
Malam semakin larut, hanya ada lolongan anjing yang saling bersahut-sahutan.
" Akmal sedang apa kamu? Tahukah kamu, aku ketakutan malam ini? Tanpa kamu sadari, aku dan dede bayi akan menjadi seseorang yang kuat, pemberani dan bermental baja. Jangan pernah menyesal jika suatu saat ia tak mengakui mu sebagai ayahnya." Batinku sibuk meracau.
Setelah merasa lelah akhirnya aku tertidur sendiri, tepat jarum jam menuju angka tiga dini hari.
Sehebat ini perjuanganku buat anak kita, Akmal.
*
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Memasak ala kadarnya. Mencuci baju dan membereskan rumah seperti hal yang sering di lakukan ibu dulu.
Benar saja, masa sekolah adalah masa terindah yang tidak akan pernah terlupakan.
Apa aku menyesal dengan takdirku? Ya! Tentu saja aku menyesal. Bagaimana. Sayangnya ayah dan ibu pada saat itu. Bahkan ayah menggantungkan impiannya di pundak ku agar bisa mengangkat derajat keluarga. Nyatanya aku sama sekali tak bisa di andalkan. Pantas saja ayah kecewa.
Nenek Aminah menjemputku, ia memberikan aku sebuah karung besar dan sebuah kayu panjang dengan ujung seperti pancing. Katanya untuk memudahkan aku saat mengambil barang bekas.
Sehat-sehat ya,nek.
Kami berjalan menyusuri jalan raya. Kadang-kadang kami sudah membuka tempat sampah untuk mencari apa yang kami butuhkan.
Tak pernah terlintas di hidupku, jika suatu saat aku akan menjadi seorang pemulung.
Siapa yang tidak kenal dengan ku, Salsabila, siswi terpandai yang selalu memegang juara umum. Nyatanya aku bukan menjadi seorang Dokter, cita-cita ku musnah bersama tumbuhnya nyawa di dalam rahimku akibat pergaulan bebas.
Miris ya!
" Capek?" Tanya nek Aminah.
Aku hanya tersenyum. Malu rasanya jika harus mengeluh pada wanita tua berhati ibu peri ini.
" Kalau capek, kita istirahat disana ya." Nek Aminah menunjuk sebuah pohon rindang di ujung jalan.
Aku hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah nek Aminah.
Angin sepoi-sepoi membuat mataku seperti terkena lem.
Tanpa aku sadari aku sudah tertidur pulas diatas rumput hijau tanpa alas tikar dan bantal.
*
Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun aku sudah mendapati karung nek Aminah penih dengan barang-barang bekas.
" Sudah tidurnya? Kita pulang yuk!" Ajak nek Aminah sambil menggendong karung besar.
Kami melangkah beriringan sesekali tersenyum. Sebelum tiba dirumah, kami mampir sebentar di tempat pengepul barang bekas.
__ADS_1
Sungguh hatiku terasa disayat-sayat, begitu banyak barang bekas milik nek Aminah, kamj juga butuh waktu yang lama untuk mencari dan mengaisnya. Namun kerja keras kami dihargai dengan harga yabg sangat murah.
Pendapatan nek Aminah hanya bekisar sepuluh ribu rupiah, sedangkan aku hanya mendapat tiga ribu rupiah.
Ku genggam hasil kerja hari ini. Ada perasaan sedih yang tidak bisa ku lukiskan dengan kata-kata.
" Jangan sedih." Ucap nek Aminah santai.
Nek Aminah seperti tagu isi kepalaku.
" Besok kita kerja lagi, ya. Mudah-mudahan Allah kasih rezeki lebih besok."
Aku hanya mengangguk, aku tidak jngin nek Aminah tahu kesedihanku hari ini.
*
Setelah tiba dirumah aku bergegas membersihkan diri. Rasanya lelah sekali.
Selesai mandi aku kembali menghitung uang pemberian ibu. Masih bekisar satu juta tiga ratus lagi.
Bagaimana aku bisa mempersiapkan kelahiran dede nanti? Apa aku bisa membeli perlengkapannya? Ah, mendadak kepalaku menjadi pusing.
Aku pergi kedapur untuk mencari sebuah kaleng yang tidak di gunakan lagi. Kaleng ini nantinya akan ku gunakan untuk menyimpan penghasilanku untuk simpanan melahirkan nanti.
Aku harus bisa hidup hemat. Dan aku percaya di setiap usaha pasti ada rezeki yang di selipkan oleh Allah untuk setiap hambanya.
Rasa lapar seketika menghampiriku, didapur hanya kujumpai nasi putih.
Ku isi nasi putih kedalam piring, tak lupa kutaburi menggunakan garam dan kuberi air sebagai kuah.
Aku seperti tidak sanggup memasukan suapan demi suapan. Mata ku juga sampai basah. Allah... Aku pasti kuat.
*
Tidak terasa aku sudah berada di kampung ini selama empat bulan. Begitu banyak suka duka yang ku lalui. Dan nek Aminah adalah orang yang paling setia mendampingiku dalam segala hal.
Kini usia kandunganku sudah berada diangka tujuh bulan. Tidak ada perayaan istimewa seperti yang dilakukan orang lain. Apalagi di kampung ini, mayoritas disaat hamil anak pertama selalu mengadakan selamatan. Dan aku selalu mendapatkan hantaran nasi yang dibungkus. Isinya biasanya ada nasi, mie, urap, telur atau ayam, ada kerupuk juga terkadang ada cendol juga rujaknya. Istimewa sekali mereka. Apalah daya aku yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Diusia kandungan ku yang sudah tujuh bulan, aku sama sekali belum memikirkan untuk membeli keperluan dede barang sepotong kain pun. Miris sekali nasib mu nak.
Hari ini aku berniat untuk berangkat bekerja. Masih banyak waktu untuk mengumpulkan uang, demi dede. Aku yakin Allah akan memberikan jalan buat aku membesarkan dede nanti.
Semua peralatan mulung kusiapkan. Karung besar juga kayu pengait.
" Bismillah... Mudah-mudahan hari ini aku dapat banyak."
Aku pergi sendiri tanpa didampingi nenek. Malu rasanya selalu merepotkan nenek. Yang ada aku malah bergantung hidup sama nenek. Seharusnya aku yang harus menolong nenek, ini malah terbalik.
__ADS_1
Tanpa kusadari aku sudah berjalan terlalu jauh. Ah, ini pasti karena berjalan sambil melamun. Tak kusadari hari mulai gelap. Orang-orang pun mulai menutup rumahnya.
Di ujung jalan, ada sekelompok anak muda yang sedang duduk di pinggir jalan
" Ya Allah... mudah-mudahan mereka orang baik." Doa ku dalam hati.
Semakin lama aku semakin dekat dengan mereka. Aku berjalan menunduk. Ada rasa takut yang begitu besar menyerangku.
" Hai neng.." seseorang diantara mereka menghampiri dan mencolek daguku.
Aku menghempaskan tangan pria kurang ajar ini.
" Jangan galak-galak dong, yuk main bareng kita." Ucapnya kurang ajar. Disusul gelak tawa dari teman-temannya.
" Ya Allah... Tolong hambamu ini." Doaku dalam hati. Rasanya aku sudah kngin menangis.
Kini tiga orang lelaki mabuk itu mulai mendekatiku dan berusaha memegang tanganku.
" Lepaskan! Tolong jangan berbuat kurang ajar, aku tidak pernah merasa mengganggu kalian. Tolong!" Ucapku menghiba.
Mereka hanya tertawa, mungkin bagi mereka aku sedang membuat lelucon.
" Kak, yuk saya antar?" Seseorang yang dari tadi hanya diam diantara mereka bangun dari duduknya dan berjalan kearahku.
" Kak Rara ya? Hei bro, ini temannya kakak gue. Dia orang baru disini. Gue antar dulu ya." Lelaki berwajah menawan ini menggandeng tanganku dan menyuruhku untuk naik ke atas sepeda motornya.
" Naik kak." Bisiknya pelan.
Aku menurut tanpa membantah. Mungkin ini adalah suatu pertolongan yang dikirim Allah untukku.
" Bro, gue antar kak Rara dulu, ya!" Ia melajukan sepeda motornya dan meninggalkan teman-temannya yang hampir saja melecehkanku.
Aku masih diam dalam boncengan sepeda motor pemuda ini. Tapi tidak ada rasa takut sedikit pun. Aku percaya pasti dia pemuda baik-baik sehingga menyelamatkanku.
" Kak, rumahnya dimana?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
" Di gang air manis, bang."
" Kok bisa jauh kali kakak, emang dari mana?"
" Saya pemulung, bang. Tadi keasyikan jalan jadi gak sadar kalau sudah jauh."
" Lain kali hati-hati kak, apalagi kakak sedang hamil tidak baik berada diluar rumah saat waktu magrib tiba." Ujarnya mengingatkanku.
Aku menatap punggung pemuda sopan ini, " Aku juga tidak ingin berada diluar rumah saat waktu malam tiba. Tapi.. keadaanlah yang memaksaku untuk seperti ini."
"
__ADS_1