
Semua dewan guru saling pandang.
" Salsa memang pingsan saat mengikuti pelajaran olahraga, tapi..." Pak kepala sekolah menjeda ucapannya.
" Tapi apa pak?" Ibu seperti tak sabar menunggu penjelasan yang akan keluar dari mulut pak kepala sekolah.
Aku semakin menunduk tak berani menatap siapa pun. Hatiku hancur karena melihat kebingungan ibu. Hatiku hancur karena sudah melempar kotoran di wajah ibu.
" Salsa hamil,bu.."
Dan akhirnya... Kata-kata yang menakutkan keluar bebas dari mulut pak kepala sekolah.
" Tidak mungkin pak, tidak mungkin... Anak saya tidak mungkin hamil..."
Suara tangisan ibu memenuhi ruangan UKS ini.
Dan hari ini aku adalah anak yang berhasil menabur luka di hati ibu...
Ibu... Maafkan aku.
Aku berjalan tertatih mendekati ibu.
Ibu masih meraung, beberapa guru mencoba menenangkan ibu.
" Ibu...." Panggilku.
Ibu seketika terdiam. Ia menatapku dalam namun tatapannya kosong.
" Ibu..." Aku bersujud mencium kaki ibu. Tangisku pecah.
Buk Fatimah berulangkali mengusap bahuku.
" Ibu, maafkan aku." Ucapku pelan.
Setelah ibu sedikit lebih tenang, pak kepala sekolah kembali berbicara,
" Dengan berat hati kami mengeluarkan Salsa dari sekolah buk. Kami tidak ingin sekolah kami di pandang negatif karena kehamilan Salsa." Ucap pak kepsek.
Ibu hanya terdiam, namun matanya tak berhenti mengeluarkan air mata. Sesekali ia mengusap.
Tanpa kata ibu menggandeng tangan ku keluar dari ruangan ini.
Sekolah ini sudah sepi, semua siswa dan siswi sudah kembali kerumahnya masing-masing.
Aku segera mengambil tas ku dikelas. Sesak dadaku memandang kelas ini. Esok tak kan lagi ada gelak tawa yang memenuhi gendang telingaku. Dengan langkah berat aku kembali mendatangi ibu. Ibu menggandeng tanganku menerobos derasnya air hujan. Badan kami sudah basah. Bahkan kini aku mulai menggigil kedinginan.
Butuh waktu lima belas menit kami berjalan dibawah guyuran air hujan. Akhirnya kami sampai di rumah sederhana milik ibu dan ayah.
Ayah dan Zaskia sudah menunggu kedatangan kami berdua.
" Apa yang terjadi?" Tanya ayah penasaran.
Ibu tak menjawab pertanyaan ayah, yang ibu lakukan segera masuk kekamar mandi. Sedangkan aku duduk di dapur menunggu ibu siap mandi.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, akhirnya ibu selesai mandi.
Entah apa yang dilakukan ibu di dalam sana.
__ADS_1
*
Selesai mandi aku tak berani keluar dari kamar. Aku ketakutan.m hingga terdengar suara Zaskia dari luar kamar.
" Mbak di panggil ibu dan ayah." Teriak Zaskia dari luar.
Aku termenung sejenak. Bingung juga bimbang melanda hatiku.
Dengan langkah berat ku arahkan kaki menghadap ayah dan ibu.
Ibu duduk disamping ayah dengan wajah sembab. Matanya juga tampak bengkak.
Ada garis kecewa dan luka yang terpancar dari wajah ibu. Sementara ayah?
Ah, aku tak pandai membacanya.
" Duduk!" Perintah ayah.
Kaki ku gemetaran, ada rasa ketakutan yang menyerangku begitu hebat.
" Akmal, kenapa aku harus menghadapi ini sendirian?" Teriakku dalam hati.
" Sa, sejak siang tadi ibu mu tak berbicara sepatah kata pun. Hanya air matanya yang tidak berhenti menetes. Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya ayah menginterogasi aku.
Apa yang harus ku jawab? Haruskah aku bilang pada ayah jika aku adalah penyebabnya?
Aku hanya mengurut keningku. Aku capek berada di situasi sebagai tersangka.
Ada jeda diantara kami bertiga. Aku menatap ibu, meminta pertolongan pada wanita berhati malaikat ini. Namun ia hanya menatapku dingin bahkan tanpa ekspresi sehingga menambah kebingungan ayah.
" Bu," ayah mencoba membujuk ibu.
" Yah...Salsa..." Ibu kembali terisak.
Ayah memandang aku dan ibu bergantian.
" Cerita ada apa sebenarnya?"
" Salsa hamil." Jawabku spontan.
Ya aku bertekad hari ini, jika berani berbuat berarti harus berani mengakui.
" Apa? Jangan bercanda,Sa.." ayah berusaha menolak suatu pembenaran yang keluar dari mulutku.
" Salsa hamil,yah.. dan hari ini Salsa di keluarkan dari sekolah." Bibirku bergetar mengakui ini semua.
Wajah ayah berubah pitam. Wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Menakutkan!
Ayah mendekatiku, kini wajahku dan wajah ayah hanya berjarak lima senti. Tangan ayah memegang rahang ku dengan keras,
" sakit yah.." aku merintih kesakitan.
" Sakit?" Tanya ayah geram. " Kalau ini bagaimana?" Cengkraman tangan ayah semakin menguat.
" Ampun ayah..!" Rintihku tak berdaya. Aku seperti kehabisan napas.
" Berhenti yah!" Jeritan ibu membuat ayah melepaskan tangannya dari rahangku.
__ADS_1
" Dasar binatang! Sekali sampah tetap saja sampah. Kupikir aku membawa mu kerumah ini agar kau bisa menjadi mutiara ,nyatanya kau sama seperti ibumu, sampah!" Ayah mendorong badanku hingga aku mundur menjauh darinya.
Satu pernyataan yang mengejutkan dari mulut ayah. Ibuku seorang sampah?
" Dari awal aku tak setuju kau mengadopsi anak ini, asal usulnya saja tidak jelas, dan sekarang kau lihat ia melempar kotoran di wajah kita." Ucap ayah setengah berteriak.
" Aku lelah bekerja demi dia agar jadi orang, meski ia bukan darah daging kita bu, tapi... menjijikkan!" Ayah meludah tepat di wajahku.
Aku mengusap ludah yang menempel di wajahku. Sakit!
" Aku tak sudi melihat wanita murahan ini. Usir dia dari sini!" Hardik ayah.
Setelah puas dengan amarahnya ayah pergi keluar disusul dengan deru motor tuanya meninggalkan rumah ini.
" Ibu... Siapa aku sebenarnya?" Tanyaku melemah.
Aku lelah ya Allah...
" Jangan pikirkan kau siapa, aku ibumu." Ucap ibu pelan tanpa memandangku.
Kini ibu bangkit dari duduknya dan masuk kekamarku. Aku mengikutinya dari belakang. Ia memgeluarkan tas besar dari dalam lemari. Ia juga mengeluarkan semua pakaian ku yang tersusun rapi diilemari dan memindahkannya kedalam tas besar.
" Ibu tahu siapa ayahmu. Kau tak aman berada disini. Sesuai perjanjian ibu dan ayah dulu, jika sesuatu terjadi padamu, maka..." Ibu seperti tak sanggup melanjutkan perkataannya. Sesekali ia mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi tuanya.
" Maka?" Aku penasaran dengan kalimat lanjutan ibu.
" Maka kau harus pergi dari rumah ini." Jawab ibu seraya terisak.
" Tapi aku akan kemana bu?" Aku mulai panik.
Bodoh sekali aku, tidak berpikir sebelum bertindak. Setelah semua hancur lalu aku bisa apa?
*
Kini aku dan ibu sudah berada di bus. Aku tidak tahu ibu akan membawaku kemana.
" Aku pasrah ya Rab, aku terima semua takdirmu dengan ikhlas."
" Bu, bisakah sedikit membuka cerita tentang hidupku?"
" Untuk?"
" Aku sudah besar,bu. Apa yang dikatakan ayah tadi benar?" Tanyaku menggebu-gebu.
" Siapa orang tua kandung ku bu?" Tanyaku lagi dengan wajah memelas berharap ibu akan menceritakan perjalanan masa kecil yang tidak ku ketahui.
" Memang betul kau bukan anak kandung ibu, tapi demi Allah ibu tulus menyayangi mu. Dulu sekali ada seorang perempuan bernama Sinta, ia seorang wanita malam. Ia penjaja cinta. Ia hamil tanpa tahu suami, lebih mirisnya lagi ia tidak tahu siapa ayah bayi yang dikandungnya. Hingga suatu hari setelah ia melahirkanmu, Sinta sakit. Ia terkena HIV. Sinta datang pada ibu dan menitipkan kau pada ibu."
" Kenapa harus ibu? Apakah orang tua ku tidak punya saudara?"
" Tidak. Ibumu hanya sebatang kara. Ia menitipkanmu pada ibu dan ayah karena selama lima tahun pernikahan ibu belum juga hamil. Ayah sempat menentang permintaan Sinta. Tapi ibu bersikeras merawat mu. Ibu yakin kamu akan menjadi mutiara buat ibu." Ibu kembali sesenggukan.
" Apakah ibuku masih hidup?"
" Sinta meninggal setelah menitipkan kamu." Ucap ibu lagi.
" Jadi hari ini kita akan kemana bu?"
__ADS_1
Ibu kembali menghela napas, ia menatapku sebentar, " ke kampung ibumu."