Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 39


__ADS_3

Itulah jodoh, tidak bisa di tebak. Meski aku mengejarnya sampai ketengah lautan, meski aku meminta ia kembali padaku, meski aku menangis darah sekalipun, jika tidak jodoh ya tidak jodoh. Dan aku harus terima konsekuensi ini.


" Buk, sudah sampai." Suara pak supir mengejutkanku.


" Eh.. iya pak." Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribuan,


" Kembalinya untuk bapak saja." Jawabku tersenyum ramah.


Dengan perut membesar aku masuk kedalam klinik. Menunggu antrian.


" Ibu Salsabila.."


Ah, akhirnya....


Aku menghirup napas lega. Bertemu dokter Ely membuat jantungku dag dig dug. Dokter Ely adalah temannya Akmal, ia banyak cerita tentang Akmal padaku. Pasti ia akan merasa heran jika aku datang ke sini hanya sendiri.


Dan...pintu di buka. Ada senyum manis dokter Ely.


" Hai Salsa.... Mana Akmal?" sapa dokter Ely dengan ramah.


Aku membalas senyum manis dokter Ely. Kami saling bersalaman.


" Hai dok... Sedang sibuk kerja." Jawabku kikuk. Berbohong demi kebaikan mungkin jauh lebih baik.


" Kamu kurusan ya?" Dokter Ely menatapku heran.


" Masa sih dok?" Aku pura-pura gak percaya. Sejujurnya aku merasakan berat badanku yang drastis turun. Bahkan kini tanganku persis hanya tulang, Efek terlalu banyak pikiran.


Tidak mau membuang waktu Dokter Ely segera melakukan pemeriksaan padaku.


" Gerakannya melemah, kamu terlalu stres sayang." Dokter Ely menghentikan gerakannya di perutku.


" Apa Akmal dan keluarganya menyakitimu? Jika iya, tolong abaikan mereka sejenak saja. Pikiran kamu harus fresh, hanya tinggal menunggu dua bulan saja loh. Kamu juga harus menjaga asupan makan, jangan sering tidak makan hanya karena tidak selera. Ingat, bayimu tergantung padamu. Sedang mereka?"


Perkataan dokter Ely memang benar, kesehatan bayiku ada di tanganku sendiri, bukan di tangan mereka para pembenci ku.

__ADS_1


setelah selesai melakukan pemeriksaan aku berniat untuk tidak langsung pulang. Aku ingin berjalan-jalan di mall. Mungkin sedikit berbelanja, bukankah sudah lama aku tidak menyenangkan diriku sendiri.


Aku sudah masuk kedalam sebuah mall, aku mulai berkeliling mencari-cari, barang apa yang ku butuhkan saat ini? Aku memutuskan masuk kesebuah tempat penjualan sandal dan sepatu wanita. Aku mulai memilih, sandal apa yang kubutuhkan saat ini. Saat sedang asyik memilih, tanpa sengaja telingaku mendengar sebuar suara berisik dari arah belakang. Sepertinya mereka sedang sibuk memilih barang yang mereka inginkan.


Seperti ada pertengkaran kecil diantara mereka.


Yes. Akhirnya aku sudah menemukan sandal yang sesuai dengan kebutuhan ku. Pilihanku jatuh pada sebuah sandal tipis dan ringan berwarna hitam. Sangat manis terpasang di kakiku.


Saat akan berbalik tak sengaja mataku Menatap sepasang kekasih yang sedang ribut karena pilihan mereka.


Ah. Jantung ku seperti ingin meledak. Ternyata sepasang kekasih itu adalah... Akmal dan Zaskia.


" Bunda..."


Akmal ternyata melihatku juga. Panggilan itu.. sumpah, Aku rindu!


Akmal mendekati, " bunda ngapain disini sendirian?" Akmal menyapaku dengan ramah. Namun, aku belum bisa seperti Akmal. Luka hatiku belum sembuh. Ternyata semudah itu Akmal move on dari gagalnya pernikahan kami.


Di luar dugaan ku, Zaskia datang menghampiri Akmal. Ia langsung memegang tangan Akmal seperti ingin pamer kemesraan padaku.


" Mbak mau gangguin calon suami aku?" Ucapnya sinis.


Mata Akmal membesar, mungkin ia terkejut mendengar kata-kata sindiran yang ku tujukan untuk mereka berdua.


" Mau marah?" Aku menantang mereka berdua.


" Punya mulut itu di jaga ya, mbak." Zaskia marah, tangannya mulai ikut menunjuk-nunjuk wajahku.


" Punya harga diri di jaga ya... Biar gak suka sama suami orang. Ups.. ralat! Mantan orang." Aku tersenyum, berlalu meninggalkan mereka.


Tidak ada gunanya mengurusi mereka. Yang ada aku jadi sakit lagi. Sekarang kebahagianku, El dan calon bayiku lebih utama di bandingkan memikirkan perasaan mereka.


Selesai membayar belanjaan, aku bergegas pulang, takut El marah karena terlalu lama ku tinggal bersama nek Aminah.


*

__ADS_1


Kini aku mulai terbiasa menjalani hari-hari tanpa Akmal, sama seperti dulu. Jika dulu saja aku bisa kuat, lalu apa bedanya? Dulu aku hidup dari nol tanpa siapa-siapa, sekarang aku sedikit bernapas lega, meskipun anakku akan lahir kembali tanpa kasih sayang dari ayahnya, setidaknya nasibnya tidak akan sesedih El dulu. Setidaknya kami bisa tinggal di rumah nyaman, walau aku harus merelakan suamiku menikah lagi dengan adikku, lebih tepatnya bersama wanita pilihan mamanya.


Jika aku egois bisa saja aku meminta Akmal untuk memilih kami, tapi aku harus siap membawa El kembali hidup kejalanan. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku ingin El bisa hidup layaknya anak-anak yang lain. Aku juga ingin El mendapat fasilitas yang jauh lebih nyaman dibandingkan aku dulu. Bagiku luka perasaanku tidak masalah dari pada luka karena anakku kesusahan dan menderita.


Hati ini aku sudah mulai mengalami kontraksi. Beberapa perlengkapan sudah kupersiapkan. Aku juga sudah memberi pengertian pada El agar ia mau ku tinggal beberapa hari bersama nek Aminah. Aku meminta Feni untuk menemaniku, agar nanti ada yang mengurus bayiku dan menemaniku selama berada di klinik.


Aku juga sudah memesan taksi online.


Sakit yang ku rasa mulai terasa sering. Ini artinya persalinan tidak lama lagi akan terjadi.


Setelah taksi online pesanan ku datang kami pun segwra bergegas menuju klinik langgananku, dokter Ely.


Kami sudah tiba, beberapa perawat membantuku, mungkin mereka kasihan melihatku datang sendiri tanpa di dampingi oleh suami.


Dokter Ely tak lupa memberi semangat, hingga didetik terakhir aku akan melahirkan, ada sosok pria yang ku kenal. Akmal!


Ya, Akmal sedang berbincang dengan dokter Ely.


Darimana Akmal tahu aku disini? Siapa yang memberi tahu Akmal bahwa aku ingin melahirkan? Batiku sibuk meracau sendiri.


Dokter Ely dan Akmal mendatangiku, " Salsa, maaf saya yang memberi tahu Akmal bahwa kamu disini akan melahirkan."


Aku hanya mengangguk. Rasa mulas yang datang membuat aku tidak mampu untuk banyak berbicara.


" Kamu keberatan?" Tanya Dokter Ely merasa tidak enak.


" Kalian tidak sah bercerai, karena kamu sedang hamil." Jelas dokter Ely.


" Sah atau tidak itu tidak penting buat saya dok. Toh setelah anak ini lahir perceraian juga akan tetap terjadi. Saya rasa itu jauh lebih baik." Jawabku lemas.


Kini Akmal berdiri di atas kepalaku, dokter Ely dan beberapa perawat mulai memberi intruksi agar persalinan dapat berjalan dengan lancar.


Aku mulai mengejan dengan sekuat tenaga. Di Ejanan ketiga, terdengar suara tangis bayi memenuhi ruangan persalinan ini..


Ada rasa lega, karena aku berhasil mengeluarkan buah cintaku untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Ku lihat Akmal mengusap sudut matanya, mungkin ia terharu melihat perjuangan ku.


Akmal, lengkap sudah anak kita, ada El yang berjenis kelamin perempuan dan ada adiknya El yang berjenis kelamin laki-laki. Nikmat Tuhan mana yang ingin kau dustakan lagi?


__ADS_2