
"Mbak, kenapa sih gak nikah aja?"
" Enggak semudah itu, Zaskia. Banyak pria bisa menyayangi mbak, tapi todak dengan El. Mbak tidak ingin El kekurangan kasih sayang."
" Mbak jangan egois, dong. Mbak juga butuh bahagia, butuh teman hidup." Ucap Zaskia tak mau kalah.
" Mbak yakin, akan ada pelangi setelah turun hujan."
" Dan pelangi tidak akan selalu ada setelah hujan, mbak." Ia masih gigih mempertahankan pendapatnya.
" Meskipun tida ada pelangi, tapi dengan turunnya hujan, sumur-sumur yang kering akan terusi kembali, sayuran akan tumbuh subur. Ternak-ternak juga tidak akan kekurangan." Jelasku lagi.
" Mbak emang the best. Aku kalah debat sama mbak." Gurau Zaskia.
" Bukan berdebat, Za. Setidaknya itulah faktanya."
" Mbak, suatu saat mau kan kerumah ayah?" Ia bertanya ragu padaku.
Pikiranku menerawang ke sembilan tahun yang lalu, saat ayah mengusirku dan membuka rahasia tentang jati diriku, aku menggeleng lemah.
" Kenapa? Mbak marah sama ayah?"
" Bukan, mbak takut kalau ayah yang masih marah pada mbak. Secara mbak bukan.." kalimatku terhenti.
" Bukan?" Zaskia menanti kalimat lanjutan dariku.
" Ah. Lupakan saja. Tidur yuk, sudah malam." Aku menutup separuh tubuhku menggunakan selimut.
Tak banyak bicara, Zaskia mulai menutup matanya dan terbuai dalam mimpi.
Meskipun aku mengajak tidur, namun mataku tak bisa di ajak kompromi.
Bahkan kini aku mulai menangis dalam dia.
" Ibu, akhirnya Allah pertemukan Salsa dengan Zaskia dengan cara yang sangat indah. Ternyata kalau Allah sudah bertindak, tidak ada yang mampu melawan takdir-Nya."
" Bu, salahkah aku jika masih menolak untuk menjalin silaturahmi pada ayah? Aku takut jika ayah masih tidak bisa menerima kehadiran Salsa dan El." Aku masih meratap sendiri.
Di satu sisi aku rindu ayah, namun di satu sisi aku takut ayah menggores luka di hati El.
Jika aku yang tergores, mungkin itu hal biasa. Tapi bagaimana jika sampai El yang di singgung? Selama ini aku begitu menjaga hati El, aku tidak ingin El nantinya seperti gelas retak.
*
Sayup-sayup terdengar gema adzan di masjid. Aku memulai pagi ku dengan menjalankan dua rakaat. Selanjutnya aku memasak sarapan pagi. Menu simpel, hanya nasi goreng dan telur mata sapi kesukaan Zaskia. Aku hapal betul menu kesukaan Zaskia. Dulu kami selalu berebut untuk memuji masakan ibu, bagi kami nasi goreng buatan ibu adalah nasi goreng paling enak di muka bumi ini. Biasanya ibu akan mencium pipi kami satu persatu.
Zaskia dan El sudah bangun, mereka sudah mandi. Sepertinya mereka sedang bercengkrama di teras rumah.
__ADS_1
Aku memandang mereka dengan perasaan haru. Andai ibu masih ada? Tentu lengkap kebahagiaan kami.
" El, Za, yuk makan." Aku memanggil mereka untuk sarapan. Tak lupa aku juga sudah memasukkan nasi goreng dan telur mata sapi kedalam kotak bekal. El akan ku minta untuk mengantar nasi goreng ini pada nek Aminah.
" El, tolong anterin ke rumah nenek,dong!"
" Memangnya ini apaan sih bun?" El tampak penasaran
" Nasi goreng. Cepetan biar kita sarapan bareng."
El berlari keluar rumah dengan tangan membawa tempat bekal berisi nasi goreng.
" Nek Aminah siapa sih mbak? Kok Za gak kenal. Beliau masih ada ikatan darah sama kita?"
" Beliau bukan siapa-siapa, bahkan antara mbak dengan nek Aminah tidak mempunyai ikatan darah, tapi mbak 7da menganggap nek Aminah adalah bagian keluarga dalam kehidupan mbak. Dulu... Waktu mbak pertama kali menginjakkan kaki di sini, waktu mbak gak punya kenalan, gak punya saudara, nek Aminah datang menemani kesepian mbak, nek Aminah dengan tulusnya membantu mbak dalam segala hal. Termasuk memberikan daster saat perut mbak sudah besar dan memberikan popok bayi buat El. Sekarang di saat nek Aminah tidak punya tenaga lagi, waktunya mbak untuk membantu nek Aminah."
" Oh..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut adik ku.
" Bun, yuk makan. El uda lapar."
Kedatangan El membuat aku melupakan kegundahan atas masa lalu ku.
*
Kami sedang santai di depan rumah, Za sedang asyik mengutak-atik ponselnya.
" Bun, tadi tante bilang wajah El mirip seseorang loh, bun."
" Mirip pacar tante." El mengadu sambil tertawa.
Zaskia yang mendengar ucapan El hanya bisa tersenyum malu.
" Boleh dong mbak lihat pacar kamu?" Aku menjadi penasaran pada lelaki pilihan adikku.
" Bukan siapa-siapa mbak, hanya temenan." Ucapnya mengelak.
" Kerja apa?"
" Dosen." Jawabnya singkat tanpa melihatku.
" Sekolah yang benar, buat ayah dan ibu bangga." Pesanku pada adik semata wayang ku.
Saat sedang bersantai, tetangga ku datang meminta bantuan untuk membuat kue di rumahnya. Tanpa banyak berfikir aku langsung menyanggupi. Lumayan buat tambahan jajan El.
" Za, kamu nanti pulang naik apa? Apa perlu mbak pesankan ojek?"
" Gak perlu repot-repot, mbak. Nanti teman alu jemput kok."
__ADS_1
Aku memeluknya sejenak, " sampaikan salam rindu mbak buat ayah dan .."
Aku tidak tahu harus menyebut apa pada istri baru ayahku.
" Mama." Zaskia menyebutkan panggilan untuk istri baru ayahku.
" Ya, untuk mama. Nanti jika waktunya sudah tepat, mbak akan berkunjung kerumah ayah bersama El. Maaf jika mbak tidak bisa menunggui kamu pulang, lumayan pekerjaan tambahan buat jajan El."
Zaskia mengecup pipiku. Ia juga memelukku erat. " Za, akan sering berkunjung kerumah mbak. Mbak tetap semangat ya, di El." Ucapnya sedih.
" El, temani tante Za,ya. Jangan lupa nanti tutup pintunya." Aku berpesan pada El.
Demi kebutuhan hidup, siapa pun tidak akan pernah membuang-buang waktu.
*
Aku sudah selesai membantu tetanggaku. Dan hari ini aku mendapatkan upah sebesar lima puluh ribu. Alhamdulillah,karena tetanggaku masih membutuhkan tenagaku.
Nek Aminah sudah datang kerumahku, bahkan nek Aminah sudah memasak dan membereskan rumahku yang berantakan.
" Nek, kenapa perlu repot-repot beresin rumahku?"
" Kamu sudah capek, nenek tidak bisa membantu uang, jadi nenek hanya bisa menyumbang tenaga untukmu."
" Nek, terimakasih ya sudah baik sama aku dan El."
Kami berpelukan dalam suasana haru.
" Bun, tadi tante Za di jemput sama cowok."
Aku tersenyum mendengar aduan El, siapa namanya?" Tanyaku basa basi.
" Om Akmal."
Dada ku seperti di pukul oleh palu yang besar. Nama itu.. mengingatkanku pada sosok yang ku rindukan setiap malam.
" Wajahnya loh mirip anakmu." Celoteh nek Aminah.
Jantungku semakin tak karuan naik turun. Bagaimana jika Zaskia berpacaran dengan Akmal?
" Allah.. cobaan apa lagi ini?" Gumamku.
Malam semaki larut, namun mataku tak kunjung mau terpejam. Sejak mendengar perkataan El dan nenek, perasaan ku menjadi tidak enak.
Cemburukah aku? Kenapa harus Zaskia? Apa Akmal tidak bisa menemukan bule yang lebih cantik?
Kenapa pertemuan yang ku rindukan malah menemukan masalah baru dalam hidupku?
__ADS_1
" Ya Allah, semoga saja lelaki yang dekat dengan Zaskia bukan Akmal ku, bukan Akmal ayahnya El. Bukan juga lelaki yang ku rindui setiap detik, bukan juga lelaki yang namanya selalu ku sebut dalam doaku."
Kalau kamu jadi Salsa, apa yang akan kamu lakukan?