Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 37


__ADS_3

Alarm yang ku pasang di ponselku berbunyi berisik. Ini menandakan sudah pukul lima. Ku buka mata, ada Akmal yang tertidur dengan posisi terduduk. Ia tertidur tanpa mengubah posisinya, padahal di sudut ruangan ini ada sebuah kursi panjang yang bisa di jadikan untuk rebahan. Seketika mataku mengembun, perbuatan sederhana yang Akmal lakukan buatku selalu mengundang netraku untuk basah.


Aku mengusap rambut lebat kekasihku itu dengan penuh kasih sayang, tidurlah sayang....


*


Kami sudah tiba dirumah. Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan El, ada rasa rindu saat bertemu dengan buah hatiku.


El memelukku erat, " Bunda sehat?"


" Sehat sayang. Maaf ya, bunda sudah beberapa hari tidak bisa menemani kamu."


" Hai sayang..." Akmal menyapa El dengan lembut, namun sikap El berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia tak lagi ramah pada ayahnya.


El menatap tajam ayahnya, " ada apa dengan El?" Perasaanku menjadi tidak enak. Suasana di rumah ini seketika senyap. Akmal menjadi serba salah.


" El..." Akmal berusaha memeluk putri semata wayangnya.


El mundur, " jangan dekat!" Bentak El sekuatnya.


" El!" Aku membentaknya. Seumur hidup El, aku tidak pernah membentaknya. Tapi sikapnya hari ini benar-benar di luar batas .


" El tidak suka sama ayah, bun." Dua bulir bening mengalir dari kelopak matanya.


" Ma- maafkan ayahmu El." Ucap Akmal terbata-bata.


" Ayah, kenapa sakiti bunda terus? Ayah kenapa nenek tidak pernah suka sama bunda, nenek juga tidak suka sama El?"


Ya Allah, sakit sekali rasanya mendengar penuturan putriku. Ternyata ia mulai beranjak besar, semua kejadian yang terjadi di depan matanya di rekam baik-baik dalam memori ingatannya.


Akmal terduduk lemas di sofa. Mungkin dia syok mendengar ucapan putrinya.


" El.." panggilku lembut. " Duduk sini." Aku menepuk kursi kosong di sampingku. Kerasnya batu akan pecah juga jika disuram air secara terus menerus. Jadi aku akan berbicara dari hati ke hati, El adalah anak yang sedang berkembang, aku yakin jika kita mengajarkan kelembutan, mudah-mudahan hatinya akan luluh.


El duduk di samping ku.

__ADS_1


" El, tidak semua yang kamu lihat dan kamu dengar itu buruk. Nenek itu sayang sama El dan mama, percayalah! Begitu pun ayah, hanya saja nenek sekarang sedang sakit, jadi kita harus sabar menghadapi nenek." Aku memberi penjelasan lembut pada El.


" El, maafkan ayah, kalau kurang memberi perhatian padamu. Tapi percayalah, ayah sangat menyayangimu." Akmal ikut berbicara ketika El mulai melunak.


*


Malam sudah larut, sudah waktunya aku dan Akmal beristirahat. Aku mulai bermanja-manja padanya. Sebagai suami istri bukannya itu ladang pahala?


Tring... Tring...


Beberapa pesan masuk ke ponsel milik Akmal. Perasaanku yang mudah sensitif sejak hamil seketika merubah raut wajahku.


Akmal dengam rasa tidak enak mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.


" Siapa yah?" Aku membenarkan posisi tidurku menghadap kesamping, lebih tepatnya ke arah Akmal.


" Dari mama." Jawabnya singkat. Wajahnya masih menatap ponsel miliknya. Detik selanjutnya ia memberikan ponselnya padaku.


" Baca sendiri, bun. Aku pusing lihat mama lama-lama." Akmal mengurut keningnya, sepertinya ia pusing dalam menghadapi problema yang terjadi di dalam keluarga kami.


Pesan kedua


(Mama mau bunuh diri saja, Akmal!!)


" Yah, mama mau bunuh diri loh." Aku mulai panik. Takutnya mama bemar- nekat.


" Jadi aku harus bagaimana, bun?"


" Pulang sekarang. Mama lebih penting dari apa pun." Jawabku pasrah meski mulut dan hatiku sedang berlawanan.


" Yakin?" Tanyanya tak percaya.


" Iya, yang penting jangan lupa kasih kabar." Pesanku pada lelaki yang sedang di perebutkan oleh mama mertua ku.


Aku menatap kepergian suamiku itu. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada.

__ADS_1


*


Sunyi... Itu yang kurasa. Ku pikir malam ini aku bisa memeluknya erat, mendengar dengkuran lembut yang biasa ku jadikan nyanyian mengiringi tidurku. Nyatanya aku tetap sendiri di ranjang ini tanpa seorang pun yang menemani.


Pikiranku mulai berkelana, begitu bencinya kah mama mertua padaku? Padahal beliau sama sekali belum mengenalku. Mengapa beliau tidak sedikitpun membuka hati untuk sejenak mengenal sifatku dan mengenalku lebih jauh lagi.


Ah. Mama.. andai saja engkau bisa membagi kasih sayang padaku, mungkin aku bisa sedikit bahagia karena bisa merasakan kasih sayang dari mertua. Ternyata memang benar adanya jika mertua dan menantu memang todak bisa bersahabat baik. Jika pun ada mungkin hanya sebagian kecil saja.


Tring!


Ada pesan dari Zaskia.


( Sebaiknya kamu mundur dari kehidupan mas Akmal sekarang juga. Sudah jelas kamu di tolak mentah-mentah oleh keluarga Akmal, tapi tetap saja pasang muka badak! Dasar gak tahu malu!)


Allah... Lancar sekali mulut Zaskia memaki ku. Tidakkah ia ingat pernah berbagi tempat tidur saat kecil dulu? Tidakkah ia ingat, jika ia selalu meminta pertolongan dan perlindungan padaku? Begitu eratnya hubungan kami, namun dengan mudahnya ia memutuskan persaudaraan ini demi seorang laki-laki yang mang sejak dulu menabur benih di rahimku.


Aku menelpon nomor Zaskia, berharap ia mau berbicara dengan baik padaku. Tidak ada salahnya jika aku yang lebih dulu membuka komunikasi pada Zaskia.


Namun sampai panggilan ke lima ia tidak juga mau menjawabnya. Bahkan di panggilan terakhir ia mematikan ponselnya hingga terdengar suara operator yang berbicara jika nomornya kini sedang tidak aktif.


Tidak ada jalan lain, aku mulai mengetik pesan pada adikku yang paling ku sayangi.


( Zaskia adikku tersayang.


Bisa kah kamu berfikir jernih sebentar saja. Mbak tahu, kamu begitu mencintai Akmal, tapi kamu juga tahu jika Akmal itu milik mbak jauh sebelum kamu mengenalnya. Sebelum kamu mengenalnya, Akmal sudah menaburkan benih di rahim mbak. Bukti cinta kami adalah El. Apa kamu menolak kebemaran itu? Sebagai manusia waras, sanggupkah kamu melihat keponakanmu sendiri harus kembali kehilangan figur seorang ayah? Dimana hati nuranimu, sayang? Kamu masih muda, masih pantas mendapatkan lelaki single. Bahkan bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Akmal. Demi mbak, demi El dan calon bayi mbak.. mengalahlah sedikit saja.)


Ku tekan tombol send, dan pesan itu terkirim. Kuharap Zaskia akan sadar setelah membaca pesan dariku.


Jarum jam mulai berputar, namun mataku tak juga ingin terpejam. Malam ini terdengar lolongan anjing yang saling bersahutan. Sungguh mencekam malam ini.


Karena tidak bisa tidur akhirnya aku memutuskan pindah kekamar El.


El sudah terlelap dalam mimpi hingga tak sadar aku menaiki ranjangnya.


Menatap wajah El, sama seperti menatap wajah Akmal. Aku mengusap wajah lembut milik El, " maafin bunda, ya. Bunda belum bisa bahagiain kamu." Menetes air mataku melihat putri sata wayangku yang ikut menanggung kesedihan yang ku derita.

__ADS_1


__ADS_2