
Jarum jam mulai berputar, namun mataku tak juga ingin terpejam. Malam ini terdengar lolongan anjing yang saling bersahutan. Sungguh mencekam malam ini.
Karena tidak bisa tidur akhirnya aku memutuskan pindah kekamar El.
El sudah terlelap dalam mimpi hingga tak sadar aku menaiki ranjangnya.
Menatap wajah El, sama seperti menatap wajah Akmal. Aku mengusap wajah lembut milik El, " maafin bunda, ya. Bunda belum bisa bahagiain kamu." Menetes air mataku melihat putri sata wayangku yang ikut menanggung kesedihan yang ku derita.
*
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kehamilanku semakin membesar, bahkan sudah mendekati bulan. Kisah rumah tanggaku masih sama seperti bulan-bulan yang lalu. Akmal belum juga menjadi milikku seutuhnya. Aku dan mama mertua masih saling merebut perhatian Akmal. Namun tetap juga aku yang kalah karena mama mertua selalu mengancam akan bunuh diri jika Akmal lebih memilih hidup dengan wanita sepertiku.
Dan setelah proses yang panjang, kini aku sudah ada di tengah-tengah keluarga besar Akmal termasuk ada ayah dan Zaskia. Mereka memandangku penuh sinis. Aku duduk berdua dengan El, anakku ini tampak ketakutan. Aku bisa tahu karena El memegang tanganku dengan erat. " Sabar ya El, kita harus hadapi mereka." Ucap batinku lirih.
Sementara Akmal duduk jauh di depanku bersanding dengan mamanya. Aku muak melihat pemandangan ini. Setelah sekian lama berkorban, sepertinya hari ini aku akan kalah telak.
" Langsung saja kita mulai.." wanita paruh baya yang sombong itu mulai berbicara. Seketika suasana menjadi hening, aku rasa semua yang hadir di sini begitu tak sabar menunggu mama mertua melanjutkan pembicaraannya.
" Salsa, seperti yang kamu tahu, saya tidak pernah menyukaimu sampai detik ini. Saya juga tidak pernah memberikan restu pada kalian berdua. Bahkan saya tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu saya. Saya juga tidak pernah menganggap anak itu sebagai cucu saya. Akmal anak bungsu saya, ia layak mendapat wanita yang lebih dari kamu. Akmal sudah sepakat akan menikah dengan Zaskia, dan saya yakin Zaskia adalah wanita yang cocok untuk mendampingi anak saya. Sekarang pilihannya ada pada kamu, mau di madu atau memilih mundur dari kehidupan anak saya." Ucap mama mertua dengan pongahnya.
Aku menatap Akmal yang hanya bisa menunduk menatap lantai istana ini yang mengkilap.
Manik-manik di mataku seperti berebutan untuk turun. Kini hatiku bukan sakit lagi tapi hancur karena perkataan mama mertua yang bak bom meledak menyakitiku tanpa ampun.
Aku tak kuasa menahan air mata ini. Aku menangis di depan mereka. Aku menangis di depan orang-orang yang tidak sedikitpun punya hati untuk kami. Aku menangis di depan orang-orang yang tidak menerima kami.
Aku mencoba menarik napas dan menghembuskan berharap rasa sesak di dada sedikit saja berkurang.
Dengan bibir bergetar, " Akmal semua keputusan ada di tangan kamu. Aku hanya ingin mendengar keputusan dari mulut kamu sendiri. Jika kamu minta aku mundur tentu aku akan mundur Akmal." Ucapku sesenggukan.
__ADS_1
Akmal masih diam di ujung sana. Entah apa yang di pikirkan oleh suamiku itu.
" Ayo Akmal, tentukan pilihan mu dari sekarang." Suara ayah memecah keheningan di ruangan ini.
Aku memandang ayah, berharap ia menatap mataku. Tega sekali ayah berkata seperti itu di depanku. Apa karena aku bukan darah dagingnya hingga ia bisa berbuat seperti ini padaku.
" Akmal berbicaralah! Bukankah kamu sudah menerima keputusan ini?" Mama mertua mulai mendesak.
Akmal mengangkat wajahnya, ia menatap kami satu persatu. Tiba denganku, pandangan kami bertemu, hingga ia membuang pandangannya ke lantai.
" Sa..." Bicaranya pelan, seperti tercekat.
" Ayo Akmal, jangan membuang waktu kami." Ucap kak Selvi sinis.
" Salsabila.. aku tidak bisa hidup bersama kamu lagi, aku ceraikan kamu talak satu. Dan mulai hari ini detik ini kamu bukan istri ku lagi." Ucapnya keras memenuhi ruangan megah ini.
" Yes!" Kudengar suara bahagia Zaskia dan ayah saat Akmal selesai menjatuhkan talak padaku.
" Sa, meski kamu bukan istriku lagi, tapi kamu berhak atas rumah yang pernah kita tempati bersama. Itu rumah buat kamu dan El, juga... Buat calon anak lita yang belum lahir. Aku dan mama sudah sepakat tidak akan mengutak ngatik rumah itu. Dan aku juga akan memberi nafkah buat El dan calon anak kita yang belum lahir sebesar lima juta perbulan. Ku harap kamu tidak sakit hati dan tidak keberatan atas pilihan hidup yang ku jalani." Ucapnya sendu.
Setelah beberapa menit tidak ada yang membuka suara, kupikir sudah selesai acara hari ini jadi aku memutuskan untuk pergi dari sini.
" Kalau sudah selesai, saya mau permisi pulang." Aku berdiri dan segera menggandeng tangan putriku.
" Sa, biar aku antar." Akmal berdiri, di tangannya sudah ada kunci mobil.
" Maaf tidak perlu repot, saya bisa sendiri." Aku bergegas keluar dari istana neraka. Ku pastikan ini terakhir kali aku menginjakkan kaki disini. Tidak akan ada yang kedua atau pun yang ke tiga.
Aku menghentikan sebuah mobil, butuh waktu dua jam untuk sampai di rumah. Jangan tanya keadaanku, aku hampir saja tidak sanggup untuk melangkahkan kaki, tapi demi El dan di depan El aku harus benar-benar kuat. Aku juga harus bersandiwara didepan El, bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
El tertidur dalam pelukanku. Wajah polosnya membuat aku semakin merasa bersalah.
" Bunda pastikan sayang..kamu akan bahagia selamanya meski tanpa seorang ayah pun.
*
Aku resmi menyandang status janda, meski sesunggunya wanita hamil tidak bisa bercerai, tapi aku tidak mau ambil pusing. Aku pasrah pada mereka yang beruang.
Hari ini aku akan cek rutin kandungan ke klinik langganan kami. Cek kali ini berbeda dengan bulan sebelumnya. Dulu Akmal masih setia mengantarku kontrol, yang masih aku ingat ia tertawa bahagia saat dokter Ely menyebutkan jenis kelamin anak kami laki-laki. Akmal merasa hidupnya sempurna. Tapi itu rupanya hanya angan-angan saja. Nyatanya meski aku berhasil memberinya anak, ia tetap tidak bisa berdiri di sampingku sebagai suamiku. Ternyata ia tidak lama di pinjamkan Allah untukku.
Itulah jodoh, tidak bisa di tebak. Meski aku mengejarnya sampai ketengah lautan, meski aku meminta ia kembali padaku, meski aku menangis darah sekalipun, jika tidak jodoh ya tidak jodoh. Dan aku harus terima konsekuensi ini.
" Buk, sudah sampai." Suara pak supir mengejutkanku.
" Eh.. iya pak." Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribuan,
" Kembalinya untuk bapak saja." Jawabku tersenyum ramah.
Dengan perut membesar aku masuk kedalam klinik. Menunggu antrian.
" Ibu Salsabila.."
Ah, akhirnya....
Aku menghirup napas lega. Bertemu dokter Ely membuat jantungku dag dig dug. Dokter Ely adalah temannya Akmal, ia banyak cerita tentang Akmal padaku. Pasti ia akan merasa heran jika aku datang ke sini hanya sendiri.
Dan...pintu di buka. Ada senyum manis dokter Ely.
" Hai Salsa.... Mana Akmal?....
__ADS_1