Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 7


__ADS_3

Jam di dinding sudah hampir pukul empat, " Sa, uda hampir siap nih, kamu buruan mandi dan shalat ya!" Teriak ibu dari luar.


Masak hari sudah selesai tinggal menunggu matang daging ayamnya saja. Dan kalau bagian bakar menbakar itu sudah pasti bagian ibu.


Aku segera mengambil handuk dan segera melaksanakan perintah ibu.


Tidak butuh lama untuk mandi sore ini. Terus terang, selama hamil aku sering kali menghindari air. Jika tidak ada yang tahu, aku pasti hanya pura-pura mandi saja.


Entah sampai kapan aku berperang dengan dinginnya air.


Selesai mandi tak lupa aku melaksanakan empat rakaat terlebih dahulu. Doa yang kupanjatkan hari ini adalah aku meminta agar Allah menggerakkan hati Akmal untuk kbali kesini, menghadapi masalah ini bersama-sama. Ya, hanya itu yang kupanjatkan saat ini.


" Ayah pulang.. ayah pulang.." Terdengar suara cempreng Zaskia menyambut ayah.


Dulu aku dan Zaskia selalu berebut untuk menyambut ayah, tapi sekarang untuk mendekat dengan ayah saja ada rasa takut yang membayangi.


Aku mengintip dari balik pintu kamarku.


" Salsa!"


Tanpa aku sadari ayah sudah berada didepan pintu kamarku.


" Ngapain ngintip?" Ayah menyodorkan tangannya.


Aku meraih dan mencium tangan ayah yang kasar penuh takzim.


" Kamu gendutan sekarang?"


" Eh em.. anu yah sekarang Salsa lagi doyan makan. Habis stres mikiri ujian sudah di depan mata." Aku berkilah.


Ayah mengusap pucuk kepalaku, " belajar yang pintar ya! Karena harapan ayah hanya ada di kamu dan Zaskia."


Setelah itu ayah berlali dari hadapanku dan masuk kekamar mandi.


" Ayah, maafkan anakmu ini." Ucapku dalam hati.


***


Makan malam pun sudah terlaksana.


" Alhamdulillah,nikmat sekali." Ayah mengucap syukur.


" Bu, besok masak kayak gini lagi ya!" Ucap Zaskia riang.


" Huuu, maunya." Ejekku.


" Doain ayah ya, biar punya rezeki cukup biar kalian bisa makan kayak gini terus." Ucap ayah.


Selesai makan ayah dan ibu pergi duduk di teras rumah, sedangkan aku masih membereskan sisa kami makan tadi.


Huft! Akhirnya selesai. Selama hamil ini terlalu banyak yang sakit. Bukan hatiku saja, badanku pun sering pegal-pegal, ingin rasanya ada yang memijat setiap malam. Tapi apa daya, aku hanya perempuan yang tidak punya suami.

__ADS_1


Ya Allah...berat, berat sekali aku melewati semua ini.


Aku memutuskan masuk kedalam kamar. Tak lupa mengunci pintu rapat-rapat agar tidak sembarangan orang bisa masuk kekamar.


Aku duduk di depan meja rias. Lagi-lagi aku memperhatikan wajahku yang semakin kumal. Bahkan jerawat mulai memenuhi area wajahku. Pantas saja seorang perempuan yang sudah menikah tak cantik lagi. Sekarang aku tahu jawabannya. Tapi bagaimana dengan aku? Bahkan statusku saat ini pun tidak jelas. Gadis tidak, janda juga bukan. Lalu sekarang aku hamil.


Ya Allah.. rumit sekali hidupku.


Aku kembali memandang testpack yang kusimpan di dalam buku tulis. Warna merah mulai memudar. Ah, memandang testpack ini saja membuat dadaku sesak. Kembali aku menyimpannya. Tak sedikitpun aku ingin membuangnya.


Malam semakin larut,namun mataku tak juga terpejam. Bayangan Akmal menari-nari dipelupuk mataku. Semalam bersamanya, seranjang dengannya, berbagi selimut dengannya bahkan menciptakan peluh yang bercucuran. Menikmati surga dunia dengannya untuk kesekian kalinya. Betapa indah saat itu. Kini dimana dia? Bahkan ia pari dari tanggung jawabnya. Apakah ia masih pantas untuk di cinta?


Kubuka buku diary ku.


Pekanbaru,14 maret 2023


Selamat datang malam,


Selamat datang gelap,


Tahukah kau tentang gelisahnya hatiku?


Tahukah kau tentang resahnya aku?


Dimana dia?


Belahan hatiku berada?


Kutitipkan salam rindu untuknya yang tak kutahu keberadaannya.


Akmal love salsabila.


Ku tutup buku mini milikku. Ada sedikit rasa ketenangan saat semua kucurahkan pada buku mini milikku. Aku menjamin rahadiaku padanya takkan bocor.


Aku merebahkan badanku di ranjang. Kutarik selimut menutupi separuh tubuhku yang membesar. Kupejam mata, hingga rasa datang hadir menggelitik netraku. Akhirnya aku tertidur dengan memendam rindu padanya sang pemegang hati, Akmal.


***


Sayup-sayup terdengar suara burung di pohon mangga dekat dengan jendela kamarku.


Mataku masih terasa berat untuk membuka secara sempurna, mungkin karena aku terlalu larut malam tidurnya.


Dengan niat yang penuh aku bangkit dari ranjang, tak lupa kuberesi isi kamarku. Buku diary, testpack kusimpan dengan rapi. Kubuka jendela kamarku, daun-daun masih dibasahi embun.


Semenjak hamil aku begitu sulit untuk bangun pagi. Entahlah, mungkin ini efek aku sedang berbadan dua. Begitu banyak hal-hal aneh yang kualami selama aku hamil. Mulai dari makanan yang tidak kusukai, aku susah bangun pagi, aku malas mandi dan masih banyak lagi hal aneh yang pelan-pelan aku pelajari sendiri. Kadang aku sudang nangis sendiri, kadang juga aku sudah tertawa bahagia sendiri. Yang jelas aku hampir gila karena semua ini.


Tok..tok..tok...


Pintu kamarku digedor sangat kencang. Pasti itu ulah Zaskia.


Dengan malas aku berjalan dan membuka pintu.

__ADS_1


Betul saja, wajah Zaskia menyembul di balik pintu.


" Mbak gak sekolah?" Ia menelisik penampilan ku.


" Sekolah." Jawabku singkat.


" Sekolah kok belum siap? Terlambat baru tahu." Ucap adikku berlalu meninggalkanku.


Huh! Tahu apa dia.


Dengan malas ku ambil handuk dan segera berjalan kekamar mandi.


" Ya Allah, kenapa sih aku haris mandi?"


Aku mulai membasuh wajahku pelan-pelan. Dinginnya air membuat tubuhku menggigil.


***


Selesai mandi aku berlari hati-hati masuk kekamar. Kulepas handuk yang menutup separuh tubuhku.


Ku tatap pantulan gambar di cermin. Ada sosok wanita belia dengan perut buncit.


Ya, semakin lama perutku mulai membesar. Terkadang sesekali aku merasakan ada yang bergerak, mungkinkah janinku mulai tumbuh? Aku mengusap perutku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Rasa keibuanku seperti muncul begitu menggebu-gebu.


" Salsa..."


Wajah ibu memucat berdiri dibalik pintu yang terkuak sedikit.


Dengan gerakan cepat aku berhasil mengambil handuk dan menutupkannya di bagian tubuhku.


" I..ibuu.." Aku gugup, bahkan aku menjadi kepanasan. Keringat jagung seperti bermunculan di wajahku.


" P-perutmu..?" Ucap ibu terbata-bata.


" Em.." aku dengan sigap mendorong ibu keluar dari kamar ku.


Ku kunci pintu rapat-rapat, meski ada panggilan ibu dari luar.


Secepatnya aku mengenakan seragam sekolah, jilbab lebar menghiasi kepala dan menutup separuh tubuhku.


Aku mematut tampilanku di cermin, siapa yang akan menyangka jika jilbab panjang ini hanya topeng yang menutupi aibku. Kini aku siap untuk berangkat kesekolah.


Pintu terbuka, dan ibu masih berdiri disana. Aku gugup, apa yang harus kukatakan padanya? Apakah perutku terlihat jelas di mata ibu?


" Ibu? Masih disini?"


" Perutmu?" Tanya ibu serba salah.


" Aku baik-baik saja,bu." Bohongku.


" Yakin?" Tanya ibu penuh selidik.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk,memastikan ibu agar tidak curiga. Dan aku merasa, insting seorang ibu mulai bekerja. Aku perlu waspada, setidaknya sampai aku bisa mengikuti ujian kelulusan.


Yuk tinggalkan jejak komentar ya.


__ADS_2