
Kini mereka berdua mau berangkat. Setelah mecium pipiku El segera masuk ke dalam mobil. Sementara Akmal mencuri kesempatan dalam kesempitan. Sebelum pergi, kami terlibat ciuman panas yang memabukkan
Dasar Akmal!
Aku melambaikan tangan kepada kedua pujaan hatiku.
Ternyata benar, akan ada pelangi setelah turun hujan. Begitu pun dengan kehidupanku, dari sedih sampai sekarang aku sabar menjalani dan sekarang faktanya aku dan El bahagia meski melalui proses yang panjang.
Aku mulai mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga semestinya. Kehidupan yang aku impikan sejak dulu, hidup di bawah naungan tulang punggung. Dan sekarang aku punya teman untuk berbagi keluh kesah juga bahagia.
Tidak butuh lama untuk mengerjakannnya, karena rumahku yang hanya sepetak saja.
Kini aku bisa beristirahat. Ku baringkan tubuhku di kasur tipis milikku, entah mengapa aku teringat kejadian tadi malam.
Aku mencoba mencubit tangann ku, " aaauwww, sakit." Celoteh ku dalam hati.
" Kalau sakit itu tandanya aku tidak mimpi.
*
Tidak terasa usia pernikahanku dengan Akmal sudah berjalan tiga bulan. Har ini tepatnya hari Minggu, aku dan Akmal sedang bersantai menikmati udara pagi. Sementara El sudah entah kemana bermain dengan teman-temannya.
" Sayang, ada yang ingin aku kasih sama kamu." Akmal memulai pembicaraan pagi kami.
" Ngasih apa, yah?" Ayah, adalah panggilan sayangku untuk Akmal, seperti El.
Akmal memberikan sebuah amplop cokelat padaku.
" Apaan sih? Aku sedang tidak ulang tahun, yah." Ucapku manja sembari menerima amplop cokelat dari tangan Akmal.
" Buka deh." Seru Akmal menggoda. Ia tersenyum,
Tanpa membantah aku mulai membuka amplop cokelat itu
Dada ku berdebar, karena penasaran dengan isinya.
Sebuah gambar rumah mewah berbentuk minimalis, dengan dinding berwarna favorit ku dan Akmal, putih kombinasi hitam. Dibawah gambar rumah ada sebuah tulisan ( Rumah untuk bunda dan El.)
Aku mencubit pipiku, sakit rasanya. Akmal tertawa geli melihat ekspresi ku.
" Suka?" Tanya Akmal.
__ADS_1
" Serius?" Aku malah balik bertanya.
" Seribu rius." Ucap Akmal, tangannya mencolek hidungku pelan.
Ah, rasanya aku seperti es krim yang di biarkan di udara terbuka, aku meleleh.
Ingin rasanya aku bersorak-sorai bak anak kecil, namun yang ada malah air mata yang menetes.
" Kok nangis?" Akmal mengusap wajahku yang basah.
" A-aku... Berasa mimpi, yah." Ucapku malah semakin sesenggukan.
" Kami gak mimpi, bun. Ini hadiah buat kamu yang sudah merawat anak kita dengan penuh kasih sayang. Kalau bukan kamu bundanya, mungkin aku gak bisa melihat wajah El sekarang, dan kalau bukan kamu bundanya mungkin kamu sudah menikah dengan pria lain. Dan kalau bukan kamu bundanya, mungkin aku tidak akan mendapat kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa ku karena sudah menelantarkan kalian berdua. Kamu ibu hebat, bun. Aku bangga sudah menjadi bagian dari hidup kamu." Bisiknya lembut.
Hari ini air yang mengalir dari bola mataku adalah air mata kebahagiaan. Kebahagiaan yang di ciptakan oleh cinta pertama ku dan terakhirku, yaitu Akmal.
" Insya Allah, rumahnya akan selesai dua minggu lagi. Maaf kalau selama ini aku gak pernah cerita sama kamu, itu semua aku lakukan karena pengen kasih surprise ke kamu." Ucap Akmal lagi.
Ya Allah.. ternyata ini semua adalah buah dari kesabaran yang aku jalani dengan ikhlas.
*
Waktu pindah kerumah baru sudah tiba, kata ayahmya El tidak perlu ada yang dibawa, kecuali keperluan El, baju-baju kami saja karena rumah tersebut sudah di isi sebagian furniturenya. Akmal memang laki-laki luar biasa. Seperti biasa, nek Aminah menolak untuk ikut serta tinggal bersama kami.
" Kenapa nenek tak mau ikut dengan kami?" Tanya Akmal.
" Nenek sudah tua, tidak bisa bekerja apa-apa. Nenek takut hanya menyusahkan kalian."
" Nenek bicara apa sih?" Aku merangkul nenek penuh kasih sayang.
Setelah mengeluarkan jurus rayuan seribu maut akhirnya nek Aminah meluluh dan mau ikut bersama kali.
Ia berpamitan pada rumah peninggalan suaminya dan berjanji akan sering-sering datang kesini.
Setelah menempuh perjalanan dua jam setengah akhirnya kami tiba di sebuah kompleks perumahan. Untuk masuk di sini saja kita harus menunjukkan identitas.
" Haris begitu ya, yah?" Tanyaku pada Akmal.
" Kita kan orang baru di sini. Nanti kalau mereka sudah mengemal kita ya tidak perlu lagi." Akmal menjelaskan padaku.
" Yah, rumah kita yang mana sih?" El tampak tidak sabaran ingin melihat rumah barunya.
__ADS_1
" Yo sabar toh El." Nek Aminah mengusap kepala cucunya dengan lembut. Beliau selalu sabar menghadapi El. Padahal tidak ada ikatan darah yang mengalir diantara mereka.
Mobil Akmal berhenti di depan sebuah rumah. Aku tidak tahu mau berkata apa lagi saat Akmal mengajakku untuk turun.
Mataku mulai mengembun, pandangan ku mulai samar karena air mata yang mulai tergenang di kedua kelopak mataku.
Akmal menggandeng tanganku. El bersorak-sorai gembira. Sementara nek Aminah kulihat sedang sibuk mengusap sudut matanya. Mungkin beliau sama sepertiku, masih tidak percaya akan tinggal di rumah seperti ini.
Akmal membuka pintu rumah yang terkunci, ruangan pertama yang kami temui adalah ruang tamu yang berisi sofa mewah. Sudah ada foto kami terpajang disana, foto kami bertiga. Kemudian Akmal menunjukkan kamar El, didalam kamar El sudah tersusun tempat tidur impian El dengan berbagai macam boneka yang tersusun rapi. Ada meja belajar berwarna pink. Dan khusus kamar El didesain dengan warna serba pink.
" Ayah, ini kamar El?" El teriak dan segera memeluk ayahnya.
" Terima kasih ya, ayah..." El langsung sibuk bermain dengan boneka dikamar yang dingin ini karena di lengkapi oleh AC.
Akmal juga menunjukkan kamar untuk nek Aminah, ruangan ini di beri AC agar nek Aminah lebih nyaman dan toilet juga ada didalam.
Nek Aminah berkali-kali mengucap terima kasih pada suamiku.
Kini tinggal aku dan Akmal. Ia membawaku kekamar pribadi kami. Kamar utama di rumah ini.
Akmal sengaja menutup mataku.
Dan... Suprise...
Kamar dengan ranjang besar menambah kesan mewah pada kamar ini.
" Suka?" Tanya Akmal.
Aku hanya mengangguk bahagia. Aku memeluk erat Akmal, sebagai tanda terima kasih.
Tapi arti pelukanku di salah artikan oleh Akmal, ternyata aku membangunkan singa tidur.
Ia membalas pelukan ku erat, bahkan bibirku kini menjadi sasaran cumbuan Akmal.
Siapa sangka dari pelukan erat kini hubungan itu berlanjut kehubungan suami istri. Untung saja Akmal sudah mengunci pintu.
Setelah cukup lama dan puas, akhirnya kami tergolek lemah.
" Sekarang kita gak takut lagi di lihat sama El." Bisik Akmal di telingaku.
Aku mencubit pinggang Akmal cukup keras.
__ADS_1
" Kita bisa bebas sekarang, sayang...."