali-kali.


*


Setelah kelahiran El delapan tahun lalu, kini untuk yang kedua kalinya ibu hadir melalui mimpi.


" Ada apa dengan bu? Apa ibu sedang sakit?" Aku mulai gelisah.


Ya Allah...apa aku adalah anak durhaka karena tidak pernah mengunjungi ibu?

__ADS_1


Lagi-lagi air mata menemani malamku. Aku seperti tidak sabar untuk menunggu pagi. Ya, apapun yang terjadi hari ini aku harus pulang kerumah ibu. Jika nanti mereka menolak kedatanganku, setidaknya aku bisa tahu kabar mereka baik-baik saja.


Pagi-pagi sekali aku sudah menyusun beberapa pasang pakaian ku dan El ke dalam tas. Aku juga sudah masak untuk nek Aminah.


" El, bangun yuk!"


" Bunda ini kan masih pagi. El masih ngantuk." Seperti biasa, El sangat susah untuk bangun.


" El, nantu kita ketinggalan bus." Ucapku lirih.


Mendengar kata bus, El bangun dari tidurnya, " kita mau kemana bunda? Mau jumpa ayah?"


" Iya." Sengaja aku berbohong agar El segera mandi dan tidak banyak bertanya lagi.


" Hari ini, El akan bertemu dengan ayah.. El senang sekali.. akan ku peluk dan akan kucium wajah ayahku..." El bernyanyi dengan lagu hasil karangannya di kamar mandi.


" Kamu bohong lagi sama El?" Tanya nenek.


" Nek, hari ini aku akan pergi ke kampung orang tua ku. Entah kenapa tadi malam ibu datang lagi dalam mimpi. Wajahnya murung sekali. Aku jadi kepikiran, takut ibu sakit." Ucapku.


" Pulanglah! Hati-hati dijalan. Sampaikan salam nenek buat ibu dan ayahmu."


Sebelum pergi aku memberikan uang seratus ribu rupiah untuk nek Aminah.


" Ini untuk nenek, maaf aku cuma bisa ngasih segitu."


" Ini untuk apa? Kamu gak perlu mikiri nenek. Nenek masih punya duit buat makan. Yang penting kalian sampai dengan selamat dan bisa bertemu dengan keluargamu. El?" Nenek menolak uang pemberianku, ia malah balik memberikan uang pada El. El bersorak gembira. Dasar El!


" Kini kami suda berada di bus, El sudah tertidur lelap. Bersyukurnya aku, walaupun El tidak pernah pergi kemana-mana, namun ia sama sekali tidak mabuk.


Aku teringat saat berdua dengan ibu. Rasa rinduku begitu kuat. Hingga rasanya aku tidak sabar untuk segera tiba di kampung halaman ku.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam akhirnya kami tiba di terminal bus. Butuh ojek agar bisa sampai kedalm gang rumah kami.


Aku menyempatkan sebentar untuk membeli oleh-oleh. Rasanya aku tidak sabar memandang wajah-wajah yang ku rindukan tertawa menyambut kedatangan kami.


" Mbak, sudah sampai." Pak ojek memberhentikan kami di sebuah rumah yang tampak mulai berubah.


" Ini benaran alamtnya pak?" Tanyaku bimbang.


" Iya mbak."


Akhirnya aku turun dan membayar ojek yang kami gunakan.


" Bun, kita dimana sih?" El berbisik padaku. Sepertinya El tahu yang kurasakan saat ini.


Aku masih ragu untuk berjalan memasuki halaman rumah ini. Rumah ini sudah banyak berubah sejak kepergian ku sembilan tahun lalu.


" Bun, sampai kapan kita berdiri disini? El capek bun. Kaki El pegal." Rengek putri semata wayang ku.


Bismillahirrahmanirrahim...


Apakah Salsa akan bertemu dengan orang tuanya?

__ADS_1


__ADS_2