
"Kak, rumahnya dimana?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.
" Di gang air manis, bang."
" Kok bisa jauh kali kakak, emang dari mana?"
" Saya pemulung, bang. Tadi keasyikan jalan jadi gak sadar kalau sudah jauh."
" Lain kali hati-hati kak, apalagi kakak sedang hamil tidak baik berada diluar rumah saat waktu magrib tiba." Ujarnya mengingatkanku.
Aku menatap punggung pemuda sopan ini, " Aku juga tidak ingin berada diluar rumah saat waktu malam tiba. Tapi.. keadaanlah yang memaksaku untuk seperti ini."
" Itu rumahku bang." Ucapku sambil menunjuk kearah sebuah rumah reot.
Pemuda ini memberhentikan sepeda motornya tepat didepan rumahku.
Aku turun dari boncengan pemuda ini.
" Terima kasih bang, karena sudah mengantarkan saya pulang."
" Sama-sama kak. Kalau begitu saya permisi pulang." Pemuda itu kini sudah pergi berlalu dari hadapanku.
Aku menghela napas lega. Aku memutuskan untuk masuk dan ingin segera mandi dan beristirahat. Badanku terasa lelah sekali hari ini.
Saat hendak masuk aku dikejutkan oleh panggilan nenek.
" Salsa...? Dari mana? Kenapa sampai malam baru pulang?" Tanya nenek cemas.
Aku tidak menjawab pertanyaan nenek, " masuklah dulu nek."
Kami duduk diatas tikar yang sudah ku gelar. Aku duduk sambil meluruskan kaki ku.
" Kau dari mana? Sejak sore nenek mondar mandir menunggumu."
" Aku kesasar tadi nek. Terlalu jauh berjalan." Jawabku murung.
" Kenapa sampai kesasar? Kau melamun sambil berjalan?"
Ah, lagi-lagi nenek bisa membaca pikiranku.
" Apa lagi yang kau pikirkan,Sa? Yang paling penting saat ini kau sehat, bayi dalam kandunganmu sehat. Jangan pikirkan yang lain." Ucap nenek.
Aku mengusap wajahku yang mulai basah. Benar apa yang di bilang nenek, seharusnya untuk saat ini aku harus memikirkan diriku juga calon bayiku. Tapi... sampai detik ini pun aku masih memikirkan ibu, ayah juga zaskia, adik semata wayangku. Meski kami tidak ada ikatan keluarga namunaku menyayanginya tulus dari dalam hatiku yang terdalam.
Satu lagi yang menjadi beban pikiranku yaitu Akmal. Lelaki yang sudah menabur benih di rahimku. Lelaki yang mengenalkan aku pada surga dunia yang nikmatnya hanya sementara. Nama Akmal masih tersimpan rapi didalam hati. Bahkan aku tidak ingin menghapus kenangan pahit ini sedikitpun. Akmal kamu sedang apa? Apakah kamu sudah menikah?
" Sal..? Kok jadi melamun?" Tanya nek Aminah.
__ADS_1
Aku tersenyum pada nek Aminah, " maafkan aku ya nek, karena jadi sering merepotkan."
" Oh iya sal, apa kau sudah membeli perlengkapan calon bayimu?"
Aku menggeleng sambil tersenyum malu.
" Jangan risau, sekarang kamu mandi terus ikut nenek kerumah."
Tanpa membantah aku segera membersihkan diri dan selanjutnya segera ikut kerumah nenek.
*
" Makanlah dahulu!" Perintah nenek.
Aku membuka tudung saji milik nenek. Ada lontong yang di bungkus menggunakan daun pisang, rendang juga sayur gulai nangka.
Belum mencicipi saja, air liurku terasa ingin menetes. Dari mana makanan enak ini?
" Makanlah! Bila perlu habiskan. Tadi nenek dianteri sama tetangga yang rumahmya mewah diujung gang. Katanya sedang ada hajatan." Ucap nenek. Tanpa ku minta nenek sudah menjawab rasa penasaran yang bersarang di kepalaku.
Saat aku sedang menikmati makanan lezat ini, nenek datang dengan membawa satu tas besar. Entah apa isinya, aku tak bisa menebak-nebak.
Tanpa ku minta nek Aminah mulai membongkar- bongkar isi tas tersebut.
Mataku terbelalak melihat isi dari tas tersebut.
" Masih bagus." Gumam nenek pelan.
" Ini masih bagus, sengaja nenek simpan. Masih bisa di pakai oleh calon bayimu nanti." Ucap nenek sambil tersenyum getir.
Perlengkapan bayi ini lengkap mulai baju bayi, popok, celana, topi sarung tangan juga kaus kaki. Sepertinya juga belum pernah di pakai.
" Ini semua punya anak nenek. Dulu ia mempersiapkan terlalu cepat." Mata tua nenek mulai berkaca-kaca mengenang masa dulu.
" Andai dulu dia mendengarkan omongan nenek, tentu ia tidak akan mati konyol ditangan lelaki pencemburu itu." Kenang nenek lagi.
Aku tidak tahu harus berkata apa pada nenek. Nyatanya aku juga bukan anak baik-baik yang bisa menjadi kebanggaan keluarga.
" Ini nanti bisa kau bawa. Besok cuci terlebih dahulu jangan lupa kasih pewangi." Pesan nenek lagi.
Karena sudah larut malam aku pun pamit pulang pada nenek. Tak lupa ku bawa tas besar berisi perlengkapan bayi milik almarhum anak nenek.
Sampai dirumah rasa ngantuk ku tiba-tiba hilang. Yang ada hanya keinginan untuk membongkar barang-barang mini didalam tas hitam.
"Masya Allah.. bagus sekali..." Aku terkagum-kagum dengan perlengkapan bayi yang lucu-lucu ini.
" Dede... Sehat-sehat ya. Bunda sudah gak sabar pengen ketemu sama dede. Jangan susahin bunda,ya. Kita harus bisa lahir normal biar bunda gak ngeluarin biaya persalinan yang mahal. Dede kan tahu, dari awal bunda sudah berjuang sendiri. Dede juga gak perlu takut kalau lahiran nanti bakalan kedinginan, karena bunda uda punya perlengkapan bayi buat kamu." Aku berbicara sendiri sambil tanganku mengusap lembut perutku.
__ADS_1
Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu, Akmal juga akan menjadi seorang ayah. Sayangnya ia harus kabur menjadi seorang pecundang demi cita-cita nya.
Padahal aku juga punya impian, namun harus ku kubur dalam-dalam karena kesalahan yang kulakukan bersama Akmal.
Ternyata perempuan akan menjadi orang yang paling dirugikan. Bodohnya aku!
*
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Seperti biasa aku mulai mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga. Bedanya aku tidak punya suami dan hidup tanpa suami. Bahkan aku hamil tanpa ikatan pernikahan.
Hari ini sebelum berangkat kerja aku memutuskan untuk sarapan bubur ayam. Di ujung gang ada seorang penjual bubur ayam yang biasa mangkal. Aku juga akan memesan bubur ayam sebanyak dua bungkus. Bubur ayam ini nanatinya satu untukku dan satu lagi untuk nek Aminah.
Aku menenteng dua bungkus bubur ayam dan segera membawanya kerumah nek Aminah.
" Assalamu'alaikum nek..."
" Waalaikumsalam, masuk." Jawab nenek dari dalam.
Aku melangkah masuk kedalam rumah nenek. Ternyata nenek sedang duduk santai.
" Bawa apa?" Tanya nenek sambil memperhatikan kearah plastik yang kubawa.
" Bubur ayam." Jawabku. Setelah itu aku pergi kedapur dan memindahkan bubur ayam kedalam piring.
" Yuk makan nek!" Ajak ku.
Nek Aminah menerima piring berisi bubur ayam dari ku.
" Jangan boros-boros, Sa. Kebutuhan kau banyak, loh. Nenek masih bisa mengurus diri nenek sendiri." Ucap nenek sembari memasukkan bubur ke dalam mulutnya.
" Sekali-kali kok nek. Kalau bukan dengan nenek, sama siapa lagi Salsa akan berbagi, nek?"
Kami saling terdiam menikmati makanan masing-masing.
*
Usia kehamilanku sudah memasuki angka sembilan bulan. Aku mulai susah bergerak. Aku juga tidak lagi ikut memulung. Kini aku sudah bekerja di sebuah warung makan. Pemiliknya adalah seorang perempuan paruh baya. Suaminya sudah lama meninggal dunia. Namanya Sekar. Biasanya aku memanggil ibu Sekar. Ia merasa kasihan karena melihat ku yang setiap hari bekerja sebagai pemulung dengan kondisi perut yang membesar. Setiap pagi aku membantu memasak dan mencuci piring di warung milik Bu Sekar. Walaupun aku sudah tidak memulung lagi, hubunganku dengan nenek masih baik. Nek Aminah sudah kuanggap sebagai pengganti ayah dan ibu.
Hari ini warung nasi milik Bu Sekar lumayan ramai. Disaat sedang mbantu memasak, tiba-tiba saja perutku merasa mulas.
" Kenapa Sa?"
Rupanya Bu Sekar memperhatikan aku sejak tadi.
" Kamu mau melahirkan?" Tanya Bu Sekar mulai panik.
Aku hanya menggeleng sebagai tanda bahwa aku sendiri tidak tahu.
__ADS_1
Aku berusaha tidak ikut panik. Pelan-pelan aku mencoba menarik napas dan mengeluarkannya pelan-pelan juga.
" Jangan panik Salsa, semua akan baik-baik saja." Harapku dalam hati.