Aku Single Mom

Aku Single Mom
ASM 36


__ADS_3

" Dan untuk kamu, Zaskia... Kamu adikku meski kita tidak sedarah tapi aku menganggap mubtetap adikku. Tapi rupanya ambisimu untuk memiliki Akmal jauh lebih besar. Padahal kamu tahu Akmal adalah ayah dari anakku, El. El itu keponakanmu, tega kamu merenggut cinta pertama El?" Aku mulai terisak. Sakit sekali rasanya.


" Dan ayah...." Belum siap aku melanjutkan kata-kata ku, mendadak pandanganku menjadi buram. Dan aku jatuh kelantai tak sadarkan diri.


Aku terbangun dan semua ruangan ini serba putih. Di tanganku sudah terpasang selang infus. Ada apa dengan ku? Kepalaku terasa sakit, mungkin efek aku terjatuh tadi. Dari kejauhan Akmal segera mendekat, ketika tahu aku sudah siuman.


" Alhamdulillah..kamu sudah sadar." Jawabnya riang.


" Dari dulu aku memang sudah sadar, kamu yang tidak pernah sadar." Aku membalas ucapan Akmal dengan nada sengit.


" Jangan marah-marah, Sa. Kamu gak takut terjadi pendarahan lagi?"


Aku terkejut mendengar perkataan Akmal, "maksud kamu apa?"


" Tadi ada darah keluar, beruntung kamu cepat di bawa ke rumah sakit. Kata Dokter, kamu harus bedrest."


" Aku mau pulang." Aku mulai menarik jarum infus di lenganku.


Akmal menepis tanganku, " jangan aneh-aneh deh. Kamu itu masih sakit dan perlu di rawat." Ucap Akmal marah.


" Yang tahu sakit atau tidak itu aku, bukan kamu. Aku mau pulang sekarang!" Teriakku seperti orang gila. Beruntungnya ini kamar VIP jadi hanya ada aku dan Akmal di ruangan ini.


" Mau ngapain pulang?" Bentak Akmal.


" El yang buat aku tidak betah berada disini. Kamu tahu, ia tidak akan bisa tenang sebelum aku pulang." Aku mulai terisak.


El memang manja padaku, karena sejak ia lahir, hanya aku yang ada disampingnya.


Aku melirik jam yang ada di dinding, sudah pukul delapan malam, aku mulai mencari-cari ponselku namun tidak ketemu.


" Cari apa?" Tanya Akmal heran.


" Ponselku." Jawaku jutek.


" Ini." Akmal memberikan ponselnya padaku. " Pakai ini, ponselmu habis baterai tadi masih di isi." Ucap Akmal.


Aku menelepon Veni,


" Halo Ven, El mana?


Terdengar rengekan putri kecilku, " bunda kapan pulang? El takut sendiri, bunda kemana saja sih?"


Aku mengusap sudut mataku. Ternyata El memang tidak bisa jauh dariku.

__ADS_1


" Sayang, dengerin bunda. Malam ini bunda tidak bisa pulang.." ucapanku terputus karena sambungan telepon memang sudah di putus oleh El.


Aku memberikan ponsel pada Akmal.


Huft! Aku menghembuskan nafas berharap sesak yang menghimpit dada sejenak bisa berkurang.


" El pasti mengerti." Ucap Akmal sok bijak.


" Diam! Kamu tidak tahu apa-apa tentang El." Sindir ku tajam.


Akmal menutup mulutnya, hingga menimbulkan keheningan di antara kami.


Cukup lama kami saling terdiam, hingga ponsel Akmal berbunyi. Ada nama mama tertera dilayar disaat aku melirik ponsel yang menyala.


Dengan malas-malasan ia pun menjawab telpon dari nyonya besar alias mamanya.


" Halo ma." Jawab Akmal pelan.


Aku tidak tahu mamanya bilang apa, yang jelas Akmal hanya menjawab iya dan iya sampai Akmal mematikan ponselnya.


" Silahkan pulang, kamu tidak perlu menunggu ku. Aku bisa sendiri di sini." Ucapku dengan nada pilu.


" Kamu kenapa sih? Nyolot aja bicaranya. Kamu pikir kamu aja yang benar? Kamu pikir cuma kamu yang lelah?"


" Aku lelah, Sa." Detik berikutnya ia mulai melemah. " Jika tidak malu saja, ingin rasanya aku menangis."


" Sedikit saja bantu aku, Sa!" Ia menghiba padaku.


Aku menjadi serba salah. Seharusnya aku tidak memojokkan Akmal, seharusnya kami bergandengan tangan untuk menghadapi badai yang di ciptakan oleh mamanya Akmal sendiri.


" Sa, kamu istriku. Dan perempuan tua disana adalah mamaku. Aku sama-sama menyayangi kalian. Aku sedang berusaha memberi pengertian pada mama, meyakinkan mama bahwa cintaku hanya untuk kamu dan El." Ucap Akmal sambil meremas rambutnya sendiri.


Aku terdiam mendengar penuturan Akmal,


" Maaf Akmal, mungkin aku kurang sabar dalam menghadapi kamu." Aku merasa bersalah pada lelaki yang ku cintai ini.


" Tolong! Sedikit sabar saja. Aku pasti kembali untuk kamu dan El, untuk keluarga kita. Jangan buat yang aneh-aneh lagi, kamu sedang mengandung, mengandung anak aku, mengandung buah cinta kita. Ada adik El didalam ini." Ia mengusap perutku yang mulai membuncit.


Ah. Mendapat perlakuan seperti ini dari Akmal saja aku sudah meleleh bak salju yang mencair di kala musim panas datang.


" I love you.." bisik Akmal penuh cinta.


Akmal mengecup singkat bibirku, sontak wajahku memanas. Ada rasa malu menerima perlakuan manis dari suamiku setelah melalui proses drama yang panjang.

__ADS_1


Setelah melihat aku yang mulai sedikit tenang, Akmal meminta izin untuk pulang sebentar menemui mamanya.


Mama mertuaku ngambek tidak mau makan dan minum obat sebelum Akmal pulang.


Aku salut melihat ketangguhan belia, ternyata beliau lebih cerdik menaklukkan hati anak bungsunya itu.


Dengan berat hati aku melepas kembali kekasih hatiku itu untuk berbakti pada sang ibu mertua.


" Baik-baik ya, aku akan kembali lagi setelah mama minum obat dan tidur. Oke?"


Aku hanya mengangguk, mencoba ikhlas dan pasrah. Semoga ada pelangi setelah hujan turun.


*


Hampir tiga jam Akmal pergi, namun belum juga kembali. Aku mulai merasa bosan. Mataku tak juga mau terpejam padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Aku mencoba mengirim pesan pada Akmal, namun hanya centang satu. Itu tandanya dia tidak aktif. Aku mencoba menelponnya, benar saja. Apa ponselnya mati karena kehabisan daya?


Otakku yang seharusnya fresh kini mulai di paksa berpikir kembali.


Allah... Beri aku kesabaran dan ketabahan.


Semakin lama di sini emosiku mulai memuncak, " aku benci kamu Akmal. Huu...." Aku menangis bak anak kecil yang tidak di beri jajan. Dalam keheningan ruangan ini aku menangis sendiri menumpahkan kekesalan hatiku.


" Sa.."


Tahu-tahu Akmal sudah berada di depanku. Entah sudah berapa lama ia datang, entah sudah berapa lama ia berdiri disana melihatku, menyaksikan tingkah konyol ku.


" Kamu kenapa?" Tanyanya lagi dengan ekspresi menggoda dan mengejekku.


" Huuuuu..." Suara tangisku semakin kencang. Kehamilan kedua ku ini membuat aku menjadi ibu yang cengeng dan sensitif.


Akmal membawa tubuhku kedalam dekapannya, hangat dan nyaman membuat hatiku tenang.


" Cup.. cup.. cup.. jangan sedih lagi ya... Aku sudah datang buat nemenin kamu di sini."


Ucapan Akmal bagai oase di gurun tandus. Selalu begitu, aku terlalu nyaman dengannya hingga tak mampu membuka pintu hati untuk pria lain.


Aku mulai berbaring di atas ranjang rumah sakit. Akmal menutup separuh tubuhku dengan selimut. Ia bercerita banyak, salah satunya tentang perasaanya padaku. Bak anak kecil yang di dongengi sama orang tuanya, mataku terpejam hingga aku tidak tahu jam berapa lelakiku itu tertidur.


*


Alarm yang ku pasang di ponselku berbunyi berisik. Ini menandakan sudah pukul lima. Ku buka mata, ada Akmal yang tertidur dengan posisi terduduk. Ia tertidur tanpa mengubah posisinya, padahal di sudut ruangan ini ada sebuah kursi panjang yang bisa di jadikan untuk rebahan. Seketika mataku mengembun, perbuatan sederhana yang Akmal lakukan buatku selalu mengundang netraku untuk basah.

__ADS_1


Aku mengusap rambut lebat kekasihku itu dengan penuh kasih sayang, tidurlah sayang....


__ADS_2