Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 18


__ADS_3

Hingga kami tiba dirumah, air mataku belum juga kering.


"El, kok sudah pulang?" Nek Aminah terkejut melihat kami yang sudah kembali.


Aku menangis didalam pelukan tubuh tua milik nek Aminah, " ada apa, Sa?"


" Nek... Ibu sudah meninggal. Huuuu..."


" Yang sabar, Sa. Semua orang pasti akan mengalami mati. Sabar Sa." Nek Aminah mencoba menguatkanku.


Allah... Kuatkah aku menerima semua cobaan yang engkau beri?


" Mandi dan segeralah istirahat." Perintah nenek.


Aku pun segera melakukan apa yang di perintah nenek.


*


Kini aku berbaring di kamar, sungguh hatiku kalut tak menentu. Sampai saat ini mataku basah jika mengenang ibu.


" Aku tidak boleh sedih, meski ibu sudah tiada aku yakin Zaskia akan baik-baik saja tinggal bersama ayah. Apalagi Zaskia adalah anak kandung ayah.


Setelah mengurung diri selama satu minggu, kini aku merasa mulai baikan. Ku putuskan untuk kembali bekerja. Kini aku dan nenek todak lagi bekerja sebagai pemulung. Kini kami bekerja sebagai pencari lidi.


*


Sore ini disaat aku sedang membersihkan lidi di teras rumah. Kulihat sekelompok anak laki-laki dan perempuan berkumpul dengan memakai jas almamater kampus.


Mereka sangat cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Pasti mereka wangi dan terawat. Aku kembali teringat tentang cita-cita ku.


Dulu sekali... Aku pernah bercita-cita ingin seperti mereka, nyatanya impianku hanya tinggal impian. Seperti debu yang di terbangkan angin tak tersisa.


Aku memperhatikan mereka, sepertinya mereka sedang melakukan sebuah penelitian.


" Bunda.." El berteriak memanggilku, membuyarkan lamunanku.


" Ada apa El?"


" Bunda.. kakak itu baik deh, El di beri roti." El menunjukkan sebuah roti yang terkenal dengan kelembutannya. Biasanya roti seperti ini banyak di jual di swalayan.


" Sudah bilang terima kasih?"


" Sudah dong, bun." El begitu menikmati setiap potongan roti yang masuk kedalam mulutnya.


" Anak pintar." Aku mengusap pucuk rambut El.


Ada rasa sakit karena sampai detik ini aku belum bisa membahagiakan El.


" Permisi kak, boleh numpang kebelakang sebentar." Lagi-lagi aku di kejutkan oleh suara yang tidak asing.


Ya, aku seperti mengenali suara itu. Seperti suara ibu, tapi tidak mungkin karena ibu sudah lama meninggal.


Aku menatap gadis manis yang tersenyum padaku.

__ADS_1


Mata itu, hidung itu... Seperti?


" Kak, boleh numpang toiletnya?" Ia bertanya kembali padaku.


" E.. b-boleh." Jawabku gugup.


Dengan sopan mereka memasuki rumahku.


Ya Allah, apa benar dia Zaskia? Tapi kenapa ia tak mengenaliku? Apa kini aku sudah terlalu tua?


Aku mendengar temannya berkali-kali menyebut Za. Allah, apa dengan cara seperti ini engkau mempertemukan kami?


Cukup lama aku menunggu mereka keluar, dan berniat untuk menyusulnya.


Terkejutnya aku, karena mendapati mereka sudah berkumpul di ruang tamu dan sedang memandang foto ibu yang sengaja kupajang sebagai pengobat rindu.


" Kakak punya hubungan apa dengan foto ini?" Tanyanya dengan mata memerah.


" D-dia ibuku."


Tanpa kuduga gadis manis yang bersuara seperti ibuku menghbur kearahku.


" Mbak Salsa... Zaskia rindu."


Sontak aku berteriak saat ia memanggilku dengan sebutan mbak dan ia juga menyebut namanya.


Dia adikku, adikku yang dulu paling kusayang. Dia adikku yang ku tinggal tanpa pamit. Dia adikku yang polos kini sudah tampil sempurna bak bidadari.


Kami berpelukan diiringi isak tangis. Tak kuduga, di saat aku sudah pasrah, namun Allah tetap beri jalan yang terbaik.


Nenek juga seperti paham, ia pulang kerumahnya dengan alasan ingin berberes.


Kini hanya ada aku dan Zaskia, adik kesayanganku. Sedangkan El masih asyik bermain dengan teman-temannya.


" Zas, kemarin mbak datang kerumah kita dulu, tapi rumahnya uda di jual." Aku membuka obrolan diantara kami.


" Sejak ibu meninggal, ayah memutuskan untuk menjual rumah itu. Namun butuh setahun rumah itu baru laku. Aku seoerti anak ayam yang kehilangan induk ,mbak. Setiap hari aku menangis merutuki nasib keluarga kita. Bahkan aku tidak tahu, mbak pergi kemana."


" Setelah sembilan tahun, mbak baru tahu kalau ibu sudah tiada, kamu tahu rasanya? Sakit... Banget. Mungkin ini tang dikatakan sakit namun tidak berdarah. Setiap mbak nelpon ke nomor ibu selalu tidak aktif, lalu mbak nelpon ke nomor ayah, tapi enggak pernah diangkat sama ayah. Sepertinya ayah marah sekali sama mbak."


" Dulu setiap kali Zaskia tanya perihal mbak pada ayah, pasti ayah marah. Padahal Zaskia tidak tahu menahu. Yang Zaskia tahu dari tetangga, mbak kabur sama pacar mbak karena mbak hamil."


" Zas, jangan pernah melakukan kesalahan seperti mbak, ya. Cukup mbak yang nakal, cukup mbak yang gak punya cita-cita. Dan satu lagi, jangan pernah terbujuk rayu dan terbuai sama janji manis seorang laki-laki." Pesanku pada adik semata wayang ku yang kini sudah tampil bak gadus dewasa


" Oh iya, gimana kabar ayah?"


" Ayah baik-baik saja, mbak. Hanya saja sekarang ayah sudah menikah lagi. Bahkan sekarang istri ayah baru lahiran lima bulan yang lalu."


Mataku membulat. Terkejut, sedih bingung, bercampur menjadi satu.


" Ananya cowok, namanya Dito." Tanpa ku minta Zaskia bercerita padaku.


Saat asyik bercerita, El pulang dari bermain.

__ADS_1


" Bunda..." El masuk kerumah dengan badan penuh lumpur.


" Ya Allah, El.. kamu ngapain aja sig kok bisa berlumpur?"


Karena takut aku marah, El segera mengambil langkah seribu.


Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri


" Itu anakmu, mbak?"


" Iya," jawabku singkat.


" Mirip.." gumamnya pelan.


" Hah. Mirip siapa?"


"Hehe... Canda."


*


Hari semakin larut, Zaskia berencana akan menginap malam ini di rumahku.


Ada perasaan senang, karena Zaskia tidak banyak berubah. Bahkan sekarang ia malah lebih dewasa.


El sudah tidur di pelukanku. Nek Aminah tidak menginap dirumahku dengan alasan rindu rumahnya.


Aku, El dan Zaskia tidur diatas kasur lantai yang ku gelar.


" Mbak, kenapa sih gak nikah aja?"


" Enggak semudah itu, Zaskia. Banyak pria bisa menyayangi mbak, tapi todak dengan El. Mbak tidak ingin El kekurangan kasih sayang."


" Mbak jangan egois, dong. Mbak juga butuh bahagia, butuh teman hidup." Ucap Zaskia tak mau kalah.


" Mbak yakin, akan ada pelangi setelah turun hujan."


" Dan pelangi tidak akan selalu ada setelah hujan, mbak." Ia masih gigih mempertahankan pendapatnya.


" Meskipun tida ada pelangi, tapi dengan turunnya hujan, sumur-sumur yang kering akan terusi kembali, sayuran akan tumbuh subur. Ternak-ternak juga tidak akan kekurangan." Jelasku lagi.


" Mbak emang the best. Aku kalah debat sama mbak." Gurau Zaskia.


" Bukan berdebat, Za. Setidaknya itulah faktanya."


" Mbak, suatu saat mau kan kerumah ayah?" Ia bertanya ragu padaku.


Pikiranku menerawang ke sembilan tahun yang lalu, saat ayah mengusirku dan membuka rahasia tentang jati diriku, aku menggeleng lemah.


" Kenapa? Mbak marah sama ayah?"


" Bukan, mbak takut kalau ayah yang masih marah pada mbak. Secara mbak bukan.." kalimatku terhenti.


" Bukan?" Zaskia menanti kalimat lanjutan dariku.

__ADS_1


Kira-kira Zaskia tahu enggak ya, kalau Salsa itu bukan kakak kandungnya? Jangan lupa follow,like dan komen ya..,


__ADS_2