Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 23


__ADS_3

El, bisa enggak kita bahas yang lain?" Bentak ku.


" Bunda jahat!" Ia berlalu dari hadapan ku. Seperti biasa, hari libur ia habiskan dengan bermain dan bermain.


Seumur hidup El, aku tidak pernah memarahinya atau pun membentaknya. Lalu sekarang?


Bodoh! Aku memaki diriku sendiri. El tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahan ku terhadap El.


Aku memijit keningku. Rasa pusing akhir-akhir ini menjadi semakin sering.


Seharusnya pertemuan El dengan Akmal adalah momen manis yang ku tunggu-tunggu. Tapi bagaimana dengan Zaskia? Bagi Zaskia, Akmal adalah cinta pertamanya. Sudah banyak harapan yang ingin ia rajut bersama Akmal. Salah satunya adalah membangun rumah tangga bersama Akmal.


Jika aku tetap egois menikah dengan Akmal demi kebahagian El, maka aku juga akan mematahkan impian Zaskia. Ia juga akan mengalami hal yang sama denganku, cinta pertamanya pupus sebelum waktunya untuk bermekaran.


Allah, apa yang harus ku lakukan?


Nek Aminah tahu-tahu sudah berada dikamar ku.


" Ada apa Sa? Kok tadi El bilang lagi sebel sama kamu."


" Memangnya El bilang seperti itu nek?"


" Iya, habis kamu marahi?"


" Aku tidak sengaja membentak El,nek."


" Kamu bentak El kenapa? El melakukan kesalahan apa sampai kamu bentak-bentak. Sejak El lahir, tidak pernah sedikit pun nada suara mu meninggi, lalu sekarang?" Nek Aminah geleng-geleng melihat ulahku.


" Aku hanya todak ingin El membahas Akmal,nek. El tidak pernah tahu, betapa rumitnya hidup bundanya saat ini." Aku mengadu pada nek Aminah.


" El masih kecil, yang dia mau hanya seperti teman-temannya yang semuanya punya ayah. Ingat Sa, El lahir di waktu yang semuanya serba terbatas. Ilmu mu terbatas, kesiapan mu menjadi terbatas, ekonomi mu juga terbatas, lalu El hadir memberi mu kekuatan. El bisa bertahan dengan kondisimu yang serba kekurangan. Sebelum marah-marah sama El, coba deh di pikir ulang." Nek Aminah sedikit mengomel padaku.


*


Hari ini Zaskia nekat menjemput kami menggunakan mobil milik Akmal. Rencananya hari ini ia ingin mengajakku berkunjung kerumah ayah. Semua alasan sudah ku buat, namun tidak mengalahkan semangat adikku agar aku bisa oembali menjadi anak ayah. Bukan El namanya kalau tidak kegirangan. Maklum ia adalah anak yang karang berpergian. Beruntungnya ini adalah libur kenaikan kelas, jadi tidak mengganggu jam sekolahnya.


Lagi-lagi nek Aminah menolak ikut, meski aku membujuknya dengan berbagai cara. Alasan nek Aminah begitu banyak, yang pertama ia mabuk saat mengendarai mobil. Yang kedua, nek Aminah tidak akan menggangu waktuku untuk bersilahturahmi dengan keluargaku. Padahal aku ingin sekali mengenalkan nek Aminah pada ayah. Aku ingin memberi tahu pada ayah, bahwa ada nek Aminah yang memberi support disaat aku dalam keterpurukan.


" Za, mbak takut jika nanti ayah belum bisa menerima." Keluhku.


" Percaya deh, mbak. Apalagi nanti kalau sudah melihat El, pasti ayah terpesona. Oh iya mbak, namanya El sebenarnya siapa sih? Aku kok penasaran."


Dug! Jantung ku terasa nyeri sekali. Untuk apa Zaskia menanyakan hal itu? Apa ia semakin curiga?


" Mbak? Kok malah melamun."

__ADS_1


" Eh, kamu nanya apa tadi?" Aku pura-pura lupa.


" Nama lengkapnya El."


" Oh. Elmeera Fathina Akmal."


Aku sudah pasrah jika ia harus tahu lebih dulu.


" Akmal, itu nama ayahnya El ya mbak?"


Aku hanya mengangguk, lelah rasanya jika harus di interogasi oleh adik sendiri.


" Tapi sudah pasti bukan Akmal pacarku kan mbak? Haha..." Ia tertawa lepas.


Apanya yang lucu? Za, kamu tidak akan bisa tertawa seperti ini jika tahu kenyataan yang sebenarnya.


" Mbak, andai mas Akmal mempersunting ku menjadi istrinya, apa mbak akan memberi restu?"


Aku terperangah mendengar ucapannya. Allah, haruskah aku ikhlas melihat mereka bersanding menjadi sepasang pengantin?


" Memangnya Akmal sudah serius sama kamu?" Aku mencoba menetralkan suasana. Membuang rasa gugup dan gelisah.


" Aku sih pengennya, mbak. Tapi gak tahu juga deh mas Akmal maunya apa."


Aku menatap Zaskia yang sedang fokus menyetir.


" Maksud mbak?" Ia tersenyum seolah-olah sedang bermain teka teki denganku.


" Apa Akmal sudah menyentuhmu, atau ia sudah mengambil kesucianmu?"


Ciiittt!!!


Tiba-tiba saja Zaskia menginjak rem mendadak.


El twrjatuh kebawah, sedangkan aku hanpir saja terantuk dasboard mobil.


" Mbak, aku tidak serendah tuduhan mu." Ucapnya membela diri.


" Serius?"


" Iya mbak. Aku masih perawan. Mahkota ku ini akan ku persembahkan teruntuk suamiku nanti. Aku dan mas Akmal hanya pernah berciuman. Itu pun hanya sekali." Ia tersenyum mengenang perbuatan dosa itu.


Mataku memerah karena menahan tangis. Dadaku sesak dan napasku naik turun memendam amarah dan cemburu terhadap adikku sendiri.


Ingin rasanya aku berteriak di depan wajah Zaskia bahwa Akmal adalah ayah dari anakku. Tapi aku tidak sanggup melakukannya, aku tidak ingin kembali melukai perasaan orang yang paling ku sayang.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya kami tiba di sebuah rumah mewah. Rumah berlantai dua dengan pagar mengelilingi rumah ini.


" Turun yuk mbak!" Ajak Zaskia.


" Wao... Kayak istana." Teriak El bersemangat.


Nyaliku seketika menciut. Kakiku berat untuk melangkah. Berbagai pertanyaan muncul dan menari-nari di kepala.


" Za, ini benar rumah ayah?" Tanyaku meragu.


" Hehe.. iya, mbak. Kebetulan mama baru kita itu orang kaya." Zaskia mengedipkan matanya sebelah.


Zaskia menggandeng tangan El melangkah masuk ke dalam rumah istana ini. Sementara aku berdiri di belakang mereka.


" Ya Allah... Semoga tidak terjadi hal yang ku takutkan." Doaku dalam hati.


" Assalamu'alaikum, mama..."


" Waalaikumsalam, eh kakak sudah pulang." Seorang perempuan muda tersenyum ramah menghampiri kami.


" Ma, kenalin ini mbak Salsa."


Aku mengulurkan tangan dan disambut ramah oleh istri baru ayah.


" Hai...cantik sekali, siapa namanya?" Istri baru ayah menyapa El dengan ramah. Bahkan ia harus berjongkok agar bisa sejajar dengan tinggi putriku.


" Saya El, tante.."


Sontak kami tertawa bersamaan.


" Bukan tante sayang, tapi oma." Lagi-lagi aku kagum pada sambutan istri ayah. Sangat bersahabat.


" Kebetulan kalian datang disaat waktu yang tepat. Kita langsung ke meja makan ya, kebetulan bibi sudah siap memasak hari ini.


Kami semua sudah berkumpul di meja makan, " sebentar ya, kita tunggu ayah. Za, kamu gak telepon Akmal? Suruh kesini biar kita makan siang bersama."


" Oke, ma."


" Kenapa harus ada Akmal sih?" Gumamku dalam hati.


" Jangan sungkan ya ,Sa. Anggap ajanrah sendiri." Ucap mama.


Aku hanya mengangguk sopan.


Tidak berapa lama, aku mendengar langkah menuju ke ruang makan. Jantungku berdegup kencang, ayah atau Akmal yang datang? Makin lama semakin dekat. Keringat dingin mulai membasahi wajahku.

__ADS_1


Allah tolong hambamu ini...


__ADS_2